"Deep conversation with open-minded people is such an underrated luxury."
Aku berhenti beberapa detik saat membaca kalimat itu. Bukan karena terdengar indah. Tapi karena aku tiba-tiba teringat banyak wajah.
Orang-orang yang berbeda pandangan. Berbeda profesi. Berbeda cara berpikir. Bahkan berbeda cara mencintai. Dan ternyata, yang membuat sebuah percakapan terasa berharga bukanlah karena kami selalu sepakat. Justru sebaliknya.
Dulu aku berpikir, percakapan yang baik adalah ketika orang lain mengerti apa yang kumaksud. Sekarang aku mulai belajar, percakapan yang baik adalah ketika dua orang sama-sama penasaran. Bukan penasaran untuk membantah. Tetapi penasaran untuk memahami. Ada kalanya seseorang berkata, "Aku melihatnya berbeda."
Lalu ia melanjutkan dengan kalimat yang jauh lebih penting, "Ceritakan bagaimana kamu bisa sampai pada cara berpikir itu." Menurutku, di situlah ruang temu lahir.
Aku akhirnya saat ini aku menyadari sesuatu. Aku adalah tipe orang yang mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.
"Aku kangen." "Aku ingin dipeluk." "Aku ingin dekat."
Bagiku, kata-kata adalah jembatan. Namun aku bertemu orang yang berbeda. Suatu hari ia berkata,
"Kalau kangen, tidak perlu bilang-bilang."
Aku sempat bingung. Bagaimana mungkin rindu tidak diucapkan? Lalu aku menyadari sesuatu yang sederhana. Bukan berarti ia tidak rindu. Mungkin saja... begitulah bahasa rindunya.
Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup dalam "dunia" yang berbeda. Dunia yang dibentuk oleh pengalaman, keluarga, pekerjaan, kehilangan, dan harapan. Karena itu, ketika seseorang bertindak berbeda dariku, pertanyaan yang kini lebih sering muncul bukan lagi, "Kenapa dia begitu?"
Melainkan, "Seperti apa ya dunia yang membuatnya melihat semuanya dengan cara itu?"
Pertanyaan itu mengubah banyak hal. Ia membuatku lebih lambat menghakimi. Lebih cepat mendengar.
Menariknya, pelajaran ini tidak hanya hadir dalam hubungan personal. Ia juga hadir dalam pekerjaanku. Aku sering mempertemukan pemerintah, komunitas, perusahaan, akademisi, hingga masyarakat. Mereka datang membawa bahasa, kepentingan, dan sudut pandang masing-masing. Tujuannya bukan agar semua orang langsung sepakat. Tetapi agar setiap orang bisa berkata, "Aku belum tentu setuju... tapi sekarang aku lebih memahami kenapa kamu berpikir seperti itu."
Kadang-kadang, itu sudah menjadi langkah yang sangat besar.
Mungkin itu sebabnya aku menyukai nama Ruang Temu. Bukan ruang untuk mencari siapa yang benar. Bukan ruang untuk memenangkan argumen. Melainkan ruang tempat kita cukup aman untuk membawa cerita kita masing-masing. Dan pulang dengan cerita orang lain yang kini sedikit lebih kita pahami.
Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan mungkin memang menjadi kemewahan. Bukan karena langka. Tetapi karena membutuhkan kerendahan hati. Kerendahan hati untuk berkata,
"Aku tidak harus menjadi sepertimu untuk berusaha memahami duniamu."
Dan menurutku... kalimat itu mungkin adalah awal dari banyak hal baik. Bagi persahabatan. Bagi keluarga. Bagi kolaborasi. Bahkan bagi sebuah bangsa.
Pertanyaan untukmu: Kapan terakhir kali kamu mengubah tujuan percakapanmu? Bukan lagi untuk didengar. Bukan lagi untuk meyakinkan. Tetapi hanya untuk berkata, "Aku ingin memahami duniamu."