Pukul 15.40. Aku sedang menatap layar WhatsApp sambil menahan tawa. Di layar ada sebuah kalimat yang sangat pendek. "Oo... ya, kan sama2 angen."
Aku membaca ulang. Lalu membaca lagi. Lalu tertawa sendiri. Bukan karena kalimat itu lucu. Tapi karena tiba-tiba banyak potongan kejadian beberapa minggu terakhir berbaris di kepalaku seperti antrean orang mau masuk loket. Dan aku mulai berpikir:
"Sebentar..."
"Kalau begitu..."
"Apa mungkin selama ini aku salah membaca situasi?"
Aku termasuk orang yang kalau kangen biasanya bilang. Kalau kangen, aku chat. Kalau kangen, aku mengaku. Kalau kangen, aku akan menulis:
"Bang, kangen."
Bagiku itu normal. Karena itulah caraku. Maka tanpa sadar selama bertahun-tahun aku memiliki rumus sederhana bahwa orang yang kangen akan bilang kangen. Paling tidak beginilah rumus yang aku pakai bertahun lamanya, kalau tidak bilang kangen, berarti tidak kangen. Selesai.
Lama aku diam, tertawa, diam lagi. Karena jujur saja...jawaban itu tidak pernah masuk dalam daftar kemungkinan yang kubuat. Yang lebih lucu, setelah itu aku mulai membuka chat-chat lama.
Aku scroll ke atas. Juni.
Awal Juni. Aku membaca ulang percakapan yang dulu mungkin baginya biasa saja, tapi bagiku terasa sangat menyesakkan dada. Ada banyak kalimat pendek.
"Pie kabare?"
"Tumben silent."
"Tumben belum bobokk."
"Sehat-sehat galakah."
"Pie kabare, tumben adem."
Dulu aku tidak memikirkan apa-apa. Aku menganggap itu hanya sapaan. Hanya basa-basi. Hanya percakapan biasa. Hahaha, jujur saja hari itu aku sedang berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak membalas pesan karena ku pikir yaaa buat apaaa, toh cuma nyapa dan tidak kangeen.
Tapi hari ini aku membaca ulang dengan informasi baru. Dan untuk pertama kalinya aku bertanya:
"Hmm..."
"Apa mungkin waktu itu dia juga bertanya-tanya ada apa denganku?"
Aku tidak tahu. Dan sampai saat ini aku tetap tidak tahu. Tapi yang berubah adalah sekarang kemungkinan itu ada. Dulu aku akan langsung membuat kesimpulan. Sekarang aku lebih tertarik pada kemungkinan.
Karena aku mulai belajar sesuatu yang terasa sederhana tetapi ternyata sulit. Bahwa kenyataan sering kali lebih luas daripada cerita yang kubuat tentangnya.
Aku teringat beberapa minggu terakhir. Aku menemukan bahwa orang yang dekat tidak selalu menunjukkan kedekatan dengan cara yang sama. Aku menemukan bahwa orang yang peduli tidak selalu mengatakannya. Aku menemukan bahwa orang yang kangen tidak selalu menyebut kata "kangen".
Dan sekarang aku menemukan kemungkinan lain. Bahwa seseorang bisa bertanya:
"Tumben silent."
Padahal mungkin yang sedang ia maksud adalah:
"Aku memperhatikan kamu tidak seperti biasanya."
Tapi lagi-lagi... aku tidak tahu.
Yang membuatku tersenyum justru bukan kemungkinan bahwa dia kangen. Bukan itu. Yang membuatku tersenyum adalah menyadari bahwa selama ini aku begitu yakin dengan ceritaku sendiri. Padahal aku belum pernah bertanya. Aku sudah membuat kesimpulan. Aku sudah menyusun penjelasan. Aku sudah percaya. Padahal data yang kumiliki tidak cukup.
Ada bagian dari diriku yang dulu merasa tidak aman jika tidak tahu. Maka aku buru-buru mengisi kekosongan dengan cerita. Hari ini rasanya berbeda. Hari ini aku bisa duduk dengan nyaman di kalimat bahwa aku belum tahu. Dan anehnya... rasanya tidak menakutkan. Malah terasa ringan.
Mungkin suatu hari nanti aku akan bertanya. Bukan untuk mencari jawaban yang paling romantis. Bukan untuk memastikan bahwa ceritaku benar. Tapi karena aku sungguh penasaran. Karena ternyata di balik setiap orang ada dunia yang belum pernah aku kunjungi itu. Dan mungkin... di balik kalimat sederhana tumben silent itu ada dunia yang belum sempat kutanyakan. Untuk saat ini aku belum tahu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa baik-baik saja dengan itu.
Catatan sore: Hari ini aku tidak menemukan jawaban baru. Aku hanya menemukan satu kemungkinan baru. Dan ternyata kadang-kadang, kemungkinan baru sudah cukup untuk membuat dunia terasa lebih luas dari sebelumnya.
Aku kira orang kangen pasti bilang kangen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar