Jumat, 06 November 2026

Perasaan Kesal yang Lama Disimpan


Aku baru tau kalau ada rasa kesal yang ternyata tidak selesai hanya karena aku berhenti membicarakannya. Rasa kesalnya tetap tinggal. Kadang muncul ketika sedang sendiri, ketika melihat sesuatu yang mengingatkanku pada sebuah kejadian, atau ketika hendak tidur dan kepala tiba-tiba ramai mengulang percakapan yang sebenarnya sudah lewat. Aku kira aku sudah baik-baik saja, tapi nyatanya ada beberapa hal yang masih mengganjal. Mengganjalnya bukan hal besar sih, kadang hanya hal-hal sederhana yang mungkin bagi orang lain tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Sebuah kabar yang tidak tersampaikan. Pertanyaan yang tidak terjawab. Perasaan yang sudah dicoba dijelaskan, tetapi belum benar-benar terasa didengar.

Aku berdfikil sebenarnya aku tidak butuh seseorang untuk selalu tersedia. Aku juga tidak berharap setiap hal harus diceritakan atau setiap pesan harus segera dibalas. Aku tahu setiap orang punya kesibukan, ruang pribadi, dan kehidupannya sendiri. Cuma yaaa, sesekali aku ingin merasa dilibatkan.

Ada perbedaan antara ingin mengetahui semua hal dan ingin merasa diingat. Aku tidak sedang meminta akses ke seluruh kehidupan seseorang. Aku hanya ingin tahu bahwa keberadaanku juga terlintas dalam kesehariannya, bahkan ketika kami sedang tidak bersama. Mungkin kedengarannya sederhana. Tapi ketika sesuatu yang sederhana itu berulang kali tidak terpenuhi, rasanya bisa menjadi cukup besar di dalam hati. Seringnya jadi aku pun mulai bertanya-tanya tentang diriku sendiri.

Apakah aku terlalu banyak berharap? Apakah caraku menyampaikan sesuatu terlalu panjang? Apakah aku seharusnya lebih santai menghadapi hal-hal seperti ini?

Kadang aku kesal, lalu mencoba memahami. Setelah itu kesal lagi. Aku berusaha menyampaikan perasaan dengan baik, tapi kalau tidak mendapatkan respons yang kuharapkan, aku bisa kembali mengirim banyak pesan. Ada saatnya aku bercanda, merajuk, atau mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, padahal sebenarnya masih ada yang ingin dibicarakan. Aku sedang belajar mengenal pola-pola seperti itu.

Aku tahu bahwa perasaanku adalah tanggung jawabku. Aku perlu belajar menenangkan diri, memahami apa yang sebenarnya kubutuhkan, dan menyampaikannya tanpa melukai orang lain ya. Tapi aku juga sedang belajar bahwa bertanggung jawab atas perasaan sendiri bukan berarti harus menanggung seluruh persoalan hubungan seorang diri. Hehe. 

Ada hal-hal yang memang hanya bisa tumbuh ketika dua orang sama-sama bersedia terlibat. Mengenal, memahami, mendengarkan, dan merawat kedekatan tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja.

Aku bisa membuka cerita tentang diriku. Aku bisa bertanya tentang kehidupan orang lain. Aku bisa mencoba memahami hal-hal yang belum pernah kualami. Tapi aku tidak bisa memaksa seseorang membuka ruang yang memang belum ingin dibuka. Dan yaaa mungkin, itu bagian yang masih aku coba fahami dan perlu kuterima dengan jujur kalau-kalau aku tidak selalu bisa mendapatkan kedekatan dengan cara yang kuharapkan. Walaupun begitu ya, aku tidak ingin menganggap keinginanku untuk didengar sebagai sesuatu yang memalukan.

Aku ingin didengarkan. Ingin diingat. Ingin sesekali dicari tanpa harus selalu memulai lebih dulu. Ingin mengenal seseorang bukan hanya dari hal-hal yang terlihat, tetapi juga dari cerita, kekhawatiran, pengalaman, dan harapan yang menjadikannya saat ini. Aku suka semua tentangnya. Dah titik. 

Bukankah sebuah kedekatan memang membutuhkan kesediaan untuk saling mengenal?

Aku tidak sedang ingin membuat keputusan besar malam ini. Tidak juga ingin menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Aku hanya sedang lelah menyimpan banyak hal di dalam kepala. Mungkin aku perlu berhenti sejenak dari usaha menjelaskan semuanya. Bukan untuk menghukum siapa pun dengan diam, tapi untuk memberi diriku sendiri kesempatan mendengar apa yang sedang kurasakan. Karema selama ini aku cukup sibuk berharap dipahami, sampai kadang lupa bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya apa yang sedang membuatku begitu sedih?

Hmmm. Sepertinya aku belum punya semua jawabannya. Aku masih belajar membedakan mana kebutuhan yang perlu kusampaikan, mana harapan yang perlu dibicarakan bersama, dan mana hal yang perlu kulepaskan karena berada di luar kendaliku.

Satu hal yang ingin kuingat kalau menjadi seseorang yang mampu memahami orang lain tidak berarti harus terus-menerus mengabaikan apa yang dirasakan sendiri. Iyaa, aku boleh berusaha mengerti, tapi aku juga boleh berharap untuk dimengerti. Hmm malam ini, kalau memang masih ada kesal yang tersisa, mungkin tidak apa-apa membiarkannya hadir sebentar. Tidak semua perasaan harus segera diselesaikan. Ada yang perlu didengarkan lebih dahulu, termasuk oleh diri sendiri. Walau kalau aku sampaikan rasanya aku juga jadi berfikir kembali. 

Kamis, 05 November 2026

Hi Sayang, Ini yang Aku Rasakan

Hai Sayang,
Aku cuma ingin menyampaikan sesuatu. Aku sudah mencoba banyak sekali refleksi tentang hubungan kita sejauh ini. Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri tentang keyakinanku, apakah aku benar-benar ingin menjalani hubungan ini bersama Sayang.

Aku belajar sungguh-sungguh mengelola rasa cemas, mengurangi prasangka dan asumsi, serta menyampaikan kebutuhanku tanpa menyindir. Tapi aku juga mulai sadar kalau aku tidak bisa sendirian membangun hubungan yang membutuhkan dua orang.

Aku capek, Sayang. Aku capek sekali kalau kita sedang berjauhan. Sejauh ini, aku merasa Sayang belum punya keinginan untuk bertumbuh bersama dalam hal komunikasi. Ini perasaanku, ya. Aku tidak bermaksud menyimpulkan apa yang ada di pikiran Sayang.

Bertumbuh bersama bukan berarti Sayang harus berubah menjadi orang yang selalu tersedia, selalu pandai mengungkapkan perasaan, atau harus berkomunikasi dengan cara yang sama persis denganku. Tapi aku ingin kita punya kemauan untuk melakukan hal-hal kecil yang membuat hubungan ini terasa dijalani bersama.

Misalnya yaaa, 
1. Memberi kabar kalau ada perubahan rencana atau akan pergi ke suatu tempat. Bagiku, kabar itu penting karena membuatku merasa dilibatkan. Bukan untuk mengontrol atau mengetahui semua aktivitas Sayang, tetapi supaya aku punya konteks tentang keadaan Sayang.

2. Memberi tahu ketika sedang sibuk, sekaligus memberi gambaran kapan kira-kira kita bisa ngobrol. (Mungkin Sayang pernah bilang sedang sibuk atau banyak gawe, tapi aku belum merasakan adanya kepastian kapan kita bisa punya waktu untuk berbicara/ngonbrol. Aku tidak ingin terus menebak-nebak (aku sering sekali bilang tentang ini). 

3. Bersedia mendengarkan ketika aku menyampaikan sesuatu yang penting. Aku tidak tahu apakah selama ini Sayang benar-benar menangkap apa yang aku sampaikan lewat chat. Mostly respons yang sering aku terima adalah Sayang mengantuk atau mau bobok. Padahal, kadang aku butuh keberanian yang cukup besar untuk mengungkapkan sesuatu itu. Kadang aku merasa sedih kalau merasa tidak didengar. 

4. Sesekali memulai percakapan karena memang ingin berbagi. Aku masih ingat cerita jeruk gelga di Tanjung Sakti. Sesederhana itu saja bisa membuatku merasa diingat dan dilibatkan. Aku senang mendengarkan cerita Sayang. Tapi sedih juga kalau sampai sepuluh hari kita tidak berkomunikasi baru mendapatkan kabar yang seperti itu. Aku merasa harus selalu memulai duluan. 

5. Mau membicarakan kesulitan komunikasi tanpa menganggap kebutuhanku sebagai gangguan. Aku tahu Sayang mungkin bukan orang yang romantis atau banyak bicara. Sebenarnya aku tidak masalah dengan itu. Aku malah suka Sayang yang seperti ini. Tapi hubungan dibangun oleh dua orang. Ada hal-hal yang menurutku bisa kita bicarakan dan pelajari bersama.

Aku tidak sedang meminta hubungan yang sempurna, Sayang. Aku juga masih belajar dan pasti punya banyak kekurangan. Aku cuma ingin tahu apakah Sayang juga mau belajar mengenal, memahami, dan mengusahakan hubungan ini bersamaku. Aku ingin kita sama-sama merasa punya pasangan, bukan hanya ketika sedang bertemu, tetapi juga ketika sedang berjauhan.

Aku menyampaikan ini karena aku masih peduli dan masih ingin ada ruang untuk bertumbuh bersama. Tapi aku juga perlu jujur bahwa aku mulai lelah kalau usaha ini hanya terasa datang dari satu arah.

Aku ingin mendengar bagaimana Sayang melihat hubungan kita dan apa yang Sayang inginkan juga. Aku sayang Sayang.

Hi Myself (3)

Ia bukan selalu orang yang paling cepat mengambil keputusan. Ia ingin memahami lebih dahulu. Kadang terlalu lama berpikir, kadang terlalu banyak mempertimbangkan, tetapi ada ketulusan dalam keinginannya untuk tidak sembarangan menjalani sesuatu.

Ia ingin menjadi berguna. Ingin memiliki pekerjaan yang bermakna, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, memiliki rumah, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan orang-orang yang dicintainya.

Dalam hubungan, ia ingin merasa dilibatkan. Ia menyukai hal-hal sederhana yang menunjukkan bahwa dirinya diingat. Ia ingin didengarkan, ingin bercerita, dan ingin memiliki tempat untuk pulang secara emosional. Tapi di balik semua keinginan itu, ada seseorang yang masih belajar untuk tidak menggantungkan seluruh rasa amannya pada kehadiran orang lain.

Ia sedang belajar menjadi rumah bagi dirinya sendiri. Bukan berarti tidak membutuhkan siapa-siapa. Ia tetap ingin ditemani, dicintai, dan bertumbuh bersama orang lain. Hanya saja, ia mulai memahami bahwa kehidupannya juga layak dibangun atas namanya sendiri.

Mungkin ia belum tahu persis akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun mendatang. Tapi ia sudah memiliki sesuatu yang penting, yaitu keinginan untuk menjalani kehidupan yang bukan hanya terlihat berhasil dari luar, melainkan juga terasa utuh ketika dijalani.

Ia adalah seorang perangkai. Dan kali ini, ia sedang belajar merangkai kehidupannya sendiri.

Rabu, 04 November 2026

Dear Sayang, Aku Ingin Mendengar


Kadang aku mikir, ternyata yang bikin kangen dari seseorang itu bukan selalu momen romantis atau kata-kata manis. Kadang cuma ingin mendengar dia cerita. Misalnya, hari ini dia melihat apa, pergi ke mana, pekerjaannya bagaimana, atau ada kejadian receh apa yang dialaminya. Sesederhana itu. 

Aku pernah menerima cerita tentang jeruk gelga yang banyak bergelantungan di Tanjung Sakti. Lucu ya, mungkin bagi orang lain itu bukan cerita yang istimewa. Tapi sampai sekarang aku masih ingat. Kenapa? Karena aku tahu dia ingat aku menyukai jeruk gelga. Dia melihat sesuatu, lalu teringat untuk membagikannya kepadaku. Dan rasanya menyenangkan sekali ketika kita tahu bahwa seseorang mengingat hal kecil tentang kita. Tapi ada ceritanya juga.

Sebelum pesan itu datang, ada sekitar sepuluh hari chat-ku tidak dibalas. Jadi ketika pesan itu muncul, rasanya campur aduk. Senang karena masih diingat, sedih karena sebenarnya aku kangen sekali. Ternyata dua perasaan itu bisa hadir bersamaan, ya?

Aku jadi berfikir, mungkin selama ini aku bukan cuma ingin dikabari. Aku ingin dilibatkan dalam keseharian seseorang. Bukan untuk tahu semua aktivitasnya. Bukan juga supaya harus selalu membalas pesanku. Aku hanya ingin sesekali dia punya keinginan untuk bercerita kepadaku. Tanpa harus selalu aku yang bertanya duluan.

Kadang aku ingin menerima pesan seperti, "Dek, hari ini abang begini..." Lalu aku bisa mendengarkan. Bertanya sedikit. Menanggapi. Mungkin tertawa bersama. Ah, ternyata aku sesederhana itu kalau sedang kangen. Hahaha. Tapi aku juga sedang belajar memahami bahwa setiap orang punya pekerjaan, tanggung jawab, dan dunianya masing-masing. Aku tidak ingin memaksa seseorang menyediakan waktu ketika memang belum bisa. Aku hanya tidak ingin terus-menerus menjadi satu-satunya orang yang berusaha menjaga percakapan tetap hidup. Karena aku percaya, hubungan itu rasanya lebih hangat kalau dua orang sama-sama ingin saling mengenal.

Dan sekarang aku sedang belajar membiarkan seseorang punya ruangnya sendiri, tanpa harus mengusir rasa rinduku sendiri. Kalau dia punya cerita, aku ingin mendengarkan. Kalau aku punya cerita, aku ingin bisa membagikannya. Tidak harus selalu tentang hal besar. Kadang cukup tentang jeruk yang bergelantungan di suatu tempat. Entah kenapa, hal-hal kecil seperti itu bisa membuat seseorang terasa dekat meskipun sedang jauh.

Mungkin salah satu bentuk kedekatan yang paling sederhana adalah ketika seseorang melihat sesuatu di dunianya, lalu ingin kamu menjadi salah satu orang yang mengetahuinya. Ada yang pernah merasa begini juga?

Dear Sayang, Aku ingin Mendengar Cerita

Dear Sayang, Aku ingin Mendengar Cerita



Ada hal-hal sederhana yang ternyata bisa tinggal cukup lama di ingatan kita. Salah satunya yang paling kuingat adalah cerita tentang jeruk gelga yang bergelantungan di Tanjung Sakti.

Waktu itu, ada pesan masuk. Menanyakan kabar, lalu bercerita bahwa ada banyak jeruk gelga bergelantungan di sana. Sesederhana itu. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pembahasan penting. Hanya sebuah cerita kecil dari tempat yang jauh.

Tapi aku mengingatnya sampai sekarang. Mungkin karena aku tahu dia ingat bahwa aku menyukai jeruk gelga. Di tengah perjalanan dan kesibukannya, ada sesuatu yang dilihatnya, lalu ingin dibagikan kepadaku.

Rasanya menyenangkan ketika seseorang mengingat hal kecil tentang kita. Seolah-olah, tanpa perlu mengatakan apa-apa, kita tahu bahwa sesekali nama kita melintas di pikirannya. Tapi ada bagian lain dari cerita itu yang tidak bisa kuabaikan. Sebelum pesan tersebut datang, ada sekitar sepuluh hari ketika pesanku tidak berbalas.

Bayangkan, bagaimana rasanya menerima sesuatu yang begitu hangat dari seseorang yang kehadirannya juga pernah membuat kita menunggu? Aku senang dia mengingatku. Aku juga sedih karena merindukan percakapan yang lebih sering. Dua perasaan itu ternyata bisa tinggal bersamaan.

Itu cerita di bulan Mei lalu, sekarang bulan November. Enam bulan berlalu, ternyata yang kurindukan bukan selalu percakapan romantis atau kata-kata manis (Jeruk Gelga dan Seni Membiarkan) . Aku ingin mendengar ceritanya. Tentang pekerjaannya yang sedang banyak. Tentang perjalanan yang dia tempuh. Tentang kebun, tanaman, atau sesuatu yang tidak sengaja menarik perhatiannya hari itu. Aku ingin tahu apa yang sedang dia pikirkan, apa yang membuatnya tertawa, mungkin juga apa yang membuatnya lelah. Bukan karena aku ingin mengawasi kesehariannya. Aku hanya ingin mengenal dunianya sedikit lebih dekat.

Ketika bertemu, kami bisa bercerita. Ada waktu untuk mendengar dan didengar. Tapi ketika tidak bertemu, komunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan dua kehidupan yang sedang berjalan masing-masing. Dan aku merindukan jembatan itu.

Kadang aku punya banyak cerita untuk disampaikan. Tapi  kalu saja boleh memilih, kalau saja boleh memilih, mungkin aku ingin mendengarkan dia lebih dulu. Aku ingin dia bercerita tanpa harus selalu ditanya. Ingin sesekali menerima pesan yang datang karena dia memang ingin berbagi, bukan karena ada sesuatu yang perlu diselesaikan.

Mungkin hanya foto, cerita singkat, atau kalimat sederhana seperti, "Dek, hari ini abang..." Entah kenapa, hal-hal kecil seperti itu terasa berarti.

Aku tahu setiap orang punya kesibukan dan tanggung jawabnya sendiri. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada urusan yang tidak selalu bisa ditinggalkan hanya untuk membalas pesan. Aku sedang belajar menghormati ruang itu. Tapi aku juga sedang belajar bahwa menghormati kesibukan seseorang tidak berarti harus menghilangkan kebutuhan diri sendiri.

Aku boleh memahami kalau dia sedang sibuk, sekaligus mengakui bahwa aku merindukan komunikasi. Aku boleh memberinya waktu, tanpa harus berpura-pura bahwa menunggu tanpa kabar selalu terasa baik-baik saja.

Dulu, mungkin aku ingin segera mendapatkan kepastian setiap kali komunikasi terasa sepi. Sekarang aku ingin belajar sedikit lebih tenang. Tidak buru-buru membuat kesimpulan, tidak mengarang cerita tentang apa yang sedang terjadi, dan tidak terus-menerus mengetuk pintu yang belum dibuka. Aku juga ingin melihat apakah ada keinginan yang datang dari arah seberang. Karena mungkin hubungan bukan hanya tentang kemampuan satu orang untuk memahami kesibukan orang lain. Ada ruang yang perlu dijaga bersama. Ada inisiatif yang bisa datang dari dua arah.

Aku teringat tulisan yang pernah kubuat berjudul Jeruk Gelga dan Seni Membiarkan. Saat itu aku menulis dengan sangat tegas tentang berhenti menjadi ruang tunggu. Tentang tidak lagi menggantungkan harapan pada perhatian kecil. Hari ini, aku membaca kembali tulisan itu dengan perasaan yang sedikit berbeda. Ternyata membiarkan bukan berarti tidak boleh rindu. Berhenti mengejar bukan berarti harus berhenti menyayangi. Menjaga batas bukan berarti harus menjadi seseorang yang dingin dan tidak tersentuh oleh hal-hal sederhana.

Aku masih bisa tersenyum ketika mengingat cerita jeruk gelga itu. Masih bisa berharap suatu hari ada cerita-cerita kecil lainnya. Tapi aku tidak ingin menjadikan satu pesan sebagai ukuran dari seluruh masa depan.

Biarlah seseorang menunjukkan keinginannya melalui tindakan yang nyata. Sementara aku tetap menjalani hidupku, merawat mimpi-mimpiku, dan belajar menjadi rumah yang nyaman bagi diriku sendiri. Aku tidak tahu kapan percakapan itu akan kembali ramai. Aku juga tidak ingin memaksakan jawabannya hari ini. Untuk sementara, aku hanya ingin mengakui satu hal. Aku kangen mendengarkan ceritanya. Dan ternyata, tidak apa-apa mengakui itu.