Ada malam-malam ketika kepala terasa terlalu penuh. Bukan karena terjadi sesuatu yang besar, tetapi karena terlalu banyak hal yang ingin dipikirkan sekaligus. Revisi makalah. Seminar. Pekerjaan. Rencana masa depan. Pertanyaan yang belum selesai.
Malam itu aku masih terjaga. Di sisi lain layar, ada seseorang yang juga belum tidur. Entah sedang bekerja, menonton bola, atau sekadar belum mengantuk. Percakapan kami tidak panjang. Bahkan, sebagian besar balasannya hanya satu atau dua kata.
"Iy."
"Oo."
"Hmm."
"Boboklah."
Kalau hanya membaca isi pesannya, mungkin terlihat biasa saja. Namun ketika aku melihat jam di setiap balasan, aku menyadari sesuatu.
23.50.
00.30.
02.30.
03.20.
Ia tetap ada.
Tidak selalu menjawab semua pertanyaanku. Tidak selalu memberikan solusi. Tidak pula menyusun kalimat-kalimat romantis. Ia hanya... tetap ada. Dan ternyata, itu sudah cukup membuatku merasa ditemani.
Di tengah percakapan, aku masih saja bertanya banyak hal. Tentang makalah. Tentang masa depan. Bahkan tentang anak.
Lalu ia berkata, "Antuk, boboklah. Dah dalu mesti bawa enjoy, jangan bawa mikir terus otaknya."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, rasanya seperti seseorang sedang mengingatkanku bahwa hidup tidak harus diselesaikan semuanya malam ini. Bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban sebelum matahari terbit. Bahwa istirahat juga bagian dari ikhtiar.
Ada satu kalimat lain yang membuatku berpikir. Ketika aku ingin membahas rencana masa depan terlalu jauh, ia menjawab, "Ndak usah pula dibahas, kayak ndak percaya Tuhan."
Awalnya aku tertawa. Lalu aku merenung. Bukankah sering kali kita terlalu sibuk menyusun skenario, sampai lupa memberi ruang bagi takdir bekerja? Merencanakan itu penting. Tetapi menggenggam rencana terlalu erat justru bisa membuat kita kehilangan ketenangan.
Malam itu aku belajar sesuatu. Dicintai tidak selalu terlihat dari kata-kata besar. Kadang, dicintai adalah ketika seseorang mengingatkanmu untuk tidur. Ketika ia tetap membalas walau singkat. Ketika ia tidak memintamu menjadi sempurna, tetapi hanya ingin kepalamu beristirahat.
Aku juga belajar kepada diriku sendiri. Perasaan "aku merasa disayang" adalah sesuatu yang nyata bagiku. Namun aku tidak ingin buru-buru mengubahnya menjadi kesimpulan tentang isi hati orang lain.
Aku memilih menikmati apa yang benar-benar ada. Ia hadir. Aku merasa tenang. Sisanya, biarlah waktu dan tindakan yang bercerita. Karena cinta yang sehat tidak dibangun dari tebakan. Ia tumbuh dari kehadiran yang berulang. Dari perhatian yang konsisten.
Dan dari doa yang sama-sama dipanjatkan kepada Tuhan. Mungkin, beginilah rasanya ketika hati perlahan belajar percaya. Bukan karena semua pertanyaan sudah terjawab. Tetapi karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menghadapi malam sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar