Senin, 12 Oktober 2026

Kue Coklat Untuk Sayang dan Ubi Ungu


Sayangku, aku sebenarnya sudah lama ingin memberikan sesuatu untuk Sayang. Tanggal kelahiran Sayang 30 September lalu. Sebenarnya, kita ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi Sayang keburu ke lapangan. Hari itu aku sempet berfikir, wah bisa ketemuan di hari lahir. Wkwk. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahiran Sayang. Pengen saja. Hehe.

Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku di blog dan ku kirim ke Sayang. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu, sayang bilang kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran lagi waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kita bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah, ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuk Sayang, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan, tidak sempat ku keluarin daru tas. Di perjalanan mengantar aku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Sayang bilang tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas. Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu-Palembang, lebih dari dua kali. Sejak awal Oktober itu. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue.

Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Btw, aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap dan kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu kuurungkan. Sayangku sudah ada di depan mata. Sepertinya kali ini aku mau mengandalkan insting saja.

Aku mendekat ke Sayang, hehe. Terus senyum malu-malu, lalu kubawa kuenya mendekat. “Sayang, aku punya ini.”

Maksudnya kue. Wkwkwk. Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua yang ada di kepala tidak sampai jadi kalimat.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotong beberapa bagian yang agak penyok tertekan waktu du bawa. Sambil bilang, “Yah, Sayang, kuenya kena itu sebelahnya.”

Setelah itu, kita diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi saat momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu Sayang bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu.

Padahal maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Sejujurnya mungkin ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Detail-detail rasa terima kasihku itu masih tinggal di dalam kepala dan hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengan Sayang, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Padahal orangnya ada di depan mata. Yang mau kusampaikan juga banyak. Tapi mulutku kadang seperti tidak mau bekerja sama. Wkwk. Hmm. 

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat Sayang merasa disayang juga.

Selama ini aku banyak menerima dukungan dari Sayang. Aku ingin Sayang tahu bahwa aku pun ingin mendukung Sayang. Aku ingin Sayang merasa punya teman ketika lelah. Aku ingin mendengarkan cerita-cerita Sayang, ingin tahu keseharian Sayang, ingin mengenal hal-hal kecil tentang Sayang yang mungkin belum pernah kuceritakan atau kutanyakan.

Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Kadang aku bertanya-tanya, Sayang suka apa, ya? Apa yang membuat Sayang senang? Apa yang bisa kulakukan ketika Sayang sedang capek? Banyak yang belum kutau.

Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kita tidak lagi duduk berdekatan. Setelah aku kembali di depan buku atau laptop, baru kepikiran, “Eh, tadi kenapa nggak tanya, ya?” Wkwkwk.

Padahal bisa saja kutanya langsung ketika Sayang ada di dekatku. Tapi, apa ya, aku kadang senang walau cuma duduk dan saling diam. 


Selain membawa kue untuk Sayang, aku juga membawa pulang ubi ungu yang Sayang bawa. Aku sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu rebus. Aku tidak bilang kepada Sayang kalau aku sedang menginginkannya atau pengen makan Ubi itu. Aku sempat mencarinya di pasar si, tapi mengurungkan niat setelah melihat ubinya kecil-kecil. Lalu ketika kita bertemu, ternyata ada ubi ungu yang dibawa. 

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa, ya? Ada keinginan kecil yang ternyata tetap punya jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa spesial buatku.

Lucu ya, Sayang, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, perasaan dekat sebelum memberikan sesuatu, sebuah pelukan beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tahu apakah Sayang akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin buat Sayang ini hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan. Aku sedang belajar menyayangi Sayang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya.

Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depan Sayang aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluk Sayang, dan berharap Sayang tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengan Sayang. Hehe.

Aku juga ingin belajar lebih banyak tentang Sayang. Bukan cuma memikirkan apa yang bisa kuberikan, tetapi juga mengenal apa yang Sayang sukai, apa yang membuat Sayang nyaman, dan bagaimana caranya supaya Sayang juga bisa merasa disayangi olehku.

Aku belum tahu semua jawabannya. Kadang aku masih bingung, kadang baru kepikiran setelah pulang, kadang malah sibuk menyusun kata-kata di kepala sampai lupa mengatakannya langsung. Wkwk.

Tapi aku ingin mencoba, Sayang. Dengan caraku yang mungkin masih malu-malu ini. Dan mungkin, kali ini bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, terima kasih. Untuk banyak hal yang mungkin belum semuanya bisa kusampaikan langsung.

Aku sayang Sayang.

Kue Coklat dan Ubi Ungu

Sayangku, Terimakasih


Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya. Tanggal kelahirannya 30 September lalu. Sebenarnya, kami ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahirannya, pengen saja. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku. Sayangku, Terima Kasih

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu katanya kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kami bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuknya, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan. Di perjalanan mengantarku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Katanya tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas.Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu - Palembang lebih dari dua kali. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue. Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap serta kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu ku urungkan. Orangnya sudah ada di depan mata. Sepertinya, kali ini aku berfikir untuk mengandalkan insting saja.

Aku mendekat dulu, lalu tersenyum malu-malu. 

“Sayang, aku punya itu.” Maksudnya kue

Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua-semua yang di kepala tidak sampai jadi kalimat. 

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotongnya beberapa di bagian yang agak penyok. Sambil bilang "Yah, sayang kuenya kena itu sebelahnya." Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi.

Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tetapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu. 

Maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Semua rasa terima kasih detailnya masih tinggal di dalam hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tau bahwa aku pun ingin mendukungnya. Aku ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya.

Aku belum selalu tau bagaimana caranya. Aku masih belajar. Kadang aku bertanya-tanya apa yang dia sukai, apa yang membuatnya senang, atau apa yang bisa kulakukan ketika dia sedang capek. Banyak yang belum kutahu. Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kami tidak duduk berdekatan. Ketika aku di dapan buku atau di depan laptp ingin menulis. Wkwk.

Selain membawa kue untuknya, aku membawa pulang ubi ungu yang dibawanya, sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu itu.  Aku tidak bilang kepadanya klo aku sedang pengen makan ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar, tetapi mengurungkan niat setelah liat Ubinya kecil-kecil. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa yaa, ada keinginan kecil yang ternyata tetep ada jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa istimewa buatku.

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan sebelum memberikan sesuatu, beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tau apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tau cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, Terima kasih


Kue Kecil untuk Sayang



Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya.  Tanggal kelahirannya 30 September lalu, sebenarnya kami ada rencana bertemu pada tanggal itu tapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku terhadap hari kelahiran. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku juga tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya 30 September ku isi dengan ungkapan rasa sayangku. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, "Sayang, suka apa ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkkw. No clue. Aku juga tidak bertanya ya, padahal dulu katanya klo tidak tau ya bertanya, aku baru kepikiran waktu nulis ini. Wkwk. Baru saja. 

Btw, akhirnya kami bertemu. Aku memesan kue sajalah pikirku. Padahal sebenanrnya aku punya hadiah, dan hadiahnya tidak sempat ku berikan. Aku cuma bilang pas diperjalanan anter aku pulang "Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang." Katanya tidaj usah, hehe. Aku urungkan niatku mengambilnya di dalam tas. Btw, gift itu bolak-balik dibawa Sekayu - Palembang lebih dari 2 kali. Nanti klo Sayang mau lihat, aku senang sekali. 

Btw, waktu di depan kue itu aku tidak tau cara bilangnya. Sejujurnya itu pertama kali aku lalukan sendirian, mungkin waktu kuliah pernah tapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat mau ngetik ChatGPT cara bersikap dan kata-kata buat disampaikan ke oranf tersayang. Tapi aku urungkan, orangnya sudah di depan mata dan sepertinya insting aja. Wkwk.

“Sayang, aku punya itu, kue.”
Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotonginya. Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Rasanya lucu, sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri.

Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat,  semua rasa terima kasih ini di dalam hati. Wkwk. 

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada mengatakannya langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam. Wkwk.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tahu bahwa aku pun ingin mendukungnya, ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya. Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Tadi, selain membawa kue untuknya, aku juga membawa pulang ubi ungu yang sudah beberapa hari ingin kumakan. Aku tidak pernah bilang kepadanya bahwa aku sedang ingin ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar kecil-kecilan, tapi mengurungkan niat. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali. Rasanya seperti ada keinginan kecil yang diam-diam menemukan jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ubi ungu itu terasa istimewa buatku. 

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan,  beberapa potong kue di atas meja, dan ubi ungu yang sudah lama ingin kumakan.

Aku tidak tahu apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku, kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, dan ubi ungu.

Minggu, 04 Oktober 2026

Aku Sedang Belajar Menjadi Tempat yang Aman

Beberapa hari ini aku sedang mengisi formulir untuk sebuah program kepemudaan. Namanya Young Progressive Academy. Lucu juga. Setelah beberapa tahun merasa belajar itu ya kuliah, tugas, penelitian, seminar, revisi, lalu akhirnya wisuda, sekarang aku mulai merasa mungkin belajar tidak selalu harus datang dari ruang kelas.

Aku baru selesai S2. Kontrakku di LTKL juga sudah selesai. Dua hal yang cukup besar dalam hidupku ternyata selesai hampir bersamaan. Lalu sekarang aku sedang melihat-lihat lagi. Mau bekerja di mana. Mau mengambil peran seperti apa. Mau membawa pengalaman yang sudah ada ke mana. Bahkan, sedikit lebih dalam dari itu, aku sedang bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya aku ingin menjadi orang seperti apa?

Selama beberapa tahun bekerja di pembangunan daerah, aku cukup sering berada di tengah banyak orang. Pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, perusahaan, teman-teman di desa. Orangnya berbeda-beda. Bahasanya berbeda-beda. Kepentingannya juga tidak selalu sama. Tapi semakin lama berada di antara mereka, aku malah semakin sering melihat sesuatu yang sederhana.

Banyak orang sebenarnya punya niat baik. Banyak hal sebenarnya bisa dikerjakan bersama. Hanya saja, orang-orang yang ingin melakukan sesuatu itu kadang tidak tahu harus bertemu di mana. Tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Kadang sudah duduk di meja yang sama, tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Dan ada satu hal yang cukup sering menggangguku. Beberapa program bisa tertulis sangat rapi di atas kertas, tetapi tidak semua orang merasa didengar untuk kemudian ditulis di dalam kertas tersebut.

Mungkin karena itu aku semakin tertarik pada ruang di antara orang-orang. Bukan hanya pada programnya. Bukan hanya pada hasil akhirnya. Tapi pada percakapannya. Pada siapa yang belum bicara. Pada orang yang sebenarnya punya pendapat, tetapi masih sungkan mengatakannya. Pada seseorang yang datang membawa gagasan yang masih berantakan dan hanya ingin didengarkan dulu sebelum mencari jawabannya.

Aku rasa selama ini aku cukup sering menjadi orang yang menghubungkan. Mendengar cerita dari satu pihak, lalu membawa bagian tertentu ke pihak lain. Membantu orang bertemu. Membantu percakapan tetap berjalan. Mencatat sesuatu yang sebelumnya hanya berputar-putar di kepala banyak orang. Tapi akhir-akhir ini aku bertanya, sejauh apa sebenarnya kemampuan itu bisa kubawa? Dan apakah itu memang sesuatu yang ingin terus kulakukan? Aku belum punya jawabannya.

Makanya aku tertarik ikut YPA. Bukan karena aku merasa sudah tahu bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Malah sebaliknya. Aku ingin belajar lagi tentang kepemimpinan, tentang keberagaman, tentang inklusi, tentang bagaimana menjadi warga yang aktif, dan tentang bagaimana hadir dengan lebih utuh ketika bekerja bersama orang lain. Aku juga ingin bertemu orang-orang yang mungkin punya pertanyaan yang sama, meskipun datang dari tempat dan pengalaman yang berbeda.

Ada satu hal yang kutulis ketika mengisi formulirnya. Aku ingin menjadi seseorang yang ketika orang datang kepadaku, mereka tidak perlu merasa sungkan atau takut untuk mengutarakan pendapat. Mau bicara tentang kehidupan. Tentang pembangunan daerah. Tentang sesuatu yang mereka tidak setujui. Tentang ide yang masih sederhana. Atau bahkan tentang sesuatu yang kami sendiri belum tahu harus menyebutnya apa.

Entah kenapa kalimat itu terasa cukup dekat denganku. Mungkin aku tidak sedang mencari tahu bagaimana caranya menjadi orang paling depan dalam sebuah ruangan. Mungkin aku sedang belajar menjadi orang yang membuat orang lain merasa cukup aman untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Dan lucunya, aku membayangkan ruang itu tidak harus selalu berupa forum resmi dengan meja panjang dan backdrop besar. Bisa saja di warung kopi, kata Uda.

Seseorang duduk di depanku, bercerita tentang kampungnya. Aku mendengarkan. Lalu dari percakapan yang awalnya tidak terlalu jelas itu, tiba-tiba muncul satu nama, satu masalah, satu kemungkinan, atau satu orang lain yang mungkin perlu dipertemukan.

Barangkali memang begitu caraku ingin terus belajar. Tidak selalu dengan berdiri di depan. Kadang cukup dengan duduk bersama seseorang dan benar-benar mendengarkan. Aku belum tahu setelah ini akan bekerja di mana. Belum tahu peran apa yang akan kupilih. Tapi mungkin untuk sementara, tidak apa-apa kalau aku belajar mengenali diriku sendiri dari pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini.

Aku sedang ingin tahu, seberapa banyak suara yang bisa kudengar, seberapa banyak orang yang bisa kuhubungkan, dan seberapa nyaman sebuah ruang bisa kubuat untuk orang lain menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu juga bentuk lain dari belajar. Dan mungkin, kali ini, aku sedang belajar menjadi tempat yang aman bagi sebuah percakapan untuk dimulai.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Momen Hangat di Dalam Angkot

Hari ini, adek sepupuku minta ditemenin ke Pasar 16 Ilir. Dia mau menjual songket Palembang asli karya tangannya sendiri ke bos tempat biasa dia menyetor. Di depanku, dia duduk manis dengan sandal blink-blink kesayangannya. Kami sengaja memilih naik angkot, sengaja ingin menyisakan ruang untuk berjalan kaki menyeberangi Jembatan Ampera.

​Sepanjang perjalanan pagi tadi, aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel. Ada rasa trauma yang belum sepenuhnya pulih setelah kejadian HP dijambret di pasar Mei 2025 lalu. Dan di balik keputusan untuk tidak merekam apa pun lewat kamera, ternyata ada hadiah lain, yaitu seluruh peristiwa terekam begitu jernih dan utuh di dalam ingatanku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia jalanan dan pasar yang sejujur ini.

​Di dalam angkot, seorang ibu yang mungkin berusia mendekati 60 tahun duduk tepat di hadapanku. Sempat terjadi percakapan sekejap di dalam angkot itu "Banyak asap yaa." Aku menimpali dengan singkat mengiyakan, lalu bertanya kepada adik sepupku alasan tak memakai masker. Tak lama kemudian, seorang bapak seusianya ikut naik. Bapak itu membawa termos air panas, tas anyaman, dan sebuah tas tenteng tertutup berwarna ungu. Dari percakapan singkat yang tak sengaja kudengar, bapak itu bercerita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakinya yang sakit. Aku sempat melihat bapak tersebut memegang kaki sebelahnya, saat berbicara tentang pengobatan kaki. Ibu di depanku merespons hangat, menutup obrolan dengan doa yang tulus, "Iya, semoga cepat sembuh." Setelah itu, suasana kembali hening.

​Sekitar tiga menit berlalu. Aku memperhatikan ibu tersebut membuka dompet kecilnya. Di dalam kepalaku, dompet itu familiar seperti dompet dari toko emas. Tidak ada slot-slot kartu seperti dompet modern masa kini, hanya plong saja. Di dalamnya, terlihat lembaran uang yang terlipat tidak rapi saat dia menghitung uang itu, satu lembar 50 ribu, dua lembar 20 ribu, dan 3 ribu rupiah. Dia membuka lipatan lembaran demi lembaran, terlihat merapikan lipatan itu. Awalnya, jemarinya memegang uang 3 ribu, ongkos pas untuk angkot. Ia sempat menutup dompetnya, tapi kemudian dia terlihat diam dan berpikir sejenak.

​Perlahan, ia memasukkan kembali uang 3 ribu tadi, lalu memilih mengeluarkan lembaran 20 ribu. Dipegangnya erat-erat. Selama dua menit di atas angkot yang terus berjalan, ia terlihat menimbang sesuatu dalam hening. Aku hanya memperhatikan dari balik diamku.

​Dua menit berlalu, angkot berhenti dengan instruksi ibu itu "Depan..." Angkot itu stop dan ibu itu turun lebih dulu, ia menyerahkan lembaran 20 ribu itu ke driver depan.
"Uangnya besar, Buu," kata driver angkot.
Ibu itu menyahut pelan sambil menunjuk bapak yang masih duduk di dalam, "Aku bayar dua orang."
Bapak itu sempat bilang tidak usah karena sungkan, tapi ibu itu memaksa halus, lalu melangkah pergi begitu saja menembus keramaian.

​Sesaat aku menangkap momen paling menyentuh dalam hidupku. Ternyata saat kita memilih menyimpan ponsel dan hadir sepenuhnya, sensing sekeliling, ada pelajaran yang di dapatkan. Dua menit hening di atas angkot pagi tadi menurutku memberikan pelajaran yang cukup penting bagiku, tentang menimbang, tentang berfikir, tentang ketulusan, ketulusan yang tidak butuh panggung, bahwa di antara keraguan dan keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk saling menopang. Hehe. 
Oh iya, klo mau pesan atau buat songket Palembang, adek sepupuku bisa yaaa... 

Rabu, 30 September 2026

Sayangku, Terima Kasih

Melihat seseorang tumbuh dan bertahan hidup itu sebenarnya sebuah keajaiban yang pelan. ​Aku tidak sedang ingin merayakan angka atau penanggalan. Bagi hatiku, nilai keberadaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa ramai tanggal tertentu diingat, tapi dari bagaimana dia terus melangkah, belajar, dan bertahan melewati hari-hari yang tidak pernah mudah.

​Hari ini, aku cuma ingin memberi ruang tenang di dalam batin untuk sebuah apresiasi sunyi untuk jiwa yang sudah berjuang sejauh ini.

​Aku memperhatikan bagaimana dia menanggung lelahnya. Bagaimana langkah kakinya, meski kadang berat, letih, atau tertatih tapi tetap diayunkan untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ada ketangguhan yang tidak perlu dipamerkan kepada dunia, dan ada proses pendewasaan yang terus berjalan secara jujur di balik diamnya. Menjalani hidup memang tidak pernah sederhana, dan menyaksikan seseorang berproses dengan segala dinamikanya adalah sebuah ruang pembelajaran yang hangat.

​Menghargai hidup seseorang sejatinya adalah tentang mendoakan kebaikannya dalam keheningan. Memohon agar hatinya selalu dilapangkan, jiwanya diberi ketenangan, langkahnya dimudahkan, dan setiap lelah yang diusahakannya bernilai kebaikan serta keberkahan.

​Aku berkeyakinan bahwa tidak perlu ada perayaan yang riuh. Cukup rasa syukur yang mengendap tenang di dalam dada bahwa di antara takdir- takdir di bumi ini, ada satu jiwa yang terus berikhtiar untuk hidup, belajar, dan berjalan dengan sebaik-baiknya.

​Ini bukan ucapan untuk satu hari tertentu. Ini adalah penanda dan bentuk penghormatan sunyi untuk sebuah perjalanan panjang bernama hidup. Terima kasih sudah terus bertahan, belajar, dan melangkah, Sayang. 
Sayang Abang. Sehat selalu yaaa.

Kesel Tapi Tetep Sayang

Tadi siang aku ngetik satu kalimat yang rasanya jujur banget, tanpa filter, "Aku kesal tapi aku tetap sayang." Nggak ada gengsi yang ditutup-tutupi, nggak ada drama pasif-agresif, dan nggak ada perisai sok kuat. Cuma respons spontan yang mengalir gitu aja.

​Dulu, mungkin kalau lagi jengkel atau merasa kurang diperhatikan, pilihanku cuma dua yaitu menahan semuanya sendirian sampai dada sesak, atau ngambek sambil nunggu dia menebak-nebak. Kita sering secara tidak sadar diajari untuk main aman, menjaga gengsi, atau pakai silent treatment biar kelihatan berkuasa. Tapi makin ke sini aku makin paham, cara-cara begitu cuma bikin sistem saraf bekerja terlalu keras dan capek sendiri.

​Beberapa waktu lalu waktu aku main sama anak-anak kecil di lorong desa, ada satu rasa yang bikin hatiku tenang banget, bahwa bicada dengan mereka terasa no hidden intention. Mereka ngobrol polos, tertawa lepas, dan bahkan mempermudah aturan main supaya aku bisa ikut tanpa merasa kesulitan. Di dekat mereka, aku merasa aman karena tidak ada tuntutan untuk berpura-pura.  

​Ternyata, kehangatan yang sama bisa kita bawa ke dalam hubungan dewasa. Hadir utuh dan sadar penuh itu bukan berarti kita harus selalu ramah, selalu tenang, atau berpura-pura tidak pernah kesal. Keberanian dewasa yang sebenarnya justru ada pada saat kita bisa dengan jujur meluapkan ganjalan, tanpa harus menurunkan kualitas rasa sayang kita pada pasangan. Kita memilih untuk tidak menghukum orang lain atau memelihara ego, melainkan merawat ruang hubungan agar tetap hangat dan aman.

​Melepaskan gengsi dan berani jujur sama perasaan sendiri ternyata rasanya sangat membebaskan. Nggak perlu akrobat emosi, nggak perlu pura-pura tangguh. Cuma ada aku, dengan segala rasa jengkel, kangen, dan kasih sayang yang utuh, belajar hadir untuk diriku dan hubunganku dengan cara yang paling ringan.

Kamis, 24 September 2026

Ternyata, Aku Lebih Tenang Setelah Menulis



Ada satu hal kecil yang baru kusadari beberapa hari ini. Ternyata, aku bisa lebih tenang hanya dengan menulis. Bukan karena semua yang kutulis kemudian mendapat jawaban. Bukan juga karena orang yang kutuju selalu punya solusi untuk semua isi kepalaku. Kadang aku cuma mengetik.

“Sayang, aku kepikiran ini…”

“Sayang, tadi aku ingat sesuatu…”

“Sayang, menurutmu kenapa begini?”

Kadang bahkan isinya tidak penting-penting amat. Tentang charger yang rusak. Tentang hidung yang terus meler. Tentang belum minum. Tentang rasa kangen yang tiba-tiba muncul padahal baru saja bertemu. Hal-hal kecil yang mungkin kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa saja kusimpan sendiri. Tapi ternyata, ketika kutuliskan, kepalaku terasa lebih lapang.

Aku baru sadar bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mengira bahwa ketenangan datang setelah mendapat respons. Seolah-olah aku gelisah, aku cerita, dia menjawab lalu aku tenang. Padahal beberapa hari ini aku menemukan urutan yang sedikit berbeda. Aku gelisah, aku menulis, aku membaca lagi apa yang sebenarnya kurasakan lalu perlahan aku tenang. Jawabannya belum tentu ada. Tapi sesuatu di dalam diriku sudah bergerak. 

Mungkin karena ketika sesuatu masih berputar di kepala, semuanya terasa besar. Begitu ditulis, ia punya bentuk. Yang tadinya cuma “aku merasa tidak enak” bisa berubah menjadi,

“Oh, ternyata aku sedang takut tidak dilibatkan.”

“Oh, ternyata aku sedang ingin dimengerti.”

“Oh, ternyata aku cuma kangen.”

“Oh… ternyata aku sedang capek.”

Sesederhana itu. Menulis ternyata bukan cuma cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kadang ia adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku juga belajar sesuatu tentang kedekatan. Bahwa dekat dengan seseorang bukan berarti semua rasa harus segera diselesaikan oleh orang itu. Aku boleh ingin ditenangkan. Aku boleh ingin didengar. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh mengirim pesan panjang ketika kepalaku sedang penuh. Tapi mungkin aku tidak harus menjadikan orang yang kusayangi sebagai satu-satunya tempat untuk membuatku kembali baik-baik saja.

Ada bagian yang tetap bisa kukerjakan sendiri. Bukan supaya aku menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku rasa bukan itu. Aku justru ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membutuhkan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin bisa berkata, “Aku ingin kamu ada.” tanpa diam-diam menerjemahkannya menjadi, “Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan baik-baik saja.” Ada jarak kecil di antara dua kalimat itu. Dan ternyata, jarak kecil itu penting.

Hari itu aku juga sempat bertanya tentang sesuatu yang sudah lama tersimpan di kepalaku. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana seseorang memandang perempuan dalam pekerjaan. Tentang kenapa dalam situasi tertentu ia terlihat lebih mudah menghubungi atau meminta bantuan perempuan tertentu. Pertanyaannya sebenarnya sederhana.Tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Kadang kita tidak benar-benar sedang bertanya tentang orang lain. Kita sedang mencoba memahami “Aku ini ada di mana dalam duniamu?”

Aku sempat tertawa sendiri setelah menyadarinya. Ternyata hati manusia memang lucu. Bisa membahas charger 220 ribu, lalu beberapa jam kemudian tiba-tiba masuk ke pertanyaan tentang kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Tidak selalu rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia menyimpan banyak hal sekaligus.

Dan malam itu, setelah semua pesan kecil itu lewat, aku kembali menyadari sesuatu. Aku ternyata senang melihat seseorang yang kusayangi berkarya. Aku senang melihatnya menjalankan sesuatu dengan serius. Aku senang bisa menjadi saksi dari sebagian kecil kehidupannya. Tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Kadang cukup menjadi seseorang yang berkata, “Aku lihat kamu.” Dan mungkin itu juga bentuk cinta yang sedang kupelajari. Bukan hanya ingin dilihat. Tapi belajar melihat. Bukan hanya ingin dipahami. Tapi belajar memahami. Bukan hanya ingin ditenangkan. Tapi belajar menenangkan diriku sendiri sambil tetap membiarkan orang lain hadir.

Mungkin selama ini aku mengira bahwa kedekatan adalah tentang seberapa sering seseorang membalas pesan. Sekarang aku mulai melihatnya sedikit berbeda. Kedekatan mungkin juga tentang seberapa aman kita merasa untuk membawa hal-hal kecil kepada seseorang. Tentang bisa berkata, “Aku lagi begini,” tanpa harus membuatnya menjadi persoalan besar. Tentang bisa diam tanpa merasa hubungan langsung hilang. Tentang bisa bertanya tanpa harus sudah tahu jawabannya. Dan tentang bisa mencintai seseorang sambil tetap pulang kepada diri sendiri.

Hari ini aku belum selesai belajar soal itu. Masih sering ingin dicari. Masih ingin diingat. Masih ingin dilibatkan. Masih ada bagian dalam diriku yang kadang membaca jeda sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Tapi mungkin bertumbuh memang bukan berarti semua itu tiba-tiba hilang. Mungkin bertumbuh adalah ketika aku mulai bisa berkata kepada diriku sendiri “Aku tahu kamu ingin didengar. Yuk, kita dengarkan dulu.”

Lalu aku menulis. Dan anehnya… setelah itu aku sering kali menjadi sedikit lebih tenang.

Selasa, 15 September 2026

Ternyata Masih Ingin Dekar


Tadi kami duduk bareng dari sekitar jam dua belas sampai hampir jam lima. Makan pisang goreng. Dia sibuk dengan laptopnya. Aku lebih banyak diam, nemenin.

Aneh ya, ternyata aku nggak butuh banyak hal untuk merasa senang. Nggak harus diajak ngobrol terus. Nggak harus melakukan sesuatu. Cukup duduk di dekatnya, melihat dia sibuk dengan dunianya, sesekali ngobrol sedikit, lalu diam lagi.

Waktu terasa cepat. Sampai akhirnya dia bilang mau pulang. "Mau ambil printer. Istirahatlah di atas." 

Dan aku baik-baik saja. Nggak ada kecewa. Nggak ada sesuatu yang sebenarnya aku harapkan lalu nggak terjadi. Aku memang tahu setelah itu kami akan berpisah dan kembali ke urusan masing-masing.

Tapi malamnya... Aku pikir aku masih akan oke-oke saja. "Istirahatlah, sudah malam ke atas."katanya bicara padaku. Aku menatapnya dalam diam.  Entah kenapa rasanya berat. Aku bahkan nggak menyangka masih akan merasa seperti ini setelah tadi sudah hampir lima jam bersamanya.

Mungkin karena tadi aku terlalu nyaman. Sampai ketika waktunya selesai, tubuhku seperti belum selesai ingin berada di sana. Lucu juga.

Aku bisa menerima dia pulang. Aku nggak mengejar supaya waktu kami diperpanjang. Aku juga nggak sedang meminta apa-apa. Aku cuma ternyata masih ingin dekat.

Dan mungkin itu saja yang sedang kurasakan malam ini. Nggak perlu dicari alasannya terlalu jauh. Aku cuma kangen. Wkwk.

Senin, 07 September 2026

Belajar Pulang pada Diri Sendiri

Dulu, aku percaya bahwa jarak adalah ancaman. Setiap kali pesan tak segera berbalas atau layar ponsel menunjukkan keheningan, sistem sarafku langsung membunyikan alarm: "Kamu sedang ditinggalkan."
​Ketakutan itu bukan tentang hari ini. Itu adalah gema dari masa lalu, suara anak kecil yang tertinggal di dusun, menunggu tanpa kepastian apakah orang yang disayangi akan kembali. Aku mengira cinta harus dijaga dengan kecemasan agar ia tidak pergi.
​Namun, kebenaran mengubah cara pandangku. Jarak bukanlah bukti penolakan, dan keheningan tidak selalu berarti hilang. Ketika aku berhenti menuntut kepastian luar dan mulai memeluk bagian diriku yang takut, aku menyadari sesuatu yang mendasar: rasa aman tidak diciptakan oleh cepatnya balasan pesan, melainkan oleh keberanian kita untuk jujur pada diri sendiri dan pasangan.
​Pelajaran hidupnya sederhana bahwa kedekatan sejati dimulai saat kita berhenti menebak-nebak dan mulai belajar berkata, "Aku di sini, dan aku sedang belajar merasa aman bersama diriku sendiri."

Sabtu, 05 September 2026

Sayang, terimakasiii.

Aku jadi ingat dulu banget. Dulu aku cuma berani berasumsi. Aku nggak berani bertanya. Yang paling bikin aku shock bahwa kalau kangen, ternyata seseorang bisa diam. Hehe. Dulu aku baru pertama kali belajar bahwa seseorang yang kangen juga bisa memilih diam, dan ternyata itu bukan berarti tidak sayang. Aku tau dari sayang. 

Ya Allah, lucu banget kalau mengingat aku yang dulu. 

Dari aku yang pernah nangis sampai nggak bisa ngerjain daftar isi, sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan tesis. Dari banyak hal yang dulu terasa besar dan menakutkan, sampai akhirnya satu per satu bisa kulewati. Dan di sepanjang perjalanan itu, ada banyak sekali kebaikan sayang yang mungkin tidak semuanya bisa aku sebutkan satu per satu.

Hal-hal kecil. Cara sayang mengingat sesuatu tentang aku. Cara sayang hadir. Cerita-cerita kecil yang sayang bagi. Bahkan mungkin hal-hal yang buat sayang biasa saja, tapi entah kenapa tinggal lama sekali di ingatanku.

Mungkin itu sebabnya aku sering bilang ingin belajar banyak tentang sayang. Aku ingin tahu cara sayang berpikir. Aku ingin tahu bagaimana sayang melihat dunia. Aku ingin tahu cerita-cerita sayang yang belum pernah sayang ceritakan. Aku ingin tahu hal-hal kecil tentang sayang. Tapi ternyata semakin aku belajar tentang sayang, semakin banyak yang aku temukan tentang diriku sendiri.

Tentang kenapa aku bisa takut. Tentang kenapa aku bisa kangen lalu ingin mendekat. Tentang kenapa sebuah kabar pendek bisa membuatku merasa begitu dipilih. Tentang kenapa ketika tidak ada kabar, kepalaku bisa mulai membuat cerita sendiri. Tentang bagaimana ternyata aku bisa belajar berhenti sebentar, menarik napas, lalu bertanya kepada diriku sendiri, “Sebentar, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Dan mungkin itulah salah satu hadiah terbesar dari perjalanan ini. Aku datang dengan keinginan untuk mengenal sayang lebih banyak. Tapi sepanjang jalan, aku malah perlahan berkenalan dengan diriku sendiri.

Sayang, aku nggak tahu apa lagi yang bisa aku bilang selain terima kasih. Terima kasih untuk semua kebaikan yang mungkin sayang sendiri nggak sadar sudah sayang berikan.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Dari aku yang dulu nangis karena daftar isi tesis, sampai aku yang akhirnya bisa bilang, “Tesisku selesai.”

Dan sekarang aku masih ingin belajar. Belajar tentang sayang. Belajar tentang aku. Belajar tentang bagaimana dua orang yang sama-sama punya cerita, ketakutan, kebiasaan, dan cara masing-masing untuk merasa aman bisa pelan-pelan saling memahami.

Sayang, bantu aku yaaa. Kalau boleh, tetap temani aku belajar. Bukan karena aku ingin sayang selalu punya jawaban untukku. Tapi karena aku merasa ada banyak hal yang bisa kupelajari dari perjalanan kita. Dan mungkin nanti, setelah melewati lebih banyak hal, aku akan kembali membaca tulisan ini dan tersenyum.

Melihat perempuan yang mengetik sambil menangis pada malam September ini. Perempuan yang ternyata sedang tumbuh. Pelan-pelan. Sambil tetap mencintai. Sambil tetap belajar. Sambil makan karena baru sadar ternyata dari tadi lapar. Dan iya, mungkin malam ini aku memang sedang lebih mudah tersentuh.

Tapi tidak apa-apa. Malam ini aku sedang ingin berterima kasih. Thank you, sayang. Loveee youuuu sayang. 

Ternyata Aku Tidak Butuh Banyak Chat


Kemarin malam aku cuma ingin pelukan. Kepalaku agak pusing setelah makan kerang waktu magrib, jadi sekitar jam delapan malam aku chat,

“Sayang, aku perlu pelukan.”

Tidak ada balasan. Beberapa jam kemudian aku chat lagi. Lalu pagi berganti siang. Dan entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa yang sudah cukup aku kenal, merasa sendirian. Merasa seperti tidak tahu aku sedang berdiri di mana dalam kehidupan seseorang yang aku sayangi.

Padahal aku tahu, belum tentu ada apa-apa. Mungkin dia sedang bekerja. Mungkin capek. Mungkin sedang mengurus sesuatu. Mungkin memang belum sempat membuka atau membalas. Aku tahu semua kemungkinan itu. Tapi tubuh dan pikiranku kadang punya cerita sendiri ketika tidak ada konteks.

Akhirnya aku memberanikan diri menulis. Bukan untuk menuntut dia membalas. Bukan untuk meminta dia selalu ada. Aku cuma ingin bilang apa yang sedang terjadi di dalam diriku. Aku teringat satu kejadian beberapa minggu lalu. Waktu itu dia mau pergi ke Jambi.

Awalnya aku sempat panik. Aku mengirim banyak chat. Ada rasa kaget, takut, dan banyak hal yang bergerak bersamaan di dalam kepala. Tapi setelah itu aku bisa berhenti. Tanggal 23, aku tidak chat. Tanggal 24, tidak. Tanggal 25, juga tidak. Lalu tanggal 26 dia mengabariku.

“Abg baru sampai Palembang.”

Sesederhana itu. Tapi aku ingat sekali rasanya waktu membaca pesan itu. Aku senang. Bukan karena akhirnya dia membalas. Lebih dari itu. Aku merasa dilibatkan. Aku merasa dipilih untuk tahu sedikit tentang kehidupannya. Aku merasa penting.

Dan mungkin saat itu menyadari sesuatu yang sebelumnya mungkin belum bisa aku rumuskan dengan jelas bahwa ternyata aku bisa memberi ruang. Aku bisa menunggu. Aku bisa membiarkan seseorang sibuk dengan kehidupannya. Aku bisa tidak terus-menerus mengirim pesan. Asalkan aku punya sedikit konteks. Aku tidak membutuhkan laporan harian. Aku tidak membutuhkan percakapan sepanjang hari. Kadang satu kalimat saja cukup.

“Abang lagi kerja.”

“Abang mau ke Jambi.”

“Abang baru sampai.”

Atau bahkan sebuah foto kecil dari hari itu. Seperti waktu dia pernah mengirim foto vanili dan bercerita tentang vanili. Aku senang sekali waktu itu. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Mungkin bagi orang lain itu cuma foto vanili. Tapi buatku, rasanya seperti sebuah pintu kecil yang dibuka, “Ini sedikit dari kehidupan abang. Aku mau berbagi ini sama kamu.”


Dan ternyata itu berarti besar buatku. Aku merasa terhubung. Aku pernah berpikir mungkin aku terlalu banyak ingin tahu. Mungkin aku terlalu butuh dikabari. Mungkin aku harus belajar tidak peduli. Tapi sekarang aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku tidak ingin mengontrol kehidupan orang yang aku sayangi. Aku hanya ingin tahu kapan aku perlu mendekat dan kapan aku perlu memberi ruang.

Aku ingin punya sedikit peta.Karena ketika tidak ada peta, pikiranku kadang mengisi ruang kosong dengan berbagai kemungkinan. Dan sering kali kemungkinan yang muncul bukan yang paling menenangkan. Itulah mungkin kenapa ketika hanya di-read, kepalaku bisa mulai bekerja sendiri. Bukan karena aku ingin membuat drama. Bukan juga karena aku tidak percaya. Kadang aku memang hanya tidak tahu harus mengambil posisi di mana.

Apakah dia sedang sibuk? Apakah dia capek? Apakah dia ingin sendiri? Apakah aku boleh menghubunginya? Apakah aku sebaiknya menunggu?

Ketidakjelasan kecil itu bisa terasa jauh lebih besar ketika aku sedang rindu atau sedang butuh kehadiran. Dan sekarang aku sedang belajar memberi nama pada kebutuhan itu. Aku membutuhkan konteks agar bisa memberi ruang dengan tenang.

Hari ini aku kembali mengatakannya. Aku bilang bahwa pola komunikasi waktu dia pergi ke Jambi ternyata terasa cocok untukku. Aku bilang bahwa chat pendek darinya membantu. Aku bilang bahwa aku merasa lebih tenang dan tetap merasa dilibatkan meskipun kami tidak sedang dekat. Aku juga bilang bahwa aku belum tahu bagaimana dia merasakan semua ini. Karena memang aku tidak tahu.

Dan aku ingin belajar untuk tidak mengisi bagian yang belum aku ketahui dengan cerita buatanku sendiri. Lalu dia membalas.

“Abg baru sampai Palembang.”

Aku membaca kalimat itu. Dan lucunya, tubuhku malah sempat kaget. Keringat dingin. Mungkin karena sebelumnya aku sudah berada cukup lama dalam ruang yang tidak pasti. Lalu tiba-tiba ada konteks. Oh. Dia ada di Palembang. Dia baru sampai. Aku tahu sedikit tentang harinya. Dan perlahan aku bisa bernapas lagi.

Mungkin ini salah satu hal yang sedang aku pelajari tentang diriku sendiri. Aku tidak perlu menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa-siapa supaya disebut mandiri. Aku juga tidak perlu memaksa seseorang untuk terus hadir supaya merasa aman. Ada ruang di antara keduanya. Aku boleh membutuhkan. Aku boleh bilang kangen. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh senang ketika seseorang mengingat hal kecil tentangku. Dan aku juga bisa belajar menunggu. Aku bisa belajar menarik napas sebelum bereaksi.

Aku bisa belajar membedakan apa yang benar-benar terjadi, apa yang sedang kurasakan, dan cerita apa yang mulai dibuat kepalaku. Mungkin ini juga yang sedang aku lakukan sekarang. Bukan berhenti menyayangi. Bukan berhenti berharap. Bukan menjadi cuek. Tapi belajar tetap menjadi diriku sendiri ketika orang yang kusayangi sedang tidak berada di dekatku.


Aku teringat satu hal kecil lagi. Pernah suatu hari aku bilang aku tidak suka timun. Ketika kami membicarakan makanan, dia kemudian ingat. Gado-gadonya datang tanpa timun, padahal aku cuma bilang tanpa kavang panjang. 

Aku senang sekali waktu itu. Bukan karena timunnya. Aku senang karena ternyata dia mendengarkan. Hal-hal kecil seperti itu mungkin bahasa kasih yang sangat sederhana buatku didengar, diingat, lalu dilibatkan. Dan mungkin karena itulah aku senang ketika dia bercerita tentang hari-harinya.

Aku tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang aku cuma ingin menjadi bagian kecil dari kehidupan seseorang yang kusayangi. Tahu dia sedang ke mana. Tahu dia baru sampai. Melihat sesuatu yang dia temukan hari itu. Mendengar cerita tentang vanili. Hal-hal yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tetapi bagiku terasa seperti, “Abang masih mengingat aku di dalam harinya.”

Aku juga tidak tahu akan seperti apa pola kami setelah ini. Aku tidak tahu apakah dia akan selalu ingat untuk bercerita. Aku tidak tahu apakah aku akan selalu bisa tenang. Mungkin nanti aku masih akan kangen. Mungkin nanti aku masih akan panik. Mungkin ada hari ketika aku kembali mengirim terlalu banyak chat.

Dan mungkin ada hari ketika dia kembali diam karena sedang sibuk dengan dunianya. Aku tidak ingin menjadikan satu momen sebagai bukti bahwa semuanya sudah berubah selamanya. Aku cuma ingin menyimpan momen ini. Karena hari ini aku belajar sesuatu yang mungkin akan berguna untuk diriku sendiri di kemudian hari bahwa Aku ternyata tidak membutuhkan banyak chat.

Aku membutuhkan tanda. Sedikit konteks. Sedikit rasa bahwa benang itu masih tersambung. Dan ketika benang itu terasa ada, aku ternyata bisa memberi ruang. Aku bisa pergi menjalani hariku.

Aku bisa tidur. Aku bisa bekerja. Aku bisa menikmati hidupku. Dan ketika kami bertemu lagi, mungkin aku tidak perlu membawa semua pertanyaan itu ke dalam pertemuan kami.  Aku bisa melihat dia. Memeluk dia. Makan bersama. Bercanda. Menikmati waktu yang memang sedang kami punya. Tidak semua hal harus dibicarakan saat itu juga. Tidak semua rasa harus segera diselesaikan. Kadang sebuah hubungan juga bertumbuh dari hal-hal kecil yang perlahan dipahami.

Hari ini, mungkin aku sedang belajar memahami caraku mencintai. Dan mungkin, pelan-pelan, aku juga sedang belajar bagaimana mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri. Terima kasih, sayang. Untuk menjadi salah satu tempat aku belajar mengatakan apa yang kurasakan.nUntuk membuatku berani berkata, “Aku butuh ini.”

Dan untuk mengajarkanku bahwa ternyata aku bisa tetap memberi ruang sambil tetap merasa dekat. Aku tidak tahu apakah nanti aku akan membaca tulisan ini dan tertawa karena ternyata dulu aku memikirkan hal-hal seperti ini sedalam itu.

Tapi kalau suatu hari aku membacanya lagi, aku ingin mengingat satu hal bahwa pada suatu hari di bulan September 2026, aku sedang belajar bahwa rasa aman tidak selalu datang dari seseorang yang terus berada di sampingku. Kadang rasa aman tumbuh ketika aku tahu sedikit tentang keberadaannya, lalu aku cukup percaya untuk kembali menjalani hidupku sendiri.

Dan hari itu, aku merasa sedang bertumbuh. Pelan-pelan. Bersama rasa sayang yang masih sama. 

Ketika Satu Orang Menunjukkan, Satu Orang Lain ingin Mendengarkan

Jumat, 04 September 2026

3 Cara Mudah Cairkan Suasana dan Bangun Koneksi dengan Orang Baru


Ingin ngobrol dengan orang baru atau rekan profesional tapi sering bingung harus mulai dari mana? Jangan biarkan kecanggungan menghentikanmu.

Berikut adalah 3 trik praktis untuk membangun kedekatan (rapport) secara instan tanpa terasa kaku atau memaksa:

  • Manfaatkan "Frustrasi Bersama" (Shared Frustration): Saat berada di situasi canggung atau tidak menyenangkan, cari hal yang sama-sama dirasakan di sekitar kalian (misalnya ruangan yang terlalu dingin atau teks presentasi yang buram) dan gunakan kata "Kita" (We) untuk mencairkan suasana.
  • Bingkai Fakta Menjadi Pertanyaan (Frame Facts as Questions): Alih-alih melontarkan pernyataan atau opini pribadi yang kaku, ubah observasi situasi menjadi pertanyaan terbuka yang mengundang persetujuan atau diskusi ringan.
  • Gunakan Rasa Ingin Tahu: Awali percakapan dengan rasa penasaran yang tulus terhadap situasi sekitar, sehingga lawan bicara merasa diajak berdialog, bukan dihakimi.

Contoh Penerapan Nyata:

  • Cara biasa (dihindari): "Tulisan di slide itu jelek banget."
  • Cara profesional (dianjurkan): "Kira-kira gimana caranya ya kita bisa baca tulisan sekecil itu dari belakang?"

Dengan membungkus observasi menjadi pertanyaan yang melibatkan rasa penasaran bersama, obrolan mengalir jauh lebih natural dan akrab!

Pertanyaan untukmu: Situasi canggung seperti apa yang paling sering membuatmu bingung saat harus mulai mengobrol dengan orang baru?

Cara Tenang Hadapi Ketidakpastian Tanpa Harus Overthinking

​Sering merasa lelah karena terus-menerus memikirkan masa depan? Tenang, kamu tidak sendirian. Kadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah berhenti sejenak dan belajar berdamai dengan alur kehidupan.

​Berikut adalah 3 langkah sederhana untuk mengembalikan ketenangan batin saat kepala terasa penuh:
​1. Duduk dan Amati Sekitar: Alih-alih memikirkan hal besar yang belum terjadi, alihkan perhatian pada detail kecil di dekatmu—seperti hembusan angin, langit, atau aliran sungai.

​2. Akui Rasa Rindu atau Cemas: Jangan menolak emosi yang datang. Sadari keberadaannya, lalu akui dengan jujur pada diri sendiri tanpa menghakimi.

3. ​Kurangi Paksaan untuk Sempurna: Ingatlah bahwa segala sesuatu tidak harus berjalan sempurna agar terasa cukup. Ketenangan sering kali hadir dari hal-hal yang sederhana.
​Pada akhirnya, kita bisa berdiri mandiri dan tetap merasa tenang sendirian, namun tetap membuka hati untuk merindukan kedekatan yang tulus.

​Pertanyaan untukmu: Apa hal kecil di sekitarmu hari ini yang berhasil mencuri perhatian dan membuatmu tersenyum?

Kamis, 03 September 2026

Aku Ternyata Tidak Butuh Kamu Lebih Sering Mengabariku



Aku sedang membaca The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry ketika sebuah kalimat membuatku berhenti cukup lama “Dari mana datangnya emosi ini?”

Bukan, bukan karena aku sedang memikirkan anak. Aku malah sedang memikirkan seseorang yang kupanggil sayang. Beberapa hari sebelumnya, dia bilang akan pergi ke Jambi. Sebenarnya aku bisa menunggu. Tiga hari, bahkan. Aku tidak menghubunginya selama itu. Dan pada akhirnya, tanggal 26, dia datang sendiri.

Kalau dipikir-pikir, bukankah itu menarik? Aku yang selama ini kadang merasa takut ditinggalkan ternyata bisa menunggu ketika aku tahu konteksnya.

Lalu aku ingat kejadian tanggal 22. Hari itu aku sedang ingin terhubung. Aku sempat bilang kepadanya, “Eh aku lagi pengen terhubung.”

Lalu di tengah percakapan, dia bilang mau ke Jambi. Tiba-tiba. Aku belum sempat bertemu. Aku bahkan mengira hari itu mungkin masih ada kesempatan untuk bertemu. Aku langsung panik. Aku banyak chat. Aku bertanya kapan pergi, berapa lama, sudah di jalan atau belum. Sampai akhirnya aku bisa mengatakan dengan cukup jujur, “Aku lagi mode siaga ditinggal.”

Kalimat itu ternyata bukan cuma candaan. Aku memang sedang takut. Takut pergi. Takut tidak tahu.nTakut tidak tahu kapan pulang.

Beberapa hari kemudian, aku teringat sesuatu dari masa kecil. Dulu, bibiku sering datang dari Jakarta ke desa. Aku bisa pergi bermain seperti biasa. Lalu ketika pulang, bibiku sudah tidak ada. Dia sudah pulang. Tanpa bilang.nDan aku tidak pernah tahu kapan dia datang lagi. Bisa jadi tahun berikutnya. Aku tidak tahu.

Ketika mengingat itu, aku mulai memahami kenapa ketidakpastian bisa terasa begitu besar bagiku. Mungkin yang membuatku takut bukan sekadar seseorang pergi. Yang membuatku takut adalah pergi tanpa konteks.

Lalu ada kejadian kecil lain yang membuatku semakin mengerti. Aku ingat suatu hari dia bertanya, “Mau makan apa?”

Dia bilang mau makan gado-gado. Aku bilang aku mau tanpa kacang panjang. Lalu dia ingat aku tidak pakai timun. Padahal aku merasa hanya pernah bilang sekali. Dia bahkan masih bertanya, “Pakai telur nggak?” Aku bilang iya. Sederhana sekali. Gado-gado. Kacang panjang. Timun. Telur. Tapi entah kenapa aku masih mengingatnya sampai sekarang. Karena aku senang. Dia mengingat hal kecil tentang aku.

Kalau aku bilang kepada orang lain bahwa aku tidak suka semangka, belum tentu beberapa minggu kemudian mereka masih ingat. Kadang aku bahkan masih ditawari semangka. Dan sebenarnya bukan semangkanya yang penting. Ada rasa kecil yang muncul, “Kamu tadi benar-benar mendengarkan aku?”

Ketika seseorang mengingat hal kecil yang pernah kita ceritakan, rasanya seperti mendapat tanda bahwa "Oh, ternyata aku ada di pikiranmu."

Mungkin itu sebabnya aku senang ketika diberi kabar. Bukan karena aku perlu tahu setiap aktivitasnya. Bukan karena aku ingin mengawasi. Bukan karena dia harus selalu tersedia. Aku baru sadar bahwa ketika seseorang yang penting bagiku memberi sedikit konteks, aku merasa dilibatkan.nAku merasa dianggap penting. Bahkan kabar yang sangat sederhana bisa cukup.

“Abang lagi kerja di Jambi.”
“Kayaknya sampai Sabtu.”
“Abang lagi sibuk.”
“Abang nanti kalau sudah lega kabarin.”

Selesai. Aku bisa mengerti. Aku bisa memberi ruang. Aku bisa kembali mengurus hidupku.

Dan ini bagian yang baru kusadari belakangan bahwa aku ternyata tidak membutuhkan lebih banyak chat. Aku membutuhkan lebih sedikit ruang kosong untuk kutafsirkan sendiri. Karena kalau hanya di-read, pikiranku kadang bekerja terlalu rajin. Dia belum membalas. Lalu otakku mulai bertanya, kenapa? Dia sedang apa? Dia sengaja tidak membalas? Dia masih memikirkan aku? Kenapa tidak bilang apa-apa? Padahal bisa saja jawabannya sangat sederhana. Dia sedang kerja. Dia sedang bertemu orang. Dia sedang capek. Dia sedang tidak ingin memegang ponsel. Aku tidak tahu. Dan ketika tidak tahu, otakku mengisi kekosongan itu dengan cerita.

Mungkin inilah yang sedang diajarkan Philippa Perry kepadaku. Bukan untuk setiap kali merasa sedih lalu menyalahkan masa kecil. Bukan pula untuk mengatakan bahwa semua reaksiku berasal dari masa lalu. Tapi untuk berhenti sebentar dan bertanya, “Apakah perasaanku sepenuhnya berasal dari apa yang sedang terjadi sekarang?” Kadang jawabannya mungkin iya. Kadang tidak. Kadang ternyata ada sesuatu yang lebih lama ikut mengetuk pintu.

Sekarang aku sedang belajar membedakan tiga hal. Apa yang benar-benar terjadi. Dia membaca pesanku. Apa yang kurasakan. Aku kangen. Aku ingin merasa dekat. Aku ingin tahu dia baik-baik saja. Dan apa yang kemudian dibuat oleh pikiranku.

Cerita-cerita yang muncul karena ada bagian yang belum kuketahui. Ternyata ketiganya tidak selalu sama.nDan mungkin kedewasaan emosional bukan tentang berhenti membutuhkan orang lain. Aku masih ingin dikabari. Aku masih ingin dia bilang sedang apa. Aku masih senang ketika dia mengingat hal kecil tentangku. Aku masih ingin merasa menjadi bagian dari kehidupannya. Itu semua tidak perlu dihilangkan.

Yang sedang kupelajari adalah bagaimana menyampaikan kebutuhan itu tanpa menjadikan orang yang kusayang sebagai satu-satunya tempat untuk menenangkan semua ketakutanku.

Aku bisa bilang, “Kalau abang kasih aku konteks, aku lebih mudah memberi abang ruang.”

Kalimat itu terasa jauh lebih jujur daripada, “Abang kok jarang ngabarin?”

Karena ternyata aku tidak sedang meminta lebih banyak perhatian. Aku sedang meminta sedikit konteks agar aku bisa tahu kapan harus mendekat dan kapan harus memberi ruang. Dan mungkin, bagi sebagian orang, itu hal kecil.

Bagi seseorang yang pernah mengalami orang penting pergi tanpa tahu kapan akan kembali, hal kecil itu bisa terasa seperti sebuah pegangan. Bukan untuk menahan seseorang agar tidak pergi. Hanya untuk tahu, “Kamu pergi ke mana, dan kapan kira-kira kita tersambung lagi?”

Supaya ketika kamu pergi, aku tidak perlu berdiri di depan pintu sambil menebak-nebak. Aku bisa menarik napas. Lalu melanjutkan hariku. Sambil tetap tahu bahwa kita masih tersambung.

Rabu, 26 Agustus 2026

Ketika Satu Orang Menunjukkan, dan Satu Orang Lagi Ingin Mendengar


Aku baru sadar ada satu pola yang terus berulang. Bukan cuma di hubungan ini. Mungkin juga di banyak hubungan sebelumnya. Aku sering merasa ingin mendengar. Sementara dia lebih sering menunjukkan.

Awalnya aku pikir itu soal perhatian. Kalau dia sayang, kenapa tidak bilang? Kalau dia kangen, kenapa tidak menghubungi? Kalau dia peduli, kenapa diam?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering datang saat layar ponsel tidak menyala dan pesan terakhirku menggantung tanpa jawaban. Lucunya, kalau dipikir lagi, ternnyta banyak bukti yang menunjukkan hal sebaliknya.

Dia mengirimkan barang titipan. Dia mengingat hal-hal yang perlu diurus. Dia memberi kabar ketika sudah sampai. Dia pulang setelah perjalanan jauh lalu mengabari. Dia muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hanya saja tidak selalu dalam bentuk kata-kata. Sementara aku... Aku adalah orang yang menganggap kata-kata sebagai rumah. Aku suka mendengar. Aku suka percakapan panjang yang berkelok. Aku suka tahu seseorang sedang apa, memikirkan apa, merasakan apa. Aku bisa merasa dekat hanya karena satu pesan sederhana:

"Aku lagi kerja."

"Aku sampai nanti malam."

"Aku capek hari ini."

Bukan karena isi informasinya penting. Tapi karena aku bisa merasakan keberadaannya. Lalu suatu hari aku refleksj sesuatu yang membuatku sedikit terdiam. Mungkin selama ini aku tidak sedang berhadapan dengan orang yang tidak peduli. Aku hanya sedang berhadapan dengan orang yang menggunakan bahasa yang berbeda.

Saat aku mengirim banyak pesan karena ingin terhubung, mungkin yang dia lihat hanyalah seseorang yang sedang ingin berbicara. Saat dia diam karena bekerja atau lelah, mungkin yang dia rasakan hanyalah seseorang yang sedang fokus menjalani harinya.

Masalahnya muncul ketika diam mulai diterjemahkan. Aku menerjemahkan diam sebagai jarak. Dia menerjemahkan diam sebagai biasa saja. Aku menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai ketidakpastian..Dia menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai sedang sibuk. Aku menerjemahkan kata-kata sebagai kedekatan. Dia menerjemahkan tindakan sebagai kedekatan.

Tiba-tiba aku teringat masa kecil. Ada masa ketika aku bermain di luar rumah lalu pulang dengan semangat ingin bertemu seseorang yang kusayang. Ternyata orang itu sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa sempat bilang kapan akan kembali. Besok. Bulan depan. Tahun depan. Aku tidak tahu.

Mungkin sejak saat itu aku belajar bahwa ketidaktahuan terasa menakutkan. Bukan perginya yang paling menyakitkan, tapi tidak tahu. Tidak tahu kapan kembali. Tidak tahu apakah akan kembali. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini kabar sederhana bisa terasa begitu menenangkan.

Sebuah pesan pendek bisa mengubah banyak hal. Bukan karena pesan itu menyelesaikan masalah. Tapi karena pesan itu membuatku tidak perlu menebak-nebak. Dan mungkin, pelajaran terbesarku bukanlah membuat orang lain berubah menjadi lebih banyak bicara. Tapi belajar melihat cinta dalam bentuk yang tidak selalu kukenal.

Kadang cinta datang sebagai percakapan panjang sampai tengah malam. Kadang cinta datang sebagai seseorang yang tiba-tiba berkata:

"Alhamdulillah, baru sampai pulang lagi."

Kalimatnya sederhana. Tidak puitis. Tidak romantis. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di balik kalimat itu ada sesuatu yang lebih penting. Dia pulang..Dan dia ingat untuk memberi tahu. Barangkali hubungan memang sering kali bukan soal menemukan orang yang persis sama. Tapi belajar menerjemahkan bahasa yang berbeda tanpa buru-buru menganggap salah satunya kurang mencintai.

Sabtu, 22 Agustus 2026

"Abang mau ke Jambi"


Hari Senin kami ada membahas tentang pertemuan, bahwa mungkin Sabtu saja ke Palembang.  Ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya. Aku belum tahu bagaimana tepatnya, tapi setidaknya ada kemungkinan itu. Tapi, kemarin Jum'at kami tidak membahasnya, jadi aku belum ke Palembang.  Lalu, datang sebuah pesan, di antara pesan tentang pakaian dan map SPPD, muncul kabar:

“Abg mau ke Jambi, takut kececer barang-barang yang ada di abg.”

Aku membaca kalimat itu dan langsung berpikir, "Jambi?"

Aku belum bertemu dia. Aku bahkan belum tahu rencana itu.

“Kapan ke Jambi?”

Lalu, “Belum ketemu aku sayang…”

Aku sebenarnya ingin bertemu sebelum dia pergi. Kalau aku tahu dari semalam, mungkin aku bisa mengatur perjalanan ke Palembang dengan berbeda. Mungkin bisa menyempatkan diri bertemu dulu. Aku bilang kepadanya, “Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ketemu sayang.”

Ada rasa kesal kecil karena kabar itu datang terlambat. Bukan kesal karena dia pergi. Aku tahu dia punya pekerjaan dan urusannya sendiri. Aku hanya ingin diberi tahu. Karena kalau aku tahu, aku bisa membuat pilihanku sendiri. Mungkin aku akan tetap di rumah. Mungkin aku akan pergi ke Palembang. Mungkin aku akan mengejar waktu sebentar hanya untuk bertemu.  Tapi aku ingin punya kesempatan untuk memilih.

Sore harinya, ketika balasannya belum juga datang, aku mulai memanggil.

“Sayang…”

“Kalau udah agak lega mau chat yaa sayang.”

“Sayang apa udah di jalan ke Jambi?”

“Sayaang……”

Beberapa menit kemudian aku mengirim pertanyaan yang sebenarnya lebih besar dari sekadar perjalanan, 

“Apa yang harus aku lakukan kalau sayang lagi mode kerja? Apa kalau aku chat sayang terganggu nggak?”

Aku sedang mencoba memahami ritmenya. Lalu satu kalimat keluar tanpa banyak dipikirkan, 

“Sayang maaf ya, aku lagi mode siaga ditinggal.”

Aku baru sadar betapa jujurnya kalimat itu setelah terkirim. Ternyata aku bukan cuma sedang menunggu kabar tentang Jambi. Aku sedang menunggu kepastian bahwa orang yang ingin kutemui itu masih punya tempat untukku di dalam harinya.

Aku menatap layar ponsel. Rencana ke Palembang masih ada. Jambi juga masih ada. Dan di antara dua kota itu, ada satu pertemuan yang belum sempat terjadi.

Baju, Map Merah dan Kabar yang Datang Terlambat

Baju, Map Merah, dan Kabar yang Datang Terlambat


Jam 14.49, sebuah pesan masuk.

“Ini pakaian adek dan ado map berkas SPPD, tlg kasihkan Ali yg map merah SPPD yo.”

Aku membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali.

“Hm.”

Itu balasanku. Di kepalaku sudah ada rencana lain. Katanya hari ini aku mau ke Palembang. Kami belum ketemu. Pakaian bisa nanti saja.

“Nanti kan mau ketemu?”

Beberapa menit kemudian baru aku tahu: dia mau ke Jambi. Aku langsung bertanya:

“Kapan ke Jambi? Belum ketemu aku sayang…”

Aku sebenarnya sudah punya rencana ke Palembang hari itu. Kalau tahu sejak semalam bahwa dia akan pergi ke Jambi, mungkin aku bisa mengatur waktu sedikit berbeda.

Setidaknya aku bisa bertemu dulu. Setidaknya aku bisa bercengkarama dengannya. 

“Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ngobrol sayang, padahal katanya hari ini mau ke Palembang, tapi semalam belum sempat ngomong.”

Lalu aku sadar, ada satu hal lain yang sebenarnya ingin kukatakan. Bukan soal Jambi. Aku ingin tahu kesehariannya. Aku ingin tahu kalau dia punya rencana pergi. Bukan supaya aku bisa mengawasi, tapi supaya aku punya kesempatan untuk hadir.

Aku akhirnya menulis:

“Boleh nggak aku minta tolong kalau sayang ada rencana pergi, aku dikasih tahu yaa.”

Lalu buru-buru kutambahkan: 

“Eh ini dikasih tahu yaa. Hahaha.”

Aku tidak ingin terdengar seperti sedang membuat aturan. Aku cuma ingin dilibatkan. Aku melihat lagi barang-barang yang ada di depanku. Baju. Map SPPD.

Tadi aku sempat keringetan menerima kiriman itu. Ada sesuatu dari menerima barang milik orang lain yang membuatku gugup. Setelah melihat map merah dan memahami urusannya, pikiranku berubah. Oh. Dia percaya aku. Ada sesuatu yang dia titipkan kepadaku.

Aku mengetik:

“Terima kasih yaa sayang sudah percaya aku.”

Setelah itu aku masih kangen. Tentu saja. Tapi sekarang aku tahu satu hal bahwa kalau aku tahu lebih awal, mungkin aku bisa datang. Bukan untuk melakukan sesuatu yang besar. Cuma bertemu sebelum dia pergi. Cuma ngobrol, diskusi. 

Kadang yang membuat kita sedih bukan karena seseorang pergi..Tapi karena kita baru tahu setelah kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan hampir lewat.

Oo, brp

Jumat, 21 Agustus 2026

Aku Nangis Lagi di Farewell LTKL


Aku kira aku sudah selesai nangis. Hehe Bulan ini kayaknya sudah terlalu sering ngomongin LTKL. Exit interview nangis. Ngobrol sama orang nangis. Cerita di rumah nangis. Terus kemarin farewell.

Nangis lagi. Padahal sebelum mulai aku sudah bilang dalam hati, “Oke Novi, tenang. Jangan nangis.”

Terus Kak Giza bilang, “Ya mungkin mau ngobrol-ngobrol aja sama Novi, Eka, Ayu, Mas Umar… bisa sharing dari Novi dulu…”

Aku masih santai. “Oke.” Terus mulai ngomong.

“Terima kasih sebelumnya udah meluangkan waktu…”

Aman. “Jadi untuk minggu ini…”

Masih aman.

“Sebelumnya aku udah cukup sedikit banyak mengenang prosesnya…”

Mulai. Terus entah kenapa ketika ngomong soal melihat kabupaten-kabupaten anggota LTKL sampai hari ini, suara mulai berubah. Ya sudah. Nangis.

Aku bahkan sempat bilang aku pikir semua emosiku sudah keluar karena beberapa hari sebelumnya sudah banyak ngobrol dengan HR dan Uda. Ternyata belum. 

Yang paling lucu dari farewell kemarin, aku sebenarnya tidak merasa sedang pergi dari orang-orangnya. Yang selesai kan perannya. Kontraknya. Pekerjaannya. Handover-nya. Administrasinya. Tapi orang-orangnya? Ya masih ada.

Makanya kemarin waktu ada yang bilang nanti kalau ke Palembang, ke Muba, Jakarta, tinggal colek-colek Novi untuk nongkrong, aku senang. Karena ya memang begitu. Aku mungkin tidak lagi punya tanda tangan LTKL di bawah email. Tapi masih bisa di-chat. Masih bisa ditanya..Masih bisa diajak ngopi. Masih bisa debat sama Eka..Masih bisa ngobrol sama Kak Ayu. Masih bisa dengerin cerita teman-teman kabupaten lain.

Masih bisa ketemu Kak Giza. Masih bisa tiba-tiba dapat chat, “Nov, gimana kabarnya?” Dan mungkin itu yang bikin semuanya tidak terasa seperti hilang.

Aku masuk LTKL setelah lulus S1..Waktu itu ngirim email saja masih belajar. Serius..Sekarang kalau ingat lucu juga. Dulu buka email, mikir:

“Ini harus pakai Dear siapa?”

“Kalimatnya gimana?”

“Kalau terlalu panjang gimana?”

“Kalau terlalu pendek kurang sopan nggak?”

Sekarang?

Kirim. Dulu kalau mau ketemu orang baru juga banyak mikir.nSekarang lima tahun kemudian malah bisa ketemu macam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan ngobrol soal kabupaten, program, pemerintah, mitra, masyarakat, komoditas, kebijakan, macam-macam.

Kadang ngerti. Kadang sok ngerti dulu. Kadang benar-benar tidak ngerti. Kalau tidak ngerti ya tanya. Kalau masih tidak ngerti, ya tanya lagi. Kalau tetap tidak ngerti, buka Google. Wkwk. Aku juga pernah lima jam buka YouTube cuma untuk belajar mengatur halaman dokumen tesis.nJadi sebenarnya kemampuan “mencari tahu” ini mungkin memang salah satu skill yang paling lama menemaniku.

Kemarin Mas Umar cerita tentang aku sejak 2024. Katanya dia melihat aku makin percaya diri. Makin punya fire. Sering ikut pelatihan. MC. Public speaking. Macam-macam. Terus dia ngomong soal long run. Tentang aku harus tahu sebenarnya mau jadi apa ke depannya. Supaya skill yang kupilih tidak cuma menjadi kumpulan skill. Aku dengar sambil mikir.

“Iya juga ya.” Tapi ya sudah. Belum tahu juga.

Karena kalau ditanya sekarang: “Novi mau jadi apa?” Jawabannya masih panjang. Mau kerja lagi. Mau usaha. Mau belajar lagi. Mau S3. Pengen yang dekat dengan masyarakat. Pengen tetap bisa melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pembangunan daerah. Pengen riset juga. Tapi kalau ditanya, “Besok pagi harus mulai dari mana?”

Nah. Hehehe. Terus Kak Ayu cerita tentang pertama kali kami ketemu. Katanya waktu baru gabung MSF, aku salah satu orang yang membantu dia mencari tahu harus mulai dari mana. Aku malah lupa detailnya. Tapi ternyata orang lain menyimpan cerita tentang kita yang kita sendiri sudah lupa. Itu lucu.

Ada bagian dari hidup kita yang ternyata masih hidup di kepala orang lain. Eka juga cerita. Kalau aku dan dia sering debat. Memang.

Debatnya juga kadang bukan debat kecil.bTapi habis debat ya sudah. Besok ngobrol lagi. Ada kerjaan lagi. Ada yang perlu dibantu, bantu. Ada yang perlu ditanyakan, tanya. Sampai akhirnya dia bilang hubungan kami bukan lagi sekadar teman kerja. Ya mungkin memang begitu. Lima tahun kan lama. Masa cuma jadi “rekan kerja”.

Terus Bang Edi bilang satu hal yang bikin aku ketawa. Dia bilang dia paling suka lihat aku jago bahasa Inggris. Aku langsung mikir, “Lah?” Karena aku tidak merasa jago-jago amat. Tapi katanya dia lihat aku ketemu orang dari mana-mana dan bisa komunikasi. Terus dia bilang itu menginspirasi. Aku senang dengarnya. Bukan karena merasa “wah aku hebat”. Lebih karena… “Oh, ternyata hal yang buatku sudah biasa, pernah terlihat berarti buat orang lain.”

Uda cerita lebih panjang lagi. Tentang Muba. Tentang program. Tentang politik. Tentang kondisi fiskal. Tentang bagaimana selama beberapa tahun ini aku dan Eka menghadapi macam-macam perubahan di kabupaten. Terus dia bilang aku sudah punya modalitas untuk community development, riset, policy analysis, policy engagement, stakeholder engagement. Aku diem. Dalam hati: “Banyak juga ya istilahnya.”

Tapi memang kalau dipikir-pikir, lima tahun kerja membuat semuanya nyampur. Riset masuk. Pemerintah masuk. Masyarakat masuk. Mitra masuk. Fasilitasi masuk. Kuliah masuk. S2 masuk. Kadang hidup juga rasanya seperti satu folder besar yang isinya terlalu banyak file.

Terus Kak Bella bilang dia sering lihat aku ikut pelatihan. Ini juga benar. Aku memang suka ikut pelatihan. Kadang baru selesai satu, sudah lihat pelatihan lain. “Kayaknya menarik.” Daftar. Entah nanti kepakai atau tidak, tapi aku senang belajar.

Kak Teo juga cerita tentang obrolan kami. Tentang buku. Mental health. Self-development. Hal-hal yang sering kami chat-kan secara informal. Aku baru sadar ternyata ternyata banyak juga ya yang kami obrolkan. 

Terus Kak Giza bilang dia bangga melihat pertumbuhanku. Nah. Bagian itu bikin nangis lagi. Karena kalau aku sendiri yang melihat Novi lima tahun lalu dan Novi sekarang, mungkin aku lebih sibuk melihat kekurangannya. Tapi kemarin orang-orang malah cerita tentang apa yang mereka lihat. Dan aku cuma duduk. Dengerin. Nangis. Ketawa. Nangis lagi.

Aku juga bilang sesuatu kemarin. Aku bilang mungkin aku cuma bisa bilang terima kasih dan maaf. Kalau selama bekerja ada kata-kata yang salah. Ada pekerjaan yang kurang maksimal. Ada hal yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman. Aku minta maaf. Tapi satu hal yang benar bahwa aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Kadang hasilnya bagus. Kadang tidak. Kadang aku tahu harus bagaimana. Kadang aku benar-benar bingung. Tapi ya tetap dikerjakan.

Lima tahun itu panjang. Kalau dihitung dari email pertama yang masih mikir lama sampai sekarang bisa ngobrol tentang pekerjaan, kuliah, riset, fasilitasi, pemerintah, mitra, dan macam-macam hal dengan banyak orang… Lumayan jauh juga. Dan sekarang tiba-tiba selesai. Jumat terakhir. Sabtu. Minggu. Lalu Senin bukan lagi hari kerja LTKL. Aneh.

Aku belum terbiasa dengan kalimat itu. Mungkin nanti terbiasa. Mungkin juga tidak terlalu cepat.

Kemarin setelah selesai, kami foto bersama. Ketawa. Minta foto lagi. Ketawa lagi. Ada yang bilang mixed feeling. Memang. Senang. Sedih. Bangga. Terharu. Semuanya numpuk. Terus ada yang bilang, “Petualangan Novi selanjutnya.”

Aku suka kalimat itu. Karena memang belum tahu petualangannya ke mana. Belum tahu akan ketemu siapa. Belum tahu kerja di mana. Belum tahu akan tinggal di mana. Belum tahu kapan sekolah lagi. Belum tahu apakah usaha akan jalan lagi. Belum tahu banyak hal. Tapi ya sudah. Kemarin satu fase selesai. Aku nangis. Teman-teman juga bilang sayang. Kami foto. Kami ketawa. Kami bilang nanti ketemu lagi. Terus pulang. Begitu saja.

Besok-besok kalau ada yang ke Muba, chat Novi. Kalau Novi ke Palembang, cari teman.bKalau ketemu di tempat lain, ya ngobrol lagi. Karena mungkin memang tidak ada adegan dramatis ketika sebuah hubungan selesai.

Yang selesai cuma satu bagian dari hidup. Yang lainnya tetap jalan.Dan Novi? Ya masih Novi. Cuma sekarang tidak pakai embel-embel LTKL di belakangnya. Hehehe.