Hari ini aku membuka kembali beberapa percakapan lama di aplikasi hijau sejuta umat Indonesia. Percakapan-percakapan yang sejujurnya dulu sering membuatku menangis, bingung, berharap, lalu bertanya-tanya.
Aku membaca ulang chat-chat itu sambil tersenyum. Sesekali tertawa. Sesekali terharu. Sesekali masih ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Aku melihat seorang perempuan yang sangat berusaha menjaga koneksi. Perempuan yang berkali-kali bertanya. Perempuan yang berkali-kali memulai percakapan. Perempuan yang ingin memastikan orang yang ia sayangi baik-baik saja. Perempuan yang ingin dekat. Perempuan yang ingin hadir. Dan jujur saja, dulu aku sering malu melihat bagian diriku itu. Aku bertanya-tanya, "Aku kok mengejar sekali ya?"
"Aku kok mudah sekali sedih?"
"Aku kok mudah sekali menangis?"
Bahkan ada masa ketika aku berpikir mungkin ada yang salah denganku. Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Mungkin aku terlalu membutuhkan kedekatan. Karena sering kali yang kuterima hanyalah jawaban-jawaban singkat.
"Oo."
"Iya."
"Bobok."
"Jao."
Dan ketika kebutuhan untuk terhubung bertemu dengan respons yang sangat terbatas, aku mulai mencari jawaban ke mana-mana. Aku membaca Nonviolent Communication (NVC) karena ingin memahami kebutuhan di balik kata-kata. Aku belajar Just Listen karena ingin tahu bagaimana rasanya benar-benar didengar. Aku belajar tentang inner child karena ingin memahami luka-luka yang mungkin kubawa. Aku lihat YT Vinh Giang karena ingin memahami bagaimana cara menyampaikan pesan agar sampai kepada orang lain.
Waktu itu aku tidak sadar. Aku pikir aku sedang belajar berkomunikasi. Padahal sebenarnya aku sedang berusaha memahami diriku sendiri.
Perjalanan itu tidak mudah. Ada banyak malam yang membuatku frustasi. Ada banyak hari ketika aku mempertanyakan keberadaanku. Ada banyak momen ketika aku bertanya, "Apalagi yang harus aku lakukan supaya bisa terhubung?"
Hari ini, dengan jarak yang lebih sehat, aku mulai melihat sesuatu yang dulu tidak bisa kulihat. Aku sedang membawa kebutuhan kedekatan yang besar kepada seseorang yang kapasitas responsnya kecil.
Kalimat itu sederhana. Tetapi ketika aku benar-benar memahaminya, banyak hal terasa lebih ringan. Karena ternyata tidak semua kesulitan dalam hubungan berarti ada yang salah pada diriku. Tidak semua percakapan yang terasa berat terjadi karena aku kurang jelas berbicara.
Tidak semua koneksi yang sulit terjadi karena aku kurang berusaha. Kadang memang kapasitas dua orang berbeda. Dan itu tidak harus menjadi kesalahan siapa-siapa. Yang paling mengharukan justru bukan ketika aku memahami beliau. Yang paling mengharukan adalah ketika aku mulai memahami diriku sendiri.
Aku mulai memiliki pengalaman-pengalaman baru. Aku bertemu orang-orang yang hadir. Orang-orang yang mendengar. Orang-orang yang menangkap maksudku bahkan ketika aku belum selesai berbicara. Orang-orang yang membuatku sadar bahwa kedekatan tidak selalu harus diperjuangkan dengan kelelahan.
Aku mulai belajar bahwa percakapan tidak selalu sesulit itu. Aku mulai belajar bahwa aku tidak harus terus membuktikan diriku agar layak didengar. Aku mulai belajar bahwa kedekatan tidak selalu berakhir dengan penolakan.
Dan mungkin bagian yang paling penting adalah ini bahw aku bisa melihat betapa besar kapasitas sayangku waktu itu. Aku memiliki kemampuan mencintai. Aku memiliki kemampuan peduli. Aku memiliki kemampuan berharap. Aku memiliki keberanian untuk terus mencoba terhubung meskipun berkali-kali merasa sendirian.
Hari ini aku tidak lagi ingin menghakimi diriku yang dulu. Aku ingin memeluknya. Aku ingin berterima kasih kepadanya. Karena ia sudah berusaha sebaik yang ia bisa.
Dan kepada seseorang yang pernah berjalan dalam bagian perjalanan itu, aku juga ingin mengucapkan terima kasih. Bukan karena semuanya berjalan sesuai yang kuinginkan. Bukan karena semua pertanyaanku terjawab. Bukan karena semua kebutuhanku terpenuhi. Tapi karena melalui perjalanan itu aku akhirnya mengenal diriku lebih dalam.
Rasa sayangnya mungkin masih ada. Tapi yang berubah sekarang bukan kapasitas sayangnya. Yang berubah adalah arah sayangnya. Dan mungkin itulah salah satu bentuk pendewasaan. Bukan kehilangan kemampuan untuk mencintai, tapi supaya belajar mengembalikan sebagian cinta itu kepada diri sendiri.
Terima kasih. Aku akhirnya mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar