Hari ini aku belajar sesuatu yang membuatku tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena selama 28 tahun aku ternyata hidup dengan sebuah aturan yang tidak pernah kutulis, namun kuanggap benar.
Aturannya sederhana:
Kalau kangen, bilang kangen.
Maka tanpa sadar aku membuat aturan kedua:
Kalau tidak bilang kangen, berarti tidak kangen.
Sederhana. Logis. Masuk akal. Setidaknya menurutku.
Siang itu aku sedang lelah. Belum mandi. Sudah lewat tengah hari. Aku rebahan sambil melihat layar ponsel. Entah kenapa aku kepikiran seseorang. Aku bahkan sempat bertanya pada diriku sendiri:
"Apa ya yang bikin aku kepikiran dia?"
Lalu aku mengirim pesan.
"Baang, capek, ngantuk, mau mandi tp kepikiran abang. Hahaha."
Pesan yang sebenarnya tidak penting. Tidak ada tujuan. Tidak ada agenda. Aku hanya ingin mengatakannya.
Obrolan berkembang ke mana-mana. Dari mandi. Ke bercanda. Lalu entah bagaimana aku mulai penasaran. Aku sadar selama ini aku tidak pernah benar-benar bertanya. Aku tahu kami sering bertemu. Aku tahu dia beberapa kali ingin bertemu. Aku tahu dia menghubungiku.
Tapi aku tidak pernah bertanya:
"Apa yang bikin abang mau ketemu aku?"
Aku baru sadar. Bertahun-tahun mengenal seseorang ternyata tidak otomatis membuat kita tahu isi pikirannya. Lalu dia menjawab. Pendek.
Seperti biasanya.
"Kan sama-sama angen."
Aku membaca kalimat itu beberapa kali. Sama-sama angen. Sama-sama kangen. Aku diam. Lalu tertawa. Karena aku baru sadar. Selama ini aku tidak pernah memasukkan kemungkinan itu ke dalam perhitungan.
Aku selalu mengira kalau seseorang kangen, dia akan bilang. Karena aku begitu. Kalau kangen, aku bilang kangen. Kalau penasaran, aku bertanya. Kalau senang, aku bilang senang. Kalau sedih, aku bilang sedih. Maka diam-diam aku menganggap orang lain juga begitu. Padahal tidak.
Ketika aku bilang:
"Aku soalnya perhatiin jarang banget bahkan seingatku ga pernah abang bilang angen duluan."
Dia menjawab:
"Ndak mesti pula angen dibilang-bilang segala."
Aku tertawa lagi. Karena kalimat itu terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Dunia yang selama ini tidak kukunjungi. Ternyata ada orang yang menunjukkan rindu dengan cara berbeda. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan ingin bertemu. Dengan tetap hadir. Dengan tetap menghubungi. Dengan tetap muncul di antara jeda waktu yang panjang. Bagi mereka mungkin itu sudah cukup jelas. Sementara aku berdiri di depan pintu sambil membawa clipboard penelitian.
Bertanya:
"Maaf, indikator kangennya yang mana ya?"
Yang lucu, hari ini bukan pertama kalinya aku menemukan hal seperti ini. Beberapa hari terakhir aku berkali-kali mengalami hal yang sama. Aku mengira sesuatu. Lalu kenyataan berkata:
"Belum tentu."
Aku mengira orang yang dekat pasti seperti ini. Ternyata tidak. Aku mengira orang yang tidak menjawab berarti tidak peduli. Ternyata belum tentu. Aku mengira orang yang kangen pasti bilang. Ternyata belum tentu.
Ada bagian diriku yang dulu sangat tidak nyaman dengan ketidaktahuan. Aku ingin cepat tahu. Cepat mengerti. Cepat menyimpulkan. Karena rasanya lebih aman. Tapi akhir-akhir ini aku mulai belajar sesuatu. Bahwa mengakui:
"Aku tidak tahu"
justru sering kali menjadi awal mengenal sesuatu dengan lebih jujur. Sore ini aku tertawa sendiri sambil melihat layar ponsel. Aku menulis:
"Dari tadi semua asumsi salah ceu."
Dan mungkin memang begitu. Bukan karena aku bodoh. Bukan karena aku salah terus. Tapi karena kenyataan ternyata lebih luas daripada cerita yang kubuat tentangnya. Kadang lebih rumit. Kadang justru lebih sederhana.
Hari ini aku tidak menemukan jawaban besar tentang cinta. Aku tidak menemukan teori baru tentang hubungan. Aku hanya menemukan satu hal kecil:
Aku kira orang yang kangen pasti bilang.
Dan ternyata ada orang yang kangen tanpa mengucapkannya. Lucunya, penemuan kecil itu terasa seperti pergeseran lempeng tektonik batin. Karena sekali lagi aku diingatkan:
Di balik setiap orang ada dunia yang belum pernah aku kunjungi.
Dan ternyata dunia itu sering kali dimulai dari satu kalimat sederhana:
"Ndak mesti pula angen dibilang-bilang segala."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar