Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Kamis, 18 Juni 2026

Laboratorium Psikologi Jam 2 Pagi


Jam menunjukkan lewat pukul dua pagi. Normalnya aku sudah tidur. Tapi malam itu aku justru sedang duduk menatap layar ponsel, membaca pesan-pesan pendek dari seseorang yang sudah bertahun-tahun hadir dalam hidupku.

Lucunya, setelah sekian lama mengenalnya, aku sadar ada banyak hal yang sebenarnya tidak kuketahui tentang dirinya. Malam itu dimulai dari rasa sedih.nBukan sedih karena bertengkar. Bukan sedih karena ditinggalkan. Lebih seperti sedih karena merasa ada begitu banyak hal yang tidak pernah benar-benar kami bicarakan.

Aku mengatakan bahwa aku sedih. Dia bertanya, "Sedih atau angen?"

Aku menjawab, "Berada di keduanya."

Lalu percakapan berlanjut. Pelan. Tidak dramatis. Tidak romantis seperti di film. Bahkan beberapa kali dia hanya menjawab singkat. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Biasanya aku hadir dalam percakapan dengan membawa banyak pertanyaan tentang diriku. Apa yang kurasakan. Apa yang kuinginkan. Apa yang kupikirkan. Apa yang kuharapkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku justru mulai penasaran pada dirinya. Saat dia bilang angen, aku mendadak bertanya dalam hati, "Angen yang seperti apa?"

Dan di situlah aku tersentak. Bukankah selama ini dia sering melakukan hal yang sama kepadaku? Berkali-kali ketika aku bilang kangen, dia akan bertanya, "Kangen yang mana?"

Dulu aku tidak terlalu mengerti kenapa ia bertanya seperti itu. Sekarang aku mulai paham. Karena ternyata satu kata bisa menyimpan begitu banyak makna. Kangen ngobrol. Kangen bercanda. Kangen ditemani. Kangen didengar.nKangen merasa dekat. Kangen merasa aman.

Mungkin selama ini dia sedang berusaha memahami sesuatu yang bahkan aku sendiri belum pernah jelaskan. Dan malam itu, tanpa kusadari, aku mulai melakukan hal yang sama.

Ada satu kesadaran yang terus menggangguku setelah percakapan itu selesai. Selama ini aku sering bertanya:

"Kenapa Abang chat terus?"

"Kenapa datang lalu menghilang?"

"Kenapa begini?"

"Kenapa begitu?"

Tetapi aku hampir tidak pernah bertanya:

"Apa yang biasanya membuat Abang kepikiran untuk chat lagi?"

"Apa yang membuat Abang kembali setelah jeda?"

"Apa yang sebenarnya Abang rasakan saat menghubungiku?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terlihat mirip. Padahal sebenarnya berbeda. Yang satu berangkat dari kebutuhan untuk mendapatkan jawaban. Yang satu lagi berangkat dari rasa ingin tahu terhadap manusia. Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari laboratorium psikologi jam dua pagi ini.

Aku menyadari bahwa selama ini aku sering hadir karena ingin dipahami. Aku ingin orang lain mengerti perasaanku. Mengerti kebingunganku. Mengerti rinduku. Tetapi aku jarang benar-benar berhenti untuk memahami dunia orang lain.

Mungkin karena aku takut. Mungkin karena aku terlalu sibuk mencari kepastian. Mungkin karena aku belum pernah menyadarinya.

Yang menarik, malam itu aku tidak mendapatkan jawaban besar. Aku tidak mendapatkan kejelasan hubungan. Aku tidak mendapatkan definisi tentang kami. Aku tidak mendapatkan kepastian masa depan. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang lain. Aku mendapatkan rasa ingin tahu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa ingin tahuku lebih besar daripada keinginanku untuk mendapatkan jawaban. Aku tidak tahu hubungan ini akan berakhir di mana. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hati BJ. Tetapi malam itu aku belajar sesuatu yang mungkin lebih penting.

Bahwa hubungan tidak selalu dimulai dari menemukan jawaban. Kadang hubungan bertumbuh ketika seseorang berhenti bertanya, "Kenapa kamu begini?" dan mulai bertanya, "Ceritakan aku tentang duniamu."

Dan mungkin, tanpa sengaja, itulah yang sedang kupelajari pada jam dua pagi.

Terima kasih karena akhirnya aku mengerti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar