Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Jumat, 19 Juni 2026

Kelapa Parut dan Gempa Besar


Pagi itu aku sedang menangis. Bukan tangisan yang dramatis. Tidak ada musik latar. Tidak ada kejadian besar. Hanya aku, kamar, kepala yang terasa penuh, dan terlalu banyak hal yang sedang kupikirkan.

Aku sedang memikirkan seseorang. Memikirkan keluargaku. Memikirkan mengapa aku begitu penasaran dengan isi kepala manusia. Memikirkan kenapa beberapa hari terakhir aku seperti menemukan pintu-pintu baru di mana-mana.

Saat itulah pintu kamarku terbuka. Emak masuk. Di tangannya ada satu baskom berisi kelapa yang sudah dibelah dan dicuci bersih. "Aku sudah cuci bagus. Parutlah." Aku cuma diam di atas kasur. Aku mengintip dari ujung mataku, ada sepersekian detik yang aneh. Aku merasa Emak sedikit menarik badannya. Seperti terkejut. Seperti baru menyadari sesuatu. Lalu beliau sepertinya kembali ke dapur. 

Dan entah kenapa, aku malah menangis lagi. Bukan karena sedih. Tapi karena sebuah pertanyaan sederhana yang tiba-tiba muncul. Apa yang ada di pikiran Emak saat melihatku menangis? Aku terdiam.

Karena jawabannya ternyata sederhana. Aku tidak tahu.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa marah karena tidak tahu. Dulu aku sangat kesal jika seseorang menjawab: "Gak tahu."

Aku termasuk orang yang percaya bahwa jika seseorang mau berpikir cukup keras, pasti ada jawabannya. Kalau ada yang bilang: "Aku gak tahu."

Dalam kepalaku sering muncul:
"Masa sih gak tahu?"
"Pikir lagi."
"Itu hidupmu sendiri."
"Jangan malas mikir."

Aku sungguh percaya bahwa semua orang, termasuk diriku sendiri, pasti punya jawaban jika mau menggali cukup dalam. Tapi pagi itu, sambil memandang baskom kelapa yang sudah dicuci Emak, sesuatu bergeser. 

Bagaimana kalau sebagian orang memang belum tahu? Bagaimana kalau Emak sendiri tidak pernah benar-benar berhenti untuk memikirkan apa yang ia rasakan saat melihat anaknya menangis? Bagaimana kalau BJ memang belum pernah mengunjungi bagian dirinya yang sedang kutanyakan Bagaimana kalau banyak orang tidak sedang menyembunyikan jawaban, melainkan memang belum menemukannya?

Dan tiba-tiba aku merasa seperti baru menemukan benua baru. Selama 28 tahun, aku hidup dengan keyakinan bahwa ketidaktahuan adalah masalah. Hari itu aku mulai melihat bahwa ketidaktahuan bisa menjadi pintu.

Pintu menuju rasa ingin tahu. Pintu menuju percakapan. Pintu menuju pengenalan. Yang lebih membuatku terdiam adalah kesadaran berikutnya. Jika aku tidak tahu isi kepala Emak, padahal kami tinggal serumah. Jika aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan saat melihatku menangis. Jika aku tidak tahu bagaimana beliau memandang perjalanan hidupku selama ini. Mungkin ada banyak dunia yang sangat dekat denganku yang belum pernah kukunjungi.

Dunia Emak. Dunia adik-adikku. Dunia teman-temanku. Bahkan dunia diriku sendiri. 

Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban, sampai lupa bahwa mengenal seseorang sering kali dimulai dari mengakui:
"Aku belum tahu."

Pagi itu tidak ada ceramah. Tidak ada buku. Tidak ada kelas. Hanya seorang ibu yang masuk kamar membawa kelapa yang sudah dicuci bersih. Dan entah bagaimana, dari situlah sebuah gempa besar dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar