Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juni 2023

Sedang Kangen



"Kenapa?" Ucapku lirih dengan bibir terbuka pelan dan mata yang sudah memerah. Aku berusaha memeluknya namun bingung bagaimana cara melakukannya. Kaku dan terasa aneh, waktu jadi mencekam selama menanti suara balasannya. 

“Tidak apa-apa.” Satu menit kemudian suara di dalam jiwanya berusaha menjawab sekuat tenaga tidak ingin terlihat lemah. Bunyinya terdengar ragu dan terasa masih ingin melanjutkan kalimat tersebut. Aku masih menunggu dengan memerhatikan wajahnya melalui bayangan yang tak kasat mata pada lembar kerja putih di hadapannya. Terlihat matanya sudah siap untuk menumpahkan luapan emosi yang ditahan-tahan beberapa waktu ini.

Lalu suasana hening, yang terdengar hanyalah suara ketikan dari jari tangan yang lincah menuliskan perasaan yang cukup sulit dideskripsikan. Hanya seonggok tubuh yang sedang berperang dengan dua pikirannya dalam kesunyian malam. Ku biarkan beberapa saat untuk menenangkannya.

“Kenapa?” Sekali lagi ku tanyakannya dengan lebih hati-hati. Ku perkirakan sudah lima menit semenjak hening menerpa kondisi kita berdua. Aku berharap kali ini menerima jawaban yang pasti. Senyap lagi. Aku mulai melihat tetesan air mata di pipi sambil terlihat menggigit bibirnya tanda tidak ingin terdengar isakannya.

“Kenapa?” Sekali lagi aku bertanya padanya. Ku perhatikan tangannya mengambil kerah baju dan mengusapkannya ke arah hidungnya. Cairan lain mulai meleler dari sana tanda benar-benar sedang dalam keadaan nestapa. Kulihat juga hidungnya jadi merah jambu. Mungkin tersipu padaku karena aku menaruh perhatian lebih atau karena reaksi pembuluh darah yang ditekan terlalu kuat oleh yang punya. Aku memilih pilihan pertama walaupun tidak bisa kupungkiri kenyataannya adalah pilihan kedua yang benar. 

Kami masih saling diam. Sengaja, aku masih setia menunggu responnya. Masih betah mengamati tingkah lakunya kali ini. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang membuatnya begitu terlihat tertekan. Sesekali kutinjau wajahnya lagi pada lembar kerja putih itu. Ku lihat deraian air matanya makin banyak. Aku jadi tidak tenang. Pun bingung cara menanyakannya lagi. Kami jadi sama-sama terlihat sedang gelisah. Ku kira dia sedang merasakan hal yang tidak bisa diceritakannya dan memilih memendamnya. 

Aku menghargai pilihannya. Aku tidak bertanya lagi. Kami bungkam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sibuk bertanya mengenai sebuah pertemuan yang didambakan Bolehkah Aku Meminta Berjumpa Berkali-kali? (1)


Sabtu, 13 Agustus 2022

Bolehkah Aku Meminta Berjumpa Berkali-kali? (1)

Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian dalam tas jinjing berbahan canvas yang biasa aku pakai untuk berpergian. Tas berwarna hitam dengan tulisan 'I love Yogya'. Aku sering menggunakannya karena pas sekali dengan ukuran tubuhku. Terlihat sederhana namun tetap memenuhi kebutuhanku. Selain itu, warnanya adalah warna favoritku, biasa aku pakai berkali-kali dan tidak akan menyebabkan penambahan sampah di bumiku. Dan, bukan pula berbahan plastik, yang hanya sekali pakai itu, yang saat ini menjadi isu penting untuk krisis iklim, berbahaya untuk semua makhluk di bumi. Maklum, lingkaranku kini menyadarkanku akan banyak hal tentang kepedulian lingkungan. Apalagi peduli terhadap diriku dan sekelilingku.

Hari itu, hari Jum'at seingatku, hari pertemuanku. Entah sudah ke-berapa kali dalam tahun ini, tapi rasanya seperti pertama kali ingin bertemu, banyak sekali sebenarnya yang muncul dibenakku. Seperti "Apa yang harus aku katakan saat pertama kali melihatnya?" Apa yang harus aku lakukan saat bersamanya. Entahlah, takut iya, tapi rindu lebih kuat dari rasa takut itu. Aku kuatkan diriku, aku akan baik-baik saja. Begitu pesanku pada diriku.

Pukul 14.00 WIB, aku sudah siap berangkat, sekali lagi aku katakan, pertemuan ini seperti baru pertama kali berjumpa saja, sebenarnya hatiku rasanya tidak lega, bergetar dan aku akui, panas dingin sebelum berjumpa. "Ah, aku harus pergi. Benar, rindu sekali." begitu batinku bisikkan. Aku juga tidak sabar melihat apa yang akan aku pelajari darinya hari ini. Aku percaya, setiap kali aku berjumpa dengannya, ada saja hal baru yang aku ketahui dan yang bisa aku pelajari, dan itu sangat menarik bagiku. Aku suka sekali. Aku suka dengan prinsip yang dipegangnya. 

Aku mengirimkan pesan singkat, "aku sudah sampai." Sebuah gedung tinggi dengan dekorasi modern dan minimalis di depan aku berdiri sekarang, cukup ramai lalu lalang orang berkeperluan dan berkepentingan di tempat ini. Ada kursi menunggu di depannya dan ditata sedemikian rupa cantik menurutku. Tapi belum menerapkan konsep ramah lingkungan sepertinya setelah kutelisik cukup lama, menatap beberapa ornamen yang terpajang di depan mataku. Aku melangkahkan kaki ku masuk ke dalam sambil melihat layar teleponku. Ingin sekali aku kirim seperti ini "Sayang, aku ingin cepat jumpa." Haha, tapi tidak begitu yang ku kirim "Tidakkah aku dijemput?" sambil menyisipkan panggilan sehari-hariku padanya di pesan itu dengan perasaan yang berdegup kencang. Aku ingin memanggilnya dengan manja, tapi tidak kulakukan. Hehe. Kau tau, aku takut sekali salah memanggil. Tunggu waktu yang pas saja.

Layar teleponku menyala dan aku membaca pesan, tertera disana sebaiknya aku langsung saja menemuinya tanpa harus dijemput. Aku terus saja meyakinkan dirinya untuk menjemputku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitarku, siapa tau ada yang akan masuk ke ruang itu. Ada juga terbesit ingin bertanya kepada petugas disana. Sejujurnya aku tidak tau tempat masuknya. Ini baru pertama kali aku memasuki tempat itu. Beberapa kali meminta, akhirnya dikabulan juga. Aku mendapatkan balasan bahwa aku akan dijemput. Ah, senang sekali. Terukir seulas senyum di wajahku. "Aku jadi semakin cinta." begitu pikirku. "Kenapa semakin hari semakin bertambah rasa sayangku ya?" Aku bertanya kepada diri sendiri sambil menengok lagi kiri kananaku, memastikan kembali apakah ada yang akan masuk keruangan itu atau tidak.  Kan, benar, hal baru yang aku pelajari kan? Sulit untuk menolak jikalau sudah diminta, kaan? Tapi tetap dengan penyampaian yang baik. Senang sekali.

Tiga menit kemudian, aku melihat ada segerombolan orang datang, mereka sepertinya keluarga, masuk dan menanyakan tempat seperti yang ingin aku tanyakan, "Oh, Allhamdulillah." Hatiku bersyukur, aku tidak jadi terlihat manja. Sedikit terkikik dalam maskerku, aku bisa ikut bersama mereka masuk. Layar teleponku menyala, aku ditanya dimana keberadaanku, aku dicari-cari karena sepertinya aku tidak terlihat dari tempatnya berdiri. Aku langsung membalas "Aku sudah jalan, di dalam 'ruang ini', sebentar lagi sampai. Tunggu ya." Hatiku semakin berdegup kencang. Apa yang akan aku katakan, 30 detik lagi aku akan melihatnya. 

Pintu itu terbuka. Aku berterima kasih kepada ibu- yang membantuku menekan tombol tempat pemberhentianku. Aku cukup jauh dari sana untuk menekannya. Aku berjalan dengan hati-hati. Aku lihat kanan-kiri. Taraaa..., aku melihatnya dari belakang sedang berdiri dengan gagahnya melihat ke arah bawah. Aku berjalan pelan sekali, tidak ingin diketahui kehadiranku olehnya. Aku mendekat, lalu berhenti dan berdiri tepat dibelakangnya. Aku memperhatikannya "Maasyaa Allah. Seperti angin yang memberikan kenikmatan pada benda-benda berdebu. Konon benda itu berada di tempat tanpa penghuni. Angin itu meniup butiran debu itu, menguak betapa cantiknya benda yang tersembunyi itu."pikirku. Ingin sekali langsung kupeluk. Hahaha. Tentu saja tidak ku lakukan. Aku tidak segila itu, melakukannya di tempat terbuka. Apalagi tempat umum. Aku bisa sesabar itu untuk hal-hal yang seperti ini. Kurasa hampir dua menit aku berdiri di belakangnya, sampai akhirnya, aku melihatnya menghadapku.

"Oo...."reaksinya cukup terkejut melihatku. Terbukti suaranya agak meninggi ketika menolah ke belakang melihatku. Lalu, kami tertawa bersama. Aku merasa bersalah, tidak mengatakan apa-apa ketika sampai di dekatnya. Tapi, tawanya itu benar membuatku cukup terobati rindunya. Aku berjalan disampingnya, agak pelan lalu mengikuti dari belakangnya. 

Aku benar- bertemu dengannya hari ini.

Kami duduk di tempat yang cukup berjauhan, mungkin dua meter, aku tidak pandai dalam menghitung. kira-kira begitulah. Aku duduk di kursi berwarna cokelat dengan kerangka kayu kokoh. Ah, suka dengan motif ini tapi aku bertanya pada diriku "Apakah ini kayu yang digunakan berasal dari tempat yang benar? Maksudku, apakah bukan illegal logging?" hatiku berbisik. Aku mengalihkan perhatianku, aku melihatnya duduk di tempat semacam sofa berwarna putih. Empuk sekali sepertinya. Aku membuka mulutku ingin mengajaknya berbicara...

Next ga nih? Penasaran ga sama yang mau aku bicarain dengannya? Wkwkk

Sabtu, 13 Juni 2020

Panas

Ada sebuah kisah, begini kisahnya:

Ada seseorang yang mengingatkan untuk tidak meniup makanan yang panas. Lalu, seseorang tersebut pun menghirup aroma panas tersebut.

Ada ada ajaa ya kan?
Kamu ikut tertawa ga atau geleng-geleng kepala aja lihat tingkah begitu?
ماشاءالله

Selasa, 28 April 2020

Semangat



Kenapa malah menyakiti diri sendiri. Menunggu yang tidak peduli. Berharap yang tidak mengerti. Terus berjuang sementara dia terus berpaling. Sadarilah, kau bukan tujuan baginya. Cukup sudah menghambakan perasaanmu. Jangan biarkan dirimu terpuruk sendiri. Masih panjang hari yang akan kamu lalui untuk memperjuangkan hal-hal baik. Jangan biarkan perasaan itu malah mendatangkan banyak hal buruk padamu. Sudah, beralihlah pada jalan baru. Bulatkan tekat melepaskan harapan pada orang-orang yang tak pernah peduli padamu.

--boycandra

Sabtu, 26 Oktober 2019

A Critical Point

This is an important phase of my life where i've graduated from a collage and started my life. There are many things i've learned since the first time i back home until now. I looked around and realized many things. It's time to take an action. I am so grateful for what i'm now. I know i should improve my self as always, but at least slowly i realized what is that.
I start,
I need to start,
Try, try, and try.
Then the world would be a better place for us.
Thank you for my father and my mother as my greatest support of me.
I am starting my new project "NATAKU."
Bismillah.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Waiting

        Malam terasa panjang sekali. Layar telepon genggamku menyala beberapakali menandakan ada pesan masuk. Entah dari siapa, aku tidak bisa melihatnya secara langsung. Tertulis sebelas pesan. Aku menerka sembilan diantaranya adalah pesan grup, siapakah dua pesan lainnya? Jeng jeng jeng... Aku tidak bergegas membuka pesan tersebut, takut sekali yang muncul tidak sesuai harapanku. 
          Aku masih duduk dikamarku, bermain bersama otakku dengan segala kemumgkinan yang akan aku hadapi beberapa menit lagi, sesekali terfikir tentang masa lalu pun masa yang akan datang. Asal bersamamu, aku kan senang. Hehe. Lupakan kalimat akhirnya, hanya ocehan yang dibuat agar sedikit tersenyum. Terimakasih sudah sampai pada bagian ini. Aku akan melanjutkan menuliskan beberapa hal yang benar mengganggu-ku akhir-akhir ini. Hmm. Iya, begitulah. Sebelum melanjutkannya, ayo kita berdo'a semoga Allah membantu kita (khususnya aku) untuk terus belajar tentang ilmu Allah. Aamiin.
          Layarnya terus menyala, jiwaku berbisik 'sampai kapan hanya melihat saja?', pun aku masih diam dan melanjutkan aksi otakku untuk terus sibuk berfikir ria. Aku terus melihat ke arah telepon genggamku selama beberapa menit, lalu memutuskan untuk mengangkatnya dan mulai menggerakkan jariku untuk membuka jarinya. Ah, tidak sabar sekali melihat pesan yang datang. Akan sangat senang jika pesan yang datang adalah dari ... (silahkan isi sendiri dengan nama yang kamu inginkan pesannya datang menyapamu)
              Aku sudah sampai pada ruang pesan, aku mulai melihat deretan pesan masuk dan memilah pesan mana yang akan aku baca terlebih dahulu. Sesekali jika dirasa perlu, aku langsung memberikan jawaban atas pesan yang masuk. Sudah beberapa pesan terlewati pun aku belum menemukan yang aku cari. Dengan hati-hati kali ini ku baca sepenuh hati. Mungkin pesan itu aku lewati. Aku melihat sampai akhir deretan pesan untuk memastikan benar bahwa tidak ada pesan yang aku tunggu itu. Sekali lagi, aku menarik kembali ke atas deretan pesan dengan terburu-buru. Pun tidak ku jumpai satu pun.
        Aku  melihat namanya, tertulis dengan rapi dan jelas lengkapnya tapi tidak dengan pesan masuknya. Iya, akhir akhir ini aku menghentikannya, kebiasanku datang menyapa dengan senyum sumringah tak nyata di depan matanya. Aku ingin merubahnya, menjadi nyata dan karena Allah semata. Aku coba kuatkan diri dan hatiku bahwa jalan yang terbaik adalah karena Allah. pun jika bukan dia, aku yakin dan percaya, Allah punya rencana. Semangat dan bersabarlah. Semoga tidak lelah. Mintalah pada Allah dan berdoa'alah, agar kita pada visi misi yang sama. Masyaa allah

Kamis, 24 Januari 2019

Ko (katanya)

Pagi ini aku benar merasa tenang, bagaimana tidak, kembali lagi, aku merasa seperti mempunyai teman. Teman bercerita, teman berkeluh kesah, dan teman segalanya. Entahlah, merasa seperti 'Oh ini rasanya diterima dengan senang hati' dan merasa seperti dihidupkan kembali.
Mengalir saja, dan tidak membuatku berhenti, bicara lagi, dan lagi.
Ku harap ku tak terhanyutkan lagi.
Ayo sama sama kita support diri dan menyelesaikan dengan segera ini, skripsi~
Hihi.
terimakasih

Sincerely,
Nov

Senin, 14 Januari 2019

Fav

Tempat paling favorit dihapeku adalah tubuh percakapan denganmu. Tempat melihat last seen mu

Selasa, 11 September 2018

Malam

Aku sudah bersiap siap ingin terlelap. Sudah ku baringkan tubuh di kasur yang sudah tidak baru. allhamdulillah. sejenak aku mengolah data dan peristiwa yang terjadi hari ini. masya allah, aku masih bisa bertemu dengan seseorang dengan pemikiran cerdas begitu. allhamdulillah. lalu. aku putuskan untuk menuliskannya disini, semoga kelak aku akan kembali bertemu dengan seseorang yang memiliki pemikiran seperti itu. insya allah. aamiin.

much love
novi

Jumat, 24 Agustus 2018

Hujan

Alam sepertinya mengarti dan memahami. Hujan turut membersamai hadirnya dirimu kembali. Entahlah. Tak bisa aku marah apalagi membenci. Sejujurnya, hadirmu masih saja mengobati tetapi tetap saja menambah perih. Menangis lagi, berkali-kali tanpa bisa berhenti. Sudah, Aku tak apa dengan luka ini, tah, seiring waktu bakal sembuh nanti. Jadi, silahkan, bertahan pada pilihan

Datang (Lagi)

Pagi ini aku benar-benar bersih bersih kamar. Merapikan segala barang yang kubawa kemarin sembari menata buku-buku yang berserakan berharap hatiku juga merasakan hal yang sama. Aku tenang tetapi perut kosong karena sejak kemarin aku belum mengisi perutku. Aku berbaring sejenak, melapas penat dan memegang handphone-ku.
Koneksi internetku terputus sebentar, aku reboot handphone ku dan tampil beberapa pesan di WhatsApp. Aku membaca satu persatu, aku terkejut sekali melihat kamu datang kembali. Bagaimana tidak? dengan semua hal yang sudah kamu lakukan, kamu datang dan bertanya tentang hal itu. Tidakkah kamu tau, memang ini kesalahanku yang tidak bisa mengatasinya sendiri, tetapi ini, karena aku terlalu sayang padamu sampai sampai terbengkalai beberapa hal dalam hidupku. Aku menjatuhkan air mataku. Kenapa masih saja datang?

Sabtu, 18 Agustus 2018

Kapan Berhenti (?)

Novi: Nyatanya saya masih bersedih untuk kehilangan 'Anda'

Noviya

Viya: Kenapa menangis malam ini, Nov?
Novi: Aku sudah bilang mau ngerjain proposal penelitian tapi aku ga ngerjain.
Viya: Kenapa?
Novi: Kenapa? I don't know.
Viya: are you sure you don't know? tell me
Novi: aku sadar aku harus melakukannya, demi ayah demi ibu dan adik adikku dan keluargaku. tetapi tetap saja itu tidak cukup kuat membuatku melangkah. aku harus menguatkan diriku. apa yang harus aku lakukan?

Novi dan Viya

a short dialogue about my life. Hai, i am Noviyanti.

Minggu, 12 Agustus 2018

Surat Untuk Tuan

Selamat pagi,Tuan.
Kabar sehat, bukan? Sedang berbahagiakah Tuan sekarang karena saya sudah melakukan apa yang Tuan inginkan? Merelakan dan mengikhlaskan. Bukan, tepatnya rasa yang saya paksa tenggelam dalam dalam di hati nan penuh dengan lautan kekecewaan. Tak akan saya menyalahkan Tuan, karena berkali-kali Tuan selalu peringatkan saya agar lekas-lekaslah menjauhkan diri saya dari Tuan. namun, masih saja saya bertahan pada lingkaran yang pada akhirnya membawa kehancuran. Kehancuran jiwa dan raga yang penuh harapan. Asal Tuan tau saja, hari itu saya terus menangis sepanjang saya menghadap Tuhan. Bahkan air mata saya tak mampu dihentikan dengan semua usaha teman-teman saya membuat candaan. Tidak main-main luka yang Tuan ciptakan. Sangat dalam dan sampai-sampai hampir mematikan. Saya rasa Tuan lebih tau rasanya, kan? Apalagi tatkala saya tahu perubahan sikap Tuan karena Tuan sudah menentukan akhir pelabuan, Tuan. Duh, saya benar-benar meteskan air mata saya kala itu Tuan. Kala itu pun, kalimat yang Tuan ucapkan bahwa jodoh berada ditangan Tuhan benar-benar menyejukkan. Haha. mungkin saat menucapkannya Tuan tertawa, Bahwa memang tidak pernah ada kesempatan itu bagi saya. Namun di atas segala kebenaran yang masih penuh dengan ke-abu-abu-an ini saya berterimakasih Tuan, saya hanya ingin mengabarkan bahwa saya sekarang baik baik saja. Itulah yang Tuan inginkan, bukan? Baiklah Tuan, jaga kesehatan Tuan dan jangan sering begadang. Oh iya, kemarin katanya Tuan mau berhenti menghisap sesuatu yang mengeluarkan asap itu? Terkahir Kulihat Tuan masih menggunakannya.

