Aku kepikiran satu hal yang terus menyangkut di kepalaku. Tentang ternyata mencintai seseorang juga berarti belajar memahami bagaimana diriku sendiri ketika sedang mencintai.
Aku sedang menonton sebuah video percakapan Lila Rose dengan Allison Armstrong. Judulnya cukup menarik perhatian: The Biggest Mistakes Women Make With Men (That Pushes Them Away). Awalnya aku kira akan menemukan daftar kesalahan perempuan dalam hubungan. Semacam hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan agar laki-laki tidak menjauh.
Ternyata salah ya, ada beberapa bagian yang membuatku berhenti sebentar. Tentang kebiasaan menguji pasangan, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, mengkritik, membandingkan, sampai menahan perhatian ketika sedang marah. Aku jadi ngat diriku sendiri. Jangan-jangan, dalam beberapa situasi, aku juga melakukan hal-hal itu?
Aku pernah berada di situasi ketika seseorang membaca pesanku, tetapi tidak segera membalas. Sebenarnya aku tahu, setiap orang punya kesibukan. Ada pekerjaan, tanggung jawab, perjalanan, dan kehidupan yang tidak selalu bisa berhenti hanya untuk membalas pesan. Aku tahu itu. Tapi mengetahui sesuatu secara logika ternyata tidak selalu membuat perasaan ikut tenang.
Ada kalanya aku mulai bertanya-tanya. Sedang apa, ya? Kenapa belum membalas? Apakah dia ingat kalau ada seseorang yang sedang menunggunya?
Lalu pesan berikutnya terkirim. Kadang disusul pertanyaan lain. Kalau sudah terlalu lama, mungkin ada sedikit kemarahan atau sindiran. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku sedang mencari kepastian melalui cara yang kurang tepat.
Aku ingin merasa diingat, tetapi terkadang menyampaikannya melalui kemarahan. Aku ingin merasa dilibatkan, tetapi kadang berharap dia menyadarinya sendiri tanpa harus aku jelaskan. Seolah-olah kalau dia benar-benar peduli, dia seharusnya tahu apa yang sedang kubutuhkan. Padahal, orang lain tidak selalu bisa membaca isi kepala kita.
Aku sedang belajar membedakan antara meminta dan menguji. Keduanya mungkin terlihat mirip, tetapi rasanya berbeda. Meminta berarti aku berani mengatakan apa yang kubutuhkan. Menguji berarti aku menciptakan situasi tertentu untuk melihat apakah seseorang akan melakukan sesuatu sesuai harapanku. Dan mungkin, selama ini aku pernah melakukan keduanya.
Aku juga sedang belajar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan alasan di balik perilaku seseorang. Seseorang diam, bukan berarti pasti sedang marah. Seseorang tidak banyak bercerita, bukan berarti pasti tidak percaya. Seseorang tidak segera membalas pesan, bukan berarti pasti tidak peduli. Aku ingin belajar bertanya sebelum membuat kesimpulan.
Tapi ada satu hal yang juga sedang kupahami, kalau tidak semua perasaan harus dibatalkan hanya karena mungkin ada penjelasan lain di balik perilaku seseorang.
Kalau aku sedih karena tidak mendapat kabar, ya aku memang sedang sedih. Kalau aku merasa kesepian, aku tidak harus buru-buru meyakinkan diri bahwa aku tidak boleh merasa begitu karena dia mungkin sedang sibuk. Aku boleh memahami kesibukannya sekaligus mengakui bahwa aku juga punya kebutuhan.
Mungkin kedewasaan bukan tentang menjadi seseorang yang tidak mudah merasa apa-apa. Melainkan belajar mengenali perasaan, memahami asalnya, lalu memilih bagaimana menyampaikannya.
Ada bagian lain yang cukup menggangguku, dalam arti membuatku berpikir lebih lama. Tentang kritik dan apresiasi. Aku kadang terlalu sibuk memperhatikan sesuatu yang belum dilakukan seseorang sampai lupa melihat hal-hal kecil yang sebenarnya sudah dia lakukan.
Ada orang yang mungkin tidak pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, tetapi mengingat hal-hal kecil tentang kita. Ada yang tidak banyak bercerita melalui pesan, tetapi ketika bertemu mau mendengarkan. Ada yang menunjukkan perhatian melalui tindakan sederhana. Apakah aku sudah cukup memperhatikan itu?
Aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya melihat kekurangan orang lain. Aku ingin belajar mengucapkan terima kasih. Menghargai usaha. Tidak membandingkan hubungan sendiri dengan hubungan orang lain. Tapi aku juga tidak ingin apresiasi berubah menjadi alasan untuk mendiamkan kebutuhan yang belum terpenuhi. Karena ya menurutu, mengakui kebaikan seseorang tidak berarti semua hal dalam hubungan sudah baik-baik saja. Dua hal itu ternyata bisa hidup berdampingan.
Aku bisa berterima kasih atas perhatian yang sudah diberikan, sekaligus berharap ada bentuk perhatian lain yang ingin kami pelajari bersama.
Btw, aku juga membaca The Art of Loving karya Erich Fromm. Ada empat unsur cinta yang terus teringat olehku. Tentang care, responsibility, respect, dan knowledge. Care, tentang kepedulian yang aktif. Responsibility, tentang kesediaan merespons kebutuhan orang lain. Respect, tentang menghargai seseorang tanpa berusaha menguasai atau mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan. Knowledge, tentang kesediaan mengenal seseorang lebih dalam.
Aku mulai perlahan untuk sadarar bahwa selama ini aku tidak hanya ingin ditemani. Aku ingin mengenal seseorang. Aku ingin tahu ketika dia sedang lelah. Apa yang membuatnya khawatir. Hal apa yang sedang dipikirkannya. Apa yang membuatnya bahagia, bahkan apa yang mungkin belum selesai dari masa lalunya. Aku ingin mendengarkan ceritanya tanpa harus selalu menjadi orang yang paling banyak bercerita. Aku ingin menjadi tempat yang aman untuk seseorang pulang dan berbagi cerita. Tapi kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku juga sudah memberikan ruang yang cukup aman untuk itu?
Apakah ketika dia bercerita, aku benar-benar mendengarkan? Atau diam-diam aku sedang menunggu giliran untuk menyampaikan sesuatu? Apakah aku bisa menerima bahwa cara seseorang mengekspresikan perasaan mungkin berbeda denganku? Aku belum selalu tahu jawabannya. Dan sepertinya memang masih banyak yang harus kupelajari.
Satu hal yang ingin kuingat adalah bahwa belajar mencintai bukan berarti belajar menjadi perempuan yang selalu menyenangkan. Aku tetap boleh meminta kabar. Boleh ingin dipeluk. Boleh ingin ditemani. Boleh mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuatku sedih. Aku juga boleh memiliki batas.
Selama ini aku sering merasa harus bisa mengurus semuanya sendiri. Menyelesaikan pekerjaan, mengatur perjalanan, memikirkan masa depan, membangun mimpi, dan memastikan hidup tetap berjalan. Ternyata, di dalam hubungan aku juga ingin sesekali menjadi seseorang yang boleh manja. Yang tidak harus selalu kuat. Yang bisa mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja. Temani aku sebentar, ya." Mungkin itu bukan tanda bahwa aku kehilangan kemandirian. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa menjadi mandiri dan ingin dirawat bukan dua hal yang saling bertentangan.
Dan aku tidak ingin terlalu sibuk mempelajari cara memperlakukan seseorang dengan baik sampai lupa bertanya apakah aku juga sedang diperlakukan dengan baik.
Hubungan bukan pekerjaan satu orang. Aku bisa belajar menyampaikan kebutuhan tanpa menyerang. Dia juga bisa belajar mendengarkan tanpa merasa selalu disalahkan. Aku bisa belajar memberi ruang. Dia juga bisa belajar memberikan kabar. Aku bisa belajar memahami caranya mencintai. Dia pun perlu bersedia mengenal cara aku merasa dicintai.
Aku tidak tahu seberapa cepat dua orang bisa mempelajari semua itu. Mungkin ada hari ketika kami berhasil saling memahami, ada hari ketika percakapan sederhana kembali menjadi rumit.
Mungkin akan ada salah paham lagi. Mungkin aku masih akan menangis untuk hal-hal yang menurut orang lain sederhana. Aku belum selesai.
Untuk sekarang, aku hanya ingin belajar satu hal: mencintai dengan lebih sadar. Tidak menjadikan ketakutanku sebagai alat untuk menguji seseorang. Tidak menjadikan kemarahanku sebagai satu-satunya cara agar kebutuhanku didengar. Tidak pula memaksa diriku menjadi seseorang yang tidak punya kebutuhan.
Aku ingin bisa melihat orang yang kucintai sebagai manusia yang juga punya keterbatasan, ketakutan, dan kehidupan sendiri. Dan aku ingin mengingat bahwa diriku juga manusia yang layak dipahami.
Barangkali mencintai memang bukan tentang menemukan seseorang yang selalu tahu bagaimana memperlakukan kita. Bisa jadi, ini tentang dua orang yang sama-sama bersedia belajar, saling memberi tahu, saling mendengarkan, dan memperbaiki hal-hal yang belum mereka pahami.
Aku sedang belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Bukan karena aku ingin seseorang bertahan dengan segala cara. Aku hanya ingin, ketika mencintai seseorang, aku tidak kehilangan diriku sendiri dalam prosesnya. Dan semoga, orang yang berjalan bersamaku juga sedang belajar hal yang sama. Masih belajar. Masih sering salah. Belum selesai.
