Lalu tiba-tiba air mata itu datang. Aku membaca tentang Kamar 113. Aku membaca tentang rasa takut ditinggalkan. Aku membaca tentang seseorang yang sangat ingin dipilih. Aku membaca tentang seseorang yang begitu lelah berusaha memahami orang lain. Dan aku tersenyum. Karena ternyata semua tulisan itu ditulis oleh orang yang sama. Aku.
Pagi ini aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat dengan begitu jelas. Selama bertahun-tahun, aku selalu sibuk menjadi sesuatu. Menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menjadi fasilitator yang berguna. Menjadi convener yang mampu menghubungkan banyak pihak. Menjadi anak yang membanggakan orang tua. Menjadi perempuan yang cukup baik untuk dicintai.
Aku terus bergerak. Terus menghasilkan. Terus membuktikan.
Seolah-olah keberadaanku harus selalu disertai alasan. Lalu pagi ini sebuah pertanyaan sederhana muncul, "Kalau hari ini aku tidak menghasilkan apa-apa, apakah aku tetap berharga?"
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak. Karena ternyata aku belum sepenuhnya percaya jawabannya.
Aku masih mencari alasan. Masih mencari bukti. Masih mencari sertifikat. Masih mencari pencapaian. Masih mencari seseorang yang berkata, "Aku melihatmu."
Yang membuatku terharu bukan karena aku sudah menemukan semua jawabannya. Justru karena aku belum menemukannya. Tetapi untuk pertama kalinya, aku membuka kemungkinan bahwa jawabannya mungkin berbeda dari yang selama ini kupercaya.
Mungkin aku tidak harus membuktikan keberhargaanku setiap hari. Mungkin aku tidak harus selalu menghasilkan sesuatu agar layak dicintai. Mungkin aku tidak harus menjadi luar biasa agar tetap berharga. Mungkin keberhargaan itu sudah ada sebelum semua pencapaian datang. Dan mungkin selama ini aku hanya belum berani mempercayainya.
Aku juga menyadari sesuatu tentang diriku. Aku pernah menghabiskan begitu banyak energi untuk memahami orang lain. Aku mencoba memahami luka mereka. Memahami diam mereka. Memahami ketakutan mereka. Memahami keputusan mereka. Tetapi hari ini aku mulai bertanya, "Novi, sebenarnya kamu bagaimana?"
Pertanyaan itu terasa sederhana. Namun ternyata aku sudah lama tidak menanyakannya kepada diriku sendiri.
Lebih dari 5 jam aku berkutat dengan pertanyaan itu. Aku memutuskan untuk mandi dan bersiap. Jujur, aku lelah. Setelah 30 menit bersiap, di luar rumah sedang hujan. Aku yang sempat ingin keluar, lalu tertawa sendiri. Karena mungkin yang kubutuhkan pagi ini bukan pergi ke mana-mana. Bukan mencari jawaban. Bukan membuat keputusan. Bukan menganalisis hubungan. Bukan menyusun strategi hidup.
Mungkin yang kubutuhkan hanyalah duduk sebentar dan mendengarkan suara hujan.
Hadir.
Bernapas.
Menjadi manusia.
Aku belum sepenuhnya tahu siapa aku. Aku belum sepenuhnya tahu posisiku di dalam sistem besar kehidupan ini. Aku belum sepenuhnya percaya bahwa aku berharga tanpa pencapaian. Tetapi aku mulai membuka kemungkinan bahwa hal itu mungkin benar. Dan entah kenapa, kemungkinan kecil itu membuatku menangis.
Mungkin inilah yang disebut bertumbuh. Bukan ketika semua pertanyaan terjawab. Melainkan ketika kita cukup berani untuk hidup di tengah pertanyaan itu tanpa meninggalkan diri sendiri.
Hari ini aku masih belajar.
Masih takut.
Masih bingung.
Masih sering menangis.
Tetapi ada satu hal yang mulai kurasakan dengan jelas bahwa aku lebih besar daripada peran-peran yang sedang kujalani. Aku lebih besar daripada tesis yang belum selesai. Aku lebih besar daripada hubungan yang belum jelas. Aku lebih besar daripada pencapaian yang belum kuraih. Dan mungkin...
aku perlahan sedang pulang.
Novi Di pagi yang hujan, ketika untuk pertama kalinya aku mulai percaya bahwa aku boleh berharga hanya karena aku ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar