Pagi pukul 07.02 WIB, aku masih meringkuk di balik selimut, meremas ponselku dengan dada yang terasa begitu sesak. Mataku menatap nanar ke arah layar yang gelap yang sudah aku niatkan untuk revisi tesisku. Pikiranku sedang berlari ke arah skenario terburuk, meneriakkan ketakutan-ketakutan yang selama ini kubungkam rapat-rapat.
Bagaimana kalau dia benar-benar pergi? Bagaimana kalau aku tidak akan pernah lagi menemukan laki-laki yang se-seru dia saat diajak mengobrol?
Lalu, ketakutan yang tak kalah mencekam itu muncul: Aku sudah bertahan sejauh ini. Kami sudah berbagi cerita yang begitu dalam, menghabiskan waktu, dan membangun ikatan emosional yang kuat. Bagaimana kalau pada akhirnya dia tidak memilihku? Apakah semua waktu dan perasaanku terbuang sia-sia? Apakah aku kehilangan hargaku karena sudah berharap dan memberi terlalu banyak?
Aku menangis dalam diam. Rasanya aku ingin sekali meraih ponsel ini, membuang semua gengsi dan kedaulatan diri yang pernah kutulis panjang lebar, lalu mengetik pesan panjang untuk memohon agar dia berubah. Aku ingin menuntut kepastian karena aku merasa sudah menaruh terlalu banyak investasi perasaan dalam hubungan yang penuh teka-teki ini. Aku begitu takut kehilangan laki-laki yang--jujur saja--bahkan tidak memiliki kapasitas untuk sekadar memberiku kabar saat dia jauh.
Dalam kepanikan yang nyaris membuatku gila itu, aku teringat sebuah buku psikologi yang pernah kubaca tentang sunk-cost fallacy, yaitu bagaimana otak manusia sering menipu kita untuk terus bertahan di tempat yang menyiksa, hanya karena kita merasa sudah 'terlanjur' berinvestasi terlalu banyak di sana.
Aku meletakkan ponselku perlahan di atas meja kecil portable laptopku. Aku berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram, dan menarik napas panjang. Satu tarikan... dua tarikan...
Dan tepat di sanalah, dalam keheningan kamarku, momen lima detiknya terjadi.
Tiba-tiba saja, kabut ketakutan itu terangkat. Aku menyadari satu kebenaran yang terasa seperti tamparan namun sekaligus pelukan hangat bahwa ketakutan luar biasa yang kurasakan saat ini bukanlah suara intuisiku, melainkan rasa cemas dari egoku yang takut terlihat 'gagal'.
Aku menyadari bahwa seberapa banyak pun waktu, perhatian, dan ketulusan yang sudah kuberikan padanya, itu tidak pernah--dan tidak akan pernah--mengurangi harga diriku sedikit pun. Nilai diriku sebagai perempuan tidak ditentukan oleh apakah laki-laki ini memilih untuk menetap atau pergi. Memberikan hati dengan tulus bukanlah sebuah kerugian, melainkan bukti bahwa aku memiliki kapasitas untuk mencintai dengan berani.
Air mataku masih mengalir, tapi kali ini rasanya berbeda. Rasanya lebih ringan.
Aku masih sangat menyayanginya, dan aku sangat ingin hubungan ini berhasil. Tapi malam ini aku sadar, aku tidak bisa memaksanya berubah. Aku hanya bisa mengendalikan langkahku sendiri. Jika pada akhirnya skenario terburuk itu terjadi, jika dia pergi maka aku akan patah hati sebentar. Tapi aku tidak akan mati. Aku akan tetap menjadi perempuan utuh yang berdaulat atas hidupnya sendiri dan menyelesaikan S2-ku dengan bangga.
Pagi ini, aku memilih untuk memeluk diriku sendiri, membiarkan rasa sepi itu duduk di sebelahku, tanpa harus mengorbankan standarku untuk mengemis perhatiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar