Ada fase dalam hubungan yang tidak ditandai oleh kata "jadian", bunga atau kalimat cinta yang besar. Kadang… ia hanya ditandai oleh hal-hal kecil. Sangat kecil sampai mudah dianggap biasa.
“Udah sampai Palembang yo, dek.”
“Dah makan lum?”
“Jam 9 abang kesana ya.”
“Ati-ati nyetirnya.”
Dulu, mungkin aku akan melewati semua itu sambil tetap bertanya dalam hati “Tapi dia sayang aku nggak sih?”
Karena aku terbiasa mencari cinta dalam bentuk kata-kata yang jelas, balasan panjang, reassurance, dan kehadiran emosional yang konsisten.
Aku ingin dipeluk dengan kalimat. Sementara dia… ternyata lebih sering memeluk lewat tindakan kecil. Dan butuh waktu cukup lama sampai aku menyadari bahwa manusia memang tidak selalu mencintai dengan bahasa yang sama.
Aku Pernah Sangat Lelah Menunggu. Beberapa bulan terakhir terasa seperti perjalanan panjang di dalam kepalaku sendiri. Aku membaca tentang anxious attachment, avoidant attachment, inner child, nervous system, prediction error, sampai neuroscience tentang rasa aman.
Lucunya, semakin banyak aku membaca… semakin aku sadar bahwa yang paling lelah bukan hubungannya. Tapi sistem sarafku. Aku terlalu lama hidup dalam mode menunggu balasan, membaca tanda, menebak makna “hmm”, dan berusaha memastikan apakah aku cukup penting untuk dipilih. Padahal tubuhku sebenarnya hanya sedang mencari satu hal sederhana, yaitu rasa aman.
Ternyata Aku Tidak Membutuhkan Kepastian Setiap Menit. Salah satu perubahan terbesar terjadi ketika aku mulai berhenti memaksa komunikasi berjalan sesuai caraku. Aku mulai membuat ritual kecil dengan check in pagi dan check out malam. Bergeser dari ego ke ecosystem
Awalnya sederhana saja. Supaya aku tidak overthinking sepanjang hari. Dan anehnya… justru setelah aku berhenti mengejar jawaban emosional besar, hubungan kami terasa lebih tenang. Chat mulai lebih mengalir. Dia mulai ngabarin kalau sudah sampai, memastikan aku aman di hotel, bilang kalau nanti mau datang, tanya aku sudah makan atau belum, bahkan mengabari kalau badannya sedang kurang sehat.
Hal-hal kecil. Tapi buat seseorang yang terbiasa diam...mungkin itu caranya berkata “aku hadir."
Tentang Inner Child yang Masih Ingin Dekat. Suatu sore aku jujur padanya. Aku bilang: “Inner child adek pengen dekat terus.” Dan dia membalas: “Oo.. kok inner child 😇”
Aku tertawa kecil membaca itu. Karena untuk pertama kalinya, aku tidak malu mengakui bahwa ada bagian kecil dalam diriku yang memang ingin dekat, ingin dipeluk, ingin ditemani terus.
Dulu aku sering memarahi bagian itu. Menganggapnya terlalu manja. Terlalu emosional. Terlalu banyak mau. Padahal sekarang aku mulai memahami bahwa inner child bukan musuh yang harus dibungkam. Ia hanya bagian kecil dari diri kita yang ingin merasa aman.
Cinta yang Tidak Selalu Berisik. Aku mulai belajar bahwa cinta dewasa tidak selalu datang dengan intensitas dramatis. Kadang ia hadir seperti memastikan mobil sudah parkir, menunggu sampai temanmu benar-benar naik kamar, membawakan donat untuk adik-adikmu, atau mengirim chat singkat “Dah makan lum?”
Mungkin bagi sebagian orang itu biasa.
Tapi buat seseorang yang pernah terlalu lama hidup dalam kecemasan relasi, hal-hal kecil seperti itu bisa terasa seperti tubuh yang akhirnya boleh berhenti siaga.
Dan Aku Pun Berubah Sedikit Demi Sedikit. Yang paling mengejutkan dari semua ini bukan perubahan dia. Tapi perubahan diriku sendiri. Aku mulai tidak terlalu panik saat chat belum dibalas, bisa jujur tanpa menuntut, menikmati kehangatan tanpa buru-buru meminta kepastian besar, dan tetap menjalani hidupku sendiri.
Aku masih kangen. Masih ingin dekat. Masih ingin tidur sambil dipeluk. Tapi sekarang aku tidak lagi merasa bahwa aku akan hancur hanya karena seseorang sedang sibuk atau diam beberapa jam. Dan mungkin… itu yang disebut mulai aman. Bukan karena semua ketakutan hilang.
Tapi karena kita mulai bisa menemani diri sendiri saat ketakutan itu datang. Mungkin hubungan ini belum sempurna. Mungkin ritme kami masih berbeda. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang berlari mengejar cinta.
Aku hanya sedang berjalan pelan… sambil belajar menerima bahwa terkadang, chat sederhana pun bisa menjadi rumah kecil bagi hati yang lelah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar