Tampilkan postingan dengan label sky coco. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sky coco. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2026

Jernihnya Niat di Layar Virtual "Cerita di Balik Latar Skycoco"

 


Ada desiran halus di dada saya beberapa detik sebelum menekan tombol 'Apply Background' di ruang Zoom siang itu. Di layar, sudah berkumpul tokoh-tokoh hebat nasional dan teman-teman seperjalanan dalam momen kelulusan Youth Action Forum (YAF) 5.0.

Awalnya, ada suara kecil yang berbisik: "Yakin mau pakai background ini? Nggak pede, rasanya terlalu mencolok." Namun, saya memilih untuk mengambil jeda sejenak. Saya menyadari bahwa rasa tidak percaya diri itu hanyalah alarm dari sistem pertahanan lama saya yang terbiasa bersembunyi. Hari ini, saya memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan alarm itu. Dengan satu tarikan napas, saya menyalakan kamera. Di belakang wajah saya, terpampang jelas gambar produk rintisan saya: Skycoco.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gambar cup berisi nata de coco dengan latar langit biru. Tapi bagi saya, memajang gambar itu adalah sebuah deklarasi kedaulatan batin.

Saya memajangnya karena saya ingin mengakui pada diri saya sendiri: Ini buatan saya. Ini adalah karya yang berhasil saya bawa dan wujudkan dengan kedua tangan saya. Setelah sekian lama bergulat dengan perasaan tidak layak, hari ini saya mengizinkan diri saya untuk merayakan kapasitas saya sendiri. Saya tidak lagi menunggu divalidasi; saya memvalidasi diri saya sendiri.

Ada dua filosofi mendalam mengapa gambar ini yang menemani kelulusan saya.

Pertama, nama Skycoco adalah singkatan dari Sekayu Nata de Coco. Melalui gambar ini, saya sedang membawa akar, identitas, dan kebanggaan daerah asal saya, Musi Banyuasin, ke forum yang lebih luas. Ini adalah pengingat bahwa kepemimpinan yang berdampak selalu dimulai dari kepedulian kita pada ekosistem terdekat, pada komoditas lokal yang menghidupi masyarakatnya.

Kedua, tekstur nata de coco yang putih dan jernih itu merepresentasikan kondisi batin saya hari ini. Setelah melewati berbagai fase membongkar 'gunung es' di dalam diri—melepaskan cangkang ketangguhan palsu, memeluk kerentanan, dan menyeka air mata—batin saya kini terasa jauh lebih lapang. Warna putih jernih itu adalah manifestasi dari niat saya ke depan: ingin melangkah memimpin dengan niat yang murni, transparan, tanpa agenda yang disembunyikan, dan sudi mendengar lebih jernih.

Melihat wajah saya bersanding dengan Skycoco di layar virtual tadi, ada rasa penuh yang sulit dilukiskan. Saya tidak hanya lulus dari sebuah program kepemimpinan. Saya lulus menjadi manusia yang lebih utuh.

Terima kasih, Sekayu. Terima kasih, Skycoco. Mari kita mulai melangkah dengan niat yang sejernih ini.

— morenoviya

Jumat, 06 Februari 2026

SKYCOCO.ID


Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
Jumat malam, menjelang istirahat

Ada masa ketika kita tidak benar-benar bergerak ke mana-mana, tapi di dalam, sesuatu sedang disusun ulang pelan-pelan.

Hari ini terasa seperti itu.

Bukan hari yang penuh pencapaian besar, bukan juga hari yang kosong. Lebih seperti hari untuk merapikan arah. Membuka kembali lembaran lama, melihat ulang perjalanan yang pernah dimulai dari sebuah skripsi, dari laboratorium kecil, dari tangan yang belajar fermentasi pertama kali, lalu tanpa terasa menjelma menjadi sebuah usaha yang hidup.

Aku sempat berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
apa sebenarnya yang sedang kubangun?

Bukan sekadar produk.
Bukan sekadar usaha.

Sepertinya yang sedang dibangun adalah ruang.
Ruang di mana ilmu tidak berhenti di kertas.
Ruang di mana bahan sederhana bisa memberi penghidupan.
Ruang di mana sesuatu yang dimulai dari rumah bisa tumbuh, tanpa harus kehilangan kesederhanaannya.

Di dalam proses itu, aku juga belajar tentang posisi.
Tidak harus selalu di depan.
Tidak harus selalu terlihat.

Ada orang yang memang dipanggil untuk berdiri di panggung.
Ada juga yang merasa cukup menjadi akar.

Dan mungkin, aku lebih tenang di sana.
Menjadi bagian dari yang menumbuhkan, bukan yang ditampilkan.
Menjaga arah, bukan mengejar sorotan.

Hari ini aku melihat kembali mimpi yang dulu terasa jauh:
melihat bangunan produksi berdiri,
melihat orang-orang punya penghasilan dari kelapa,
melihat ilmu yang pernah kupelajari dipakai banyak orang.

Aneh rasanya, karena mimpi itu tidak lagi terasa seperti ambisi.
Lebih seperti doa yang sedang mencari jalannya sendiri.

Aku juga belajar menerima bahwa setiap orang punya ritmenya.
Ada yang tumbuh cepat.
Ada yang tumbuh pelan.

Dan yang pelan bukan berarti tertinggal.
Kadang justru sedang menumbuhkan akar.

Malam ini aku memilih berhenti sejenak.
Merapikan pikiran.
Menutup laptop.
Memberi tubuh waktu untuk istirahat.

Masih ada banyak yang harus dikerjakan: tugas RBM, RAB, proposal Pendape Sense Lab.
Tapi tidak semua harus selesai hari ini.

Ada hal-hal yang memang harus dikerjakan dengan kepala jernih, bukan dengan tubuh yang lelah.

Mungkin ini yang sedang kupelajari:
menjaga diri juga bagian dari menjaga mimpi.

Karena mimpi yang besar tidak selalu butuh langkah cepat.
Kadang hanya butuh orang yang mau tinggal cukup lama,
dan merawatnya dengan sabar.