Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Jumat, 19 Juni 2026

Ketika Aku Diberi Waktu untuk Menangis



Aku baru sadar hari ini bahwa ada beberapa tempat yang tubuh kita ingat lebih lama daripada pikiran kita. Foundation Workshop Youth Action Forum (YAF) 5.0 adalah salah satunya bagiku.

Sudah lama berlalu, tetapi entah kenapa minggu ini aku kembali mengingatnya. Lalu aku menangis lagi. Padahal aku tidak sedang berada di Bali. Tidak sedang mengikuti workshop. Tidak sedang duduk di ruangan itu. Tetapi tubuhku mengingat sesuatu. Tubuhku mengingat rasa aman.


Aku masih ingat hari pertama. Aku berbicara tentang sebuah pengalaman yang sebenarnya sederhana. Saat itu aku sedang menjalankan prototype di Bukit Pendape. Dalam prosesnya ada seorang perangkat desa yang merasa tidak dilibatkan, yang merasa dilewati. Aku mendengar kabar itu dari Eka.

Beliau menelpon Eka, dan Eka hanya meminta kedewasaan. Tapi rasanya dia masih belum puas.  Kalimat itu terus terngiang. Aku tahu aku bisa saja mempertahankan ego dan menjelaskan alasan-alasanku. Aku merasa punya alasan yang cukup. Tetapi akhirnya aku memilih meminta maaf. Dan entah kenapa, ketika menceritakan pengalaman itu di YAF, aku menangis.

Bukan menangis karena konflik itu.

Mungkin karena untuk pertama kalinya aku melihat diriku sendiri sedang belajar melepaskan ego.

Yang paling kuingat bukan saat aku menangis. Yang paling kuingat adalah apa yang terjadi setelahnya. Tidak ada yang menyuruhku berhenti menangis. Tidak ada yang buru-buru menenangkan. Tidak ada yang mengatakan:
"Sudah ya."
Atau:
"Jangan sedih."

Yang aku dengar justru sesuatu yang sangat sederhana.
"Ambil waktunya."
"Tidak apa-apa kalau belum bisa cerita sekarang."

Sesederhana itu. Tapi mungkin itulah pertama kalinya aku benar-benar diberi ruang.

Dulu aku mengira menangis adalah tanda kelemahan. Aku bahkan bingung ketika di YAF aku mendapat hadiah karena dianggap sebagai peserta yang paling sering menangis. Aku tidak tahu harus bangga atau malu. Aku berpikir:
"Masa ada tempat yang menghargai orang menangis?"

Karena selama ini aku mengira menangis adalah sesuatu yang harus segera disembunyikan. Ternyata tidak selalu begitu. Ternyata ada ruang yang cukup aman sehingga air mata tidak perlu dibela atau dijelaskan.

Beberapa hari terakhir aku kembali mengingat pengalaman itu. Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku sering bertanya kepada diriku:
"Kenapa aku menangis?"

Dan aku hampir tidak pernah menemukan jawabannya. Pertanyaan itu terasa seperti ruang interogasi. Seolah aku harus memberikan alasan yang tepat. Tetapi sekarang aku mulai bertanya dengan cara berbeda:
Apa yang membuatku menangis?"

Ternyata jawabannya banyak. Aku menangis karena merasa dilihat. Aku menangis karena merasa dimengerti. Aku menangis karena tidak dipaksa. Aku menangis karena akhirnya ada tempat yang tidak menganggap emosiku sebagai masalah yang harus diperbaiki. Aku menangis karena merasa aman.

Hari ini aku mengirim pesan kepada salah satu fasilitator YAF. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Aku menulis:
"Aku dikasih ruang waktu nangis."
"Aku merasa aman di workshop foundation 5.0."

Lalu setelah mengirim pesan itu aku menangis lagi. Bukan sedih. Bukan juga bahagia. Mungkin campuran keduanya. Atau mungkin sesuatu yang lebih sederhana. Syukur. Syukur karena pernah berada di ruangan yang mengajarkanku bahwa manusia tidak selalu membutuhkan jawaban.

Kadang manusia hanya membutuhkan ruang. Dan mungkin itulah hadiah terbesar yang kubawa pulang dari YAF. Bukan teori. Bukan metode. Bukan sertifikat. Melainkan pengalaman yang sangat sederhana bahwa ketika aku menangis, tidak ada yang menyuruhku berhenti. Mereka hanya memberiku waktu. Dan ternyata, waktu itulah yang membuatku bisa kembali menemukan suaraku sendiri.

Untuk semua orang yang pernah memberiku ruang ketika aku belum mampu menjelaskan apa yang kurasakan: terima kasih. Tubuhku masih mengingatnya sampai hari ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar