Selasa, 07 Juli 2026

Menjadi "Peredam Kejut" dan Air Mata di Baris Lima Puluh Satu

Di atas kertas, jabatan saya terdengar sangat rapi yaitu Liaison Officer. Penghubung. Namun di lapangan, di ruang-ruang rapat birokrasi Musi Banyuasin yang dingin oleh AC namun panas oleh perdebatan, jabatan itu memiliki nama lain yang tidak pernah tertulis di SK mana pun, yaitu Peredam Kejut. 

Bayangkan Anda harus berdiri di tengah jembatan goyang. Di satu sisi, ada mitra pembangunan yang datang dengan setumpuk idealisme, framework global, dan ekspektasi program yang mungkin harus jalan bulan ini juga. Di sisi lain, ada birokrat daerah yang sedang kelelahan, trauma dengan "proyek data" masa lalu, dan tengah pusing menghadapi pemotongan anggaran operasional hingga 80 persen.

Tugas saya? Memastikan kedua pihak ini bisa duduk semeja, tersenyum, dan berkolaborasi tanpa ada piring yang terbang.
Selama setahun terakhir, saya menyerap semuanya. Saya mempraktikkan Sensing dan Theory U setiap hari. Ketika seorang pejabat daerah merespons dengan defensif terkait data defisit resiliensi fiskal, saya menelan ego saya. Saya berlatih mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Mungkin yang dialami bukan marah pada programnya, hanya kelelahan dengan sistem yang membebani mereka.

Saya tersenyum. Saya membuat draf surat. Saya mengawal dokumen yang penting. Saya berusaha meredam ego-sektoral. Saya menjadi spons raksasa yang menyerap semua residu kekecewaan, kecemasan, dan ekspektasi ekosistem.
Saya pikir, saya baik-baik saja. Saya pikir, inilah yang namanya profesional.

Hingga suatu pagi, hari ini, Rabu 8 Juni yang sangat sepi, saya duduk di depan layar laptop untuk mengerjakan tugas administratif yang paling klise di dunia korporat, mengisi Performance Evaluation Review yahunan.

Saya mengetik dengan lancar di bagian awal. Target RPPEG? Tercapai. Pendanaan alternatif? Tercapai. Namun, kursor saya berhenti berkedip ketika masuk ke bagian "H. Training".
Di baris ke-51, saya mengetik sebuah judul pelatihan yang saya ikuti beberapa waktu lalu, Facilitation 101: The Art of Listening. 

Dan tepat pada detik itu, di antara keheningan pagi dan layar Excel yang menyala, pertahanan saya runtuh. Pandangan saya tiba-tiba mengabur. Air mata saya jatuh begitu saja, menetes di atas meja.

Itu adalah momen lima detik yang tidak akan pernah saya lupakan.

Di detik pertama, saya bingung mengapa saya menangis. Di detik ketiga, saya sadar. Selama setahun penuh mempraktikkan "Seni Mendengar", saya telah mendengarkan kemarahan dinas, mendengarkan keluh kesah ibu-ibu kelompok ekonomi perempuan, dan mendengarkan kekhawatiran mitra. Saya mungkin memvalidasi perasaan semua orang di Musi Banyuasin.

Satu-satunya suara yang tidak pernah saya dengarkan adalah suara saya sendiri. Suara batin yang kelelahan menjadi peredam kejut bagi sistem yang sedang kelebihan beban.

Air mata pagi itu bukan tangisan menyerah. Itu adalah sebuah exhale, embusan napas panjang dari tubuh yang akhirnya merasa aman untuk melepaskan ketegangan. Sebuah pelepasan prediction error yang selama ini menumpuk di pundak saya.

Saya menyeka air mata, meraih ponsel, dan memotret layar laptop yang menampilkan baris 51 tersebut. Saya mengunggahnya ke status dengan caption singkat, "Mengisi bagian ini pagi-pagi sekali begini dan membawa ke sesi refleksi bikin perasaan lega tapi diawali dengan nangis dulu. Hehe."

Terkadang, kita berpikir bahwa kepemimpinan adalah tentang seberapa kuat kita menahan beban sistem untuk orang lain. Namun pagi itu, di depan dokumen evaluasi tahunan, saya belajar pelajaran kepemimpinan batin (inner leadership) yang paling berharga bahwa sebelum kita bisa mengubah sebuah ekosistem, kita harus terlebih dahulu berani menyediakan ruang aman bagi diri kita sendiri untuk hancur sejenak, menangis, lalu bernapas kembali dengan lega.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar