Minggu, 01 November 2026

Menetap di Angka 29

Belajar Berdamai dengan Luka, Melepas Kontrol, dan Memeluk Diri Apa Adanya

​Hari ini, 2 November 2026, usiaku bergeser ke angka 29. Angka yang seringkali mendatangkan bisik-bisik paling gaduh di kepala, tentang seberapa jauh kaki melangkah, tentang potensi besar yang kadang terasa macet di tengah jalan, tentang arah karier dan hidup yang masih sering bikin bingung sendiri, hingga tentang standar-standar sosial yang sering sekali terasa menuntut perempuan untuk hidup dalam cetakan yang rapi.

​Aku akhir-akhir ini merasa hidup seperti laboratorium batin yang sibuk. Ada tawa kecil saat merayakan hal-hal sederhana, ada hari-hari di mana kepala penuh sesak oleh overthinking, ada cemburu yang datang tiba-tiba untuk pertama kalinya, dan ada fase-fase di mana aku harus belajar menelan mentah-mentah kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol atau digenggam erat-erat.

​Kita sering menghabiskan separuh umur untuk berusaha tampil sempurna, menunjukkan versi terbaik di depan orang lain, dan menyembunyikan lelah di balik senyum paling aman. Padahal, manusia butuh untuk sesekali merasa rapuh, butuh bingung, dan butuh izin untuk tidak baik-baik saja.

​Aku sejujurnya takur, memasuki tahun ke-29 ini, aku berkali-kali diberikan hikmah bahwa pelajaran terbesar bukan tentang bagaimana aku menjadi yang paling benar atau yang paling kuat, tapi tentang pengampunan dan penerimaan diri. Mengampuni Masa Lalu dan Keputusan-Keputusan yang Pernah Diambil. Kadang, ada bagian dari diri kita yang masih sering menghukum masa lalu, menyesali jalan yang dipilih, merajut tanya "bagaimana kalau dulu...", atau merasa tidak layak dicintai secara utuh karena luka-luka yang tersisa. Hari ini, aku belajar memeluk diri sendiri dan berkata "Kamu sudah berjuang sekuat tenaga dengan kapasitas yang kamu miliki pada masa itu. Tidak ada yang perlu disesali secara berlebihan; semuanya adalah pecahan cermin yang mengajarkan arti kedewasaan."

Aku dalam usia ini sejujurnya sedang belajar mencintai orang lain, merintis usaha seperti Skycoco, belajar di dunia akademik, dan menjalani dinamika hubungan yang menantang. Proses ini mengajarkanku tentang kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain harus memperlakukan kita setiap detik. Yang bisa terus kita pelajari untuk dikuasai hanya diri kita sendiri. Belajar pasrah meskipun awalnya terasa tidak rela ternyata adalah gerbang menuju kelegaan batin. Ini berat, praktik melepaskan genggaman tangan yang terlalu kuat pada ekspektasi, dan membiarkan hidup mengalir dalam kedaulatan rasa syukur.

Hari ini aku menjadi perempuan di ambang kepala tiga dengan segudang mimpi (termasuk angan untuk terus sekolah lagi dan menimba ilmu), kadang rasanya melelahkan. Ada kalanya rasa cemas datang menyergap, merasa tertinggal atau bingung menentukan langkah berikutnya. Tapi hari ini aku mulai sadar lagi, hidup bukanlah perlombaan lari cepat. Potensi itu ada, bakat itu nyata, dan waktunya akan tiba pada musim yang tepat.

​Terima kasih untuk diriku sendiri yang sudah bertahan hingga detik ini. Terima kasih karena masih mau belajar, masih mau merasa, dan masih berani jujur pada rapuhnya hati. Untuk usia 29 tahun ini, mari berjalan dengan lebih pelan, lebih sadar, dan jauh lebih baik pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika belum semuanya terjawab hari ini. Yang penting, napas ini masih ada, dan hati ini masih memilih untuk terus bertumbuh.
​Selamat bertambah usia untuk diriku. Peluk hangat dari sudut paling jujur di hati. 

Kamis, 29 Oktober 2026

Siapa yang Mendapat Kursi Paling Nyaman?



Ada hal-hal kecil dalam perjalanan yang kadang membuat kita mengenali seseorang lebih jauh. Bukan dari jabatan, gelar,atau seberapa banyak kata yang disampaikan. Kadang cukup dari cara seseorang memilih tempat duduk.

Dalam sebuah perjalanan kegiatan antah beratah project prioritas nasional, kami sempat membicarakan pengaturan tempat duduk dan barang bawaan karena akan ada tambahan teman kami. Situasinya cukup sederhana yaitu jumlah penumpang, koper, ruang bagasi, dan siapa yang akan duduk di mana. Dinamika terasa kompleks ketika berbicara tempat duduk tapi tidak ada yang menguasai susunananya, akhirnya aku mengusulkan untuk melihat kondisi kenyamanan setelah masuk 13 orang penumpang dan muatan barang. Aku cukup berbesar hati untuk tidak memaksakan mengajak adek satu orang itu. 

Keesokan harinya, ternyata adik satu itu tidak muat dan sudah ikut travel lainnya. Satu masalah itu clear. Walau sebelum berangkat kami ada ngobrol dan di tengah percakapan itu, aku sempat berkomentar kepada seorang teman perempuan. Selama mengikuti berbagai kegiatan, terutama di lingkungan NGO, aku cukup terbiasa bertemu laki-laki yang mengusahakan agar perempuan mendapatkan tempat duduk lebih dahulu. Bahkan, dalam beberapa situasi, laki-laki justru memilih duduk belakangan. Bukan aturan tertulis. Tidak ada yang mengharuskan demikian. Rasanya lebih seperti kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran untuk memperhatikan orang lain.

Karena itu, ketika menemukan situasi yang berbeda, aku baru sadar bahwa ada nilai-nilai kecil yang selama ini diam-diam menjadi bagian dari ekspektasiku dalam berinteraksi. Aku jadi berpikir, barangkali cara seseorang memperlakukan orang lain memang tidak selalu terlihat dari hal-hal besar.

Kita bisa berbicara panjang tentang kesetaraan, kolaborasi, inklusivitas, dan kepemimpinan. Kita bisa hadir dalam forum multipihak, menyusun kesepakatan, atau membicarakan bagaimana setiap orang perlu mendapatkan ruang yang setara.Tapi, bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam keseharian. Ketika ruang terbatas, apakah kita hanya memikirkan kenyamanan sendiri?

Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, apakah kita bersedia sedikit menyesuaikan diri? Ketika harus menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan lebih dahulu, apakah kita masih bisa melihat kebutuhan orang lain?

Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus selalu didahulukan atau laki-laki harus selalu mengalah. Bagiku, persoalannya bukan hanya semata-mata tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang duduk di belakang.

Ada sesuatu yang lebih mendasar, tentang kesediaan untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian. Kenyamanan bersama tidak selalu berarti setiap orang mendapatkan hal yang persis sama. Kadang kita perlu melihat siapa yang lebih membutuhkan, siapa yang memiliki keterbatasan, dan bagaimana setiap orang bisa mengambil bagian agar perjalanan tetap nyaman. Mungkin itulah salah satu hal yang paling aku pelajari dari banyak pengalaman bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Kolaborasi bukan hanya tentang kemampuan menyatukan kepentingan dalam sebuah forum, tapi juga tentang kebiasaan kecil yang kita bawa ketika tidak ada agenda, tidak ada moderator, dan tidak ada yang sedang menilai kepemimpinan kita.

Aku yakin, kalau karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika diberi kesempatan untuk memimpin. Kadang, terlihat dari kesediaannya memberikan ruang kepada orang lain. Dan mungkin, dari hal sesederhana memilih kursi.

Rabu, 21 Oktober 2026

My Future Husband

Dear Sayang, 
Your future wife sedang tidak bisa tidur. Sekarang pukul 02.40 WIB. Aku harap tahun depan, ketika tidak bisa tidur, aku sedang ada dipelukanmu. 
With love. 

Your Future Wife

Dear Sayang, 
Aku malem ini lagi kangen. Aku lagi pengen apa ya tadi lupa. Eh tapi yang aku ingat, aku cemburu sayang. Cemburu waktu sayang pegang jidat seorang perempuan waktu kita bimtek itu. Padahal aku aja belum pernah digituin. Aku mau juga. 
From your future wife. 

Dear Sayang

Dear Sayang, 
Aku merasa tidak didengar. Aku merasa berjuang sendirian di hubungan ini. Aku mulai merasa lelah. Aku ingin merasakan pesan di balas, eh dibalas sih, cuma ngerasa ada yang kurang. Tapi apa ya? 
Aku kangen, aku sesekali ingin diucapkan selamat tidur. Eh pernah sih, oh bukan selamat bobok, tapi kalimat "boboklah" atau "istirahatlah" atau "sudah malam". Hmm tapi aku juga kalau disuruh bobok tidak mau ya. Hehehe, ya gimana mau ngucapin selamat bobok. Wkwk. Baru ngeh juga. Apa aku mendengarkan Sayang? Iya. Apa sayang merasa didengarkan olehku? Aku belum bertanya. Hehe