Kamis, 24 September 2026

Ternyata, Aku Lebih Tenang Setelah Menulis



Ada satu hal kecil yang baru kusadari beberapa hari ini. Ternyata, aku bisa lebih tenang hanya dengan menulis. Bukan karena semua yang kutulis kemudian mendapat jawaban. Bukan juga karena orang yang kutuju selalu punya solusi untuk semua isi kepalaku. Kadang aku cuma mengetik.

“Sayang, aku kepikiran ini…”

“Sayang, tadi aku ingat sesuatu…”

“Sayang, menurutmu kenapa begini?”

Kadang bahkan isinya tidak penting-penting amat. Tentang charger yang rusak. Tentang hidung yang terus meler. Tentang belum minum. Tentang rasa kangen yang tiba-tiba muncul padahal baru saja bertemu. Hal-hal kecil yang mungkin kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa saja kusimpan sendiri. Tapi ternyata, ketika kutuliskan, kepalaku terasa lebih lapang.

Aku baru sadar bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mengira bahwa ketenangan datang setelah mendapat respons. Seolah-olah aku gelisah, aku cerita, dia menjawab lalu aku tenang. Padahal beberapa hari ini aku menemukan urutan yang sedikit berbeda. Aku gelisah, aku menulis, aku membaca lagi apa yang sebenarnya kurasakan lalu perlahan aku tenang. Jawabannya belum tentu ada. Tapi sesuatu di dalam diriku sudah bergerak. 

Mungkin karena ketika sesuatu masih berputar di kepala, semuanya terasa besar. Begitu ditulis, ia punya bentuk. Yang tadinya cuma “aku merasa tidak enak” bisa berubah menjadi,

“Oh, ternyata aku sedang takut tidak dilibatkan.”

“Oh, ternyata aku sedang ingin dimengerti.”

“Oh, ternyata aku cuma kangen.”

“Oh… ternyata aku sedang capek.”

Sesederhana itu. Menulis ternyata bukan cuma cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kadang ia adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku juga belajar sesuatu tentang kedekatan. Bahwa dekat dengan seseorang bukan berarti semua rasa harus segera diselesaikan oleh orang itu. Aku boleh ingin ditenangkan. Aku boleh ingin didengar. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh mengirim pesan panjang ketika kepalaku sedang penuh. Tapi mungkin aku tidak harus menjadikan orang yang kusayangi sebagai satu-satunya tempat untuk membuatku kembali baik-baik saja.

Ada bagian yang tetap bisa kukerjakan sendiri. Bukan supaya aku menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku rasa bukan itu. Aku justru ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membutuhkan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin bisa berkata, “Aku ingin kamu ada.” tanpa diam-diam menerjemahkannya menjadi, “Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan baik-baik saja.” Ada jarak kecil di antara dua kalimat itu. Dan ternyata, jarak kecil itu penting.

Hari itu aku juga sempat bertanya tentang sesuatu yang sudah lama tersimpan di kepalaku. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana seseorang memandang perempuan dalam pekerjaan. Tentang kenapa dalam situasi tertentu ia terlihat lebih mudah menghubungi atau meminta bantuan perempuan tertentu. Pertanyaannya sebenarnya sederhana.Tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Kadang kita tidak benar-benar sedang bertanya tentang orang lain. Kita sedang mencoba memahami “Aku ini ada di mana dalam duniamu?”

Aku sempat tertawa sendiri setelah menyadarinya. Ternyata hati manusia memang lucu. Bisa membahas charger 220 ribu, lalu beberapa jam kemudian tiba-tiba masuk ke pertanyaan tentang kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Tidak selalu rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia menyimpan banyak hal sekaligus.

Dan malam itu, setelah semua pesan kecil itu lewat, aku kembali menyadari sesuatu. Aku ternyata senang melihat seseorang yang kusayangi berkarya. Aku senang melihatnya menjalankan sesuatu dengan serius. Aku senang bisa menjadi saksi dari sebagian kecil kehidupannya. Tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Kadang cukup menjadi seseorang yang berkata, “Aku lihat kamu.” Dan mungkin itu juga bentuk cinta yang sedang kupelajari. Bukan hanya ingin dilihat. Tapi belajar melihat. Bukan hanya ingin dipahami. Tapi belajar memahami. Bukan hanya ingin ditenangkan. Tapi belajar menenangkan diriku sendiri sambil tetap membiarkan orang lain hadir.

Mungkin selama ini aku mengira bahwa kedekatan adalah tentang seberapa sering seseorang membalas pesan. Sekarang aku mulai melihatnya sedikit berbeda. Kedekatan mungkin juga tentang seberapa aman kita merasa untuk membawa hal-hal kecil kepada seseorang. Tentang bisa berkata, “Aku lagi begini,” tanpa harus membuatnya menjadi persoalan besar. Tentang bisa diam tanpa merasa hubungan langsung hilang. Tentang bisa bertanya tanpa harus sudah tahu jawabannya. Dan tentang bisa mencintai seseorang sambil tetap pulang kepada diri sendiri.

Hari ini aku belum selesai belajar soal itu. Masih sering ingin dicari. Masih ingin diingat. Masih ingin dilibatkan. Masih ada bagian dalam diriku yang kadang membaca jeda sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Tapi mungkin bertumbuh memang bukan berarti semua itu tiba-tiba hilang. Mungkin bertumbuh adalah ketika aku mulai bisa berkata kepada diriku sendiri “Aku tahu kamu ingin didengar. Yuk, kita dengarkan dulu.”

Lalu aku menulis. Dan anehnya… setelah itu aku sering kali menjadi sedikit lebih tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar