Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juni 2023

《 الكليمة-الطيبة-صدقة 》

 

ويبقى داخل الروح شيء
لا يترجمه حبر ولا يستوعبه ورق
بعض الشعور لا بوح يكفيه ولا حرف يحكيه

خلق ليسكن داخلنا دون أن نخبر به أح

❝Dan tetap ada sesuatu yang tersisa di dalam jiwa.
Ia tidak bisa diterjemahkan dengan tinta, dan kertas pun tidak akan bisa memahaminya.
Beberapa perasaan tidak cukup untuk diungkapkan, atau diceritakan oleh huruf.
Ia diciptakan untuk tinggal di dalam diri kita tanpa memberitahu siapa pun tentang hal itu.
الظمأ..
ليس إحتياجنا للماء فحسب ...!!
وإنما هو عطش قلوبنا لڪلمة طيبة ..
تحيي مشاعر جفت من قساوة الوضع..
إذا ڪان للمشاعر سوق
فڪن المشتري ولا تڪن البائع ..
فالبائع يعرف الثمن ..
ولڪن المشتري يعرف القيمة التي امتلڪها ..!
Haus,
Bukan hanya air yang kita butuhkan!
Akan tetapi, Ia adalah kehausan hati kita akan kata-kata yang baik.
Menghidupkan kembali perasaan yang mengering dari kerasnya keadaan.
Andai perasaan memiliki pasar.
Jadilah pembeli, bukan penjual.
Karena penjual tau harganya.
Tapi pembeli tau nilai yang ia miliki!
من قال أن الكلمات لا تفعل شيئا
الكلمة إن لمستك يستطيع إحتضنتك
وإن جرحتك يستطيع أن يغرقك فى بحر الألم
بكلمة.. نهدم حلما
بكلمة... نداوي جرحا
بكلمة... نخسر شخصا
وبكلمة.. نكسب قلبا
فتذكر قبل أن تنطق كلماتك
أنها ستبقي فى القلوب ولا تتغير.."
Siapa bilang bahwa sebuah kalimat tidak melakukan suatu hal.
Sebuah kalimat jika ia menyentuhmu, ia mampu merangkulmu,
Dan jika ia melukaimu, ia mampu menenggelamkanmu dalam lautan rasa sakit.
Dengan sebuah kalimat, kita menghancurkan mimpi.
Dengan sebuah kalimat, kita menyembuhkan luka.
Dengan sebuah kalimat, kita kehilangan seseorang,
Dan dengan sebuah kalimat, kita memenangkan hati.
Maka ingatlah sebelum kamu mengucapkan sebuah kalimat.
Bahwa ia akan tetap membekas di hati dan tidak akan berubah.❞
في الصّــــباح بدايات هـادئة تسـكن الـرّوح
دعـوات ترفع للسّماء
وأمل بالله لا ينقــطع
ياربّ.. اجعــل ايامنـا كلّـها خيــــر
Di pagi hari, awal yang tenang menghuni jiwa.
Doa-doa yang diangkat ke langit
Dan harapan kepada Allah tidak terputus
Wahai Rabb...
jadikanlah hari-hari kami semuanya Kebaikan..
اللهم أجعلني مثل غيمة خفيفة
تمطر بـالخير اينما أتجهت ولا تضر أحدا أبدا
Ya Allah,
jadikan aku seperti awan yang ringan
Menghujani dengan kebaikan di mana pun aku pergi dan tidak pernah menyakiti siapa pun.

Ahad nan sejuk
22 Dzulqo'dah 1444 H
Dikutip dari【 Khanza Ashfahany Al-Atsariyyah و فقها الله 】

JIKA INGIN MENCAPAI KEMULIAAN, ADA MAHAR YANG HARUS DIBAYAR


 دببت للمجد والساعون قد بلغوا جُهد النفوس وألقـوا دونـه الأُزرا

❝ Aku merangkak untuk suatu kemuliaan dan orang-orang yang berusaha telah tiba.
Pada kesungguhan jiwa dan sementara mereka mengeluarkan seluruh kekuatan untuk sesuatu yang lebih rendah dari kemuliaan tesebut.
وكابدوا المجد حتى ملَّ أكثرُهُم
وعانق المجد من أوفى ومن صبرا
Mereka mengalami kesulitan dengan menahan penuh penderitaan sampai kebanyakan mereka menjadi bosan.
Orang yang akan merangkul kemuliaan adalah siapa yang menepati janjinya dan bersabar.
لا تحسبن المجد تمراً أنت آكله
لن تبلغ المجد حتى تَلْعَقَ الصَـبِرَا
Janganlah engkau menyangka bahwa kemuliaan itu seperti kurma rasa manis yang engkau memakannya.
Engkau tidak akan mencapai kemuliaan sampai engkau menjilat perasan pohon yang pahit.❞
【 Khanza Ashfahany Al-Atsariyyah و فقها الله 】


Ahad | 22 Dzulqo'dah 1444 H

Sabtu, 14 Mei 2022

WANITA TERBAIK MEMILIKI SIFAT MALU

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

Kriteria ini juga semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!

Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)

Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.

Amirul Mukminin Umar bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.

selengkapnya: https://muslim.or.id/21207-8-sifat-wanita-terbaik.html

Via HijrahApp

Sabtu, 06 November 2021

A MOTHER'S ADVICE TO HER DAUGHTER BEFORE MARRIAGE

“Oh my dear daughter, take from me these 10 qualities; they will be for you a stored treasure and a reminder: 

1 • Accompany him with contentment and live with him in a good manner. 

2 • Listen to him and obey him. 

3 & 4 • Take care of his eyes and take care of his nose, so do not let him see anything ugly from you and only let him smell pleasant smells from you. Kohl is the best beautification while water is the sweetest of the rare perfumes. 

5 & 6 • Pay attention to his meal times and be quiet during his sleep moments, because the heat of hunger is like a burning flame and disturbing his sleep will anger him. 

7 & 8 • Take care of his home and his wealth and look over him, his servants, and his children. Protecting his wealth shows good judgement, while watching over his servants and children shows good management. 

9 & 10 • Do not expose his secrets and do not disobey his command. If you expose his secrets, he will never feel safe with you, and if you disobey his command, his heart will boil with anger towards you. 

“Beware of showing happiness in front of him when he is sad, and do not express sorrow in front of him when he is happy. In the first scenario, it shows negligence, and the second scenario will cause him sadness. 

Show him utmost respect and the utmost honour, and agree with him as much as possible; this will increase your companionship. And know— you will not attain what you love until you prefer his happiness over your happiness and his desires over your desires concerning what you like and dislike. May Allāh grant you what is best.”

Book: A message Exclusively to the Muslim Woman
By Shaykh Jamāl al Hārithi 
Translated by Rasheed Barbee
Authentic Statements Publications
P. 31, 32

Minggu, 31 Oktober 2021

AYAH, SELAMAT DATANG DI SURGAMU YANG ADA DI DUNIA

Ibuku selalu berpesan kepadaku "Selalu tersenyumlah di hadapan Ayahmu ketika ia pulang ke rumah. Karena dunia di luar sana telah menghantam Ayah dengan keras." 
(Twit Syaikh Abdul Malik Al Qasim | @dr_alqassem)

Maka ketika seorang ayah atau suami pulang ke rumah setelah lelahnya ia mencari nafkah untuk keluarganya, sambutlah ia dengan senyuman dan kehangatan dari istri dan anak-anaknya.

Buatlah ia merasa bahwa rumahnya adalah tempat ternyaman dengan berbagai kebahagiaan yang tidak ia temukan di luar sana. Anak-anak yang shalih dan istri yang shalihah. Sebuah kenikmatan surga dunia yang Allah anugerahkan untuknya.

Al Hasan Al Bashri berkata,
“Yang ingin dilihat Allah pada hamba muslim dari istri, saudara, dan sahabat karibnya adalah mereka semua taat pada Allah. Wallahi, demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketaatan pada Allah yang ia lihat pada anak, cucu, saudara dan sahabat karibnya.”

Maka ketika hari perpisahan di dunia itu tiba, semoga kelak Allah kumpulkan kembali kita bersama orang-orang yang kita cintai di surga Allah yang abadi yang tidak ada lagi perpisahan setelahnya.

Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan taufik.
____
Credit by 📝 sunnah.muslimah

Selasa, 01 Juni 2021

Maksimal Panjangnya Ujung Pakaian Bagi Perempuan

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata,

رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ فِي الذَّيْلِ شِبْرًا، ثُمَّ اسْتَزَدْنَهُ فَزَادَهُنَّ شِبْرًا 

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membolehkan ummahatul-mukminin pada ujung pakaian mereka untuk diperpanjang satu jengkal. Lalu mereka meminta panjangnya ditambah, maka beliau membolehkan mereka menambah satu jengkal lagi”. (HR. Abu Daud no. 4119).

Saudaraku, hadis diatas menjelaskan bahwa ada perbedaan antara pakaian seorang muslim dengan seorang muslimah pada bagian bawahnya. Kalau seorang muslim tidak boleh melebihi mata kaki, dan jika seorang muslimah maka tidak boleh melebihi dari dua jenkal/satu hasta dari mata kaki. Larangan isbal tidak hanya berlaku bagi muslim namun juga berlaku bagi muslimah. Akan tetapi ukuran isbal pakaian muslimah berbeda dengan muslim. Isbal-nya pakaian muslim adalah di bawah mata kaki. Sedangkan isbal-nya pakaian muslimah adalah bila melebihi satu hasta atau dua jengkal. 

Saudaraku, terkadang kita mendengarkan pertanyaan dari sebagian kaum muslimah tatkala melihat ujung pakaian yang menyeret-menyeret ketanah, seperti “Mbak bajunya nyapu jalan itu, nanti kotor kan najis gimana bisa dipake untuk sholat kotor begitu?” perhatikan jawabannya dari Ummu Salamah tatkala ditanya tentang ujung pakaian yang menyeret ketempat yang kotor. Beliau menjawab dengan hadis yang pernah didengar dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang berbunyi, “Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.” (HR. Ibnu Majah, Imam Malik dan Tirmidzi). Namun, ada hal yang harus diperhatikan dan dipahami. Bahwa ketentuan yang disebutkan hadits di atas hanya berlaku untuk najis yang kering. Ketentuan ini tidak berlaku jika najisnya adalah najis yang basah atau cair.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Selasa, 18 Mei 2021

Kaos Kaki

Dahulu aku berfikir kaos kaki dipakai hanya untuk pergi ke sekolah, sebagai formalitas agar terlihat rapi. Hampir tidak kutemukan anak sekolahan di kota Sekayu tanpa kaos kaki jika menggunakan sepatu. Entahlah, seperti melekat dengan anak sekolahan, kaos kaki putih dan kaos kaki hitam terasa bak kewajiban, atau mungkin memang sebuah kewajiban. 
Jikalau di desaku ketika aku masih sekolah dasar aku masih melihat anak sekolahan bahkan tanpa sepatu. Begitulah, sejak pindah ke Sekayu nyatanya kaos kaki menjadi hal yang tidak asing.

Sekarang sudah usia 20an, waktu masih menempuh pendidikan di Indralaya di suatu universitas, aku juga tidak sadar kepan pertama kali aku mulai menggunakan kaos kaki, seingatku tak semua mahasiswa menggunakannya. Beberapa saja. Ku perhatikan juga, kaos kaki bukan hal seperti diwajibkan ketika menggunakan sepatu kala masih siswa. Benar bukan? Bahkan aku sendiri tak peduli, mau pakai kaos kaki atau tidak, yang penting kebanyakan adalah kenyamanan.

Ku perhatikan juga para pegawai, "ada juga kok yang tidak memakainya." pikirku setelah beberapa kali datang ke kantor-kantor atau sekedar terlihat mereka di jalan. Jadi, siapakah kaos kaki itu?

Untukku sendiri, siapa sangka kaos kaki menjadi hal yang amat penting bagiku sekarang?
Tidak ada. Aku pun juga sama. Aku harus menggunakannya karena kaki wanita adalah aurat. Begitulah hal yang aku sadari akhir-akhir ini. Belum banyak memang pengetahuanku tentang agama, tetapi manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu (agama). Semua ini tidak terlepas dari dukungan dan dorongan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan menasihat. Terima kasih banyak. Semoga Allah selalu melindungi kita dalam ketaatan.

Aku tau setiap orang punya pilihan atas diri mereka masing-masing. Tetapi aku ingin katakan ini untuk para muslimah dan sebagai pengingat untuk diriku:
Firman Allâh Azza wa Jalla : وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ”…Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat…” [an-Nûr/24:31] Mereka berkata “yang biasa nampak” maksudnya adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Semangat!
Referensi: Klik ya!

Selasa, 06 April 2021

Istiqamah

"Setiap kali aku telah bertaubat dan istiqamah, kenapa aku kembali lagi dan berbalik ke belakang? Bagaimana jalan keluar dari kondisi yang terus berulang ini?"

Dr. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qadhi
[Kiat-kiat untuk Tetap Istiqamah]

Senin, 25 Januari 2021

JANGAN BERSUMPAH DENGAN SEBUTAN "DEMI RASULULLAH"


Kebanyakan kasus yg terjadi adalah menggabungkan ucapan "Demi Allah, Demi Rasulullah", atau sumpah ucapan makhluk lainnya seperti "Demi Allah, Demi Langit dan Bumi", hal ini dilarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras bersumpah dengan menyebut selain Allah. Dari Sa’ad bin Ubadah, beliau menceritakan,⁣
⁣
”Suatu ketika Ibnu Umar mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan ‘Tidak, demi Ka’bah’ maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,⁣
⁣
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ⁣
⁣
“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan” (HR. Abu Daud no 3251, dishahihkan al-Albani).⁣
⁣
Dalil lainnya, dari Ibnu Umar, bahwa beliau pernah menjumpai Umar bin Khattab bersama suatu rombongan. Saat itu Umar bersumpah dengan menyebut nama bapaknya. Nabipun lantas memanggil rombongan tersebut lalu bersabda,⁣
⁣
أَلاَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ ، وَإِلاَّ فَلْيَصْمُتْ⁣
⁣
“Ingatlah sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian. Siapa yang hendak bersumpah maka hendaknya bersumpah dengan Allah atau jika tidak diam saja” (HR Bukhari no 5757).⁣
⁣
Read more here

Semoga bermanfaat.
Baarakallahu fiikum

===========================

Share faedah ini, semoga pahala mengalir juga ke antum
Ikuti juga media sosial kami di link bawah ini : 👇
📱 Facebook : facebook.com/taklimsunnah
💻 Instagram : instagram.com/taklim_sunnah
🔎 Line : http://line.me/ti/p/~@taklim_sunnah
💡 Telegram : http://t.me/taklim_sunnah

Jumat, 22 Januari 2021

Buku Amal

Para Malaikat yang mulia ini benar-benar sangat amanah dan teliti dalam mencatat. Mereka mencatat semua ucapan dan perbuatan manusia, secara detail dan terperinci, baik yang zhohir maupun batin. Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qomar: 52-53)

Lalu, apakah hikmah dicatatnya amal perbuatan manusia, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu? Salah satu hikmahnya, Wallohu Ta’ala a’lam, pencatat ini dilakukan untuk menampakkan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena di hari Kiamat kelak, manusia akan disuruh membaca catatan amalnya dan menghisab dirinya, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang yang bermaksiat untuk mengingkari dosa-dosanya, karena semua telah tertulis.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (28)

