Hari ini, 2 November 2026, usiaku bergeser ke angka 29. Angka yang seringkali mendatangkan bisik-bisik paling gaduh di kepala, tentang seberapa jauh kaki melangkah, tentang potensi besar yang kadang terasa macet di tengah jalan, tentang arah karier dan hidup yang masih sering bikin bingung sendiri, hingga tentang standar-standar sosial yang sering sekali terasa menuntut perempuan untuk hidup dalam cetakan yang rapi.
Aku akhir-akhir ini merasa hidup seperti laboratorium batin yang sibuk. Ada tawa kecil saat merayakan hal-hal sederhana, ada hari-hari di mana kepala penuh sesak oleh overthinking, ada cemburu yang datang tiba-tiba untuk pertama kalinya, dan ada fase-fase di mana aku harus belajar menelan mentah-mentah kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol atau digenggam erat-erat.
Kita sering menghabiskan separuh umur untuk berusaha tampil sempurna, menunjukkan versi terbaik di depan orang lain, dan menyembunyikan lelah di balik senyum paling aman. Padahal, manusia butuh untuk sesekali merasa rapuh, butuh bingung, dan butuh izin untuk tidak baik-baik saja.
Aku sejujurnya takur, memasuki tahun ke-29 ini, aku berkali-kali diberikan hikmah bahwa pelajaran terbesar bukan tentang bagaimana aku menjadi yang paling benar atau yang paling kuat, tapi tentang pengampunan dan penerimaan diri. Mengampuni Masa Lalu dan Keputusan-Keputusan yang Pernah Diambil. Kadang, ada bagian dari diri kita yang masih sering menghukum masa lalu, menyesali jalan yang dipilih, merajut tanya "bagaimana kalau dulu...", atau merasa tidak layak dicintai secara utuh karena luka-luka yang tersisa. Hari ini, aku belajar memeluk diri sendiri dan berkata "Kamu sudah berjuang sekuat tenaga dengan kapasitas yang kamu miliki pada masa itu. Tidak ada yang perlu disesali secara berlebihan; semuanya adalah pecahan cermin yang mengajarkan arti kedewasaan."
Aku dalam usia ini sejujurnya sedang belajar mencintai orang lain, merintis usaha seperti Skycoco, belajar di dunia akademik, dan menjalani dinamika hubungan yang menantang. Proses ini mengajarkanku tentang kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain harus memperlakukan kita setiap detik. Yang bisa terus kita pelajari untuk dikuasai hanya diri kita sendiri. Belajar pasrah meskipun awalnya terasa tidak rela ternyata adalah gerbang menuju kelegaan batin. Ini berat, praktik melepaskan genggaman tangan yang terlalu kuat pada ekspektasi, dan membiarkan hidup mengalir dalam kedaulatan rasa syukur.
Hari ini aku menjadi perempuan di ambang kepala tiga dengan segudang mimpi (termasuk angan untuk terus sekolah lagi dan menimba ilmu), kadang rasanya melelahkan. Ada kalanya rasa cemas datang menyergap, merasa tertinggal atau bingung menentukan langkah berikutnya. Tapi hari ini aku mulai sadar lagi, hidup bukanlah perlombaan lari cepat. Potensi itu ada, bakat itu nyata, dan waktunya akan tiba pada musim yang tepat.
Terima kasih untuk diriku sendiri yang sudah bertahan hingga detik ini. Terima kasih karena masih mau belajar, masih mau merasa, dan masih berani jujur pada rapuhnya hati. Untuk usia 29 tahun ini, mari berjalan dengan lebih pelan, lebih sadar, dan jauh lebih baik pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika belum semuanya terjawab hari ini. Yang penting, napas ini masih ada, dan hati ini masih memilih untuk terus bertumbuh.
Selamat bertambah usia untuk diriku. Peluk hangat dari sudut paling jujur di hati.