Tampilkan postingan dengan label Gambir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gambir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2026

Topeng yang Runtuh di Balik Layar

​Pagi itu, di depanku, layar laptop menunjukkan wajah Uda Desriko melalui Google Meeting. Aku sudah menyiapkan script sempurna, sebuah pertunjukan satu babak berjudul "Novi yang Mandiri dan Terkendali". Aku mengenakan kemeja rapi, duduk tegak, dan sudah menyiapkan daftar progres tesis, tentang kopi gambir, tentang antioksidan, dan revisi metode, agar aku tampak profesional.

​Namun, di balik layar itu, ada aku yang lain. Aku yang sebenarnya sedang terkuras habis oleh ketidakpastian. Aku yang selama berbulan-bulan menaruh harap pada seseorang yang bahkan tidak pernah bertanya, "Apa kendalamu?" Saat Uda bertanya, "Novi, ada kendala apa saja?" awalnya aku bicara dengan intonasi yang terukur. Tapi ketika dia melontarkan pertanyaan yang menusuk tepat ke jantung permasalahan "Apa yang menantang dari proses ini? Mengapa merasa stuck?" nada bicaraku mendadak serak. Suara kipas laptop yang biasanya tidak mengganggu, tiba-tiba terdengar nyaring di tengah hening yang mencekam.

​Pertanyaan itu bukan lagi tentang tesis. Itu adalah kunci yang membuka pintu yang sudah kututup rapat-rapat.

​Saat aku mencoba menjawab, bibirku bergetar. Aku berusaha menahan napas, tapi mataku sudah mulai panas. Armor yang kubangun, topeng "perempuan kuat" yang kubawa setiap hari, akhirnya runtuh total. Air mata yang sejak tadi kusembunyikan di balik senyum tipis, akhirnya tumpah begitu saja di depan kamera yang ku tutup. 

​Aku menangis sejadi-jadinya. Di depan layar itu, aku tidak lagi peduli dengan penampilanku. Aku menangis bukan karena tesis itu sulit, tapi karena aku lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku lelah memikul beban "harus kuat" sendirian, sementara di luar sana, hatiku terus-menerus mencari validasi pada seseorang yang tak pernah memberikannya.

​Uda tetap tenang, mendengarkan, dan memberikan ruang yang sangat aman. Di sela isak tangis itu, aku menyuarakan kebenaran yang pahit namun melegakan bahwa "Ternyata S2 bukan cuma soal eksplor ilmu, Uda. Tapi soal mengenal diri sendiri. Dan sepertinya, aku belum selesai dengan diriku sendiri."

​Saat aku menutup sesi Google Meeting, ruangan itu terasa sepi, tapi dadaku terasa jauh lebih ringan. Aku sadar, selama ini aku mencari perhatian di tempat yang salah.

​Malam selanjutnya, aku berjanji, jam 03.00 pagi, aku menekan tombol send untuk tesisku. Bukan lagi dengan rasa takut akan kegagalan, tapi dengan rasa lega yang luar biasa. Aku tahu, tesis ini tidak sesulit itu jika dikerjakan. Dan aku tahu satu hal lagi bahwa menjadi rapuh bukan berarti aku kalah. Ternyata, ini adalah momen di mana aku akhirnya memenangkan diriku kembali.

Senin, 19 Januari 2026

Catatan Setelah Seharian Berfikir

​

Hari ini panjang. Bukan karena banyak langkah, tapi karena banyak logika.

Seharian aku duduk bersama angka, tabel, dan rumus.M etode Hayami.K epala rasanya penuh, tapi anehnya, hatiku tetap ingin belajar.

Pukul 16.00, ada rapat kerja melalui Google Meeting. Di ruang itu, aku menyampaikan hasil refleksi mandiri tentang lembagaku tentang apa yang sudah berjalan, apa yang masih rapuh, dan apa yang perlu dijaga agar tetap bernilai.

Awalnya aku berbicara dengan tenang. Kalimatku tersusun rapi. Nada suaraku stabil.

Lalu, tanpa aku rencanakan, emosiku berubah. Mataku berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Bukan karena tertekan. Aku bahkan tidak tahu nama emosi itu apa. Yang aku tahu hanya satu, aku terharu.

Terharu karena menyadari aku sedang bertumbuh. Terharu karena kini aku bisa melihat lebih dalam dan lebih luas, tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk diriku sendiri. Terharu karena aku tidak lagi berbicara dari luka, tapi dari pemahaman. 

Malamnya, aku kembali ke angka-angka. Masuk–keluar Zoom dari pukul 20.20 sampai 22.26 WIB. Membahas ulang perhitungan analisis nilai tambah. Menguji logika demi logika. Mengurai ulang apa yang sebelumnya terasa rumit.

Di sela kelelahan itu, muncul satu perasaan yang sangat manusiawi, aku kangen.

Bukan kangen yang ribut. Bukan yang menuntut. Hanya rasa ingin dipeluk setelah otak bekerja terlalu lama.

Aku menyadarinya, lalu menarik napas panjang. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung mencari ke mana rasa itu harus disalurkan.

Aku memilih menunda. Bukan karena menekan diri, tapi karena tahu-aku sedang lelah, dan lelah tidak selalu perlu jawaban dari orang lain.

Hari ini aku bersyukur. Bersyukur masih diberi ruang untuk belajar. Bersyukur bisa berdiskusi, meski melelahkan. Bersyukur pada Bu Eka, yang dengan sabar menemani prosesku memahami ulang hitungan demi hitungan.

Aku belajar satu hal lagi hari ini, kedewasaan bukan tentang tidak rindu, tapi tentang tahu kapan rindu perlu dipeluk oleh diri sendiri dulu.

Malam ini aku memilih istirahat. Menyimpan rasa hangat itu di dada. Dan membiarkannya menjadi tenaga untuk esok hari.

Pelan-pelan Menemukan Jalan


Aku sempat takut pada hampir semua bagian dari tesis ini. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kutulis.

Ada masa ketika membuka file tesis saja membuat dadaku terasa berat. Bukan karena malas, tapi karena aku tahu, apa pun yang kutuliskan di sana akan menjadi sesuatu yang harus bisa kupeluk-secara ilmiah, secara etis, dan secara batin.

Aku khawatir pada data. Khawatir pada konsistensi.

Khawatir pada bagian-bagian yang tidak sepenuhnya rapi. Dan di balik semua itu, aku khawatir pada diriku sendiri, apakah aku cukup dewasa untuk menyelesaikan ini dengan jujur?

Hari ini aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi menenangkan. Bahwa kebingungan bukan tanda kegagalan. Ia sering kali adalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir dengan sungguh-sungguh.

Aku belajar untuk tidak lagi memaksa diriku melompat. Aku memilih duduk, membaca ulang, merapikan satu per satu. Bukan agar terlihat cepat, tapi agar bisa kupertanggungjawabkan.

Alhamdulillah, pelan-pelan jalannya mulai terlihat. Bukan jalan yang lurus. Tapi jalan yang cukup terang untuk satu langkah ke depan.

Untuk diriku sendiri, terima kasih. Terima kasih sudah tidak pergi saat rasanya berat. Terima kasih sudah memilih jujur daripada terburu-buru. Terima kasih sudah terus berjalan, meski sambil takut.

Mungkin inilah arti dewasa yang sedang kupelajari, bukan tentang selalu siap, tapi tentang tetap hadir ketika belum sepenuhnya yakin.

Dan hari ini, itu sudah cukup.

Selasa, 21 Februari 2023

Kerajinan Gambo Khas Musi Banyuasin


Musi Banyuasin kaya akan sumber daya alam, salah satu kekayaan alam Musi Banyuasin adalah Gambir. Tanaman Gambir adalah tanaman khas Musi Banyuasin. Tanaman Gambir di Musi Banyuasin disebut Tanaman Gambo, biasanya dibuat getah gambir/getah gambo. Taukah kamu, limbah dari pembuatan getah gambo dibuat pewarna alami, dikenal dengan Jumputan Gambo Muba.

Jumputan Gambo Muba adalah salah satu kearifan lokal kain Musi Banyuasin dengan pewarna dengan teknik ikat jumputan. Kreatifitas kain Jumputan Gambo Muba semakin berkembang dengan hadirnya berbagai macam produk Jumputan Gambo Muba, seperti dompet, pouch, tempat name tag, tas, card holder dan sebagainya [bisa request].

Tertarik dengan Jumputan Gambo Muba?
Bisa hubungi kami ya di wa.me/6287769774710
Bisa juga kirim pesan, berikut contoh produknya 🔥

Sungguh menambah kepercayaan diri dengan memakai produk lokal yang berkualitas 🤗
Pesan sekarang yuk.Klik disini untuk terhubung ke WhatsApp WhatsApp kami

#gambo #gambir #gambomuba #gambir #musibanyuasin #jumputangambomuba #muba