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

Minggu, 10 Januari 2021

Tahsin


     Hari ini hari pertama pergi tahsin. Dahulu sejak pulang ke rumah aku tidak tau jika di Sekayu ada tahsin bersama ustadzah. Bahkan dahulu aku kira Sekayu belum ada yang bermanhaj salaf. Namun kemudian, perkiraanku terpatahkan dengan adanya abahku yang berteman dengan Ustadz-ustadz sunnah karena mungkin sering bertanya. Ceritanya gitu, karena sering setiap abis sholat Abah akan menyampaikan kepada kami ilmu baru yang di dapatnya. Sebenarnya aku tau ada tahsin tahun lalu, namun karena banyak sekali alasan-alasan hingga baru terealisasikan hari ini datangnya. Bagaimana tidak, terlalu sibuk urusan dunia membuat lalai beberapa hal tentang mempelajari agama. Astaghfirullah al adzim. Semoga kedepannya Allah mudahkan untuk selalu datang yaaa...
     Berada ditengah-tengah wanita-wanita sholehah membuatku bersemangat kembali menata diri. Termotivasi dengan kesholehan-kesholehan mereka. Maasyaa Allah. Allhamdulillah, aku cepat mengatasi urusan dunia kali ini dan hadir bersama mereka. Allah sebaik-baiknya penolong.
     Sepanjang kegiatan berlangsung, aku berfikir sepertinya aku sudah terlalu sibuk dengan duniaku. Aku harus bergegas lagi memperbaikinya. Semangatttt. 

Rabu, 11 November 2020

Salafī Sisters

❝Having Salafī sisters who are TRULY your friend and love you for the sake of none but Allah is the best...when you go wrong, they are always there to correct you, they NEVER sugar coat the truth just because it will hurt your feelings...this doesn't even mean anything to them when it comes to Deen because if you keep quiet while you know your sister is doing something wrong, then you have not given them their rights and you have not fulfilled your duty!!

If you have any sisters like this, cherish them because you won't find any other sisters (friends) like them...A Salafī friend knows when to talk and when not to talk...they are not your friend just to pass time in the dunya, but to have you as an ally on the day of Qiyāmah!! 

If they are truly your friends they will remind you of Allah no matter what!! Cherish them Yaa Akhawāt...❞

- Via Safiya Saidi (Bint Uthman Saidi)
------------------------------------------------------------------------
🌹 True Friendship 🌹...⬇️

Shaykh Zayd al-Madkhalī (رحمه الله):

❝Friendship does not require silence towards a mistake that a friend or brother falls into. Rather he should alert him immediately (about the mistake), such is an actual brother and a friend who is true in his friendship. As for he who remains silent, then indeed he has not recognised the obligatory right upon him towards his Muslim brothers and sisters.❞

[عون الأحد الصمد شرح الأدب المفرد ٢/٢٦٧]

- Via Salafi Dawah Lancs @SalafiDawaLancs
-------------------------------------------------------------------------
🌹 Who Is A Friend? 🌹...⬇️
Shaykh Ibn Ghālib Al 'Umarī (حفظه الله) said,

❝A friend is not he who agrees to your habits, mannerism or character, or who absolutely supports your choice, or who offers you worldly support which increases your wealth. Your friend is he who is truthful to you in his love, and he is your friend in his advice and his admonishment.❞

- Via أبوعبدٱللّٰه @ZubayrAbbasi
----------------------------------------------------------------------------

🌹 What Is That Valuable Thing Which All of Us Must Give to Those Whom We Address With The Statement: ❝I Love You For The Sake of Allaah❞ - By Shaikh Albaani [rahmahullaah] 🌹...⬇️

Questioner asked Shaikh Albaani [rahimahullaah]: Is it obligated on a person who loves another person to say to him, “I love you for the sake of Allaah?”

Shaikh Albaani [rahimahullaah] replied: Yes, but love for the sake of Allaah has a high value and those who give [what it necessitates] are very few!! Do you know its value? Is there anyone who knows its value? Whoever knows, then let him give us an answer?

A person in the gathering replied to the Shaikh [rahimahullaah]: The Messenger [sallal laahu alayhi wasallam] said: There are seven people whom Allaah will shade with His shade [i.e. the shade of Allaah’s Throne] …and amongst them are two men who love each other for the sake of Allaah – they meet each other and depart on that basis.

The Shaikh [rahimahullaah] replied: This statement is sound within [its context], but it is not an answer to the question. It is a close definition of ‘love for the sake of Allaah’ but not a comprehensive definition. I do not mean the reward in the Aakhirah, [rather] my question is, ‘’What is the valuable thing that must be given by a person who loves another person for the sake of Allaah? The intent behind my question is what is the deed that would show -as a proof- that love for the sake of Allaah [exist] between two people who [claim] love for each other for the sake of Allaah; because it maybe be that two people love each other, but their love is based on [admiration of each other’s characteristics or traits]. Therefore, what is the proof of real love [for the sake of Allaah]?’’

A second person replied to the Shaikh [rahimahullaah]: ‘’To love for a person what you love for yourself.’’ The Shaikh [rahimahullaah] said, ‘’This is one of the qualities of loving for the sake of Allaah.’’

A third person said to the Shaikh [rahimahullaah]: The answer might be found in the hadeeth: There are three things that when found in a person, he will taste the sweetness of Eemaan….and one of those things is that one loves a person for nothing else other than for the sake of Allaah. Shaikh said: This is not the answer, rather this is [one of the] effects of loving for the sake of Allaah – the sweetness found in one’s heart.

A fourth person said to the Shaikh [rahimahullaah]: Allaah [The Most Most High] said:

وَٱلۡعَصۡرِ

 إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ

 إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

By Al-‘Asr (the time). Verily! Man is in loss; Except those who believe [in Islamic Monotheism] and do righteous good deeds and recommend one another to the truth [i.e. order one another to perform all kinds of good deeds which Allaah has ordained and abstain from all kinds of sins and evil deeds which Allah has forbidden], and recommend one another to patience [for the sufferings, harms, and injuries which one may encounter in Allaah’s Cause].

The Shaikh [rahimahullaah] replied: Well done! This is the answer. If I really love you for the sake of Allaah, I will give you advice and likewise you’ll do the same for me. This act of giving advice is very rare amongst those who claim that they love each other for the sake of Allaah. It may be that there is some sincerity in their love, but it is not complete. Therefore, every one of us should safeguard the other, and -in this case- the valuable thing to be given due to loving one another for the sake of Allaah is that everyone sincerely advises one another, by enjoining good and forbidding evil – always and forever. [Ref 1]

And it has been reported that it was from the practice of the Sahaabah-amongst themselves- that when parting company from each other after meeting, one of them would recite Surah Asr to the other [Ref 2].

الحاوي من فتاوي الألباني

page 165

Ref 1: Klik here!
Ref 2:

When two men among the Sahaabah of the Prophet [sallal-laahu-alayhi-wasallam] met, they would not depart until one of them recited to the other: “By al‑‘Asr (the time). Verily, man is in loss”[Surah al-‘Asr], and thereafter, one would give salaam to the other. Shaikh Albaani [rahimahullaah] said in As-Saheehah Number 2648, page 308: The chain of this narration is authentic.

Then on page 309, the Shaikh [rahimahullaah] said: Finally, we take and benefit from this that the Sahaabah used held onto this practice- the recitation of Surah Al-Asr [i.e. when two of them were about to depart from each other after meeting], because we believe that they were/are far removed from innovating an act of worship into the religion through which a person seeks to get close to Allaah, so they must have adhered to this practice due to what they were acquainted with from the Prophet [sallal-laahu-alayhi-wasalam]- either based on a statement of his, action or tacit approval. 

[Excerpt: abridged and paraphrased]

 - Via Klik here!
----------------------------------------------------------------------------
It is majorly important that we understand this is our foundation. Our ʿaqīdah is the foundation of our brotherhood and sisterhood.
Sumber: Klik here!

The foundation of Sisterhood is related to our belief, clinging to the Qur’ān and the Sunnah and holding on to the way of the companions.
Sumber: Klik here!

The foundation of brotherhood and sisterhood is the foundation of loving for the sake of Allāh; that we love him/her for the sake of Allāh
Sumber: Klik here!
----------------------------------------------------------------------------

Closing Advice by @uwaysT

Allah guided you to Salafiyyah & to the Sunnah... 
nothing has connected us except the Sunnah and Salafiyyah
 Sumber: Klik here!
----------------------------------------------------------------------------

Our Shaykh Ubayd al-Jābīrī said: 
❝There are no lineage or family ties between us. That which links us together is the Sunnah❞
Sumber:  Klik here!
----------------------------------------------------------------------------

🌹 The Basis For Sisterhood By Ustādh Abu Hakeem Bilal Davis 🌹...⬇️

MP3 Download: Klik here!

PDF Download: Klik here!

جزاك الله خيرا Humaira Chaudhry

Kamis, 15 Oktober 2020

Perhatikanlah Hatimu!

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai saudaraku, 
Bahwa sesungguhnya penuntut ilmu apabila dia hendak mengerjakan suatu amalan atau menyebarkan suatu tulisan, atau berkotbah di hadapan manusia.

Aku ingin menulis sesuatu walaupun satu baris di internet atau media sosial agar hendak mengecek kembali hatinya dan memperhatikan niat dan keikhlasannya karena diantara tanda Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya, tatkala dia selalu memperhatikan niatnya dan sungguh saya bersumpah atas nama Allah azza wa jalla bahwasanya tidaklah seseorang senantiasa memperhatikan keikhlasannya kecuali Alah memberikan petunjuk dan Keistiqomahannya dalam setiap amalannya, karena itulah keikhlasan akan diikuti oleh amalan.

Barangsiapa jujur dalam niatnya maka Allah azza wa jalla akan memberikan Taufik dalam beramal.

[Syaikh Abdussalam ASY Syuwa'ir ]

Minggu, 27 September 2020

KRITERIA WANITA CANTIK MENURUT AL-QURÀN DAN SUNNAH

Bismillahirrahmanirrahim

1. "Senantiasa menjaga pandangan agar kelihatan sopan dan terpuji."
(QS. An-Nuur : 24/31)

2. "Tidak bergaul bebas dengan kaum laki-laki bukan mahram, kecantikan dipelihara tanpa dipertontonkan."
(HR. Bukhari)

3. "Pembawaan diri sopan, tegas, dan bersahaja."
(QS. Al-Qasas : 28/25)

4. "Senantiasa bercakap dgn nada suara tidak dimanja-manjakan dan tidak dilembut-lembutkan."
(QS. Al-Ahzab : 33/32)

5. "Menjauh gaya tabarruj, penggayaan diri yang mengganggu fitnah lelaki hingga menarik kepad adirinya."
(QS Al-Ahzab : 33/33)

6. "Berpakaian membawa identiti wanita mukminah."
(QS. Al-Ahzab : 33/59)

7. "Senantiasa bersih dan berbau segar. Tidak memakai parfum."
(HR. Bukhari)

8. "Tidak mengubah ciptaan Allah seperti pembedahan plastik, membuat tato, mencukur alis, dan sebagainya."
(QS. An-Nisaá : 4/19)
(Hadith Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidhi)

9. "Tidak meniru penampilan kaum lelaki dari cara berpakaian, bercakap serta pembawaan diri."
(HR. Ibnu Abbas)

Sabtu, 12 September 2020

Salafi

‏القران واسنةعلى فهم السلف الصالحين!

Senin, 24 Agustus 2020

Tawheed and Shirk

Tawheed is monotheism.
Shirk is polytheism.

Qur'an Allah stated: 
"I did not create the jinn nor mankind except that they should worship me alone." 
(Surah Adh-Dhāriyāt: 56)

Sabtu, 27 Juni 2020

Buah dari Mengikuti Sunnah

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah ;

"Manusia akan singgah dan meminum telaga Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pada hari kehausan yang sangat (hari kiamat) 

disesuaikan dengan bersinggahnya ia pada sunnah  Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan bagaimana ia meminum (mengambil) bagian darinya, 

Maka barangsiapa yang dinegeri dunia ini ia bersinggah kepada sunnah dan meminum serta menghirup darinya (yaitu; berpegang teguh) 

Maka kelak ia akan menyinggahi telaga Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan meminum serta meneguknya, 

Karena sesungguhnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memiliki dua telaga yang agung;

Telaga didunia yaitu sunnahnya dan segala perkara yang ia datang dengannya, dan telaganya di akhirat

Maka orang-orang yang meminum telaga didunia mereka itulah yang akan meminum telaganya pada hari kiamat.

Maka ada golongan yang meminumnya, ada yang diharamkan, ada yang banyak meminumnya dan ada yang sedikit".

(Ijtima'ul Juyusy Al Islamiyyah /85)

Ditulis oleh Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah

Kamis, 25 Juni 2020

Kenapa Harus Bermanhaj Salaf?


•┈┈┈┈┈••❀•◎﷽◎•❀••┈┈┈┈┈• 

Ditulis oleh* Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.
(Majalah Asy Syariah) 

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

*Definisi Manhaj Salaf*

Manhaj salaf, apabila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj (منهج) dan salaf (السلف). Manhaj (منهج) dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (منهاج), yang bermakna ‘sebuah jalan yang terang lagi mudah’. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, al-Mu’jamul Wasith 2/957)

Adapun salaf (السلف), menurut etimologi bahasa Arab bermakna ‘siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan’. (Lisanul ‘Arab, karya Ibnu Manzhur, 7/234)

Dalam terminologi syariat, salaf (السلف) bermakna ‘para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tabiin (murid-murid sahabat) dan tabi’ut tabiin (murid-murid tabiin)’. (Lihat Manhajul Imam asy-Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-‘Aqil, 1/55)

Berdasarkan definisi di atas, manhaj salaf (منهج السلف) adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tabiin dan tabi’ut tabiin dalam memahami dinul Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau as-Salafi. Bentuk jamaknya Salafiyyun atau as-Salafiyyun. Imam adz-Dzahabi berkata, “As-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/21)

Sebutan bagi Pengikut Manhaj Salaf
Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah karena mereka berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (ajaran Rasulullah) serta bersatu di atasnya.

Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar karena mereka berpegang teguh dengan hadits dan atsar saat orang-orang banyak mengedepankan akal.

Mereka disebut juga al-Firqatun Najiyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu anhuma).

Selain itu, mereka disebut juga ath-Thaifah al-Manshurah, yaitu kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban radhiallahu anhu). (Silakan lihat lebih rinci pada kitab Ahlul Hadits Hum ath-Thaifatul Manshurah an-Najiyah, karya Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali)

*Kewajiban Mengikuti Manhaj Salaf*

Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) pada organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan, manhaj salaf mengajari kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan pemahaman Salafush Shalih.

Siapa pun yang berpegang teguh dengannya, dia adalah saudara kita walaupun berada di belahan bumi yang lain. Inilah ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim dalam memahami agamanya. Mengapa? Sebab, demikianlah yang dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam Sunnahnya. Sementara itu, Allah telah berwasiat kepada kita,

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٌ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

_“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”_ (an-Nisa: 59)

*Dalil Ayat Al-Qur’an tentang Keharusan Mengikuti Manhaj Salaf*

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

_“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”_ (al-Fatihah: 6—7)

Imam Ibnul Qayyim berkata,

“Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, Setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih konsisten mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang lebih berhak menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syiah).” (Madarijus Salikin, 1/72). 

Penjelasan Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam—yang mereka adalah Salafush Shalih—lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”. Sebab, pengetahuan mereka tentang kebenaran begitu mendalam dan mereka sangat konsisten mengikutinya.

Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dinul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus. Oleh sebab itu, orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus pula.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا 

_“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”_ (an-Nisa: 115)

Imam Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi berkata,

“Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas) bahwa yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan generasi pertama dari umat ini. Sebab, mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih.

Mereka telah menanyakan segala yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan penjelasan yang sempurna. Mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran.

Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Melalui merekalah hubungan kita bisa tersambung dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, juga dengan Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah hlm. 36—37). 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Sungguh, keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, -red.) saling terkait. Maka dari itu, siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38)

Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (as-Salaf), dan keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin; dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalan para sahabat.

Sebab, apabila kita menempuh selain jalan mereka dalam memahami dinul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Akibatnya sungguh mengerikan: akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan. Kesudahannya ialah masuk ke dalam Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzu billahi min dzalik.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٍ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

_“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.”_ (at-Taubah: 100)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan surga-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (as-Salaf) semata. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah juga mengabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Dia sediakan untuk mereka, yaitu surga-surga yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367)

Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan pada ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan surga-Nya.

*Dalil Hadits Rasulullah tentang Keharusan Mengikuti Manhaj Salaf*

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

_“Sesungguhnya, barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang teguh dengan Sunnahku, dan Sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham….”_ (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu anhu. Lihat Irwa`ul Ghalil, hadits no. 2455)

Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak dalam memahami dinul Islam. Jalan satu-satunya yang mengantarkan pada keselamatan ialah dengan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin (Salafus Shalih). Bahkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. 

Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam—sebagaimana engkau saksikan—telah merangkai Sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin dengan Sunnah beliau, dan termasuk konsekuensi mengikuti Sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka….

Sebab, apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti Sunnah Nabi mereka shallallahu alaihi wa sallam. Atau mengikuti apa yang mereka pahami dari Sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.” (al-I’tisham, 1/118)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

_“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Orang-orang yang menghinakan mereka tidak akan memudaratkan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.”_ (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim, lafaz hadits ini adalah lafaz Muslim dari sahabat Tsauban radhiallahu anhu, hadits no. 1920)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata (menjelaskan hadits di atas), “Kalau bukan ahlul hadits, aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 36)

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah, Imam al-Bukhari rahimahullah, Imam Ahmad bin Sinan al-Muhaddits rahimahullah, semuanya berkata tentang makna hadits ini, “Mereka adalah ahlul hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hlm. 26, 37). 

Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dahlawi al-Madani berkata,

“Hadits ini merupakan salah satu tanda kenabian (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Setiap masa dari zaman ini pasti ada mereka. Beliau shallallahu alaihi wa sallam mendoakan mereka. Doa itu pun terkabul.

Pada tiap masa, Allah azza wa jalla menjadikan ada sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan keterangan sebenarnya. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah ahlul hadits, insya Allah. Hal ini sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik masa dahulu maupun masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hlm. 131)

Ahlul hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa yang ingin menjadi bagian “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dia harus mengikuti manhaj salaf.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

_“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada’.”_ (Hasan, HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, “Kitabul Iman”, “Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah”, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu anhuma)

Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dahlawi al-Madani berkata,

“Hadits ini menjadi nas (dalil yang tegas, -red.) bagi apa yang diperselisihkan. Sebab, hadits tersebut dengan tegas menjelaskan tentang tiga hal:

1️⃣ Pertama, umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka karena mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb alam semesta.

2️⃣ Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan karena mereka berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta mengamalkan keduanya tanpa takwil dan penyimpangan.

3️⃣ Ketiga, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri (dalam hadits tersebut), yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir.” (Tarikh Ahlil Hadits hlm. 78—79). 

Tentu saja, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf. Sebab, dalam memahami dinul Islam ini, mereka menempuh jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti dalam memahami dinul Islam. Berikut ini beberapa alasannya.

1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Akibatnya ialah akan diberi keleluasaan untuk bergelimang dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.
3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya pasti mendapat ridha dari Allah. Tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan. Mereka kekal abadi di dalamnya.
4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala muncul berbagai pemahaman dan pendapat dalam memahami dinul Islam. Ini sebagaimana wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Mereka senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf adalah golongan yang selamat. Sebab, mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika

▪️Imam Abdurrahman bin Amr al-Auza’i rahimahullah berkata,
“Engkau wajib mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu. Hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (asy-Syari’ah, karya Imam al-Ajurri, hlm. 63)

▪️Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit rahimahullah berkata,
“Engkau wajib mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf. Hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya as-Suyuthi, hlm. 322; dinukil dari kitab al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 54)

▪️Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah berkata,
“Syiar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (al-Intishar li Ahlil Hadits, hlm. 88)

▪️Imam Qawamus Sunnah al-Ashbahani rahimahullah berkata,
“Barang siapa menyelisihi sahabat dan tabiin (salaf), ia sesat walaupun banyak ilmunya.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/437—438, dinukil dari kitab al-Intishar li Ahlil Hadits, hlm. 88)

▪️Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata,
“Segala yang menyelisihi manhaj salaf adalah kesesatan.” (al-Muwafaqat, 3/284, dinukil dari al-Mirqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 57)

▪️Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, mengaitkan diri dengannya dan bersandar padanya. Bahkan, hal itu disepakati wajib diterima karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149)

▪️Beliau rahimahullah juga berkata,
“Bahkan, syiar ahlul bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dinul Islam ini. Semoga Allah juga memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, hingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Amin, ya Rabbal ‘Alamin.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈• 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Selasa, 23 Juni 2020

Salafi

Ahlis Sunnah adalah mereka yang menjalankan dengan sempurna (ajaran) agama Islam, baik secara ideologi ataupun perilaku.

Seseorang dianggap sebagai Ahlis Sunnah atau seorang salafi, adalah ketika merealisasikan Aqidah Ahlis Sunnah dengan memperdulikan segi perilaku, adab-adab yang sesuai dengan ajaran Islam dan menunaikan hak-hak sesama muslim.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah berkata bahwa Ahlis Sunnah Wal Jama'ah merealisasikan prinsip-prinsip berikut:

Saling memerintahkan dengan yang baik, dan melarang dari perbuatan munkar, sesuai yang diajarkan dalam syar'iat. Menganjurkan untuk menunaikan ibadah haji, berjihad, sholat Jum'at, sholat 'id, bersama pemerintah, baik merek adalah pemimpin yang baik (adil) ataupun pemimpin yang jahat. Senantiasa menegakkan sholat berjamaah, menjalankan tanggung jawab memberikan nasihat kepada ummat. Meyakini sabda Nabi "(permisalan peran) Seorang mukmin terhadap mukmin lain, bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, yang sebagiannya menopang (menguatkan) sebagian yang lainnya.

Tatkala ditimpa cobaan (kesusahan), mereka saling memerintahkan supaya menetapi kesabaran, dan tatkala mendapatkan kelapangan, saling memerintah untuk bersyukr, dan tatkala ditimpa takdir yang pahit, maka saling memerintahkan berlapang dada. 

Senantiasa menyeru kepada akhlak-akhlak mulia, dan amal-amal terpuji. Yakin dengan sabda Nabi "Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya."

Senantiasa menganjurkan agar menyambung (hubungan dengan) orang yang memutuskan hubungan, memberi orang yang enggan memberi, memafkan yang telah mendzalimi. Saling memerintahkan untuk senantiasa berbakti kepada kedua orangtua, juga untuk bersilaturahmi, berbuat baik kepada tetangga. Senantiasa melarang dari perangai berbangga diri, sombong, melampaui batas, melanggar hak orang lain, baik dengan alasan yang dibenarkan atau tidak.

Senantiasa memerintahkan agar komitmen dan menjaga akhlak terpuji dan mencegah dari akhlak tercela. Dan setiap hal yang diucapkan dan lakukan, baik dari hal-hal diatas, atau lainnya, senantiasa mengikuti Al Kitab (Al Qur'an) dan As Sunnah dan jalan hidup agama Islam yang dengannya Allah mengutus Nabi Muhammad.

Disalin dari Nasehat-nasehat Syekh Ibrahim bin 'Amir Ar Ruhaily
Sekayu, 23 Juni 2020 ditengah hujan di kamar rumahku.
Allhamdulillahilazi bini'matihi tattimusolihat.

Senin, 15 Juni 2020

Kajian Online

KAJIAN ONLINE

Kita semua rindu kajian offline.

Duduk di majelis, menyimak dengan takzim, mencatat dengan khusyuk, satu-dua nasihat kadang membuat kita terdiam dan merenung, serasa ditampar dengan lembut.

Mengambil adab dari sang ustaz, bertatap muka teman sejawat, berkumpul bersama penuntut ilmu menjadikan hati mengharu biru, keberadaan mereka begitu membuat diri bahagia.

Benar-benar wonderful. Surga dunia. Sayangnya banyak yang tidak menyadari kenikmatan dan keindahannya.

Akan tetapi kita diuji dengan pandemi. Kajian offline distop, sudah tiga bulan. Agenda terjadwal dari satu kajian ke kajian lain menjadi begitu dirindukan. Kita kehilangan.

Kita benar-benar rindu nikmat majelis ilmu.

Saat ini alhamdulillah satu persatu kajian bermunculan kembali pasca lebaran. Mungkin materi berbeda, jadwal pun tak sama, suasana pun jauh dari sebelumnya: online, lewat layar kaca.

Maka...

Ingat firman Allah, 

لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
"Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambah untuk kalian. Jika kalian kufur, maka sungguh azab-Ku amatlah pedih."
(QS. Ibrahim: 7)

Jika kita mensyukuri nikmat majelis ilmu, meski online, maka Allah akan menambah nikmat majelis ilmu termasuk offline.

So, agendakan kajian online, persiapkan kuota seperti dulu persiapkan bensin kendaraan. Sedia buku, pakai baju yang pantas, duduk rapi, menyimak mencatat seperti sedang di majelis ilmu offline.

Semoga demikian jadi sebab turun rahmat Allah berupa taman taman surga yang kembali berbunga dan bermekaran di seluruh penjuru nusantara.

Ustadz Roni Nuryusmansyah