Minggu, 04 Oktober 2026

Aku Sedang Belajar Menjadi Tempat yang Aman

Beberapa hari ini aku sedang mengisi formulir untuk sebuah program kepemudaan. Namanya Young Progressive Academy. Lucu juga. Setelah beberapa tahun merasa belajar itu ya kuliah, tugas, penelitian, seminar, revisi, lalu akhirnya wisuda, sekarang aku mulai merasa mungkin belajar tidak selalu harus datang dari ruang kelas.

Aku baru selesai S2. Kontrakku di LTKL juga sudah selesai. Dua hal yang cukup besar dalam hidupku ternyata selesai hampir bersamaan. Lalu sekarang aku sedang melihat-lihat lagi. Mau bekerja di mana. Mau mengambil peran seperti apa. Mau membawa pengalaman yang sudah ada ke mana. Bahkan, sedikit lebih dalam dari itu, aku sedang bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya aku ingin menjadi orang seperti apa?

Selama beberapa tahun bekerja di pembangunan daerah, aku cukup sering berada di tengah banyak orang. Pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, perusahaan, teman-teman di desa. Orangnya berbeda-beda. Bahasanya berbeda-beda. Kepentingannya juga tidak selalu sama. Tapi semakin lama berada di antara mereka, aku malah semakin sering melihat sesuatu yang sederhana.

Banyak orang sebenarnya punya niat baik. Banyak hal sebenarnya bisa dikerjakan bersama. Hanya saja, orang-orang yang ingin melakukan sesuatu itu kadang tidak tahu harus bertemu di mana. Tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Kadang sudah duduk di meja yang sama, tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Dan ada satu hal yang cukup sering menggangguku. Beberapa program bisa tertulis sangat rapi di atas kertas, tetapi tidak semua orang merasa didengar untuk kemudian ditulis di dalam kertas tersebut.

Mungkin karena itu aku semakin tertarik pada ruang di antara orang-orang. Bukan hanya pada programnya. Bukan hanya pada hasil akhirnya. Tapi pada percakapannya. Pada siapa yang belum bicara. Pada orang yang sebenarnya punya pendapat, tetapi masih sungkan mengatakannya. Pada seseorang yang datang membawa gagasan yang masih berantakan dan hanya ingin didengarkan dulu sebelum mencari jawabannya.

Aku rasa selama ini aku cukup sering menjadi orang yang menghubungkan. Mendengar cerita dari satu pihak, lalu membawa bagian tertentu ke pihak lain. Membantu orang bertemu. Membantu percakapan tetap berjalan. Mencatat sesuatu yang sebelumnya hanya berputar-putar di kepala banyak orang. Tapi akhir-akhir ini aku bertanya, sejauh apa sebenarnya kemampuan itu bisa kubawa? Dan apakah itu memang sesuatu yang ingin terus kulakukan? Aku belum punya jawabannya.

Makanya aku tertarik ikut YPA. Bukan karena aku merasa sudah tahu bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Malah sebaliknya. Aku ingin belajar lagi tentang kepemimpinan, tentang keberagaman, tentang inklusi, tentang bagaimana menjadi warga yang aktif, dan tentang bagaimana hadir dengan lebih utuh ketika bekerja bersama orang lain. Aku juga ingin bertemu orang-orang yang mungkin punya pertanyaan yang sama, meskipun datang dari tempat dan pengalaman yang berbeda.

Ada satu hal yang kutulis ketika mengisi formulirnya. Aku ingin menjadi seseorang yang ketika orang datang kepadaku, mereka tidak perlu merasa sungkan atau takut untuk mengutarakan pendapat. Mau bicara tentang kehidupan. Tentang pembangunan daerah. Tentang sesuatu yang mereka tidak setujui. Tentang ide yang masih sederhana. Atau bahkan tentang sesuatu yang kami sendiri belum tahu harus menyebutnya apa.

Entah kenapa kalimat itu terasa cukup dekat denganku. Mungkin aku tidak sedang mencari tahu bagaimana caranya menjadi orang paling depan dalam sebuah ruangan. Mungkin aku sedang belajar menjadi orang yang membuat orang lain merasa cukup aman untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Dan lucunya, aku membayangkan ruang itu tidak harus selalu berupa forum resmi dengan meja panjang dan backdrop besar. Bisa saja di warung kopi, kata Uda.

Seseorang duduk di depanku, bercerita tentang kampungnya. Aku mendengarkan. Lalu dari percakapan yang awalnya tidak terlalu jelas itu, tiba-tiba muncul satu nama, satu masalah, satu kemungkinan, atau satu orang lain yang mungkin perlu dipertemukan.

Barangkali memang begitu caraku ingin terus belajar. Tidak selalu dengan berdiri di depan. Kadang cukup dengan duduk bersama seseorang dan benar-benar mendengarkan. Aku belum tahu setelah ini akan bekerja di mana. Belum tahu peran apa yang akan kupilih. Tapi mungkin untuk sementara, tidak apa-apa kalau aku belajar mengenali diriku sendiri dari pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini.

Aku sedang ingin tahu, seberapa banyak suara yang bisa kudengar, seberapa banyak orang yang bisa kuhubungkan, dan seberapa nyaman sebuah ruang bisa kubuat untuk orang lain menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu juga bentuk lain dari belajar. Dan mungkin, kali ini, aku sedang belajar menjadi tempat yang aman bagi sebuah percakapan untuk dimulai.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Momen Hangat di Dalam Angkot

Hari ini, adek sepupuku minta ditemenin ke Pasar 16 Ilir. Dia mau menjual songket Palembang asli karya tangannya sendiri ke bos tempat biasa dia menyetor. Di depanku, dia duduk manis dengan sandal blink-blink kesayangannya. Kami sengaja memilih naik angkot, sengaja ingin menyisakan ruang untuk berjalan kaki menyeberangi Jembatan Ampera.

​Sepanjang perjalanan pagi tadi, aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel. Ada rasa trauma yang belum sepenuhnya pulih setelah kejadian HP dijambret di pasar Mei 2025 lalu. Dan di balik keputusan untuk tidak merekam apa pun lewat kamera, ternyata ada hadiah lain, yaitu seluruh peristiwa terekam begitu jernih dan utuh di dalam ingatanku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia jalanan dan pasar yang sejujur ini.

​Di dalam angkot, seorang ibu yang mungkin berusia mendekati 60 tahun duduk tepat di hadapanku. Sempat terjadi percakapan sekejap di dalam angkot itu "Banyak asap yaa." Aku menimpali dengan singkat mengiyakan, lalu bertanya kepada adik sepupku alasan tak memakai masker. Tak lama kemudian, seorang bapak seusianya ikut naik. Bapak itu membawa termos air panas, tas anyaman, dan sebuah tas tenteng tertutup berwarna ungu. Dari percakapan singkat yang tak sengaja kudengar, bapak itu bercerita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakinya yang sakit. Aku sempat melihat bapak tersebut memegang kaki sebelahnya, saat berbicara tentang pengobatan kaki. Ibu di depanku merespons hangat, menutup obrolan dengan doa yang tulus, "Iya, semoga cepat sembuh." Setelah itu, suasana kembali hening.

​Sekitar tiga menit berlalu. Aku memperhatikan ibu tersebut membuka dompet kecilnya. Di dalam kepalaku, dompet itu familiar seperti dompet dari toko emas. Tidak ada slot-slot kartu seperti dompet modern masa kini, hanya plong saja. Di dalamnya, terlihat lembaran uang yang terlipat tidak rapi saat dia menghitung uang itu, satu lembar 50 ribu, dua lembar 20 ribu, dan 3 ribu rupiah. Dia membuka lipatan lembaran demi lembaran, terlihat merapikan lipatan itu. Awalnya, jemarinya memegang uang 3 ribu, ongkos pas untuk angkot. Ia sempat menutup dompetnya, tapi kemudian dia terlihat diam dan berpikir sejenak.

​Perlahan, ia memasukkan kembali uang 3 ribu tadi, lalu memilih mengeluarkan lembaran 20 ribu. Dipegangnya erat-erat. Selama dua menit di atas angkot yang terus berjalan, ia terlihat menimbang sesuatu dalam hening. Aku hanya memperhatikan dari balik diamku.

​Dua menit berlalu, angkot berhenti dengan instruksi ibu itu "Depan..." Angkot itu stop dan ibu itu turun lebih dulu, ia menyerahkan lembaran 20 ribu itu ke driver depan.
"Uangnya besar, Buu," kata driver angkot.
Ibu itu menyahut pelan sambil menunjuk bapak yang masih duduk di dalam, "Aku bayar dua orang."
Bapak itu sempat bilang tidak usah karena sungkan, tapi ibu itu memaksa halus, lalu melangkah pergi begitu saja menembus keramaian.

​Sesaat aku menangkap momen paling menyentuh dalam hidupku. Ternyata saat kita memilih menyimpan ponsel dan hadir sepenuhnya, sensing sekeliling, ada pelajaran yang di dapatkan. Dua menit hening di atas angkot pagi tadi menurutku memberikan pelajaran yang cukup penting bagiku, tentang menimbang, tentang berfikir, tentang ketulusan, ketulusan yang tidak butuh panggung, bahwa di antara keraguan dan keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk saling menopang. Hehe. 
Oh iya, klo mau pesan atau buat songket Palembang, adek sepupuku bisa yaaa... 

Rabu, 30 September 2026

Sayangku, Terima Kasih

Melihat seseorang tumbuh dan bertahan hidup itu sebenarnya sebuah keajaiban yang pelan. ​Aku tidak sedang ingin merayakan angka atau penanggalan. Bagi hatiku, nilai keberadaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa ramai tanggal tertentu diingat, tapi dari bagaimana dia terus melangkah, belajar, dan bertahan melewati hari-hari yang tidak pernah mudah.

​Hari ini, aku cuma ingin memberi ruang tenang di dalam batin untuk sebuah apresiasi sunyi untuk jiwa yang sudah berjuang sejauh ini.

​Aku memperhatikan bagaimana dia menanggung lelahnya. Bagaimana langkah kakinya, meski kadang berat, letih, atau tertatih tapi tetap diayunkan untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ada ketangguhan yang tidak perlu dipamerkan kepada dunia, dan ada proses pendewasaan yang terus berjalan secara jujur di balik diamnya. Menjalani hidup memang tidak pernah sederhana, dan menyaksikan seseorang berproses dengan segala dinamikanya adalah sebuah ruang pembelajaran yang hangat.

​Menghargai hidup seseorang sejatinya adalah tentang mendoakan kebaikannya dalam keheningan. Memohon agar hatinya selalu dilapangkan, jiwanya diberi ketenangan, langkahnya dimudahkan, dan setiap lelah yang diusahakannya bernilai kebaikan serta keberkahan.

​Aku berkeyakinan bahwa tidak perlu ada perayaan yang riuh. Cukup rasa syukur yang mengendap tenang di dalam dada bahwa di antara takdir- takdir di bumi ini, ada satu jiwa yang terus berikhtiar untuk hidup, belajar, dan berjalan dengan sebaik-baiknya.

​Ini bukan ucapan untuk satu hari tertentu. Ini adalah penanda dan bentuk penghormatan sunyi untuk sebuah perjalanan panjang bernama hidup. Terima kasih sudah terus bertahan, belajar, dan melangkah, Sayang. 
Sayang Abang. Sehat selalu yaaa.

Kesel Tapi Tetep Sayang

Tadi siang aku ngetik satu kalimat yang rasanya jujur banget, tanpa filter, "Aku kesal tapi aku tetap sayang." Nggak ada gengsi yang ditutup-tutupi, nggak ada drama pasif-agresif, dan nggak ada perisai sok kuat. Cuma respons spontan yang mengalir gitu aja.

​Dulu, mungkin kalau lagi jengkel atau merasa kurang diperhatikan, pilihanku cuma dua yaitu menahan semuanya sendirian sampai dada sesak, atau ngambek sambil nunggu dia menebak-nebak. Kita sering secara tidak sadar diajari untuk main aman, menjaga gengsi, atau pakai silent treatment biar kelihatan berkuasa. Tapi makin ke sini aku makin paham, cara-cara begitu cuma bikin sistem saraf bekerja terlalu keras dan capek sendiri.

​Beberapa waktu lalu waktu aku main sama anak-anak kecil di lorong desa, ada satu rasa yang bikin hatiku tenang banget, bahwa bicada dengan mereka terasa no hidden intention. Mereka ngobrol polos, tertawa lepas, dan bahkan mempermudah aturan main supaya aku bisa ikut tanpa merasa kesulitan. Di dekat mereka, aku merasa aman karena tidak ada tuntutan untuk berpura-pura.  

​Ternyata, kehangatan yang sama bisa kita bawa ke dalam hubungan dewasa. Hadir utuh dan sadar penuh itu bukan berarti kita harus selalu ramah, selalu tenang, atau berpura-pura tidak pernah kesal. Keberanian dewasa yang sebenarnya justru ada pada saat kita bisa dengan jujur meluapkan ganjalan, tanpa harus menurunkan kualitas rasa sayang kita pada pasangan. Kita memilih untuk tidak menghukum orang lain atau memelihara ego, melainkan merawat ruang hubungan agar tetap hangat dan aman.

​Melepaskan gengsi dan berani jujur sama perasaan sendiri ternyata rasanya sangat membebaskan. Nggak perlu akrobat emosi, nggak perlu pura-pura tangguh. Cuma ada aku, dengan segala rasa jengkel, kangen, dan kasih sayang yang utuh, belajar hadir untuk diriku dan hubunganku dengan cara yang paling ringan.

Kamis, 24 September 2026

Ternyata, Aku Lebih Tenang Setelah Menulis



Ada satu hal kecil yang baru kusadari beberapa hari ini. Ternyata, aku bisa lebih tenang hanya dengan menulis. Bukan karena semua yang kutulis kemudian mendapat jawaban. Bukan juga karena orang yang kutuju selalu punya solusi untuk semua isi kepalaku. Kadang aku cuma mengetik.

“Sayang, aku kepikiran ini…”

“Sayang, tadi aku ingat sesuatu…”

“Sayang, menurutmu kenapa begini?”

Kadang bahkan isinya tidak penting-penting amat. Tentang charger yang rusak. Tentang hidung yang terus meler. Tentang belum minum. Tentang rasa kangen yang tiba-tiba muncul padahal baru saja bertemu. Hal-hal kecil yang mungkin kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa saja kusimpan sendiri. Tapi ternyata, ketika kutuliskan, kepalaku terasa lebih lapang.

Aku baru sadar bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mengira bahwa ketenangan datang setelah mendapat respons. Seolah-olah aku gelisah, aku cerita, dia menjawab lalu aku tenang. Padahal beberapa hari ini aku menemukan urutan yang sedikit berbeda. Aku gelisah, aku menulis, aku membaca lagi apa yang sebenarnya kurasakan lalu perlahan aku tenang. Jawabannya belum tentu ada. Tapi sesuatu di dalam diriku sudah bergerak. 

Mungkin karena ketika sesuatu masih berputar di kepala, semuanya terasa besar. Begitu ditulis, ia punya bentuk. Yang tadinya cuma “aku merasa tidak enak” bisa berubah menjadi,

“Oh, ternyata aku sedang takut tidak dilibatkan.”

“Oh, ternyata aku sedang ingin dimengerti.”

“Oh, ternyata aku cuma kangen.”

“Oh… ternyata aku sedang capek.”

Sesederhana itu. Menulis ternyata bukan cuma cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kadang ia adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku juga belajar sesuatu tentang kedekatan. Bahwa dekat dengan seseorang bukan berarti semua rasa harus segera diselesaikan oleh orang itu. Aku boleh ingin ditenangkan. Aku boleh ingin didengar. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh mengirim pesan panjang ketika kepalaku sedang penuh. Tapi mungkin aku tidak harus menjadikan orang yang kusayangi sebagai satu-satunya tempat untuk membuatku kembali baik-baik saja.

Ada bagian yang tetap bisa kukerjakan sendiri. Bukan supaya aku menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku rasa bukan itu. Aku justru ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membutuhkan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin bisa berkata, “Aku ingin kamu ada.” tanpa diam-diam menerjemahkannya menjadi, “Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan baik-baik saja.” Ada jarak kecil di antara dua kalimat itu. Dan ternyata, jarak kecil itu penting.

Hari itu aku juga sempat bertanya tentang sesuatu yang sudah lama tersimpan di kepalaku. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana seseorang memandang perempuan dalam pekerjaan. Tentang kenapa dalam situasi tertentu ia terlihat lebih mudah menghubungi atau meminta bantuan perempuan tertentu. Pertanyaannya sebenarnya sederhana.Tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Kadang kita tidak benar-benar sedang bertanya tentang orang lain. Kita sedang mencoba memahami “Aku ini ada di mana dalam duniamu?”

Aku sempat tertawa sendiri setelah menyadarinya. Ternyata hati manusia memang lucu. Bisa membahas charger 220 ribu, lalu beberapa jam kemudian tiba-tiba masuk ke pertanyaan tentang kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Tidak selalu rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia menyimpan banyak hal sekaligus.

Dan malam itu, setelah semua pesan kecil itu lewat, aku kembali menyadari sesuatu. Aku ternyata senang melihat seseorang yang kusayangi berkarya. Aku senang melihatnya menjalankan sesuatu dengan serius. Aku senang bisa menjadi saksi dari sebagian kecil kehidupannya. Tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Kadang cukup menjadi seseorang yang berkata, “Aku lihat kamu.” Dan mungkin itu juga bentuk cinta yang sedang kupelajari. Bukan hanya ingin dilihat. Tapi belajar melihat. Bukan hanya ingin dipahami. Tapi belajar memahami. Bukan hanya ingin ditenangkan. Tapi belajar menenangkan diriku sendiri sambil tetap membiarkan orang lain hadir.

Mungkin selama ini aku mengira bahwa kedekatan adalah tentang seberapa sering seseorang membalas pesan. Sekarang aku mulai melihatnya sedikit berbeda. Kedekatan mungkin juga tentang seberapa aman kita merasa untuk membawa hal-hal kecil kepada seseorang. Tentang bisa berkata, “Aku lagi begini,” tanpa harus membuatnya menjadi persoalan besar. Tentang bisa diam tanpa merasa hubungan langsung hilang. Tentang bisa bertanya tanpa harus sudah tahu jawabannya. Dan tentang bisa mencintai seseorang sambil tetap pulang kepada diri sendiri.

Hari ini aku belum selesai belajar soal itu. Masih sering ingin dicari. Masih ingin diingat. Masih ingin dilibatkan. Masih ada bagian dalam diriku yang kadang membaca jeda sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Tapi mungkin bertumbuh memang bukan berarti semua itu tiba-tiba hilang. Mungkin bertumbuh adalah ketika aku mulai bisa berkata kepada diriku sendiri “Aku tahu kamu ingin didengar. Yuk, kita dengarkan dulu.”

Lalu aku menulis. Dan anehnya… setelah itu aku sering kali menjadi sedikit lebih tenang.