Ada hal-hal kecil dalam perjalanan yang kadang membuat kita mengenali seseorang lebih jauh. Bukan dari jabatan, gelar,atau seberapa banyak kata yang disampaikan. Kadang cukup dari cara seseorang memilih tempat duduk.
Dalam sebuah perjalanan kegiatan antah beratah project prioritas nasional, kami sempat membicarakan pengaturan tempat duduk dan barang bawaan karena akan ada tambahan teman kami. Situasinya cukup sederhana yaitu jumlah penumpang, koper, ruang bagasi, dan siapa yang akan duduk di mana. Dinamika terasa kompleks ketika berbicara tempat duduk tapi tidak ada yang menguasai susunananya, akhirnya aku mengusulkan untuk melihat kondisi kenyamanan setelah masuk 13 orang penumpang dan muatan barang. Aku cukup berbesar hati untuk tidak memaksakan mengajak adek satu orang itu.
Keesokan harinya, ternyata adik satu itu tidak muat dan sudah ikut travel lainnya. Satu masalah itu clear. Walau sebelum berangkat kami ada ngobrol dan di tengah percakapan itu, aku sempat berkomentar kepada seorang teman perempuan. Selama mengikuti berbagai kegiatan, terutama di lingkungan NGO, aku cukup terbiasa bertemu laki-laki yang mengusahakan agar perempuan mendapatkan tempat duduk lebih dahulu. Bahkan, dalam beberapa situasi, laki-laki justru memilih duduk belakangan. Bukan aturan tertulis. Tidak ada yang mengharuskan demikian. Rasanya lebih seperti kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran untuk memperhatikan orang lain.
Karena itu, ketika menemukan situasi yang berbeda, aku baru sadar bahwa ada nilai-nilai kecil yang selama ini diam-diam menjadi bagian dari ekspektasiku dalam berinteraksi. Aku jadi berpikir, barangkali cara seseorang memperlakukan orang lain memang tidak selalu terlihat dari hal-hal besar.
Kita bisa berbicara panjang tentang kesetaraan, kolaborasi, inklusivitas, dan kepemimpinan. Kita bisa hadir dalam forum multipihak, menyusun kesepakatan, atau membicarakan bagaimana setiap orang perlu mendapatkan ruang yang setara.Tapi, bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam keseharian. Ketika ruang terbatas, apakah kita hanya memikirkan kenyamanan sendiri?
Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, apakah kita bersedia sedikit menyesuaikan diri? Ketika harus menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan lebih dahulu, apakah kita masih bisa melihat kebutuhan orang lain?
Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus selalu didahulukan atau laki-laki harus selalu mengalah. Bagiku, persoalannya bukan hanya semata-mata tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang duduk di belakang.
Ada sesuatu yang lebih mendasar, tentang kesediaan untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian. Kenyamanan bersama tidak selalu berarti setiap orang mendapatkan hal yang persis sama. Kadang kita perlu melihat siapa yang lebih membutuhkan, siapa yang memiliki keterbatasan, dan bagaimana setiap orang bisa mengambil bagian agar perjalanan tetap nyaman. Mungkin itulah salah satu hal yang paling aku pelajari dari banyak pengalaman bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Kolaborasi bukan hanya tentang kemampuan menyatukan kepentingan dalam sebuah forum, tapi juga tentang kebiasaan kecil yang kita bawa ketika tidak ada agenda, tidak ada moderator, dan tidak ada yang sedang menilai kepemimpinan kita.
Aku yakin, kalau karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika diberi kesempatan untuk memimpin. Kadang, terlihat dari kesediaannya memberikan ruang kepada orang lain. Dan mungkin, dari hal sesederhana memilih kursi.