Aku baru tau kalau ada rasa kesal yang ternyata tidak selesai hanya karena aku berhenti membicarakannya. Rasa kesalnya tetap tinggal. Kadang muncul ketika sedang sendiri, ketika melihat sesuatu yang mengingatkanku pada sebuah kejadian, atau ketika hendak tidur dan kepala tiba-tiba ramai mengulang percakapan yang sebenarnya sudah lewat. Aku kira aku sudah baik-baik saja, tapi nyatanya ada beberapa hal yang masih mengganjal. Mengganjalnya bukan hal besar sih, kadang hanya hal-hal sederhana yang mungkin bagi orang lain tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Sebuah kabar yang tidak tersampaikan. Pertanyaan yang tidak terjawab. Perasaan yang sudah dicoba dijelaskan, tetapi belum benar-benar terasa didengar.
Aku berdfikil sebenarnya aku tidak butuh seseorang untuk selalu tersedia. Aku juga tidak berharap setiap hal harus diceritakan atau setiap pesan harus segera dibalas. Aku tahu setiap orang punya kesibukan, ruang pribadi, dan kehidupannya sendiri. Cuma yaaa, sesekali aku ingin merasa dilibatkan.
Ada perbedaan antara ingin mengetahui semua hal dan ingin merasa diingat. Aku tidak sedang meminta akses ke seluruh kehidupan seseorang. Aku hanya ingin tahu bahwa keberadaanku juga terlintas dalam kesehariannya, bahkan ketika kami sedang tidak bersama. Mungkin kedengarannya sederhana. Tapi ketika sesuatu yang sederhana itu berulang kali tidak terpenuhi, rasanya bisa menjadi cukup besar di dalam hati. Seringnya jadi aku pun mulai bertanya-tanya tentang diriku sendiri.
Apakah aku terlalu banyak berharap? Apakah caraku menyampaikan sesuatu terlalu panjang? Apakah aku seharusnya lebih santai menghadapi hal-hal seperti ini?
Kadang aku kesal, lalu mencoba memahami. Setelah itu kesal lagi. Aku berusaha menyampaikan perasaan dengan baik, tapi kalau tidak mendapatkan respons yang kuharapkan, aku bisa kembali mengirim banyak pesan. Ada saatnya aku bercanda, merajuk, atau mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, padahal sebenarnya masih ada yang ingin dibicarakan. Aku sedang belajar mengenal pola-pola seperti itu.
Aku tahu bahwa perasaanku adalah tanggung jawabku. Aku perlu belajar menenangkan diri, memahami apa yang sebenarnya kubutuhkan, dan menyampaikannya tanpa melukai orang lain ya. Tapi aku juga sedang belajar bahwa bertanggung jawab atas perasaan sendiri bukan berarti harus menanggung seluruh persoalan hubungan seorang diri. Hehe.
Ada hal-hal yang memang hanya bisa tumbuh ketika dua orang sama-sama bersedia terlibat. Mengenal, memahami, mendengarkan, dan merawat kedekatan tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja.
Aku bisa membuka cerita tentang diriku. Aku bisa bertanya tentang kehidupan orang lain. Aku bisa mencoba memahami hal-hal yang belum pernah kualami. Tapi aku tidak bisa memaksa seseorang membuka ruang yang memang belum ingin dibuka. Dan yaaa mungkin, itu bagian yang masih aku coba fahami dan perlu kuterima dengan jujur kalau-kalau aku tidak selalu bisa mendapatkan kedekatan dengan cara yang kuharapkan. Walaupun begitu ya, aku tidak ingin menganggap keinginanku untuk didengar sebagai sesuatu yang memalukan.
Aku ingin didengarkan. Ingin diingat. Ingin sesekali dicari tanpa harus selalu memulai lebih dulu. Ingin mengenal seseorang bukan hanya dari hal-hal yang terlihat, tetapi juga dari cerita, kekhawatiran, pengalaman, dan harapan yang menjadikannya saat ini. Aku suka semua tentangnya. Dah titik.
Bukankah sebuah kedekatan memang membutuhkan kesediaan untuk saling mengenal?
Aku tidak sedang ingin membuat keputusan besar malam ini. Tidak juga ingin menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Aku hanya sedang lelah menyimpan banyak hal di dalam kepala. Mungkin aku perlu berhenti sejenak dari usaha menjelaskan semuanya. Bukan untuk menghukum siapa pun dengan diam, tapi untuk memberi diriku sendiri kesempatan mendengar apa yang sedang kurasakan. Karema selama ini aku cukup sibuk berharap dipahami, sampai kadang lupa bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya apa yang sedang membuatku begitu sedih?
Hmmm. Sepertinya aku belum punya semua jawabannya. Aku masih belajar membedakan mana kebutuhan yang perlu kusampaikan, mana harapan yang perlu dibicarakan bersama, dan mana hal yang perlu kulepaskan karena berada di luar kendaliku.
Satu hal yang ingin kuingat kalau menjadi seseorang yang mampu memahami orang lain tidak berarti harus terus-menerus mengabaikan apa yang dirasakan sendiri. Iyaa, aku boleh berusaha mengerti, tapi aku juga boleh berharap untuk dimengerti. Hmm malam ini, kalau memang masih ada kesal yang tersisa, mungkin tidak apa-apa membiarkannya hadir sebentar. Tidak semua perasaan harus segera diselesaikan. Ada yang perlu didengarkan lebih dahulu, termasuk oleh diri sendiri. Walau kalau aku sampaikan rasanya aku juga jadi berfikir kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar