Minggu, 12 Juli 2026

Proses S2 yang Menakutkan, tapi Juga Melegakan


Kalau ada yang bertanya apa rasanya kuliah S2, mungkin dulu aku akan menjawab, melelahkan. Sekarang jawabanku berbeda. Menakutkan, tapi juga melegakan.

Menakutkan karena setiap kali mengirim naskah ke dosen pembimbing, selalu ada pertanyaan yang muncul di kepala.

"Bagaimana kalau masih banyak salah?"

"Bagaimana kalau revisinya besar lagi?"

"Bagaimana kalau ternyata belum layak?"

Rasa takut itu nyata. Apalagi ketika aku pernah menangis di depan dosen pembimbing. Waktu itu rasanya seperti semua beban, lelah, dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. Namun hari ini, aku menyadari sesuatu. Yang melegakan ternyata bukan karena revisiku sudah sempurna. Yang melegakan adalah karena aku tidak lagi berlari dari proses itu.

Hari ini aku mengirim makalahku kepada Bu Eka dan Pak Budi. Bu Eka mengajak diskusi lewat Zoom. Pak Budi langsung memberi masukan teknis: "Rapikan paragraf rata kanan." "Diskusikan dulu dengan Bu Eka." "Target kita seminar hasil dalam waktu dekat." "Tetap semangat."

Tidak ada kalimat yang menghakimi. Yang ada justru ajakan untuk terus melangkah. Di situlah aku sadar. Sering kali yang paling menakutkan bukan revisinya. Melainkan bayangan di kepala kita tentang revisi itu.

Ketika akhirnya kita berani mengirim, membuka ruang untuk dikoreksi, dan berdiskusi, rasa takut itu perlahan berubah menjadi lega. Karena ternyata proses akademik bukan tentang menjadi sempurna. Melainkan tentang bersedia belajar lagi. Mungkin inilah hadiah terbesar dari S2. Bukan hanya pengetahuan tentang kopi, antioksidan, atau analisis statistik. Tetapi keberanian untuk berkata,

"Silakan dikoreksi."

Dan ketika itu bisa diucapkan dengan tenang, mungkin kita sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada isi tesis itu sendiri.

Bertumbuh bukan berarti selalu benar. Bertumbuh berarti cukup aman untuk menerima bahwa masih ada yang perlu diperbaiki.

 Rasa "melegakan" yang sedang aku alami sekarang. Bukan karena perjalanan S2 sudah selesai, tetapi karena aku tidak lagi melawan prosesnya. Aku mulai berjalan bersamanya. Semoga beberapa bulan lagi, saat seminar hasil dan sidang sudah terlewati, aku bisa membaca tulisan ini lagi dan tersenyum, sambil berkata, "Ternyata aku memang bisa melewati semuanya." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar