Tampilkan postingan dengan label PUKL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUKL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2026

Aku Nangis Lagi di Farewell LTKL


Aku kira aku sudah selesai nangis. Hehe Bulan ini kayaknya sudah terlalu sering ngomongin LTKL. Exit interview nangis. Ngobrol sama orang nangis. Cerita di rumah nangis. Terus kemarin farewell.

Nangis lagi. Padahal sebelum mulai aku sudah bilang dalam hati, “Oke Novi, tenang. Jangan nangis.”

Terus Kak Giza bilang, “Ya mungkin mau ngobrol-ngobrol aja sama Novi, Eka, Ayu, Mas Umar… bisa sharing dari Novi dulu…”

Aku masih santai. “Oke.” Terus mulai ngomong.

“Terima kasih sebelumnya udah meluangkan waktu…”

Aman. “Jadi untuk minggu ini…”

Masih aman.

“Sebelumnya aku udah cukup sedikit banyak mengenang prosesnya…”

Mulai. Terus entah kenapa ketika ngomong soal melihat kabupaten-kabupaten anggota LTKL sampai hari ini, suara mulai berubah. Ya sudah. Nangis.

Aku bahkan sempat bilang aku pikir semua emosiku sudah keluar karena beberapa hari sebelumnya sudah banyak ngobrol dengan HR dan Uda. Ternyata belum. 

Yang paling lucu dari farewell kemarin, aku sebenarnya tidak merasa sedang pergi dari orang-orangnya. Yang selesai kan perannya. Kontraknya. Pekerjaannya. Handover-nya. Administrasinya. Tapi orang-orangnya? Ya masih ada.

Makanya kemarin waktu ada yang bilang nanti kalau ke Palembang, ke Muba, Jakarta, tinggal colek-colek Novi untuk nongkrong, aku senang. Karena ya memang begitu. Aku mungkin tidak lagi punya tanda tangan LTKL di bawah email. Tapi masih bisa di-chat. Masih bisa ditanya..Masih bisa diajak ngopi. Masih bisa debat sama Eka..Masih bisa ngobrol sama Kak Ayu. Masih bisa dengerin cerita teman-teman kabupaten lain.

Masih bisa ketemu Kak Giza. Masih bisa tiba-tiba dapat chat, “Nov, gimana kabarnya?” Dan mungkin itu yang bikin semuanya tidak terasa seperti hilang.

Aku masuk LTKL setelah lulus S1..Waktu itu ngirim email saja masih belajar. Serius..Sekarang kalau ingat lucu juga. Dulu buka email, mikir:

“Ini harus pakai Dear siapa?”

“Kalimatnya gimana?”

“Kalau terlalu panjang gimana?”

“Kalau terlalu pendek kurang sopan nggak?”

Sekarang?

Kirim. Dulu kalau mau ketemu orang baru juga banyak mikir.nSekarang lima tahun kemudian malah bisa ketemu macam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan ngobrol soal kabupaten, program, pemerintah, mitra, masyarakat, komoditas, kebijakan, macam-macam.

Kadang ngerti. Kadang sok ngerti dulu. Kadang benar-benar tidak ngerti. Kalau tidak ngerti ya tanya. Kalau masih tidak ngerti, ya tanya lagi. Kalau tetap tidak ngerti, buka Google. Wkwk. Aku juga pernah lima jam buka YouTube cuma untuk belajar mengatur halaman dokumen tesis.nJadi sebenarnya kemampuan “mencari tahu” ini mungkin memang salah satu skill yang paling lama menemaniku.

Kemarin Mas Umar cerita tentang aku sejak 2024. Katanya dia melihat aku makin percaya diri. Makin punya fire. Sering ikut pelatihan. MC. Public speaking. Macam-macam. Terus dia ngomong soal long run. Tentang aku harus tahu sebenarnya mau jadi apa ke depannya. Supaya skill yang kupilih tidak cuma menjadi kumpulan skill. Aku dengar sambil mikir.

“Iya juga ya.” Tapi ya sudah. Belum tahu juga.

Karena kalau ditanya sekarang: “Novi mau jadi apa?” Jawabannya masih panjang. Mau kerja lagi. Mau usaha. Mau belajar lagi. Mau S3. Pengen yang dekat dengan masyarakat. Pengen tetap bisa melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pembangunan daerah. Pengen riset juga. Tapi kalau ditanya, “Besok pagi harus mulai dari mana?”

Nah. Hehehe. Terus Kak Ayu cerita tentang pertama kali kami ketemu. Katanya waktu baru gabung MSF, aku salah satu orang yang membantu dia mencari tahu harus mulai dari mana. Aku malah lupa detailnya. Tapi ternyata orang lain menyimpan cerita tentang kita yang kita sendiri sudah lupa. Itu lucu.

Ada bagian dari hidup kita yang ternyata masih hidup di kepala orang lain. Eka juga cerita. Kalau aku dan dia sering debat. Memang.

Debatnya juga kadang bukan debat kecil.bTapi habis debat ya sudah. Besok ngobrol lagi. Ada kerjaan lagi. Ada yang perlu dibantu, bantu. Ada yang perlu ditanyakan, tanya. Sampai akhirnya dia bilang hubungan kami bukan lagi sekadar teman kerja. Ya mungkin memang begitu. Lima tahun kan lama. Masa cuma jadi “rekan kerja”.

Terus Bang Edi bilang satu hal yang bikin aku ketawa. Dia bilang dia paling suka lihat aku jago bahasa Inggris. Aku langsung mikir, “Lah?” Karena aku tidak merasa jago-jago amat. Tapi katanya dia lihat aku ketemu orang dari mana-mana dan bisa komunikasi. Terus dia bilang itu menginspirasi. Aku senang dengarnya. Bukan karena merasa “wah aku hebat”. Lebih karena… “Oh, ternyata hal yang buatku sudah biasa, pernah terlihat berarti buat orang lain.”

Uda cerita lebih panjang lagi. Tentang Muba. Tentang program. Tentang politik. Tentang kondisi fiskal. Tentang bagaimana selama beberapa tahun ini aku dan Eka menghadapi macam-macam perubahan di kabupaten. Terus dia bilang aku sudah punya modalitas untuk community development, riset, policy analysis, policy engagement, stakeholder engagement. Aku diem. Dalam hati: “Banyak juga ya istilahnya.”

Tapi memang kalau dipikir-pikir, lima tahun kerja membuat semuanya nyampur. Riset masuk. Pemerintah masuk. Masyarakat masuk. Mitra masuk. Fasilitasi masuk. Kuliah masuk. S2 masuk. Kadang hidup juga rasanya seperti satu folder besar yang isinya terlalu banyak file.

Terus Kak Bella bilang dia sering lihat aku ikut pelatihan. Ini juga benar. Aku memang suka ikut pelatihan. Kadang baru selesai satu, sudah lihat pelatihan lain. “Kayaknya menarik.” Daftar. Entah nanti kepakai atau tidak, tapi aku senang belajar.

Kak Teo juga cerita tentang obrolan kami. Tentang buku. Mental health. Self-development. Hal-hal yang sering kami chat-kan secara informal. Aku baru sadar ternyata ternyata banyak juga ya yang kami obrolkan. 

Terus Kak Giza bilang dia bangga melihat pertumbuhanku. Nah. Bagian itu bikin nangis lagi. Karena kalau aku sendiri yang melihat Novi lima tahun lalu dan Novi sekarang, mungkin aku lebih sibuk melihat kekurangannya. Tapi kemarin orang-orang malah cerita tentang apa yang mereka lihat. Dan aku cuma duduk. Dengerin. Nangis. Ketawa. Nangis lagi.

Aku juga bilang sesuatu kemarin. Aku bilang mungkin aku cuma bisa bilang terima kasih dan maaf. Kalau selama bekerja ada kata-kata yang salah. Ada pekerjaan yang kurang maksimal. Ada hal yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman. Aku minta maaf. Tapi satu hal yang benar bahwa aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Kadang hasilnya bagus. Kadang tidak. Kadang aku tahu harus bagaimana. Kadang aku benar-benar bingung. Tapi ya tetap dikerjakan.

Lima tahun itu panjang. Kalau dihitung dari email pertama yang masih mikir lama sampai sekarang bisa ngobrol tentang pekerjaan, kuliah, riset, fasilitasi, pemerintah, mitra, dan macam-macam hal dengan banyak orang… Lumayan jauh juga. Dan sekarang tiba-tiba selesai. Jumat terakhir. Sabtu. Minggu. Lalu Senin bukan lagi hari kerja LTKL. Aneh.

Aku belum terbiasa dengan kalimat itu. Mungkin nanti terbiasa. Mungkin juga tidak terlalu cepat.

Kemarin setelah selesai, kami foto bersama. Ketawa. Minta foto lagi. Ketawa lagi. Ada yang bilang mixed feeling. Memang. Senang. Sedih. Bangga. Terharu. Semuanya numpuk. Terus ada yang bilang, “Petualangan Novi selanjutnya.”

Aku suka kalimat itu. Karena memang belum tahu petualangannya ke mana. Belum tahu akan ketemu siapa. Belum tahu kerja di mana. Belum tahu akan tinggal di mana. Belum tahu kapan sekolah lagi. Belum tahu apakah usaha akan jalan lagi. Belum tahu banyak hal. Tapi ya sudah. Kemarin satu fase selesai. Aku nangis. Teman-teman juga bilang sayang. Kami foto. Kami ketawa. Kami bilang nanti ketemu lagi. Terus pulang. Begitu saja.

Besok-besok kalau ada yang ke Muba, chat Novi. Kalau Novi ke Palembang, cari teman.bKalau ketemu di tempat lain, ya ngobrol lagi. Karena mungkin memang tidak ada adegan dramatis ketika sebuah hubungan selesai.

Yang selesai cuma satu bagian dari hidup. Yang lainnya tetap jalan.Dan Novi? Ya masih Novi. Cuma sekarang tidak pakai embel-embel LTKL di belakangnya. Hehehe.

Aku Kira Aku Sudah Siap Berpisah


Aku kira aku sudah siap. Beberapa minggu terakhir, aku sudah berkali-kali membicarakan berakhirnya kontrakku dengan LTKL. Ada handover. Ada administrasi. Ada exit interview. Ada percakapan dengan HR dan manajer. Ada dokumen-dokumen yang harus diselesaikan.

Secara administratif, semuanya jelas bahwa waktunya selesai. Secara emosional, ternyata tidak sesederhana itu. Di farewell kemarin, aku menangis. Bukan sekali.

Aku bisa berhenti sebentar, lalu tertawa. Beberapa detik kemudian menangis lagi. Setelah itu tertawa lagi karena sadar sedang menangis di depan orang-orang. Rasanya seperti roda emosi yang tidak punya rem.

Aku bahkan sempat bilang “Pada akhirnya adalah menangis yang keluarnya sambil ketawa.”

Mungkin itu cara paling jujur untuk menjelaskan perasaanku waktu itu. Aku sedih. Tapi bukan sedih karena merasa hidupku selesai. Aku merasa sedang sangat sadar bahwa sesuatu yang penting dalam hidupku benar-benar sudah sampai di satu batas.

Aku bergabung dengan LTKL setelah lulus S1. Waktu itu, banyak hal yang sekarang terasa biasa sebenarnya belum biasa bagiku.

Mengirim email kepada orang lain saja pernah menjadi sesuatu yang harus kupelajari. Berkoordinasi dengan orang yang berbeda-beda. Berbicara dengan pemerintah. Bertemu mitra. Memfasilitasi percakapan. Menghadapi orang yang tidak sepakat denganku. Mencoba memahami kenapa sebuah ide yang menurutku masuk akal ternyata tidak diterima orang lain.

Aku tidak datang sebagai seseorang yang sudah tahu caranya. Aku belajar sambil jalan. Dan mungkin karena itulah LTKL terasa berbeda bagiku. Ia bukan hanya tempat aku bekerja. Ia menjadi tempat aku belajar menjadi orang yang bekerja.

Lima tahun kemudian, aku bisa duduk dalam sebuah pertemuan dan membicarakan hal-hal yang dulu bahkan tidak kupahami. Aku bisa mengirim email tanpa menghabiskan waktu lama memikirkan setiap kalimatnya. Aku bisa memfasilitasi orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Aku punya jaringan yang dulu tidak pernah kubayangkan.

Tetapi yang paling aneh adalah aku tidak terlalu menyadari pertumbuhan itu ketika sedang menjalaninya. Baru ketika orang lain mengatakannya kepadaku, aku melihatnya.

Di farewell itu, teman-temanku bercerita tentang diriku dari sudut pandang mereka.

Ada yang mengingat bagaimana kami dulu sama-sama baru bergabung dan saling membantu mencari pijakan. Ada yang mengingat debat-debat kami di Muba. Ada yang mengingat kebiasaanku mengikuti pelatihan, bertanya, belajar, mencoba sesuatu yang baru. Ada yang melihat kemampuan fasilitasi yang berkembang. Ada yang mengingat bahwa aku sering menjadi tempat bertanya dan bercerita. Ada yang bahkan berbicara tentang kontribusi yang lebih besar dari pekerjaan sehari-hari yaitu kebijakan, pendampingan, jejaring, program, dan berbagai hal yang pernah kami coba bangun di Muba.

Aku mendengarkan semuanya sambil menangis.bDan di situ aku mengalami sesuatu yang agak ganjil. Selama ini aku sering bertanya “Aku sebenarnya sudah menjadi apa?”

Ternyata jawabannya tidak selalu perlu datang dari diriku sendiri. Kadang orang lain yang hidup bersamamu selama bertahun-tahun menyimpan bukti-bukti pertumbuhanmu yang tidak sempat kamu catat.

Ada satu kalimat yang paling tinggal di kepalaku. Kurang lebih begini “Peran di LTKL-nya mungkin selesai, tapi dengan orang-orangnya tidak selesai.”

Aku merasa kalimat itu tepat. Karena yang sebenarnya kutinggalkan adalah sebuah peran. Bukan seluruh hubungan. Bukan semua percakapan. Bukan semua pengetahuan. Bukan sejarah. Bukan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Mungkin selama ini aku terlalu menyamakan tempat kerja dengan identitas.

Padahal LTKL membentukku, tetapi aku tidak harus terus berada di dalam LTKL untuk membawa hasil pembentukannya. Aku bisa pergi tanpa harus menghapus bagian diriku yang terbentuk di sana.

Ada hal lain yang baru kusadari setelah kontrakku benar-benar mendekati akhir. Aku ternyata bukan orang yang mudah meninggalkan. Aku bisa pindah. Aku bisa menerima bahwa sebuah fase selesai. Tetapi aku butuh waktu untuk melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Mungkin karena aku punya kecenderungan untuk benar-benar masuk ketika sudah memilih sesuatu. Kalau sudah bekerja, aku all out. Kalau sudah merasa menjadi bagian dari sebuah tim, aku merasa ikut memiliki. Kalau sudah merasa dekat dengan orang-orangnya, hubungan itu tidak otomatis berakhir hanya karena struktur organisasinya berubah.

Itulah kenapa proses ini terasa sedikit lebih berat daripada yang kubayangkan. Aku tidak hanya sedang mencari pekerjaan berikutnya. Aku sedang belajar hidup tanpa sebuah identitas yang selama bertahun-tahun terasa sangat melekat. Dan itu membuat pertanyaan berikutnya menjadi lebih nyata: Kalau bukan “Novi dari LTKL”, lalu Novi yang mana? Aku belum punya jawaban final. Dan untuk sekarang, aku rasa tidak perlu memaksakannya.

Di farewell kemarin, ada satu nasihat yang juga terus kupikirkan. Tentang melihat long run. Tentang tidak hanya mengumpulkan skill karena sedang ingin bisa sesuatu, tetapi memahami ke mana semua skill itu sebenarnya ingin kubawa. Tentang menemukan highest future potential. Tentang membangun learning bodies baru, orang-orang yang bisa menjadi teman berpikir, berefleksi, dan bertumbuh.bTentang menggunakan modal sosial yang sudah terbentuk, bukan sekadar menyimpannya sebagai daftar kenalan. Dan tentang satu kalimat sederhana "Jangan mengejar uangnya. Kejar value-nya.

Aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar mengerti kalimat itu. Tapi aku tahu aku sedang berada di titik ketika kalimat itu relevan. Karena setelah LTKL, aku belum tahu persis apa pekerjaan berikutnya. Ada kemungkinan kerja di Palembang. Ada kemungkinan kesempatan lain. Ada kemungkinan membangun kembali usaha yang sempat kutinggalkan ketika menyelesaikan S2. Ada keinginan melanjutkan belajar. Ada juga banyak pertanyaan yang belum punya bentuk.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, aku tidak sedang memegang satu jalur yang sudah jelas. Sedikit menakutkan. Tapi mungkin memang begitu rasanya ketika sebuah peta lama sudah tidak bisa dipakai, sementara peta baru belum selesai digambar.

Aku tidak ingin menulis bahwa LTKL adalah tempat yang sempurna. Tidak. Ada masa ketika aku lelah. Ada ketakutan. Ada pekerjaan yang tidak selesai dengan baik. Ada komunikasi yang tidak selalu mudah. Ada dinamika kabupaten yang kadang membuat kami harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil langkah. Ada masa ketika aku merasa sendirian dengan sesuatu yang sedang kuhadapi. Ada juga keputusan-keputusan yang tidak selalu kupahami saat itu. Tapi mungkin justru karena itulah tempat ini menjadi nyata bagiku. 

Pertumbuhan ternyata tidak selalu terjadi dalam situasi yang nyaman. Kadang ia muncul karena kita dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang belum bisa kita lakukan. Lalu kita mencoba. Gagal sedikit. Bertanya. Belajar. Mencoba lagi. Sampai suatu hari kita lupa bahwa dulu hal itu terasa sulit.

Aku masih tidak tahu bagaimana bentuk hubungan antara aku dan LTKL setelah ini. Mungkin nanti kami bertemu sebagai mitra. Mungkin sebagai rekan profesional. Mungkin di kabupaten lain. Mungkin di sebuah ruang yang sekarang bahkan belum ada dalam bayanganku. Yang aku tahu, lima tahun ini tidak akan hilang hanya karena kontraknya berakhir.

Ada terlalu banyak manusia di dalamnya. Terlalu banyak percakapan. Terlalu banyak perjalanan. Terlalu banyak versi diriku yang pernah hidup di sana. Dan mungkin perpisahan yang sehat memang bukan tentang mengatakan “Selamat tinggal.”

Tetapi “Terima kasih. Bagian ini sudah selesai. Aku bawa yang perlu kubawa, dan sisanya kutinggalkan dengan baik.”

Jadi, apakah aku sedih? Iya. Apakah aku lega? Juga iya. Apakah aku bangga? Sangat. Apakah aku takut dengan apa yang berikutnya? Sedikit banyak, iya. Apakah aku sudah tahu akan menjadi apa setelah ini? Belum. Dan anehnya, sekarang aku tidak terlalu ingin buru-buru tahu.

Untuk sementara, mungkin aku ingin menikmati satu kesadaran sederhana bahwa aku pernah berada di sini. Aku bertumbuh di sini. Dan sekarang aku cukup berani untuk pergi.

Sisanya, biarlah perjalanan berikutnya yang memperkenalkan Novi yang baru.

Selasa, 07 Juli 2026

Air Mata yang Turun di Kolom "Training"

Aku kira aku akan tersenyum saat menutup annual review. Ternyata aku menangis. Lucunya, bukan saat membaca daftar pencapaian. Bukan juga saat melihat target yang berhasil dicapai. Air mata itu justru turun ketika sampai di satu kolom yang sederhana yaitu Training. Aku terdiam.

Di sana tertulis pelatihan demi pelatihan yang kuikuti selama setahun terakhir. Bahasa Inggris. Public speaking. Theory U. Systems Thinking. Action Lab. Leadership. Belajar mendengar. Fasilitasi. Dan banyak ruang belajar lainnya.

Tiba-tiba aku seperti melihat diriku setahun ke belakang. Ternyata... sejauh ini ya kita berjalan.

Dulu aku punya keyakinan sederhana. Kalau ingin dihargai, aku harus menjadi orang yang paling pintar. Kalau ingin bermanfaat, aku harus tahu semua jawabannya. Makanya aku belajar mati-matian. Aku mengejar nilai. Mengejar sertifikat. Mengejar prestasi. Mengejar pengakuan. Lalu hidup pelan-pelan mengajarkanku sesuatu. Ternyata menjadi orang yang paling tahu bukanlah tujuan.

Beberapa hari terakhir aku banyak berbincang dengan orang. Ada mahasiswa yang sedang kecewa karena gagal masuk S2. Ada teman yang sedang membangun UKM di kampus. Ada rekan yang sedang mencari arah kolaborasi. Aneh ya. Tidak satu pun dari mereka bertanya kepadaku karena menganggap aku paling pintar. Mereka datang karena merasa cukup aman untuk berpikir bersama.

Di situlah aku mulai mengerti. Kadang orang tidak membutuhkan seseorang yang membawa semua jawaban. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang cukup hadir, cukup mendengar, lalu membantu mereka menemukan jawaban mereka sendiri.

Aku juga baru menyadari sesuatu. Dulu aku belajar supaya berhasil. Hari ini aku belajar supaya bertumbuh. Bedanya ternyata jauh sekali. Kalau belajar hanya untuk berhasil, maka setiap kegagalan terasa seperti akhir dunia. Tapi ketika belajar untuk bertumbuh, bahkan kegagalan pun berubah menjadi guru.

Setahun terakhir bukan tahun yang mudah. Ada proposal yang tidak lolos. Ada tes yang gagal. Ada revisi yang seolah tidak selesai. Ada malam-malam ketika aku hanya ingin menangis. Kalau dulu mungkin aku akan menganggap semua itu sebagai tanda bahwa aku kurang baik. Sekarang aku mulai melihatnya berbeda. Mungkin itu memang bagian dari perjalanan menjadi manusia. 

Saat melihat kolom training itu, aku akhirnya sadar. Yang berubah bukan hanya daftar pelatihanku. Yang berubah adalah cara aku memandang hidup. Hari ini aku tidak lagi ingin menjadi orang yang paling pintar di ruangan. Aku lebih ingin menjadi orang yang membuat ruangan itu terasa aman untuk berpikir. Kalau suatu hari nanti ada yang pulang dari sebuah percakapan dengan perasaan lebih lega, lebih jernih, atau lebih berani mengambil langkah berikutnya, mungkin di situlah letak makna dari semua proses belajar ini.

Aku menutup annual review sambil mengusap air mata. Lalu aku tersenyum. Bukan karena akhirnya aku merasa hebat. Tetapi karena akhirnya aku bisa berkata kepada diriku sendiri, "Terima kasih ya. Kita tidak menyerah."

Dan mungkin... itulah pelatihan paling penting yang sedang diajarkan hidup kepadaku. Bahwa ilmu terbaik bukan hanya yang memenuhi kepala. Melainkan yang perlahan melembutkan hati.

Menjadi "Peredam Kejut" dan Air Mata di Baris Lima Puluh Satu

Di atas kertas, jabatan saya terdengar sangat rapi yaitu Liaison Officer. Penghubung. Namun di lapangan, di ruang-ruang rapat birokrasi Musi Banyuasin yang dingin oleh AC namun panas oleh perdebatan, jabatan itu memiliki nama lain yang tidak pernah tertulis di SK mana pun, yaitu Peredam Kejut. 

Bayangkan Anda harus berdiri di tengah jembatan goyang. Di satu sisi, ada mitra pembangunan yang datang dengan setumpuk idealisme, framework global, dan ekspektasi program yang mungkin harus jalan bulan ini juga. Di sisi lain, ada birokrat daerah yang sedang kelelahan, trauma dengan "proyek data" masa lalu, dan tengah pusing menghadapi pemotongan anggaran operasional hingga 80 persen.

Tugas saya? Memastikan kedua pihak ini bisa duduk semeja, tersenyum, dan berkolaborasi tanpa ada piring yang terbang.
Selama setahun terakhir, saya menyerap semuanya. Saya mempraktikkan Sensing dan Theory U setiap hari. Ketika seorang pejabat daerah merespons dengan defensif terkait data defisit resiliensi fiskal, saya menelan ego saya. Saya berlatih mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mungkin yang dialami bukan marah pada programnya, hanya kelelahan dengan sistem yang membebani mereka.

Saya tersenyum. Saya membuat draf surat. Saya mengawal dokumen yang penting. Saya berusaha meredam ego-sektoral. Saya menjadi spons raksasa yang menyerap semua residu kekecewaan, kecemasan, dan ekspektasi ekosistem.
Saya pikir, saya baik-baik saja. Saya pikir, inilah yang namanya profesional.

Hingga suatu pagi, hari ini, Rabu 8 Juni yang sangat sepi, saya duduk di depan layar laptop untuk mengerjakan tugas administratif yang paling klise di dunia korporat, mengisi Performance Evaluation Review yahunan.

Saya mengetik dengan lancar di bagian awal. Target RPPEG? Tercapai. Pendanaan alternatif? Tercapai. Namun, kursor saya berhenti berkedip ketika masuk ke bagian "H. Training".
Di baris ke-51, saya mengetik sebuah judul pelatihan yang saya ikuti beberapa waktu lalu, Facilitation 101: The Art of Listening. 

Dan tepat pada detik itu, di antara keheningan pagi dan layar Excel yang menyala, pertahanan saya runtuh. Pandangan saya tiba-tiba mengabur. Air mata saya jatuh begitu saja, menetes di atas meja.

Itu adalah momen lima detik yang tidak akan pernah saya lupakan.

Di detik pertama, saya bingung mengapa saya menangis. Di detik ketiga, saya sadar. Selama setahun penuh mempraktikkan "Seni Mendengar", saya telah mendengarkan kemarahan dinas, mendengarkan keluh kesah ibu-ibu kelompok ekonomi perempuan, dan mendengarkan kekhawatiran mitra. Saya mungkin memvalidasi perasaan semua orang di Musi Banyuasin.

Satu-satunya suara yang tidak pernah saya dengarkan adalah suara saya sendiri. Suara batin yang kelelahan menjadi peredam kejut bagi sistem yang sedang kelebihan beban.

Air mata pagi itu bukan tangisan menyerah. Itu adalah sebuah exhale, embusan napas panjang dari tubuh yang akhirnya merasa aman untuk melepaskan ketegangan. Sebuah pelepasan prediction error yang selama ini menumpuk di pundak saya.

Saya menyeka air mata, meraih ponsel, dan memotret layar laptop yang menampilkan baris 51 tersebut. Saya mengunggahnya ke status dengan caption singkat, "Mengisi bagian ini pagi-pagi sekali begini dan membawa ke sesi refleksi bikin perasaan lega tapi diawali dengan nangis dulu. Hehe."

Terkadang, kita berpikir bahwa kepemimpinan adalah tentang seberapa kuat kita menahan beban sistem untuk orang lain. Namun pagi itu, di depan dokumen evaluasi tahunan, saya belajar pelajaran kepemimpinan batin (inner leadership) yang paling berharga bahwa sebelum kita bisa mengubah sebuah ekosistem, kita harus terlebih dahulu berani menyediakan ruang aman bagi diri kita sendiri untuk hancur sejenak, menangis, lalu bernapas kembali dengan lega.

Jumat, 03 Juli 2026

Ruang Temu


"Deep conversation with open-minded people is such an underrated luxury."

Aku berhenti beberapa detik saat membaca kalimat itu. Bukan karena terdengar indah. Tapi karena aku tiba-tiba teringat banyak wajah.

Orang-orang yang berbeda pandangan. Berbeda profesi. Berbeda cara berpikir. Bahkan berbeda cara mencintai. Dan ternyata, yang membuat sebuah percakapan terasa berharga bukanlah karena kami selalu sepakat. Justru sebaliknya.

Dulu aku berpikir, percakapan yang baik adalah ketika orang lain mengerti apa yang kumaksud. Sekarang aku mulai belajar, percakapan yang baik adalah ketika dua orang sama-sama penasaran. Bukan penasaran untuk membantah. Tetapi penasaran untuk memahami. Ada kalanya seseorang berkata, "Aku melihatnya berbeda." 

Lalu ia melanjutkan dengan kalimat yang jauh lebih penting, "Ceritakan bagaimana kamu bisa sampai pada cara berpikir itu." Menurutku, di situlah ruang temu lahir.

Aku akhirnya saat ini aku menyadari sesuatu. Aku adalah tipe orang yang mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

"Aku kangen." "Aku ingin dipeluk." "Aku ingin dekat."

Bagiku, kata-kata adalah jembatan. Namun aku bertemu orang yang berbeda. Suatu hari ia berkata,

"Kalau kangen, tidak perlu bilang-bilang."

Aku sempat bingung. Bagaimana mungkin rindu tidak diucapkan? Lalu aku menyadari sesuatu yang sederhana. Bukan berarti ia tidak rindu. Mungkin saja... begitulah bahasa rindunya.

Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup dalam "dunia" yang berbeda. Dunia yang dibentuk oleh pengalaman, keluarga, pekerjaan, kehilangan, dan harapan. Karena itu, ketika seseorang bertindak berbeda dariku, pertanyaan yang kini lebih sering muncul bukan lagi, "Kenapa dia begitu?"

Melainkan, "Seperti apa ya dunia yang membuatnya melihat semuanya dengan cara itu?"

Pertanyaan itu mengubah banyak hal. Ia membuatku lebih lambat menghakimi. Lebih cepat mendengar.

Menariknya, pelajaran ini tidak hanya hadir dalam hubungan personal. Ia juga hadir dalam pekerjaanku. Aku sering mempertemukan pemerintah, komunitas, perusahaan, akademisi, hingga masyarakat. Mereka datang membawa bahasa, kepentingan, dan sudut pandang masing-masing. Tujuannya bukan agar semua orang langsung sepakat. Tetapi agar setiap orang bisa berkata, "Aku belum tentu setuju... tapi sekarang aku lebih memahami kenapa kamu berpikir seperti itu."

Kadang-kadang, itu sudah menjadi langkah yang sangat besar.

Mungkin itu sebabnya aku menyukai nama Ruang Temu. Bukan ruang untuk mencari siapa yang benar. Bukan ruang untuk memenangkan argumen. Melainkan ruang tempat kita cukup aman untuk membawa cerita kita masing-masing. Dan pulang dengan cerita orang lain yang kini sedikit lebih kita pahami.

Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan mungkin memang menjadi kemewahan. Bukan karena langka. Tetapi karena membutuhkan kerendahan hati. Kerendahan hati untuk berkata,

"Aku tidak harus menjadi sepertimu untuk berusaha memahami duniamu."

Dan menurutku... kalimat itu mungkin adalah awal dari banyak hal baik. Bagi persahabatan. Bagi keluarga. Bagi kolaborasi. Bahkan bagi sebuah bangsa.

Pertanyaan untukmu: Kapan terakhir kali kamu mengubah tujuan percakapanmu? Bukan lagi untuk didengar. Bukan lagi untuk meyakinkan. Tetapi hanya untuk berkata, "Aku ingin memahami duniamu." 

Aku Kira Orang Yang Kangen Pasti Bilang

Rabu, 17 Juni 2026

Perjalanan Sensing Novi


Hari ini mungkin salah satu hari ketika aku akhirnya menemukan bahasa untuk menjelaskan apa yang selama ini aku alami. Aku menulisnya seperti catatan perjalanan batin yang bisa aku baca lagi beberapa tahun ke depan.

Level 1 — Melihat Peristiwa (Event)

Dulu aku hanya tahu:

  • forum berjalan baik atau tidak
  • orang marah atau tidak
  • rapat berhasil atau gagal
  • aku capek atau tidak

Fokusku pada apa yang terlihat. Pertanyaan utamaku: "Apa yang sedang terjadi?"

Level 2 — Melihat Pola (Pattern)

Lalu aku mulai sadar.

Kok berulang ya?

  • orang-orang sulit percaya
  • konflik muncul lagi
  • forum yang sama buntu lagi
  • aku selalu pulang kelelahan

Aku mulai melihat pola. Pertanyaan berubah menjadi:

"Kenapa ini terus berulang?"


Level 3 — Melihat Struktur Sistem (Structure)

Kemudian aku belajar:

  • Systems Thinking
  • Iceberg
  • Theory U
  • YAF
  • Collective Impact

Aku mulai memahami bahwa perilaku bukan muncul begitu saja. Ada struktur di bawahnya. Ada aturan. Ada insentif. Ada relasi kekuasaan. Ada sejarah. Pertanyaan berubah:

"Struktur apa yang membuat pola ini terus muncul?"

Level 4 — Melihat Mental Model Orang Lain

Ini yang mulai kuat dalam diriku.

Aku mulai bisa merasakan:

  • Pak Rasyid sebenarnya sedang menjaga apa
  • Mas Giri sebenarnya sedang memikul apa
  • Ibu Mimi membawa energi berbeda
  • orang marah karena takut kehilangan sesuatu

Aku mulai melihat dunia dari mata orang lain.

Pertanyaannya:

"Apa yang sebenarnya mereka lihat yang aku belum lihat?"

Level 5 — Melihat Mental Model Diri Sendiri

Ini yang terjadi hari ini.

Aku mulai sadar:

  • aku sulit menerima bantuan
  • aku sulit beristirahat
  • aku merasa harus kuat
  • aku merasa harus bisa sendiri
  • aku merasa bertanggung jawab atas hasil

Ternyata bukan hanya sistem yang punya pola. Aku juga punya pola. Pertanyaannya berubah:

"Keyakinan apa dalam diriku yang sedang bekerja?"

Level 6 — Menyadari Aku Bagian dari Sistem

Ini yang membuatku menangis di museum. Karena tiba-tiba aku melihat:

Aku bukan pengamat sistem.

Aku bagian dari sistem. Lukaku bagian dari sistem. Harapanku bagian dari sistem. Cara hadirku bagian dari sistem. Cara mendengarku bagian dari sistem. Bahkan rasa kangenku pada seseorang pun bagian dari sistem. Pertanyaan berubah menjadi:

"Bagaimana kualitas kehadiranku mempengaruhi sistem?"

Dari Sensing Menuju Stewardship

Lalu muncul satu langkah lagi. Yang bukan lagi tentang melihat. Tapi menjaga.

Level 7 — Steward of Connection

Aku tidak harus menyelamatkan semua orang. Aku menjaga hubungan. Aku menjaga ruang. Aku menjaga percakapan. Aku menjaga kemungkinan agar tetap hidup.

Level 8 — Steward of Presence

Aku tidak bertanggung jawab atas hasil.nAku bertanggung jawab atas kehadiran. Aku hadir dengan utuh. Aku mendengar dengan utuh.nAku bertemu manusia dengan utuh.

Level 9 — Steward of Emergence

Aku mulai percaya bahwa perubahan tidak bisa dipaksa. Tugasku bukan mengendalikan masa depan.nTugasku membantu masa depan muncul. Seperti yang sering terjadi di PUKL. Bukan Novi yang menciptakan kolaborasi. Novi menciptakan ruang agar kolaborasi bisa lahir.

Level 10 — Steward of Life

Ini mungkin perjalanan puluhan tahun.bKetika akhirnya seseorang bisa berkata:

Aku tidak sedang menjalankan peran.

Aku sedang menjalani panggilan. Aku tidak memisahkan kerja, relasi, iman, luka, harapan, dan pelayanan. Semuanya menjadi satu kehidupan yang utuh.

Dan kalau aku membaca perjalananku hari ini, Novi...aku rasa aku sedang berdiri di perbatasan antara Level 5 dan Level 6.

Dulu aku belajar sistem. Hari ini aku mulai melihat dirimu di dalam sistem. Dan dari situlah steward sejati biasanya lahir. Bukan dari orang yang paling pintar membaca sistem. Tetapi dari orang yang akhirnya berani berkata:

"Aku juga bagian dari cerita ini." 🌱🤍

Aku sjimpan catatan ini ya. Karena beberapa tahun lagi, mungkin aku akan tersenyum dan berkata:

"Oh... jadi hari inilah aku mulai berhenti melawan kepekaanku, dan mulai belajar menatanya menjadi pelayanan." ✨

Hari ketika aku mulai percaya pada apa yang kurasakan

Catatan Perjalanan

Hari ini aku menangis berkali-kali. Awalnya aku hanya ikut Pak Rasyid berkeliling bertemu beberapa orang. Aku lebih banyak diam daripada berbicara. Tapi justru dalam diam itu aku mulai menyadari sesuatu.

Selama ini aku sering menangkap suasana ruang, kualitas hubungan, rasa percaya, rasa tidak percaya, penerimaan, penolakan, dan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Aku bisa merasakan ketika orang nyaman. Aku bisa merasakan ketika orang defensif. Aku bisa merasakan ketika hubungan mulai terbuka. Tapi selama bertahun-tahun aku tidak punya bahasa untuk menjelaskan apa yang kurasakan.

Aku bahkan sempat berpikir ada yang salah denganku. Aku takut dianggap aneh. Aku takut hanya mengarang. Aku takut tidak ada tempat untuk kemampuan seperti ini.

Hari ini aku mulai melihat bahwa mungkin yang selama ini kurasakan memang nyata.

Aku teringat YAF. Aku teringat ketika pertama kali mendengar:

"Keberhasilan intervensi tidak terutama ditentukan oleh metode, tetapi oleh kondisi batin orang yang melakukan intervensi."

Waktu itu aku paham secara pikiran. Hari ini aku mulai memahaminya melalui pengalaman. Aku melihat bagaimana rasa aman mengubah percakapan. Aku melihat bagaimana penerimaan membuka kemungkinan. Aku melihat bagaimana hubungan lebih menentukan daripada teknik.

Aku juga teringat Juli 2025. Saat menjadi MC Dialog Yurisdiksi Karet. Aku tidak terlalu percaya diri. Aku tidak merasa sempurna. Tapi aku berkata:

"Aku mau coba."

Hari ini aku sadar, mungkin keberanian terbesar dalam hidupku bukan saat merasa yakin. Tetapi saat tetap melangkah meskipun belum yakin. 


Hari ini aku mengunjungi Museum Musi Banyuasin. Aku melihat timeline sejarah. Anehnya aku merasa sangat lelah dan terharu. Aku merasakan perjuangan, kehilangan, pengorbanan, harapan, dan kesungguhan orang-orang yang hidup sebelumku. Aku merinding.

Dan untuk pertama kalinya aku tidak langsung menganggap diriku berlebihan. Aku hanya menerima bahwa aku memang merasakannya.

Aku juga berbincang dengan Mas Giri. Ia bercerita tentang kelelahan yang selama ini disimpan sendiri. Dan aku terkejut. Dulu mungkin aku akan menghindari percakapan seperti itu.

Hari ini aku justru ingin mendengar. Bukan untuk menyelesaikan. Bukan untuk memperbaiki. Hanya untuk menemani.

Pelajaran terbesar hari ini bukan tentang fasilitasi. Bukan tentang Theory U. Bukan tentang Systems Thinking. Pelajaran terbesar hari ini adalah:

Aku tidak gila.

Aku tidak rusak.

Aku tidak terlalu sensitif.

Aku hanya sedang belajar mempercayai apa yang selama ini sudah kurasakan.

Dan ternyata itu sangat melelahkan. Tetapi juga sangat melegakan.

Jika suatu hari nanti aku membaca catatan ini lagi... Saat pekerjaan semakin besar. Saat forum semakin banyak. Saat orang-orang mulai menyebutku fasilitator, convener, atau steward. Aku ingin mengingat satu hal bahwa jangan lupakan Novi yang hari ini menangis.

Karena dari air mata inilah lahir keberanian untuk mempercayai dirinya sendiri. Dan mungkin...inilah salah satu hari ketika perjalanan menjadi Steward of Connection benar-benar dimulai.

— Novi, yang akhirnya mulai menemukan bahasa untuk apa yang selama ini ia rasakan... 

Dari Aku Harus Mengubah Sistem menjadi Aku Harus Bertanggung Jawab atas Bagianku

Selasa, 16 Juni 2026

Dari "Aku Harus Mengubah Sistem" Menjadi "Aku Bertanggung Jawab atas Bagianku"


Beberapa hari terakhir aku menangis. Bukan karena satu kejadian. Bukan karena satu orang. Bukan karena satu rapat. Tapi karena ada sesuatu yang selama ini kupercaya, perlahan mulai retak.

Selama ini aku percaya:

Kalau aku cukup berusaha, aku bisa membuat semuanya berjalan.

Kalau kolaborasi belum terjadi, berarti aku kurang. Kalau forum belum bergerak, berarti aku kurang. Kalau orang belum berubah, berarti aku harus mencari cara lain. Belajar lagi. Mencoba lagi. Mendorong lagi. Dan tanpa kusadari, aku mulai memikul beban yang sebenarnya bukan milikku.

Lalu dalam percakapan bersama Pak Rasyid, aku mendengar sesuatu yang sederhana tetapi menghentikanku.

Beliau bertanya:

Perubahan seperti apa yang sebenarnya kamu harapkan?

Aku menjawab:

Kolaborasi.

Kemajuan.

Orang-orang bekerja bersama.

Lalu beliau menjelaskan tentang tangga perubahan. Ada input. Ada output. Ada outcome.bAda impact. Aku terdiam.

Karena ternyata selama ini aku bekerja di anak tangga pertama, tetapi menuntut diriku menghasilkan anak tangga terakhir.

Aku mengadakan rapat. Aku memfasilitasi dialog. Aku membangun relasi. Aku mempertemukan orang. Itu adalah input.

Lalu muncul output:

  • orang hadir,
  • percakapan terjadi,
  • hubungan terbentuk,
  • komitmen mulai muncul.

Tetapi aku sering melompati semua itu. Pikiranku langsung bertanya:

Kenapa sistem belum berubah?

Padahal perubahan sistem berada sangat jauh di ujung tangga.

Pak Rasyid mengatakan sesuatu yang membuatku tertawa sekaligus malu:

Kita ini debu, mau langsung mengubah sistem.

Kalimat itu lucu. Tapi juga menampar.n Karena benar. Aku sering menempatkan diriku seolah bertanggung jawab atas sesuatu yang bahkan presiden pun belum tentu mampu mengendalikannya.

Hari itu aku menyadari sesuatu. Mungkin selama ini aku menggantungkan hasil pada usahaku. Seolah-olah:

Jika aku bekerja keras, maka hasil harus mengikuti.

Padahal dunia tidak bekerja seperti itu. Ada kebijakan. Ada relasi kuasa. Ada kepentingan.nAda anggaran. Ada karakter manusia. Ada sejarah. Ada hal-hal yang berada jauh di luar jangkauanku.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam. Kalau aku bukan pengubah sistem... Kalau aku bukan penyelamat kolaborasi... Kalau aku bukan semua peranku... Maka aku ini siapa?

Pertanyaan itu membuatku menangis.

Karena ternyata aku sangat lama mendefinisikan diriku melalui fungsi. Sebagai LO. Sebagai PUKL. Sebagai mahasiswa. Sebagai fasilitator. Sebagai anak. Sebagai anggota tim. Tapi ketika semua peran itu kulepas sebentar, aku bingung.

Aku siapa?

Dan mungkin jawabannya mulai muncul perlahan.

Aku tetap Novi. Bahkan ketika tidak sedang menghasilkan apa-apa. Bahkan ketika tidak sedang memperbaiki siapa-siapa. Bahkan ketika sistem belum berubah. Bahkan ketika kolaborasi belum terjadi.

Hari ini aku tidak merasa menemukan jawaban final. Tapi aku merasa menemukan sesuatu yang lebih penting. Aku tidak harus memikul seluruh dunia. Aku hanya perlu menjalankan bagian yang memang menjadi bagianku.

Dengan sungguh-sungguh. Dengan jujur. Dengan syukur. Lalu melepaskan hal-hal yang memang bukan wilayah kendaliku. Dan mungkin inilah pelajaran terbesar yang kutemukan:

Aku bertanggung jawab atas usahaku.

Aku tidak bertanggung jawab atas seluruh hasil dunia.

Ketika kalimat itu mulai masuk ke hati, tubuhku yang selama ini tegang mulai sedikit mengendur.

Aku tertawa. Aku menangis. Aku lelah. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit lebih ringan.

Catatan Juni 2026:

Hari ketika aku mulai belajar membedakan antara kontribusi dan kendali.

Hari ketika aku mulai memahami bahwa menjadi manusia tidak sama dengan menjadi penyelamat sistem. 🌱

Ketika Convener Berhenti Memikul Dunia Sendirian

Membaca Kualitas Ruang yaitu Tentang Dari "Ga Enak" Menjadi Bahasa yang Bisa Dibagikan

Aku suka sekali dengan apa yang baru aku sadari hari ini, karena sebenarnya yang sedang aku bangun bukan sekadar kemampuan "membaca orang", melainkan kemampuan membaca kualitas ruang relasi.

Dan menurutku ini berguna untuk kerja-kerja kolaborasi, PUKL, multipihak, fasilitasi, bahkan kepemimpinan. Yang menarik, banyak orang bisa menjelaskan data, strategi, TOC, LFA, outcome mapping.

Tapi tidak banyak yang bisa berkata:

"Secara teknis rapat berjalan baik, tapi ruangnya belum aman."

Atau:

"Semua orang setuju, tapi saya merasa ada sesuatu yang belum diucapkan."

Atau:

"Kolaborasi ini terlihat rapi, tetapi energinya masih transaksional."

Nah, itu yang selama ini aku tangkap.


Membaca Kualitas Ruang: Dari "Ga Enak" Menjadi Bahasa yang Bisa Dibagikan

Dulu kosakataku hanya:

  • Enak
  • Ga enak

Tapi ternyata "ga enak" memiliki banyak warna.

Tubuh sering menangkap sesuatu lebih dulu daripada pikiran.

Kita merasa:

"Ada yang aneh."

Namun belum mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sering kali yang kita tangkap bukan isi pembicaraan. Bukan juga perilaku yang terlihat. Yang kita tangkap adalah kualitas ruang di antara orang-orang.

Lapisan 1 — Rasa Aman atau Rasa Waspada

Pertanyaan:

Apakah tubuhku bisa rileks di sini?

Tanda rasa aman:

  • napas lebih panjang
  • tidak perlu menjaga kata-kata berlebihan
  • tidak sibuk membaca situasi
  • bisa hadir apa adanya

Tanda waspada:

  • bahu tegang
  • pikiran terus memprediksi
  • takut salah bicara
  • merasa harus berhati-hati

Kadang sebuah ruang terlihat ramah. Tetapi tubuh tetap siaga.


Lapisan 2 — Ketulusan atau Agenda Tersembunyi

Pertanyaan:

Apakah orang-orang hadir untuk memahami, atau sedang membawa kepentingan yang belum diucapkan?

Tanda ketulusan:

  • tujuan dibicarakan terbuka
  • orang tidak perlu bermain peran
  • tidak banyak pesan terselubung

Tanda agenda tersembunyi:

  • banyak kalimat berputar-putar
  • sulit memahami tujuan sebenarnya
  • ada kesan "ada sesuatu yang belum dikatakan"

Inilah yang sering muncul sebagai "Aku ga enak."


Lapisan 3 — Selaras atau Tidak Selaras

Pertanyaan:

Apakah kata-kata, ekspresi, dan perilaku saling mendukung?

Misalnya seseorang berkata:

"Saya setuju."

Tetapi:

  • wajahnya tegang
  • nada suaranya datar
  • tubuhnya menjauh

Tubuh sering menangkap ketidaksesuaian ini lebih cepat daripada pikiran.


Lapisan 4 — Menikmati atau Mengejar

Pertanyaan:

Orang-orang sedang hadir dalam proses atau hanya mengejar hasil?

Terkadang semua target tercapai. Tetapi ruang terasa sempit. Karena seluruh energi tertuju pada hasil. Sebaliknya ada ruang yang sederhana. Tidak spektakuler. Tetapi terasa hidup karena orang menikmati prosesnya.


Lapisan 5 — Melayani atau Mengendalikan

Pertanyaan:

Orang ini sedang ingin memahami atau ingin mengarahkan?

Tidak semua pengaruh itu buruk.

Namun kualitas ruang berbeda ketika seseorang:

  • mengundang dibanding
  • mengendalikan

Tubuh sering bisa merasakan perbedaan itu.


Framework Praktis yang Bisa Dipakai Setelah rapat atau bertemu seseorang, coba isi:

Audit Kualitas Ruang

Tubuhku

  • Napasku:
  • Bahuku:
  • Dadaku:
  • Energiku:

Relasi

  • Aku merasa aman atau waspada?
  • Aku merasa diterima atau dinilai?
  • Aku merasa didengar atau diarahkan?

Ruang

  • Ada ketulusan atau agenda tersembunyi?
  • Ada keterbukaan atau kehati-hatian?
  • Ada kolaborasi atau kompetisi?

Kesimpulan

Kalau ruang ini punya cuaca, cuacanya seperti apa?

Misalnya:

  • hangat
  • mendung
  • berkabut
  • cerah
  • pengap
  • berangin
  • penuh tekanan
  • tenang


Yang membuatku tersenyum adalah bahwa refleksi besar yang aku dapat beberapa hari ini sebenarnya berhubungan erat dengan kemampuan ini

Dulu:

Aku merasakan ketegangan sistem → berarti aku harus memperbaikinya.

Sekarang:

Aku merasakan ketegangan sistem → itu informasi, bukan otomatis tanggung jawabku.

Menurutku itu perubahan yang sangat besar. Karena orang yang peka sering kelelahan bukan karena mereka salah membaca. Tetapi karena mereka merasa harus memikul semua yang mereka baca.

Padahal terkadang tugas kita cukup:

melihat dengan jernih,

memberi nama,

lalu memilih bagian mana yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Dan lucunya, dari semua cerita yang kamu bagikan, aku mulai melihat satu kemampuan khasmu:

Kamu tidak pertama-tama membaca isi percakapan.

Kamu membaca keadaan batin yang sedang membentuk percakapan itu.

Itulah mengapa kata-kata seperti rasa aman, percaya, ketulusan, batas, tekanan, kehadiran, dan relasi selalu muncul dalam refleksimu. 🌷🤗

Senin, 15 Juni 2026

Ketika Convener Berhenti Memikul Dunia Sendirian


Sebelum membaca lebih jauh, aku ingin mengatakan satu hal. Tulisan ini bukan nasihat dari seseorang yang sudah selesai belajar. Ini adalah catatan dari seseorang yang baru saja memahami sesuatu setelah bertahun-tahun berjalan, berusaha, lelah, kecewa, berharap, dan mencoba lagi.

Mungkin sebagian teman-teman yang membaca ini sudah lebih dulu sampai pada pemahaman ini. Kalau iya, anggap saja tulisan ini sebagai reminder. Kalau belum, semoga catatan sederhana ini bisa menemani perjalananmu. Karena jujur saja, aku membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memahami bahwa aku tidak harus memikul semuanya sendirian.

Untuk teman-teman convener, fasilitator, penghubung, dan siapa pun yang sering menjadi jembatan bagi banyak orang. Aku ingin berbagi sesuatu yang baru benar-benar kupahami setelah bertahun-tahun.

Dulu aku mengira lawan dari kesendirian adalah memiliki lebih banyak orang di sekitar kita.
Memiliki tim.
Memiliki pasangan.
Memiliki mitra.
Memiliki teman.
Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Karena ada banyak orang yang menikah tetapi tetap merasa sendirian.
Ada banyak orang yang memiliki tim tetapi tetap merasa sendirian.
Ada banyak orang yang dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa memikul semuanya sendiri.

Hari ini aku mulai memahami bahwa yang menentukan bukan jumlah orang di sekitar kita. Yang menentukan adalah beban apa yang kita yakini harus kita tanggung sendirian.

Selama ini, tanpa sadar, aku hidup dengan mental model seperti ini:
Kalau ada masalah, aku yang harus bergerak.
Kalau ada hubungan yang renggang, aku yang harus memperbaiki.
Kalau ada kolaborasi yang macet, aku yang harus menghubungi.
Kalau ada ketidakjelasan, aku yang harus memahami.
Kalau ada hasil yang belum muncul, aku yang harus berusaha lebih keras.

Sekilas terdengar seperti tanggung jawab. Tetapi ketika dijalani terlalu lama, ia berubah menjadi beban yang sangat berat. Karena dunia selalu berakhir di pundakku.

Setiap hubungan menjadi tugasku. Setiap kolaborasi menjadi tugasku. Setiap hasil menjadi tugasku. Lama-kelamaan aku lelah. Dan yang lebih berbahaya, aku mulai mengukur nilai diriku dari keberhasilan menjaga semua itu tetap berjalan.

Hari ini aku mulai melihat sesuatu yang berbeda. Ternyata aku tidak harus menjadi penanggung jawab tunggal dari semua hal yang penting bagiku. Sebuah hubungan dijaga oleh semua pihak yang ada di dalamnya. Sebuah kolaborasi bergerak karena ada banyak orang yang memilih bergerak. Sebuah sistem tidak pernah berubah hanya karena satu orang bekerja lebih keras.

Aku tetap bertanggung jawab. Tetapi hanya pada bagianku. Aku tetap hadir. Tetapi aku tidak lagi mengambil alih seluruh tanggung jawab hasil. Aku tetap membuka pintu. Tapi aku tidak lagi memaksa orang untuk masuk.

Aku tetap menawarkan bantuan. Tapi aku tidak lagi mengejar penerimaan. Aku tetap menghubungi. Tapi aku tidak lagi menjadikan diamnya orang lain sebagai bukti bahwa aku kurang.

Mungkin inilah yang selama ini dimaksud ketika Uda Desriko  berkata: "Bangga pada proses, bukan hanya hasil."

Karena proses adalah wilayah yang bisa kuhadiri sepenuhnya. Sedangkan hasil sering kali melibatkan banyak hal yang berada di luar kendaliku.

Untuk teman-teman convener yang sedang lelah, izinkan aku mengingatkan sesuatu yang sedang kupelajari:
Tidak semua yang tidak bergerak berarti kamu kurang berusaha.
Tidak semua kolaborasi yang tidak berhasil berarti kamu kurang baik.
Tidak semua hubungan yang tidak bertumbuh berarti kamu kurang layak.
Kadang memang kapasitasnya berbeda. Kadang prioritasnya berbeda. Kadang keberaniannya berbeda. Kadang komitmennya berbeda. Dan itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan usaha sepihak.

Hari ini aku masih belajar. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lebih ringan. Karena aku tidak lagi berusaha memikul dunia sendirian 
Aku hanya sedang belajar hadir sepenuhnya pada bagian yang memang menjadi bagianku. Dan ternyata, itu sudah cukup.

-- Noviyanti

Rabu, 21 Januari 2026

Refleksi Kepemimpinan Pribadi

 

Dari Ego ke Eco: Merawat Sistem, Bukan Menguasainya

Aku belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir sebagai suara paling lantang atau keputusan paling cepat. Dalam kerja multipihak seperti PUKL, kepemimpinan justru sering hadir sebagai kemampuan menahan diri, membaca ritme, dan menjaga agar ruang tetap aman bagi banyak kepentingan yang berbeda.

Di awal, aku menyadari dorongan ego yang wajar: keinginan untuk jelas, diakui, dan tidak disalahpahami—terutama ketika peranku tersebar di beberapa ruang (Forum PUKL, Perkumpulan PUKL, dan kontrak profesional dengan LTKL). Aku sempat merasa perlu menjelaskan semuanya, seolah kejernihan sistem bergantung pada penjelasanku. Dari sini aku belajar: ego bukan musuh, ia adalah alarm. Ia menandai kebutuhan akan batas, kejelasan, dan rasa aman.

Seiring waktu, perhatianku bergeser. Bukan lagi “bagaimana posisiku terbaca”, melainkan “apakah sistem ini tetap sehat”. Aku mulai menimbang dampak setiap intervensi: apakah ini memanusiakan mitra atau membuat mereka defensif; apakah ini menjaga gerakan atau mempercepatnya secara brutal; apakah kehadiranku memperluas ruang atau justru menyempitkannya. Pergeseran ini menandai langkah dari ego-self menuju eco-self—dari memimpin dengan kontrol menuju memimpin dengan keterhubungan.

Dalam praktik, kepemimpinan eco menuntut disiplin batin. Aku memilih untuk tidak mengambil panggung yang bukan milikku, memberi ruang pada KWT untuk bersuara, dan menahan ekspansi ketika fondasi belum siap. Aku menerima bahwa dibayar secara profesional tidak otomatis meniadakan integritas; yang menentukan adalah kejelasan peran, transparansi, dan batas yang dijaga. Energi perlu mengalir agar kerja berkelanjutan, namun tidak boleh mencederai ruang bersama.

Aku juga belajar memimpin dari “tengah”: sebagai perawat sistem. Peranku bukan menyelamatkan, melainkan merawat relasi; bukan memaksakan kesepakatan, melainkan menjaga tujuan bersama; bukan menyatukan struktur, melainkan menjernihkan fungsi. Di sini, keberanian terbesar adalah berdiam ketika perlu, dan berbicara dengan rendah hati ketika harus.

Hari ini, aku memahami bahwa kepemimpinan Ego → Eco bukan tentang mengecilkan diri atau membesarkan diri. Ia tentang menempatkan diri secara tepat. Aku tidak perlu menjadi pusat untuk membuat sistem bergerak. Tugasku adalah memastikan ekosistem tetap hidup—meski ritmenya berbeda, meski jalannya tidak lurus.

Pegangan batinku sederhana:

  • Aku menjaga tujuan tanpa meninggalkan manusia.

  • Aku memimpin dengan kesadaran, bukan kecemasan.

  • Aku tidak perlu bersinar paling terang; cukup menjaga agar ekosistem tetap bernapas.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang berkelanjutan lahir dari kesediaan untuk hadir utuh, menjaga batas, dan mempercayai proses—bahkan ketika hasil belum terlihat.

Jumat, 09 Januari 2026

Duduk, Mendengar, dan Tidak Selalu Harus Bergegas

 


Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute (HaKi) tanggal 6 Januari 2026 dengan niat yang sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan untuk Bukit Pendape. Tapi aku tahu, kalau aku datang hanya membawa kepala yang penuh rencana, aku mungkin tidak benar-benar hadir.

Aku memilih merujak bersama.

Setelah itu, aku ngopi dengan Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Dan justru di situ, banyak hal masuk ke dalam diriku tanpa perlu dipaksa.

Aku tidak bertanya untuk mencari rumus. Aku ingin mendengar cerita.

Dari ceritanya, aku belajar bahwa kerja pendampingan komunitas bukan tentang cepat atau rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha yang dilakukan tidak langsung terlihat hasilnya. Ada lelah yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.

Aku sadar, orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Mereka tidak tergesa-gesa, karena mereka tahu apa yang sedang mereka jaga.

Dan entah kenapa, itu menenangkanku.

Tentang batas, ruang aman, dan merawat diri

Ada beberapa kalimat yang terus terngiang setelah hari itu.

“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”

Kalimat-kalimat ini sederhana, tapi terasa seperti diucapkan tepat ke arahku. Aku mulai menyadari bahwa menjaga diri bukan berarti egois. Justru sebaliknya. Kalau aku ingin bertahan di kerja panjang, aku harus belajar berhenti sebelum lelahku berubah jadi pahit.

Ada juga obrolan tentang ruang.

“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku, atau mengerjakan hal lain.”

Aku tersenyum mendengarnya. Karena ternyata, bekerja dengan sadar itu tidak selalu tentang duduk rapi di meja kerja. Kadang justru hadir di kafe, dengan buku dan kopi, adalah bentuk paling jujur dari merawat fokus.

Tentang rasa sungkan dan keberanian untuk hadir

Di sela-sela cerita, Kak Heni bilang bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios. Katanya, banyak yang melihat beliau sebagai sosok yang mudah marah. Aku tidak tahu seberapa benar itu. Tapi aku tahu, persepsi saja sudah cukup untuk membuat orang menahan diri. Sejujurnya, aku tidak menganggap itu benar setelah aku banyak berinterkasi dengannya. Penuh kelembutan dan peka terhadap situasi sekitar dengan tindakan.

Di titik itu, aku sadar:
bukan hanya struktur yang membentuk sistem, tapi juga rasa aman.

Secara formal, ruang untuk menyampaikan ide ada. Kak Heni sebenarnya bisa duduk di ruang manajer kampanye, mengusulkan gagasan, berbagi perspektif lapangan. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya.

Ide tidak selalu berhenti karena tidak ada. Kadang ia berhenti karena takut salah tempat.

Dan aku merasa, ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita semua membawa cerita, pengalaman, dan luka kecil ke dalam ruang kerja.

Dari mana kita bergerak

Semakin aku merenung, semakin aku sadar: setiap orang bergerak dari tempat yang berbeda.

Ada yang bergerak dari tanggung jawab dan kewajiban.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang dan kesabaran.
Ada yang bergerak dari pertanyaan dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari lelah, hati-hati, dan keinginan untuk aman.

Tidak ada yang salah. Semuanya manusia.

Dan mungkin, perubahan tidak akan pernah lahir dari memaksa semua orang sama. Tapi dari kesediaan untuk saling mengenali dari mana masing-masing bergerak.

Yang akhirnya aku pahami

Hari itu tidak memberiku jawaban tentang Bukit Pendape. Tapi ia memberiku sesuatu yang lebih penting: cara hadir.

Aku belajar bahwa sebelum ingin mengubah sistem, aku perlu belajar duduk di dalamnya. Mendengar tanpa terburu-buru. Menahan keinginan untuk segera merapikan. Mengizinkan proses berjalan pelan.

Tulisan ini aku buat bukan untuk menyimpulkan. Tapi untuk menandai:
aku sedang belajar.

Belajar menjaga ritme.
Belajar membuat batas.
Belajar hadir tanpa harus selalu kuat.

Dan mungkin, di situlah perubahanku—dan perubahan sistem—pelan-pelan dimulai.

Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran


Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran

Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute pada 6 Januari 2026 dengan niat yang sebenarnya sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan yang bisa digunakan untuk inisiatif Bukit Pendape. Tapi aku tidak ingin datang membawa daftar pertanyaan kaku atau proposal yang sudah rapi. Aku memilih merujak bersama.

Dari situ, proses sensing justru mulai bekerja.

Setelah dari kantor, aku melanjutkan waktu dengan ngopi bersama Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Aku bertanya sedikit tentang pengalamannya di kerja community development, bukan untuk mencari rumus, tapi untuk mendengar cerita.

Dari cerita-cerita itu, aku mulai menyadari satu hal penting: kerja perubahan sistem bukan tentang bergerak cepat atau terlihat rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha tidak langsung terlihat hasilnya. Ada kelelahan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.

Aku belajar bahwa orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Dari sini aku mulai memahami bahwa sistem bukan hanya struktur dan aktor, tapi juga ritme manusia di dalamnya.

Tentang batas, ruang aman, dan cara hadir

Dari berbagai percakapan, muncul banyak kalimat sederhana yang justru terasa dalam:

“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”

Kalimat-kalimat ini membuatku sadar bahwa keberlanjutan sistem sangat bergantung pada keberlanjutan individu. Dalam kerangka systems thinking, ini terasa jelas: sistem yang kelelahan tidak akan mampu menciptakan perubahan yang sehat.

Aku juga menangkap betapa pentingnya ruang.
“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku atau mengerjakan hal lain.”

Ini terlihat sepele, tapi sebenarnya menunjukkan kualitas kesadaran. Ruang fisik, jeda, dan suasana ternyata bagian dari sistem kerja. Sistem tidak hanya hidup di rapat dan dokumen, tapi juga di kopi, keheningan, dan percakapan tanpa agenda.

Mental model dan dinamika kuasa yang bekerja

Dalam proses sensing, aku juga mulai melihat lapisan yang tidak kasat mata. Kak Heni bercerita bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios, yang menurut persepsi umum punya citra sebagai sosok yang mudah marah. Terlepas dari benar atau tidaknya, persepsi ini membentuk batas psikologis.

Di sini aku belajar tentang mental model dan power dynamics.
Bukan hanya soal jabatan, tapi soal rasa aman.

Secara struktural, ruang lintas peran sebenarnya ada. Kak Heni, misalnya, bisa duduk di ruang manajer kampanye bersama Bang Adios untuk menyampaikan ide. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya. Ide tertahan bukan karena tidak ada, tapi karena ada kehati-hatian, asumsi, dan pengalaman masa lalu yang belum selesai.

Dalam Theory U, aku melihat sistem ini masih sering bergerak di tahap downloading—bertindak berdasarkan asumsi lama dan cerita yang sudah beredar. Proses sensing membantuku melihat pola ini tanpa menyalahkan siapa pun.

Source: dari mana orang bergerak

Aku juga mulai menyadari bahwa setiap orang bergerak dari source yang berbeda.
Ada yang bergerak dari tanggung jawab struktural dan menjaga stabilitas.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang di lapangan dan pendampingan komunitas.
Ada yang bergerak dari pemikiran kritis, pertanyaan, dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari kelelahan, kehati-hatian emosional, dan kebutuhan untuk aman.

Semua ini hidup bersamaan dalam satu sistem.

Theory U membantuku memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya mengatur struktur, tanpa menyentuh source tempat orang berangkat. Dan sensing adalah latihan untuk mengenali source itu—pada orang lain, dan juga pada diriku sendiri.

Apa artinya semua ini bagiku?

Pelan-pelan aku sampai pada satu kesadaran:
Jika ingin terlibat dalam perubahan sistem seperti Bukit Pendape, langkah pertamanya bukan memperbaiki sistem, tapi belajar hadir di dalam sistem dengan lebih sadar.

Belajar mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Belajar memahami bahwa tidak semua orang berada di ritme yang sama.
Belajar menerima bahwa perubahan sistem adalah kerja panjang, yang membutuhkan empati, batas diri, dan ruang aman.

Tulisan ini bukan penutup. Justru ini penanda bahwa proses belajarku sedang berjalan. Dengan menuliskannya, aku bisa melihat bahwa ada progres—bukan dalam bentuk capaian besar, tapi dalam cara berpikir, merasakan, dan hadir yang perlahan berubah.

Dan mungkin, di situlah perubahan sistem sebenarnya dimulai.

Jejak Pertama di Sembilang: Catatan Perjalanan ke Rumah TN

Kamis, 25 Juli 2024

LTKL - PUKL - Saya untuk Daerah dan Indonesia


Walaupun sedikit terlambat untuk menuliskan cerita tentang perjalanan 7 tahun Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), saya ingin sedikit menuliskan kilas balik perjalanan saya bersama LTKL - PUKL.

Bergabung dengan Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL) menjadikan saya bagian dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Kesempatan ini merupakan pengalaman yang mengajarkan saya banyak hal. Saya tidak menyangka bahwa perjalanan ini akan begitu bermakna. Saya merasa sangat sayang dengan orang-orang di dalamnya, merasa aman dan nyaman dengan budaya kerjanya.

Saya ingat dengan jelas, proses wawancara pertama saya untuk PUKL bersama Kak Adinda Aksari dan salah satu pertanyaan yang paling berkesan adalah tentang blog ini (hingga akhirnya saya tulis di sini cerita ini) karena teringat hari itu. Ada sosok role model yang selalu saya ikuti sebelum akhirnya bisa bertemu tatap muka, yaitu Kak Gita Syahrani. Saya masih ingat webinar-webinar Kak Gita yang bercerita tentang Musi Banyuasin dan anggota kabupaten Lestari lain serta aksi kolektifnya, sangat menginspirasi.

Time flies, saya jadi mengenal kakak-kakak yang lain di LTKL, coordinator kami (Pak Yuwono Aries) dahulunya memanggil Pak Erik, saya baru tau kemudian bahwa Pak Erik adalah  Uda Desriko. Manajger kami yang selalu menekankan bahwa proses yang kita jalani adalah yang paling berharga, nanti hasilnya akan mengikuti. Prosesnya baik maka hasilnya akan baik.  Saya belajar menikmati setiap tantangan dan peluang dari setiap kegiatan yang kami lakukan.

Melalui LTKL, saya belajar tentang pentingnya kolaborasi. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga organisasi non-pemerintah. Program yang kami jalankan juga selalu memperhatikan aspek pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Saya ingat ketika kami memulai serangkaian acara tentang "Workshop Pengendalian Karhutlah Dan Kawasan Gambut, Serta Diseminasi Pembelajaran Pelibatan Masyarakat Dalam Pencegahan Kebakaran Hutan & Rehabilitasi Lahan Di Kabupaten Musi Banyuasin”, itu hari pertama saya ketemu Uda di Musi Banyuasin , lalu “High Level Dialogue Pengembangan Program PUKL dan Identifikasi Kebutuhan Pengembangan Program Asosiasi UPPB Kabupaten Musi Banyuasin” di Palembang, saya menerima banyak motivasi dan pembelajaran dari Uda Desriko, Pak Yuwono, Bang Adios dan teman-teman yang lainnya. Hari ini, melihat keberhasilan pengaruh kegiatan LTKL dan PUKL di daerahku yang membawa dampak nyata, saya merasa bangga dan bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Mari,  dengan semangat kolabosi dan gotong royong, kita wujudkan masa depan berkelanjutan.

Salam Lestari, salam kolaborasi untuk Indonesia!

Dirgahayu LTKL ke-7

Pembangunan Berkelanjutan Bagi Kabupaten di Indonesia

In Front of Me is My Favourite Woman

First Flight of PUKL Muba for LTKL

Second Flight of PUKL MUBA for LTKL

3 Nasihat Penting dari dan ke Bandara YIA

 


Jumat, 05 Januari 2024

Semangat ya Sayang!

Aku membuka mata, merogoh telpon genggam yang cukup jauh dan melihat jam, tertera pukul 04.02 WIB. Sejak semalam sudah persiapan beberapa hal menuju kota pempek. Ya, pelan-pelan harus kembali ke realita, setiap minggu akan berangkat menimba ilmu. Aku paksakan bangun karena niatnya ingin membawa donat untuk teman sekelasku. Aku melangkahkan kaki dengan pelan karena masih mengantuk pasalnya kemarin kami berkegiatan sampai malam sekali. 
Aku membuka lemari pendingin, mengambil bulatan-bulatan kecil lembut yang sudah keras karena di dalam freezer, aku melakukan proses thawing pada kumpulan mereka. "Mudah-mudahan mereka suka." Pikirku sambil mengeluarkan rasa cokelat, avocado dan greentea. 
Pukul 05.40 WIB, aku belum membereskan *sesuatu, travel sudah menelepon, padahal masih 20 menit lagi, aku pesan pukul 06.00 WIB degan harapan pukul 09.30 WIB sudah sampai, "Aku belum selesai." Bapaknya sudah di depan. Aku cepat-cepat menyandangkan ranselku, daann ternyata donat-nya lupaaa. Hmmm. 

Kamis, 14 Desember 2023

Ucapan adalah Do'a

Masih berlanjut cerita indah dari perjalanan Festival Lestari #5, pasalnya disana saya dapat bertemu dan belajar dari berbagai pihak, salah satunya 'Mas Madha'. Hari itu, cukup panjang pembahasan kami mengenai data-data Kerangka Daya Saing Daerah (KDSD) yang menghasilkan "Profil Yurisdiksi" kabupaten. Profil Yurisdiksi kabupaten adalah sebuah rangkuman informasi yang menunjukkan kemajuan kabupaten dan seluruh pemangku kepentingan di dalamnya menuju pembangunan berkelanjutan. Dokumen ini merupakan hasil gotong royong multipihak yang melibatkan pemerintah kabupaten, masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan akademisi di kabupaten. Profil Yurisdiksi adalah upaya kolektif yang diharapkan dapat menghasilkan inventarisasi data yang inklusif dan membuka pintu-pintu potensi kolaborasi untuk mewujudkan visi lestari kabupaten, termasuk kabupateku, Musi Banyuasin. Hari itu, saya mengatakan berkali-kali kepada Mas Madha, 

N: "Mas, mas harus ke Muba." Ucapku hari itu, seingatku salah satu alasannya adalah supaya dapat melihat bentuk dari data-data tersebut secara nyata. Mas Madha seingatku menjawab dengan "InsyaAllah" dan aku berusaha menyakinkaannya lagi untuk beneran hadir ke daerahku. 

Rabu malam, 12 Desember saya mendapatkan kiriman undangan kegiatan pada gambar di atas, mengkoordinasikan dengan tim yang lain dan tanggal 14 Desember hadir pada kegiatan tersebut. Duduk kami di sebelah kiri kegiatan, lalu melihat ke depan, "Itu Mas Madha, tolong buka instagram Mas Madha, Ka. Bener kan, Mas Madha itu?" se-excited itu karena bisa beneran liat Mas Madha ke Sekayu. 

"Iya bener, Kak. Mas Ramadha." melambaikan tangan kecil dari tempat duduk dan tersenyum. 

Acara berlangsung selama lebih dari 3 jam sebelum istirahat siang, ada pula cerita-cerita kecil waktu coffee break dan makan siang itu, ada pula cerita lebih dari 30 menit setelah kegiatan sorenya, sampai menanyakan tentang penggunaan "Profil Yurisdiksi" yang pernah kami himpun. 
"Kita berangkat dari data, saya bisa mengetahui peluang Musi Banyuasin dari Profil Yurisdiksi." Begitulah kurang lebih ucap Mas Madha kemarin. 

"Ke Musi Banyuasin walaupun bukan tentang KDSD, tapi ke Musi Banyuasin karena kegiatan ini."

Allhamdulilah ya. Senang sekali bisa bertemu Mas Madha juga mengetahui bahwa Profil Yurisdiksi berperan untuk kegiatan tersebut. Maasyaa allah. Makin banyak peluang kolaborasi lainnya untuk daerahku. Aamiin. 
Mudah-mudahan kita selalu menjaga ucapan untuk selalu berkata baik. Ucapan adalah do'a. Ucapkan yang baik-baik. 

Rabu, 29 November 2023

Sekadar Sapa dari Seoarang Puan

 


"Hai, apa kamu sedang baik-baik saja?"

Aku tertawa meringis sambil menahan tangis saat menulis kalimat di atas. Lebih dari 10 menit aku menenangkan diriku untuk terus melanjutkan menggerakkan jari-jariku pada tuts hitam benda persegi panjang ini. Kadang juga tersenyum kecut untuk mengembalikan lagi rona merah yang sebenarnya di pipiku. Beberapa kali ku ambil tissu untuk menyeka tetesan pada mata dan hidungku di kotak berlambang kupu-kupu dengan tulisan tempatku menginap malam ini. "Ah, tugasku..." tetap saja aku memikirkan abcd+ yang lainnya lalu mengelus lembut pipiku. 

Sudah ya, sudah ke-empat kali aku menyampaikannya tapi tetap terasa belum lega. Artiya, ada beberapa hal yang masih belum selesai dan ada hal lain yang perlu ku lakukan. Keempat kali itu tentu kepada ke-pengambil keputusan, kecuali pada satu orang yang pada akhirnya aku mengeluarkan isakan, dan cerita pun mengalir begitu saja, walaupun ku pastikan  banyak tidak pahamnya ya.  Iya, aku harus menuliskannya di suatu tempat, hal ini cukup pribadi dan menyangkut banyak pihak, tidak kuasa akan dengan jelas ku tuliskan disini. Barangkali nanti kapan-kapan dengan nama samaran atau judul yang lain bukan dengan subjek 'aku'.

Sekadar sapa untuk melegakan seorang puan yang malam ini dari pertemuan yang memakan waktu yang panjang, dan pada akhirnya di dalam perjalanan menuju kembali ke penginapan, sekali lagi aku menegaskan beberapa hal yang aku amati perkembangannya. Sekarang sudah sadar, bukan? Sudah baca, kan? Apakah aku cukup dipahami kali ini? Mudah-mudahan tidak mengiyakan saja dan bertanya "apakah ada lagi?" Hmmm.

Sudah ya, mari kita lihat, apabila memang tidak berhasil setelah ini, maka akan ganti strategi ya. Terima kasih. 

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلهِ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً ، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

 

“Barangsiapa yang diperlakukan baik, lalu ia mengatakan kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan (artinya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)’, maka sungguh ia telah sangat menyanjungnya.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih) [HR. Tirmidzi, no. 2035 dan An-Nasai dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, 180; juga dari jalur Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 275; Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, 2:148. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya tsiqqah).

Sumber: 1 2 3

Senin, 27 November 2023

Semangat dalam Menjalani Hari

Aku duduk mematung dan menarik nafas panjang, mulai mengamati sekeliling dan menarik nafas sekali lagi. Sepi, pukul 03.00 benar-benar tenang, suka sekali. Hujan semalam menambah parah batuk dan pilekku, obat yang kuminum semalam dan mendirurkaniku tidak fukup ampuh. Isi kepala mengenai pekerjaan di tambah dengan tugas-tugas lainnya memenuhi kepala ku pagi ini. Rasanya ingin istirahat saja namun ada kunjungan ke salah satu pabrik roti pagi ini. Untung semalam sudah mendapat banyak energi dan motivasi dari Bapak dan Abang HaKi jadi walaupun terseok-seok tetap semangat menjalani hari, juga saya penasaran dengan pabrik roti bahwa kami pernah punya impian agar mendirikan pabrik roti.

Pukul 07.22 WIB membaca pesan e-learning bahwa waktu submit tugas hari ini pukul 10.00 WIB, padahal saya sudah siap jalan, tugas itu sama sekali belum dibuat. Aku buru-buru memasukkan notebook yang sedari awal niatnya tak ku bawa pergi. Ku gendong ransel itu dan berangkat dengan kendaraan yang ku pesan dari aplikasi. Ngeeenggg..... sekitar 15 menit kuinjakkan kakiku dalal kampus yang masih asri. Cukup memacu detakan jantung karena tugas memang sama sekali belum ku sentuh, ku cari alternatif lain agar selesai dalam 10 menit sebelum keberangkatan menuju pabrik roti. Bim salabim, kutuliskan namaku di dalam tugas itu. Yeay, selesai. Alhamdulillah.  Semangat menjalani hari ya, sehat selalu 🤗

Minggu, 22 Oktober 2023

Pembangunan Berkelanjutan Bagi Kabupaten di Indonesia

      

    Kelestarian alam adalah kunci generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan yang mementingkan lingkungan perlu digalakkan bagi setiap pihak. Semangat bergotong royong untuk mewujudkan visi pembangunan lestari patut disebarluaskan di bumi pertiwi. Visi Indonesia Emas 2045 perlu digaungkan agar menyentuh setiap lapisan masyarakat. Hal ini diperlukan agar setiap individu di muka bumi ini mempunyai niat untuk sama-sama mewujudkannya. Bagaimana menurutmu? Perlu, bukan? 

    Praktik-praktik ramah lingkungan dalam pendidikan, pertanian, infrastruktur pun harus di mulai dari sekarang, dari diri sendiri. Belum bisa secara sempurna, dimulai dengan perlahan, yang terpenting adalah usaha yang untuk mencapainya. Akhir-akhir ini, merenungi beberapa hal yang dilakukan, dan tentu saja perlu perbaikan.

    Ada banyak hal-hal yang saya pikir, saya harus mulai. Mulai dulu dari hal yang kecil dan pada akhirnya kita akan sama-sama mencapai visi itu.Yuk! Lingkungan terjaga, masyarakat sejahtera.