Rabu, 30 September 2026

Sayangku, Terima Kasih

Melihat seseorang tumbuh dan bertahan hidup itu sebenarnya sebuah keajaiban yang pelan. ​Aku tidak sedang ingin merayakan angka atau penanggalan. Bagi hatiku, nilai keberadaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa ramai tanggal tertentu diingat, tapi dari bagaimana dia terus melangkah, belajar, dan bertahan melewati hari-hari yang tidak pernah mudah.

​Hari ini, aku cuma ingin memberi ruang tenang di dalam batin untuk sebuah apresiasi sunyi untuk jiwa yang sudah berjuang sejauh ini.

​Aku memperhatikan bagaimana dia menanggung lelahnya. Bagaimana langkah kakinya, meski kadang berat, letih, atau tertatih tapi tetap diayunkan untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ada ketangguhan yang tidak perlu dipamerkan kepada dunia, dan ada proses pendewasaan yang terus berjalan secara jujur di balik diamnya. Menjalani hidup memang tidak pernah sederhana, dan menyaksikan seseorang berproses dengan segala dinamikanya adalah sebuah ruang pembelajaran yang hangat.

​Menghargai hidup seseorang sejatinya adalah tentang mendoakan kebaikannya dalam keheningan. Memohon agar hatinya selalu dilapangkan, jiwanya diberi ketenangan, langkahnya dimudahkan, dan setiap lelah yang diusahakannya bernilai kebaikan serta keberkahan.

​Aku berkeyakinan bahwa tidak perlu ada perayaan yang riuh. Cukup rasa syukur yang mengendap tenang di dalam dada bahwa di antara takdir- takdir di bumi ini, ada satu jiwa yang terus berikhtiar untuk hidup, belajar, dan berjalan dengan sebaik-baiknya.

​Ini bukan ucapan untuk satu hari tertentu. Ini adalah penanda dan bentuk penghormatan sunyi untuk sebuah perjalanan panjang bernama hidup. Terima kasih sudah terus bertahan, belajar, dan melangkah, Sayang. 
Sayang Abang. Sehat selalu yaaa.

Kesel Tapi Tetep Sayang

Tadi siang aku ngetik satu kalimat yang rasanya jujur banget, tanpa filter, "Aku kesal tapi aku tetap sayang." Nggak ada gengsi yang ditutup-tutupi, nggak ada drama pasif-agresif, dan nggak ada perisai sok kuat. Cuma respons spontan yang mengalir gitu aja.

​Dulu, mungkin kalau lagi jengkel atau merasa kurang diperhatikan, pilihanku cuma dua yaitu menahan semuanya sendirian sampai dada sesak, atau ngambek sambil nunggu dia menebak-nebak. Kita sering secara tidak sadar diajari untuk main aman, menjaga gengsi, atau pakai silent treatment biar kelihatan berkuasa. Tapi makin ke sini aku makin paham, cara-cara begitu cuma bikin sistem saraf bekerja terlalu keras dan capek sendiri.

​Beberapa waktu lalu waktu aku main sama anak-anak kecil di lorong desa, ada satu rasa yang bikin hatiku tenang banget, bahwa bicada dengan mereka terasa no hidden intention. Mereka ngobrol polos, tertawa lepas, dan bahkan mempermudah aturan main supaya aku bisa ikut tanpa merasa kesulitan. Di dekat mereka, aku merasa aman karena tidak ada tuntutan untuk berpura-pura.  

​Ternyata, kehangatan yang sama bisa kita bawa ke dalam hubungan dewasa. Hadir utuh dan sadar penuh itu bukan berarti kita harus selalu ramah, selalu tenang, atau berpura-pura tidak pernah kesal. Keberanian dewasa yang sebenarnya justru ada pada saat kita bisa dengan jujur meluapkan ganjalan, tanpa harus menurunkan kualitas rasa sayang kita pada pasangan. Kita memilih untuk tidak menghukum orang lain atau memelihara ego, melainkan merawat ruang hubungan agar tetap hangat dan aman.

​Melepaskan gengsi dan berani jujur sama perasaan sendiri ternyata rasanya sangat membebaskan. Nggak perlu akrobat emosi, nggak perlu pura-pura tangguh. Cuma ada aku, dengan segala rasa jengkel, kangen, dan kasih sayang yang utuh, belajar hadir untuk diriku dan hubunganku dengan cara yang paling ringan.

Kamis, 24 September 2026

Ternyata, Aku Lebih Tenang Setelah Menulis



Ada satu hal kecil yang baru kusadari beberapa hari ini. Ternyata, aku bisa lebih tenang hanya dengan menulis. Bukan karena semua yang kutulis kemudian mendapat jawaban. Bukan juga karena orang yang kutuju selalu punya solusi untuk semua isi kepalaku. Kadang aku cuma mengetik.

“Sayang, aku kepikiran ini…”

“Sayang, tadi aku ingat sesuatu…”

“Sayang, menurutmu kenapa begini?”

Kadang bahkan isinya tidak penting-penting amat. Tentang charger yang rusak. Tentang hidung yang terus meler. Tentang belum minum. Tentang rasa kangen yang tiba-tiba muncul padahal baru saja bertemu. Hal-hal kecil yang mungkin kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa saja kusimpan sendiri. Tapi ternyata, ketika kutuliskan, kepalaku terasa lebih lapang.

Aku baru sadar bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mengira bahwa ketenangan datang setelah mendapat respons. Seolah-olah aku gelisah, aku cerita, dia menjawab lalu aku tenang. Padahal beberapa hari ini aku menemukan urutan yang sedikit berbeda. Aku gelisah, aku menulis, aku membaca lagi apa yang sebenarnya kurasakan lalu perlahan aku tenang. Jawabannya belum tentu ada. Tapi sesuatu di dalam diriku sudah bergerak. 

Mungkin karena ketika sesuatu masih berputar di kepala, semuanya terasa besar. Begitu ditulis, ia punya bentuk. Yang tadinya cuma “aku merasa tidak enak” bisa berubah menjadi,

“Oh, ternyata aku sedang takut tidak dilibatkan.”

“Oh, ternyata aku sedang ingin dimengerti.”

“Oh, ternyata aku cuma kangen.”

“Oh… ternyata aku sedang capek.”

Sesederhana itu. Menulis ternyata bukan cuma cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kadang ia adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku juga belajar sesuatu tentang kedekatan. Bahwa dekat dengan seseorang bukan berarti semua rasa harus segera diselesaikan oleh orang itu. Aku boleh ingin ditenangkan. Aku boleh ingin didengar. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh mengirim pesan panjang ketika kepalaku sedang penuh. Tapi mungkin aku tidak harus menjadikan orang yang kusayangi sebagai satu-satunya tempat untuk membuatku kembali baik-baik saja.

Ada bagian yang tetap bisa kukerjakan sendiri. Bukan supaya aku menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku rasa bukan itu. Aku justru ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membutuhkan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin bisa berkata, “Aku ingin kamu ada.” tanpa diam-diam menerjemahkannya menjadi, “Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan baik-baik saja.” Ada jarak kecil di antara dua kalimat itu. Dan ternyata, jarak kecil itu penting.

Hari itu aku juga sempat bertanya tentang sesuatu yang sudah lama tersimpan di kepalaku. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana seseorang memandang perempuan dalam pekerjaan. Tentang kenapa dalam situasi tertentu ia terlihat lebih mudah menghubungi atau meminta bantuan perempuan tertentu. Pertanyaannya sebenarnya sederhana.Tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Kadang kita tidak benar-benar sedang bertanya tentang orang lain. Kita sedang mencoba memahami “Aku ini ada di mana dalam duniamu?”

Aku sempat tertawa sendiri setelah menyadarinya. Ternyata hati manusia memang lucu. Bisa membahas charger 220 ribu, lalu beberapa jam kemudian tiba-tiba masuk ke pertanyaan tentang kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Tidak selalu rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia menyimpan banyak hal sekaligus.

Dan malam itu, setelah semua pesan kecil itu lewat, aku kembali menyadari sesuatu. Aku ternyata senang melihat seseorang yang kusayangi berkarya. Aku senang melihatnya menjalankan sesuatu dengan serius. Aku senang bisa menjadi saksi dari sebagian kecil kehidupannya. Tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Kadang cukup menjadi seseorang yang berkata, “Aku lihat kamu.” Dan mungkin itu juga bentuk cinta yang sedang kupelajari. Bukan hanya ingin dilihat. Tapi belajar melihat. Bukan hanya ingin dipahami. Tapi belajar memahami. Bukan hanya ingin ditenangkan. Tapi belajar menenangkan diriku sendiri sambil tetap membiarkan orang lain hadir.

Mungkin selama ini aku mengira bahwa kedekatan adalah tentang seberapa sering seseorang membalas pesan. Sekarang aku mulai melihatnya sedikit berbeda. Kedekatan mungkin juga tentang seberapa aman kita merasa untuk membawa hal-hal kecil kepada seseorang. Tentang bisa berkata, “Aku lagi begini,” tanpa harus membuatnya menjadi persoalan besar. Tentang bisa diam tanpa merasa hubungan langsung hilang. Tentang bisa bertanya tanpa harus sudah tahu jawabannya. Dan tentang bisa mencintai seseorang sambil tetap pulang kepada diri sendiri.

Hari ini aku belum selesai belajar soal itu. Masih sering ingin dicari. Masih ingin diingat. Masih ingin dilibatkan. Masih ada bagian dalam diriku yang kadang membaca jeda sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Tapi mungkin bertumbuh memang bukan berarti semua itu tiba-tiba hilang. Mungkin bertumbuh adalah ketika aku mulai bisa berkata kepada diriku sendiri “Aku tahu kamu ingin didengar. Yuk, kita dengarkan dulu.”

Lalu aku menulis. Dan anehnya… setelah itu aku sering kali menjadi sedikit lebih tenang.

Selasa, 15 September 2026

Ternyata Masih Ingin Dekar


Tadi kami duduk bareng dari sekitar jam dua belas sampai hampir jam lima. Makan pisang goreng. Dia sibuk dengan laptopnya. Aku lebih banyak diam, nemenin.

Aneh ya, ternyata aku nggak butuh banyak hal untuk merasa senang. Nggak harus diajak ngobrol terus. Nggak harus melakukan sesuatu. Cukup duduk di dekatnya, melihat dia sibuk dengan dunianya, sesekali ngobrol sedikit, lalu diam lagi.

Waktu terasa cepat. Sampai akhirnya dia bilang mau pulang. "Mau ambil printer. Istirahatlah di atas." 

Dan aku baik-baik saja. Nggak ada kecewa. Nggak ada sesuatu yang sebenarnya aku harapkan lalu nggak terjadi. Aku memang tahu setelah itu kami akan berpisah dan kembali ke urusan masing-masing.

Tapi malamnya... Aku pikir aku masih akan oke-oke saja. "Istirahatlah, sudah malam ke atas."katanya bicara padaku. Aku menatapnya dalam diam.  Entah kenapa rasanya berat. Aku bahkan nggak menyangka masih akan merasa seperti ini setelah tadi sudah hampir lima jam bersamanya.

Mungkin karena tadi aku terlalu nyaman. Sampai ketika waktunya selesai, tubuhku seperti belum selesai ingin berada di sana. Lucu juga.

Aku bisa menerima dia pulang. Aku nggak mengejar supaya waktu kami diperpanjang. Aku juga nggak sedang meminta apa-apa. Aku cuma ternyata masih ingin dekat.

Dan mungkin itu saja yang sedang kurasakan malam ini. Nggak perlu dicari alasannya terlalu jauh. Aku cuma kangen. Wkwk.

Senin, 07 September 2026

Belajar Pulang pada Diri Sendiri

Dulu, aku percaya bahwa jarak adalah ancaman. Setiap kali pesan tak segera berbalas atau layar ponsel menunjukkan keheningan, sistem sarafku langsung membunyikan alarm: "Kamu sedang ditinggalkan."
​Ketakutan itu bukan tentang hari ini. Itu adalah gema dari masa lalu, suara anak kecil yang tertinggal di dusun, menunggu tanpa kepastian apakah orang yang disayangi akan kembali. Aku mengira cinta harus dijaga dengan kecemasan agar ia tidak pergi.
​Namun, kebenaran mengubah cara pandangku. Jarak bukanlah bukti penolakan, dan keheningan tidak selalu berarti hilang. Ketika aku berhenti menuntut kepastian luar dan mulai memeluk bagian diriku yang takut, aku menyadari sesuatu yang mendasar: rasa aman tidak diciptakan oleh cepatnya balasan pesan, melainkan oleh keberanian kita untuk jujur pada diri sendiri dan pasangan.
​Pelajaran hidupnya sederhana bahwa kedekatan sejati dimulai saat kita berhenti menebak-nebak dan mulai belajar berkata, "Aku di sini, dan aku sedang belajar merasa aman bersama diriku sendiri."