Pages

▼

Pages - Menu

▼

Pages - Menu

▼

Rabu, 15 Juli 2026

Ngetekkk


Pukul sepuluh lewat sedikit. Aku menatap layar.

"Sayang udah sampe ya?"

Dua menit kemudian balasannya muncul.

"Udh."

Aku mengembuskan napas pelan. Perjalanan Jambi ternyata benar-benar sejauh itu.

"Oke, slmt istirahat sayang."

Lalu aku bertanya lagi.

"Ga ngerjain dokumen, kan?"

Balasannya datang cepat.

"Biasa, ngeti dulu bntr sampai antkuk."

Aku membaca dua kali. Ngeti? Aku tertawa sendiri.

"Ngeti apa sayang?"

Beberapa detik.

"Ngetikkkkk."

Aku makin tertawa.

"Kirain ngetea-ngeteh. Padahal syg ngopi."

Tidak lama kemudian muncul lagi satu pesan.

"Ngetekkk."

Aku berhenti mengetik. Entah kenapa, yang muncul di kepalaku bukan huruf-hurufnya. Melainkan wajahnya. Awalnya kukira bibirnya yang sedikit maju ketika mengucapkan kata itu. Tidak. Bukan. Aku salah. Yang kuingat justru matanya.

Matanya yang sedikit naik ke atas setiap kali sedang bercanda. Aku buru-buru mengetik lagi.

"Eh bukan muncung ah..."

"Matanya aja yg naik ke atas gt."

"Ekspresi lucunyaaa."

Aku baru sadar. Lucu juga. Seseorang bisa pergi ratusan kilometer. Tetapi ekspresi wajahnya tetap tinggal di kepala kita.

Dulu aku mengira rindu selalu terdengar dramatis. Harus ada kalimat panjang. Harus ada puisi.nHarus ada lagu. Ternyata tidak. Kadang rindu hanya muncul karena satu huruf yang hilang.

"Ngeti."

Lalu seseorang memperbaikinya menjadi,

"Ngetekkk."

Dan aku tertawa sendirian di depan layar. Aku tidak sedang merindukan pesan-pesannya. Aku sedang merindukan orang yang ada di balik cara mengetiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar