Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Rabu, 24 Juni 2026

Kadang yang Datang Bukan Peluk, Tapi File ZIP 3 MB


Catatan kecil tentang harapan, kenyataan, dan orang-orang yang menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri.

Pukul dua dini hari aku terbangun.  Entah kenapa, perasaanku sedang lembut sekali. Aku membuka WhatsApp dan mengirim pesan.

"Bang, aku kebangun rasanya mau dipelukkk Abang."

Kalau dipikir-pikir sekarang, pesan itu cukup berani. Karena selama ini aku lebih sering menyimpan banyak hal di kepala. Menebak-nebak. Berasumsi. Mengedit kalimat sendiri sebelum sempat mengucapkannya. Tapi akhir-akhir ini aku sedang belajar. Belajar bertanya langsung. Belajar jujur. Belajar menjadi manusia. Jadi ya sudah, aku kirim saja. Lalu aku tidur lagi.

Besok siangnya aku membuka WhatsApp dengan sedikit rasa penasaran. Bukan karena berharap jawaban tertentu. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap. Mungkin ada balasan. Mungkin ada cerita. Mungkin ada percakapan. Mungkin bahkan... peluk virtual.

Yang muncul ternyata ini:

📎 REKAPITULASI TORA DESA MUARA MEDAK_BAYUNG LENCIR_MUBA.zip

Ukuran file: 3 MB. Tidak ada kalimat pembuka. Tidak ada sapaan. Tidak ada penjelasan. Hanya file ZIP. Aku tertawa. Keras.

Ada sesuatu yang sangat lucu tentang hidup. Kita sering membayangkan adegan romantis. Lalu yang datang justru dokumen administrasi. Aku membalas:

"Hahaha. Makasih Bang. Aku kira mau jawab pertanyaan adek semalam dan mau kasih peluk, ternyata dikasih TORA duluan ceuu 🤭"

Dan semakin aku membacanya, semakin lucu rasanya. Karena memang benar. Aku mengirim pesan tentang peluk. Dia mengirim data TORA. Dua manusia. Dua dunia. Dua konteks yang sama sekali berbeda.

Tapi setelah tertawa, aku menyadari sesuatu. Beberapa bulan lalu mungkin aku akan membaca kejadian ini dengan cara yang berbeda. Mungkin aku akan berpikir:

"Oh, dia tidak peduli."

Atau:

"Oh, dia mengabaikan perasaanku."

Atau:

"Ternyata aku tidak penting."

Tapi kali ini tidak. Aku malah berpikir:

"Oh, dia lagi di lapangan."

"Oh, dia lagi sibuk."

"Oh, dia mengingatku lewat hal yang sedang ada di tangannya."

Dan anehnya, itu terasa cukup. Aku membalas lagi:

"Makasih yaaa, aku merasa diinget walau lagi di lapangan 😁"

Kalimat itu keluar begitu saja. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin itu inti dari semuanya. Karena ternyata aku tidak sedang mencari jawaban sempurna.

Aku hanya ingin tahu bahwa koneksi itu masih ada. Bahwa aku masih diingat. Bahwa di tengah tumpukan pekerjaan, rapat, perjalanan, dan file ZIP, masih ada sedikit ruang untuk mengingat seseorang.

Beberapa hari terakhir aku sedang belajar sesuatu yang sederhana namun sulit. Bahwa tidak semua orang menunjukkan perhatian dengan bahasa yang sama. Ada yang menunjukkan perhatian dengan kata-kata. Ada yang menunjukkan perhatian dengan waktu. Ada yang menunjukkan perhatian dengan pertanyaan. Dan ada yang menunjukkan perhatian dengan mengirim file rekapitulasi TORA tanpa konteks apa pun.

Lucunya, aku benar-benar senang menerima file itu. Bukan karena aku memahami seluruh isi dokumennya. Tapi karena aku memahami sesuatu tentang manusia. Kita sering berharap orang lain masuk ke dunia kita. Padahal kadang cinta, perhatian, dan koneksi justru muncul saat kita mau sebentar masuk ke dunia mereka. Hari itu, dunia yang datang kepadaku berbentuk file ZIP 3 MB. Dan entah kenapa, aku merasa hangat.

Mungkin menjadi dewasa bukan tentang berhenti berharap. Mungkin menjadi dewasa adalah tetap berharap, tetap jujur tentang apa yang kita rasakan, tetapi tidak lagi mengisi setiap jeda dengan asumsi. Karena kadang yang datang memang bukan peluk. Kadang yang datang duluan adalah file rekapitulasi TORA. Dan ternyata itu juga bisa membuat kita tersenyum.

— Novi 

Storyworthy Moment:

Bukan tentang file TORA-nya. Tapi tentang momen ketika aku menyadari bahwa perhatian tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang ia datang dalam bentuk yang absurd, lucu, dan sangat manusiawi. Dan justru karena itulah, ia layak diceritakan. 

Maaf Baru Kelar Gawean

Tidak ada komentar:

Posting Komentar