Selasa, 14 Juli 2026

Sejujurnya Kepikiran Mau Peluk


Jam di pojok layar menunjukkan 02.51. Aku masih menatap ruang obrolan yang sama sejak tadi malam. Dua centang biru sudah lama berubah menjadi biru. Balasan terakhirnya singkat-singkat seperti biasanya.

"Oo."

"Nemex."

"Aman gala ape."

Jari-jariku menggantung beberapa detik di atas keyboard. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kukatakan. Tentang tabel statistik yang belum selesai. Tentang Mba Hafsah yang besok harus kutemui di laboratorium. Tentang Pak Budi yang menunggu revisi. Tentang seminar hasil yang rasanya masih jauh, padahal setiap hari aku berjalan ke arahnya.

Yang akhirnya kuketik justru sederhana.

"Pagi nanti ke lab sayang, nanya perhitungan."

Kukirim. Beberapa detik berlalu. Aku menatap lagi layar itu. Rasanya masih kurang. Aku mengetik lagi.

"Sejujurnya kepikiran sayang mau peluk."

Kali ini kukirim lebih cepat, sebelum sempat menghapusnya. Lucu juga. Semakin dewasa, ternyata yang membuat seseorang ingin dipeluk bukan selalu karena sedang menangis.

Kadang justru karena terlalu lama terlihat baik-baik saja. Karena terlalu banyak daftar yang harus diselesaikan. Karena terlalu sering berkata, "Aman." Padahal tubuh diam-diam mulai meminta jeda.

Besok masih ada beberapa langkah lagi. Ke laboratorium. Bertemu Mba Hafsah. Bertemu Pak Budi. Mudah-mudahan statistik menemukan jalannya. Mudah-mudahan seminar hasil semakin dekat. Dan kalau ternyata sebelum berangkat ke Medak ada waktu sebentar...

Aku tahu satu hal yang paling ingin kulakukan. Bukan membuka laptop. Bukan membahas revisi. Bukan menghitung ulang data. Aku cuma ingin bertemu seseorang yang selama ini ikut menyaksikan perjalanan ini dari kejauhan. Lalu memeluknya sebentar. Tidak perlu lama. Kadang, beberapa detik saja sudah cukup membuat seseorang percaya bahwa ia sanggup melanjutkan perjalanan.

Aku juga bangga, Sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar