Sabtu, 03 Oktober 2026

Momen Hangat di Dalam Angkot

Hari ini, adek sepupuku minta ditemenin ke Pasar 16 Ilir. Dia mau menjual songket Palembang asli karya tangannya sendiri ke bos tempat biasa dia menyetor. Di depanku, dia duduk manis dengan sandal blink-blink kesayangannya. Kami sengaja memilih naik angkot, sengaja ingin menyisakan ruang untuk berjalan kaki menyeberangi Jembatan Ampera.

​Sepanjang perjalanan pagi tadi, aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel. Ada rasa trauma yang belum sepenuhnya pulih setelah kejadian HP dijambret di pasar Mei 2025 lalu. Dan di balik keputusan untuk tidak merekam apa pun lewat kamera, ternyata ada hadiah lain, yaitu seluruh peristiwa terekam begitu jernih dan utuh di dalam ingatanku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia jalanan dan pasar yang sejujur ini.

​Di dalam angkot, seorang ibu yang mungkin berusia mendekati 60 tahun duduk tepat di hadapanku. Sempat terjadi percakapan sekejap di dalam angkot itu "Banyak asap yaa." Aku menimpali dengan singkat mengiyakan, lalu bertanya kepada adik sepupku alasan tak memakai masker. Tak lama kemudian, seorang bapak seusianya ikut naik. Bapak itu membawa termos air panas, tas anyaman, dan sebuah tas tenteng tertutup berwarna ungu. Dari percakapan singkat yang tak sengaja kudengar, bapak itu bercerita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakinya yang sakit. Aku sempat melihat bapak tersebut memegang kaki sebelahnya, saat berbicara tentang pengobatan kaki. Ibu di depanku merespons hangat, menutup obrolan dengan doa yang tulus, "Iya, semoga cepat sembuh." Setelah itu, suasana kembali hening.

​Sekitar tiga menit berlalu. Aku memperhatikan ibu tersebut membuka dompet kecilnya. Di dalam kepalaku, dompet itu familiar seperti dompet dari toko emas. Tidak ada slot-slot kartu seperti dompet modern masa kini, hanya plong saja. Di dalamnya, terlihat lembaran uang yang terlipat tidak rapi saat dia menghitung uang itu, satu lembar 50 ribu, dua lembar 20 ribu, dan 3 ribu rupiah. Dia membuka lipatan lembaran demi lembaran, terlihat merapikan lipatan itu. Awalnya, jemarinya memegang uang 3 ribu, ongkos pas untuk angkot. Ia sempat menutup dompetnya, tapi kemudian dia terlihat diam dan berpikir sejenak.

​Perlahan, ia memasukkan kembali uang 3 ribu tadi, lalu memilih mengeluarkan lembaran 20 ribu. Dipegangnya erat-erat. Selama dua menit di atas angkot yang terus berjalan, ia terlihat menimbang sesuatu dalam hening. Aku hanya memperhatikan dari balik diamku.

​Dua menit berlalu, angkot berhenti dengan instruksi ibu itu "Depan..." Angkot itu stop dan ibu itu turun lebih dulu, ia menyerahkan lembaran 20 ribu itu ke driver depan.
"Uangnya besar, Buu," kata driver angkot.
Ibu itu menyahut pelan sambil menunjuk bapak yang masih duduk di dalam, "Aku bayar dua orang."
Bapak itu sempat bilang tidak usah karena sungkan, tapi ibu itu memaksa halus, lalu melangkah pergi begitu saja menembus keramaian.

​Sesaat aku menangkap momen paling menyentuh dalam hidupku. Ternyata saat kita memilih menyimpan ponsel dan hadir sepenuhnya, sensing sekeliling, ada pelajaran yang di dapatkan. Dua menit hening di atas angkot pagi tadi menurutku memberikan pelajaran yang cukup penting bagiku, tentang menimbang, tentang berfikir, tentang ketulusan, ketulusan yang tidak butuh panggung, bahwa di antara keraguan dan keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk saling menopang. Hehe. 
Oh iya, klo mau pesan atau buat songket Palembang, adek sepupuku bisa yaaa... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar