Ada hari-hari di mana hidup terasa seperti sedang diputar dalam kecepatan tinggi, sementara batin kita masih tertinggal di sebuah pelukan pagi yang hangat. Hari ini adalah salah satunya.
Tadi pagi, segalanya terasa begitu utuh. Ada botol VCO yang berpindah tangan, ada lelucon ringan tentang senam wajah untuk menutupi hal-hal yang sebenarnya ingin kita perbaiki dengan cinta, dan ada kecupan yang, entah mengapa, terasa sengaja disisakan untuk dirindukan. Kita menyebutnya Zeigarnik Effect; sesuatu yang belum tuntas justru akan membekas jauh lebih dalam di ingatan.
Namun, siang datang membawa realitas. Dia harus kembali ke medan tempurnya di suatu kantor perencanaan, dan aku harus kembali ke meja rapat hilirisasi air kelapa.
Di titik inilah, sebuah ujian kecil dimulai.
Saat dia sudah di jalan dan tidak ada kabar yang kuterima, inner child di dalam diriku mulai berteriak. Ia cemas. Ia ingin mengintip last seen, ia ingin menuntut kepastian, ia ingin dipeluk terus agar tidak merasa "ditinggal". Itu manusiawi. Itu adalah sinyal bahwa aku mencintai dengan sungguh-sungguh.
Tapi, bukankah menjadi dewasa berarti belajar untuk tidak membiarkan kecemasan menyetir hidup kita?
Aku memilih untuk berhenti sejenak. Aku menarik napas dalam, membiarkan rasa sedih itu hadir karena mengakuinya justru melepaskan beban, lalu aku kembali ke notulensi rapatku. Aku tidak mematikan kerinduanku, aku hanya menggendongnya sambil tetap melangkah.
Aku belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus "menempel" setiap saat. Mencintai berarti memiliki kedaulatan atas diriku sendiri, sambil tetap memberikan ruang baginya untuk menjalankan perannya di dunia.
Kini, dia sedang di perjalanan menuju Palembang, membawa bekal VCO dariku, dan aku di sini, menyelesaikan tanggung jawabku dengan kepala tegak. Tidak ada yang salah dengan merasa rindu. Tidak ada yang salah dengan menjadi manusia yang ingin dipeluk.
Namun, pada akhirnya, aku menyadari satu hal bahwa kebahagiaan terbesarku bukanlah saat dia selalu ada di dekatku, melainkan saat aku bisa merasa utuh, baik saat dia ada maupun saat dia sedang berjuang di jalan sana.
Hari ini aku belajar, bahwa menjadi "Ratu" bukan berarti tidak pernah sedih. Menjadi Ratu adalah ketika kita bisa menangis karena rindu, tertawa karena kejujuran, dan tetap berdiri tegak menjalankan misi kita masing-masing.
Sampai bertemu lagi, di titik di mana ritme kita kembali sinkron.