Salam
Anak Kecil

Kamis, 05 Juli 2018

Ketakutan

Aku selalu saja merengek tentang kebenaran-kebenaran. Menuntut kejelasan yang tak berkesudahan dan selalu berujung dengan menerima kesemuan. Namun pada akhirnya aku menyadari bahwa aku begitu takut dengan kebenaran itu.
Kamu memang selalu mengagumkan. Kurasa kamu sudah sangat mengerti watakku dan membuat jawaban-jawaban atas pertanyaanku menjadi begitu. Iya, terimakasih. Aku rasa kamu sangat mempedulikanku, bukan? Aku senang sekali. Pada akhirnya, kamu selalu bisa membuatku berfikir untuk memikirkan kebaikan saja.

Rabu, 04 Juli 2018

You (3)


Rasanya hari ini ingin kuhabiskan dengan menangis saja. Pasalnya sejak semalam aku tidak bisa tenang, terpifikirkan kamu yang entah peduli atau tidak denganku. Oh tidak, tidak, maksudku, apa kabar kamu? Sehat, bukan? Tidak seperti aku, aku mengaku, aku kurang sehat hati. Aku selalu merindu. Kurasa kamu tau, bukan?  Tapi kamu seakan-akan tidak tahu. Aku jadi sedih. Huah. Aku tidak tau lagi harus bagaimana mengungkapkannya dengan kata. Aku ingin sekali bertemu denganmu, face to face, and listening to your explanation as a man.

Minggu, 24 Juni 2018

a little flashback of a missed call

         Sisa hujan deras semalam menyisakan dingin, sungguh dingin hingga menusuk ke hati. Aku tergerak sedikit demi sedikit ingin menyentuh yang sudah begitu lama aku ceritakan. Iya, kembali menulis dan meluapkan kata yang ada diotakku. Kubaca sedikit publikasi-ku zaman dahulu. Kulihat popular post dan mulai memainkan tanganku. Bergerak sedikit demi sedikit mengarah ke tempat yang menarik perhatianku. "a missed call" benar-benar menghipnotisku untuk menekan ditempat itu. Iya. aku benar-benar melakukannya.
          Tangan yang dingin kutangkupkan pada wajahku, hangat, begitulah yang kurasa. Mataku mulai mengamati barisan-barisan kata pada layar laptopku. Satu persatu kulihat kemudian kubaca dengan saksama. Kemudian terukir seulas senyuman penuh kenangan pada wajahku di baris kedua. Ah, benar-benar... Aku menuliskan sesuatu yang sangat benar waktu itu pikirku.
           Aku kembali mengonsentrasikan pikiranku pada tulisan yang kubaca itu. Wah, aku semakin tersenyum kemudian sedikit menundukan kepala, menutupkan tanganku pada wajah beberapa detik kemudian melihat ke kiri dan tersenyum lebih lebar lagi. Aku...umm maksudku, aku harus berani membacanya hingga tuntas. Perlahan tapi pasti, kuayunkan tanganku ke sisi tangan layar cerita itu, menggerakan dengan jari-jariku sekedar untuk melihat lebih jelas dan lengkap cerita itu. Iya, aku sangat semakin tersenyum. Aku tak bisa menuliskan senyumku dalam kata yang benar kali ini, tapi aku sudah berusaha karena aku sudah berkomitmen untuk menulisnya, hihi. Otakku terasa begitu panas dan benar-benar butuh kedinginan, wkwk. Entahlah, aku tidak tau pertanda apa itu.
            Aku sampai pada perlabuhan terakhirku, eh, bukan. Aku sampai pada baris terkahir cerita itu.  Dua baris akhir kalimat itu benar-benar membuatku cukup lama termenung, memperkerjakan otakku sedikit lebih keras dan beberapa kata mengaung dikepalaku. Otakku benar-benar butuh kedinginan dan hatiku benar-benar kedinginan. Ini penyakit. Bagaimana mungkin hati dan pikiranku tidak selaras?
           Kamu tau obat segala penyakit? Al-Qur'an. Aku rasa, aku harus lebih banyak mengaji dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Semangat ya akhi ya ukhti! Let's go to jannah together. Semoga kebaikan selalu menyertai kita, insya allah. Berikut firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qu'ran:

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Kamis, 09 Februari 2017

Dimana? (2)



Hobi baruku? Ah, tidak. Sedari dulu aku tak suka banyak bicara, aku akan mengantuk dan lelah dengan suara perut yang menyuarakan untuk makan segera. Apalagi, Ayahku bukan orang yang banyak bicara. Ibuku iya, tapi seadanya. Aku yang lebih sering berpergian dengan ayahku lebih menuruni sifat ayahku. Jadi, kemungkinan kecil sekali aku punya hobi yang seperti itu. Aku hanya mengelak dari rasa sepiku. Menghibur diri, mencoba menentramkan hati dari rasa kecewa yang datang silih berganti. Entahlah. Hatiku merintih ingin hatimu kunjungi. Miris. Dia terus meminta, tapi tak mau mengemis. Dia hanya bisa tertatih, menunduk letih sambil mengais keberadaanmu ditengah kebisingan wanita-wanita yang mempesona hati. Sulit untuk menemukanmu. Ini saja tanpa sengaja. Mungkin saja kebetulan seperti katamu tapi Allah swt-ku tak mungkin tak punya sesuatu untuk sebuah pertemuan yang lalu. Semoga saja bahagia di akhirku, berharap saja begitu.
Hadirnya dirimu yang tak pernah terpikirkan olehku waktu itu, kini sungguh memotivasi diriku untuk lebih bersemangat lagi, lagi dan lagi. Kau mengajarkanku bagaimana seharusnya sebuah mimpi untuk benar-benar diperjuangkan sepenuh hati. Kau juga bahkan menginspirasiku untuk menulis lagi, salah satu alasan kenapa aku kembali menggerakkan jari-jariku, menarikan mataku, mengotak-atik otakku untuk sedekar mengekspresikan apa yang sebenarnya kurasakan. Yah, aku benar-benar tak pandai berbicara secara lisan. Ada suatu semacam kegelisahan penuh kekhawatiran dan ketakutan jika nanti akan melukai seorang insan atau pada saat itu otakku berfikir terlalu banyak dan tak mampu memilih kalimat apa yang pantas aku katakan atau aku sedang benar-benar tak ingin memikirkan apa yang harus kubicarakan. Tapi sekarang aku sudah belajar, aku mulai sadar bahwa diam tak akan menghasilkan apa apa. Hanya akan ada rasa yang hambar seperti manisan tanpa gula, tak terasa.
Diam tanpa biacara, tak mengatakan apa-apa sungguh menyiksa. Memang benar sebagian besar wanita seperti itu katanya, dan aku salah satunya. Tapi untuk terus berpangku tangan dan tak melakukan apa-apa, kupikir itu terlalu pasrah. Tubuh ini mendeklarasikan perang, tak ingin aku acuh, hanyut dalam ketidakpedulian. Dengan begitu, tak mungkin aku diam saja saat aku mulai terancam, bukan?  Aku harus bangkit, bergerak, melindugi dan mempertahankan kemudian sebisa mungkin menuju, bahkan berlari ke tujuanku, atau tetap seperti ini tanpa kemajuan di dalam diri, kemudian mati.
Entahlah. Aku sudah mengatakannya dahulu, jikalau ini terlalu sulit dicerna otakku. “oh gadis kecilku.”kata ayahku.
Terimakasih, terimakasih malam tadi sudah hadir menyapaku. ‘Kau masih sama dan masih disana.’ Aku menggugurkan pikiran negatifku. Mematahkan dahan kekecewaanku. Memotong batang yang rapuh. Menumbuhkan kembali rasa peduliku. Menyiram rindu agar tidak layu, mengisi pohon hatiku dengan rasa sayangku. Berjuanglah bang ......

Aku juga akan berjuang. Teruslah bersemangat, Nov!

Senin, 06 Februari 2017

Dimana? (1)

              Aku menatapnya dari tempat tidurku. Sayup, dia terlihat begitu jauh dimataku. Benda berwarna hitam yang sudah pernah rusak itu, isinya kini kebanyakan adalah laporan-laporan praktikumku atau bahan ajar yang harus kupelajari siang dan malam sebelum tidurku. Beberapa kenangan sd, smp dan sma ku yang sempat diabadikan  dalam bentuk fotografi hanya menyisakan memori indah yang tak mampu ku ulangi. Sebenarnya masa itu indah, tapi aku lebih memilih apa yang ada di hadapanku sekarang, lebih menikmati hidupku, bersyukur atas yang ku punya saat ini. Agar kelak ku kan raih yang lebih baik lagi. Bukan tak ingin kembali ke masa itu, tapi biarlah saat itu menjadi penyemangat diri dikala sepi, menjadi motivasi ketika aku tersakiti, menjadi bagian dari kepingan perjalanan hidup ku pastikan Rabb-ku sudah persiapkan untukku yang lebih baik lagi.
            Ini minggu yang sangat melelahkan. Aku hanya bisa menatap semua kepunyaanku tanpa bisa menyapanya apalagi bercengkrama dengannya. Yah, aku merasa ada yang salah padamu atau hatiku saja yang merasakannya berbeda. Tapi, setiap ku  tanya mengapa kau selalu menjawab tak apa hingga membuatku tak lagi berani bertanya. Aku sudah kehabisan akal. Mungkin kau benar-benar tidak bisa menceritakanya kepada siapa pun atau hanya denganku kau seperti itu? Entahlah, pikiran liarku selalu saja negatif. Aku hanya bisa bertanya pada diriku tentang bagaimana keadaanmu tanpa menemukan jawabannya.
            Berfikir sendiri di dalam otakku dan seakan aku berjuang sendiri untuk menggapaimu, ini menyakitkan. Aku tidak mendengar kata penolakan tapi aku merasa sikapmu padaku akhir-akhir ini begitu. Aku merasa kau hanya tidak enak hati untuk mengatakannya, padahal dahulu bukan aku yang pertama kali menyapamu. Seperti inilah, aku takut: aku takut ‘say hi’ pada semua orang yang baru kujumpai. Aku takut mereka  akan menghilang seperti kau saat ini dan aku menderita tanpa arah dengan rasa lelah dan bersalah yang entah dari mana.  Semakin hari kurasa kau semakin jauh. Kau juga tak kunjung datang padaku sedekar menyakan bagaimana kabarku, apa yang aku lakukan, aku pergi bersama siapa dan pertanyaan-pertanyaan lain seperti biasanya. Bahkan setiap kali aku datang, aku yang terus bertanya dengan jawaban seadanya. Bukan untuk selalu ditanya seperti itu, setidaknya beri aku kabar, tak apa walau tak setiap hari. Aku berfikir keras, siapa yang salah disini? Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku yang tidak bisa menjagamu? Atau memang kau yang memutuskan untuk pergi? Ah, tidak, tidak. Inilah yang paling mengerikan dan menakutkan.
            Aku tak ingin itu terjadi. Berkali-kali aku meyakinkan diriku bahwa itu bukanlah sautu kebenaran. Mungkin saja kau sedang tak ada waktu atau kau lagi mempersiapkan sesuatu. Aku tidak tahu. Kau tidak menceritakannya kepadaku. Kau bahkan pernah menulis ‘pusing,*emoticon mau cerita kemana ya Allah’? Padahal aku disini. Tapi aku diam. Kau tau bagaimana aku menekan rasa ingin tahuku itu, aku tidur lebih awal. Kembali pada kebiasaan lamaku. Hari ini sama. Kau masih begitu. Aku memutuskan hanya untuk menunggu. Menatapmu dari jauh seperti benda berwarna hitamku. Entahlah. Aku rindu.  Tapi, sudahlah, aku sudah memutuskan hanya akan menunggu hari dimana kau akan datang padaku. Aku akan berusaha tetap diam disini.
            Hari selanjutnya kuputuskan untuk menulis lagi. Ada banyak hal yang bersarang dikepalaku. Ada banyak yang ingin aku ceritakan. Ada banyak yang ingin aku tanyakan tapi aku tak tau harus bercerita dan bertanya pada siapa. Akir-akhir ini aku punya hobi baru. Aku tidak bisa berhenti bicara dan aku lelah. Ceritaku bahkan itu-itu saja yang terus kuulang. Tetang orang yang sama pada orang yang sama. Mungkin orang yang kuajak bercerita bosan mendengarku jadi aku memindahkannya kesini. Tak ingin ambil pusing, ini agar aku tenang tanpa rasa sesal. Yah. Aku hanya ingin bertanya dimana seseorang yang mengagumkan itu?

will be continued...