Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Rabu, 27 Mei 2026

Merawat Jarak dan Kedaulatan Diri

​Ada keheningan yang selalu terasa lebih nyaring tepat setelah kita menghabiskan waktu bersama yang hangat.

​Kemarin, semuanya terasa begitu utuh. Ada tawa di bawah rimbun pohon, ada sepotong roti yang dibagi, buah salak yang dikupaskan, dan wangi air wudu yang menenangkan sistem sarafku hingga ke titik yang paling dalam. Aku merasa aman. Namun hari ini, layar ponsel kembali sepi. Hanya ada balasan singkat, sebuah ibu jari, lalu jarak kembali membentang. 

​Dulu, jeda seperti ini akan langsung membunyikan alarm panjang di kepalaku. Amigdala-ku akan berteriak, meronta, dan memunculkan skenario terburuk. “Apakah dia menjauh? Apakah aku melakukan kesalahan? Kenapa dia tiba-tiba diam?” Bahkan, ada bisikan ego yang menawarkan solusi instan: “Andai saja kami segera dihalalkan, andai saja kami berada di bawah satu atap, dia tidak akan bisa menghilang lagi.”

​Namun hari ini, aku memilih duduk diam dan menatap pikiran itu dari kejauhan. Aku menyadari satu hal yang fundamental: pernikahan bukanlah sebuah sangkar untuk menahan seseorang agar tidak pergi ke "gua"-nya. Menyatukan dua raga secara legal tidak lantas mengubah sistem saraf seseorang.

​Seorang pria, terlebih ia yang terbiasa menjadi gladiator di medan tugasnya, memiliki batas kapasitas emosional. Kedekatan yang intens membutuhkan energi yang besar. Seperti karet gelang yang meregang maksimal, ada kalanya ia harus dilepaskan perlahan agar tidak putus. Menarik diri dari percakapan, membalas dengan seadanya, dan kembali pada kesunyian bukanlah bentuk penolakan. Itu adalah cara naluriahnya mencari Allostasis—keseimbangan dan pemulihan—sebelum ia siap menarik dirinya kembali mendekat.

​Jika aku belum mampu berdaulat atas perasaanku sendiri hari ini, jarak sejengkal di dalam satu rumah kelak justru akan terasa jauh lebih menyiksa daripada jarak Palembang - Muara Enim.

​Maka, di sinilah aku sekarang. Melakukan Suspend pada segala ekspektasi yang menuntut.

​Aku mengakui bahwa aku merindukannya, sangat merindukannya. Dan itu adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, aku menolak untuk membiarkan kerinduan ini menghentikan laju hidupku. Aku sedang belajar menjadi sebuah Secure Base (Rumah Aman)—dan syarat mutlak untuk menjadi rumah yang aman bagi orang lain adalah dengan merasa aman berdiam di dalam diriku sendiri.

​Alih-alih meratapi pesan yang tak kunjung panjang, aku memilih mengembalikan pusat gravitasi itu kepadaku. Ada tesis yang menanti sentuhan analisanya, ada ekosistem komoditas yang harus terus dikawal arahnya, dan ada taman mimpiku sendiri yang butuh disirami.

​Biarlah ia beristirahat di guanya hari ini, menyembuhkan lelah di antara bibit-bibit kopi itu. Kehadirannya kemarin adalah nyata, dan jeda hari ini pun sama nyatanya. Keduanya adalah bagian dari ritme yang harus kuterima.

​Aku tidak lagi menunggu dengan cemas. Aku sedang bersiap. Karena saat ia kelak kembali mengetuk pintu dari ruang pemulihannya, ia tidak akan menemui seorang wanita yang rapuh karena ditinggalkan, melainkan seorang Ratu yang tetap berdiri anggun, sibuk dan bahagia bertahta di kerajaannya sendiri.

​Sampai jumpa saat energi kita kembali beresonansi penuh, Bang. Selamat merayakan jarak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar