Senin, 12 Oktober 2026

Kue Coklat Untuk Sayang dan Ubi Ungu


Sayangku, aku sebenarnya sudah lama ingin memberikan sesuatu untuk Sayang. Tanggal kelahiran Sayang 30 September lalu. Sebenarnya, kita ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi Sayang keburu ke lapangan. Hari itu aku sempet berfikir, wah bisa ketemuan di hari lahir. Wkwk. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahiran Sayang. Pengen saja. Hehe.

Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku di blog dan ku kirim ke Sayang. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu, sayang bilang kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran lagi waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kita bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah, ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuk Sayang, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan, tidak sempat ku keluarin daru tas. Di perjalanan mengantar aku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Sayang bilang tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas. Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu-Palembang, lebih dari dua kali. Sejak awal Oktober itu. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue.

Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Btw, aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap dan kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu kuurungkan. Sayangku sudah ada di depan mata. Sepertinya kali ini aku mau mengandalkan insting saja.

Aku mendekat ke Sayang, hehe. Terus senyum malu-malu, lalu kubawa kuenya mendekat. “Sayang, aku punya ini.”

Maksudnya kue. Wkwkwk. Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua yang ada di kepala tidak sampai jadi kalimat.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotong beberapa bagian yang agak penyok tertekan waktu du bawa. Sambil bilang, “Yah, Sayang, kuenya kena itu sebelahnya.”

Setelah itu, kita diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi saat momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu Sayang bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu.

Padahal maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Sejujurnya mungkin ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Detail-detail rasa terima kasihku itu masih tinggal di dalam kepala dan hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengan Sayang, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Padahal orangnya ada di depan mata. Yang mau kusampaikan juga banyak. Tapi mulutku kadang seperti tidak mau bekerja sama. Wkwk. Hmm. 

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat Sayang merasa disayang juga.

Selama ini aku banyak menerima dukungan dari Sayang. Aku ingin Sayang tahu bahwa aku pun ingin mendukung Sayang. Aku ingin Sayang merasa punya teman ketika lelah. Aku ingin mendengarkan cerita-cerita Sayang, ingin tahu keseharian Sayang, ingin mengenal hal-hal kecil tentang Sayang yang mungkin belum pernah kuceritakan atau kutanyakan.

Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Kadang aku bertanya-tanya, Sayang suka apa, ya? Apa yang membuat Sayang senang? Apa yang bisa kulakukan ketika Sayang sedang capek? Banyak yang belum kutau.

Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kita tidak lagi duduk berdekatan. Setelah aku kembali di depan buku atau laptop, baru kepikiran, “Eh, tadi kenapa nggak tanya, ya?” Wkwkwk.

Padahal bisa saja kutanya langsung ketika Sayang ada di dekatku. Tapi, apa ya, aku kadang senang walau cuma duduk dan saling diam. 


Selain membawa kue untuk Sayang, aku juga membawa pulang ubi ungu yang Sayang bawa. Aku sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu rebus. Aku tidak bilang kepada Sayang kalau aku sedang menginginkannya atau pengen makan Ubi itu. Aku sempat mencarinya di pasar si, tapi mengurungkan niat setelah melihat ubinya kecil-kecil. Lalu ketika kita bertemu, ternyata ada ubi ungu yang dibawa. 

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa, ya? Ada keinginan kecil yang ternyata tetap punya jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa spesial buatku.

Lucu ya, Sayang, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, perasaan dekat sebelum memberikan sesuatu, sebuah pelukan beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tahu apakah Sayang akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin buat Sayang ini hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan. Aku sedang belajar menyayangi Sayang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya.

Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depan Sayang aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluk Sayang, dan berharap Sayang tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengan Sayang. Hehe.

Aku juga ingin belajar lebih banyak tentang Sayang. Bukan cuma memikirkan apa yang bisa kuberikan, tetapi juga mengenal apa yang Sayang sukai, apa yang membuat Sayang nyaman, dan bagaimana caranya supaya Sayang juga bisa merasa disayangi olehku.

Aku belum tahu semua jawabannya. Kadang aku masih bingung, kadang baru kepikiran setelah pulang, kadang malah sibuk menyusun kata-kata di kepala sampai lupa mengatakannya langsung. Wkwk.

Tapi aku ingin mencoba, Sayang. Dengan caraku yang mungkin masih malu-malu ini. Dan mungkin, kali ini bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, terima kasih. Untuk banyak hal yang mungkin belum semuanya bisa kusampaikan langsung.

Aku sayang Sayang.

Kue Coklat dan Ubi Ungu

Sayangku, Terimakasih


Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya. Tanggal kelahirannya 30 September lalu. Sebenarnya, kami ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahirannya, pengen saja. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku. Sayangku, Terima Kasih

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu katanya kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kami bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuknya, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan. Di perjalanan mengantarku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Katanya tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas.Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu - Palembang lebih dari dua kali. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue. Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap serta kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu ku urungkan. Orangnya sudah ada di depan mata. Sepertinya, kali ini aku berfikir untuk mengandalkan insting saja.

Aku mendekat dulu, lalu tersenyum malu-malu. 

“Sayang, aku punya itu.” Maksudnya kue

Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua-semua yang di kepala tidak sampai jadi kalimat. 

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotongnya beberapa di bagian yang agak penyok. Sambil bilang "Yah, sayang kuenya kena itu sebelahnya." Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi.

Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tetapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu. 

Maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Semua rasa terima kasih detailnya masih tinggal di dalam hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tau bahwa aku pun ingin mendukungnya. Aku ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya.

Aku belum selalu tau bagaimana caranya. Aku masih belajar. Kadang aku bertanya-tanya apa yang dia sukai, apa yang membuatnya senang, atau apa yang bisa kulakukan ketika dia sedang capek. Banyak yang belum kutahu. Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kami tidak duduk berdekatan. Ketika aku di dapan buku atau di depan laptp ingin menulis. Wkwk.

Selain membawa kue untuknya, aku membawa pulang ubi ungu yang dibawanya, sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu itu.  Aku tidak bilang kepadanya klo aku sedang pengen makan ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar, tetapi mengurungkan niat setelah liat Ubinya kecil-kecil. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa yaa, ada keinginan kecil yang ternyata tetep ada jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa istimewa buatku.

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan sebelum memberikan sesuatu, beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tau apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tau cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, Terima kasih


Kue Kecil untuk Sayang



Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya.  Tanggal kelahirannya 30 September lalu, sebenarnya kami ada rencana bertemu pada tanggal itu tapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku terhadap hari kelahiran. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku juga tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya 30 September ku isi dengan ungkapan rasa sayangku. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, "Sayang, suka apa ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkkw. No clue. Aku juga tidak bertanya ya, padahal dulu katanya klo tidak tau ya bertanya, aku baru kepikiran waktu nulis ini. Wkwk. Baru saja. 

Btw, akhirnya kami bertemu. Aku memesan kue sajalah pikirku. Padahal sebenanrnya aku punya hadiah, dan hadiahnya tidak sempat ku berikan. Aku cuma bilang pas diperjalanan anter aku pulang "Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang." Katanya tidaj usah, hehe. Aku urungkan niatku mengambilnya di dalam tas. Btw, gift itu bolak-balik dibawa Sekayu - Palembang lebih dari 2 kali. Nanti klo Sayang mau lihat, aku senang sekali. 

Btw, waktu di depan kue itu aku tidak tau cara bilangnya. Sejujurnya itu pertama kali aku lalukan sendirian, mungkin waktu kuliah pernah tapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat mau ngetik ChatGPT cara bersikap dan kata-kata buat disampaikan ke oranf tersayang. Tapi aku urungkan, orangnya sudah di depan mata dan sepertinya insting aja. Wkwk.

“Sayang, aku punya itu, kue.”
Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotonginya. Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Rasanya lucu, sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri.

Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat,  semua rasa terima kasih ini di dalam hati. Wkwk. 

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada mengatakannya langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam. Wkwk.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tahu bahwa aku pun ingin mendukungnya, ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya. Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Tadi, selain membawa kue untuknya, aku juga membawa pulang ubi ungu yang sudah beberapa hari ingin kumakan. Aku tidak pernah bilang kepadanya bahwa aku sedang ingin ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar kecil-kecilan, tapi mengurungkan niat. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali. Rasanya seperti ada keinginan kecil yang diam-diam menemukan jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ubi ungu itu terasa istimewa buatku. 

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan,  beberapa potong kue di atas meja, dan ubi ungu yang sudah lama ingin kumakan.

Aku tidak tahu apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku, kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, dan ubi ungu.

Minggu, 04 Oktober 2026

Aku Sedang Belajar Menjadi Tempat yang Aman

Beberapa hari ini aku sedang mengisi formulir untuk sebuah program kepemudaan. Namanya Young Progressive Academy. Lucu juga. Setelah beberapa tahun merasa belajar itu ya kuliah, tugas, penelitian, seminar, revisi, lalu akhirnya wisuda, sekarang aku mulai merasa mungkin belajar tidak selalu harus datang dari ruang kelas.

Aku baru selesai S2. Kontrakku di LTKL juga sudah selesai. Dua hal yang cukup besar dalam hidupku ternyata selesai hampir bersamaan. Lalu sekarang aku sedang melihat-lihat lagi. Mau bekerja di mana. Mau mengambil peran seperti apa. Mau membawa pengalaman yang sudah ada ke mana. Bahkan, sedikit lebih dalam dari itu, aku sedang bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya aku ingin menjadi orang seperti apa?

Selama beberapa tahun bekerja di pembangunan daerah, aku cukup sering berada di tengah banyak orang. Pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, perusahaan, teman-teman di desa. Orangnya berbeda-beda. Bahasanya berbeda-beda. Kepentingannya juga tidak selalu sama. Tapi semakin lama berada di antara mereka, aku malah semakin sering melihat sesuatu yang sederhana.

Banyak orang sebenarnya punya niat baik. Banyak hal sebenarnya bisa dikerjakan bersama. Hanya saja, orang-orang yang ingin melakukan sesuatu itu kadang tidak tahu harus bertemu di mana. Tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Kadang sudah duduk di meja yang sama, tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Dan ada satu hal yang cukup sering menggangguku. Beberapa program bisa tertulis sangat rapi di atas kertas, tetapi tidak semua orang merasa didengar untuk kemudian ditulis di dalam kertas tersebut.

Mungkin karena itu aku semakin tertarik pada ruang di antara orang-orang. Bukan hanya pada programnya. Bukan hanya pada hasil akhirnya. Tapi pada percakapannya. Pada siapa yang belum bicara. Pada orang yang sebenarnya punya pendapat, tetapi masih sungkan mengatakannya. Pada seseorang yang datang membawa gagasan yang masih berantakan dan hanya ingin didengarkan dulu sebelum mencari jawabannya.

Aku rasa selama ini aku cukup sering menjadi orang yang menghubungkan. Mendengar cerita dari satu pihak, lalu membawa bagian tertentu ke pihak lain. Membantu orang bertemu. Membantu percakapan tetap berjalan. Mencatat sesuatu yang sebelumnya hanya berputar-putar di kepala banyak orang. Tapi akhir-akhir ini aku bertanya, sejauh apa sebenarnya kemampuan itu bisa kubawa? Dan apakah itu memang sesuatu yang ingin terus kulakukan? Aku belum punya jawabannya.

Makanya aku tertarik ikut YPA. Bukan karena aku merasa sudah tahu bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Malah sebaliknya. Aku ingin belajar lagi tentang kepemimpinan, tentang keberagaman, tentang inklusi, tentang bagaimana menjadi warga yang aktif, dan tentang bagaimana hadir dengan lebih utuh ketika bekerja bersama orang lain. Aku juga ingin bertemu orang-orang yang mungkin punya pertanyaan yang sama, meskipun datang dari tempat dan pengalaman yang berbeda.

Ada satu hal yang kutulis ketika mengisi formulirnya. Aku ingin menjadi seseorang yang ketika orang datang kepadaku, mereka tidak perlu merasa sungkan atau takut untuk mengutarakan pendapat. Mau bicara tentang kehidupan. Tentang pembangunan daerah. Tentang sesuatu yang mereka tidak setujui. Tentang ide yang masih sederhana. Atau bahkan tentang sesuatu yang kami sendiri belum tahu harus menyebutnya apa.

Entah kenapa kalimat itu terasa cukup dekat denganku. Mungkin aku tidak sedang mencari tahu bagaimana caranya menjadi orang paling depan dalam sebuah ruangan. Mungkin aku sedang belajar menjadi orang yang membuat orang lain merasa cukup aman untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Dan lucunya, aku membayangkan ruang itu tidak harus selalu berupa forum resmi dengan meja panjang dan backdrop besar. Bisa saja di warung kopi, kata Uda.

Seseorang duduk di depanku, bercerita tentang kampungnya. Aku mendengarkan. Lalu dari percakapan yang awalnya tidak terlalu jelas itu, tiba-tiba muncul satu nama, satu masalah, satu kemungkinan, atau satu orang lain yang mungkin perlu dipertemukan.

Barangkali memang begitu caraku ingin terus belajar. Tidak selalu dengan berdiri di depan. Kadang cukup dengan duduk bersama seseorang dan benar-benar mendengarkan. Aku belum tahu setelah ini akan bekerja di mana. Belum tahu peran apa yang akan kupilih. Tapi mungkin untuk sementara, tidak apa-apa kalau aku belajar mengenali diriku sendiri dari pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini.

Aku sedang ingin tahu, seberapa banyak suara yang bisa kudengar, seberapa banyak orang yang bisa kuhubungkan, dan seberapa nyaman sebuah ruang bisa kubuat untuk orang lain menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu juga bentuk lain dari belajar. Dan mungkin, kali ini, aku sedang belajar menjadi tempat yang aman bagi sebuah percakapan untuk dimulai.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Momen Hangat di Dalam Angkot

Hari ini, adek sepupuku minta ditemenin ke Pasar 16 Ilir. Dia mau menjual songket Palembang asli karya tangannya sendiri ke bos tempat biasa dia menyetor. Di depanku, dia duduk manis dengan sandal blink-blink kesayangannya. Kami sengaja memilih naik angkot, sengaja ingin menyisakan ruang untuk berjalan kaki menyeberangi Jembatan Ampera.

​Sepanjang perjalanan pagi tadi, aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel. Ada rasa trauma yang belum sepenuhnya pulih setelah kejadian HP dijambret di pasar Mei 2025 lalu. Dan di balik keputusan untuk tidak merekam apa pun lewat kamera, ternyata ada hadiah lain, yaitu seluruh peristiwa terekam begitu jernih dan utuh di dalam ingatanku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia jalanan dan pasar yang sejujur ini.

​Di dalam angkot, seorang ibu yang mungkin berusia mendekati 60 tahun duduk tepat di hadapanku. Sempat terjadi percakapan sekejap di dalam angkot itu "Banyak asap yaa." Aku menimpali dengan singkat mengiyakan, lalu bertanya kepada adik sepupku alasan tak memakai masker. Tak lama kemudian, seorang bapak seusianya ikut naik. Bapak itu membawa termos air panas, tas anyaman, dan sebuah tas tenteng tertutup berwarna ungu. Dari percakapan singkat yang tak sengaja kudengar, bapak itu bercerita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakinya yang sakit. Aku sempat melihat bapak tersebut memegang kaki sebelahnya, saat berbicara tentang pengobatan kaki. Ibu di depanku merespons hangat, menutup obrolan dengan doa yang tulus, "Iya, semoga cepat sembuh." Setelah itu, suasana kembali hening.

​Sekitar tiga menit berlalu. Aku memperhatikan ibu tersebut membuka dompet kecilnya. Di dalam kepalaku, dompet itu familiar seperti dompet dari toko emas. Tidak ada slot-slot kartu seperti dompet modern masa kini, hanya plong saja. Di dalamnya, terlihat lembaran uang yang terlipat tidak rapi saat dia menghitung uang itu, satu lembar 50 ribu, dua lembar 20 ribu, dan 3 ribu rupiah. Dia membuka lipatan lembaran demi lembaran, terlihat merapikan lipatan itu. Awalnya, jemarinya memegang uang 3 ribu, ongkos pas untuk angkot. Ia sempat menutup dompetnya, tapi kemudian dia terlihat diam dan berpikir sejenak.

​Perlahan, ia memasukkan kembali uang 3 ribu tadi, lalu memilih mengeluarkan lembaran 20 ribu. Dipegangnya erat-erat. Selama dua menit di atas angkot yang terus berjalan, ia terlihat menimbang sesuatu dalam hening. Aku hanya memperhatikan dari balik diamku.

​Dua menit berlalu, angkot berhenti dengan instruksi ibu itu "Depan..." Angkot itu stop dan ibu itu turun lebih dulu, ia menyerahkan lembaran 20 ribu itu ke driver depan.
"Uangnya besar, Buu," kata driver angkot.
Ibu itu menyahut pelan sambil menunjuk bapak yang masih duduk di dalam, "Aku bayar dua orang."
Bapak itu sempat bilang tidak usah karena sungkan, tapi ibu itu memaksa halus, lalu melangkah pergi begitu saja menembus keramaian.

​Sesaat aku menangkap momen paling menyentuh dalam hidupku. Ternyata saat kita memilih menyimpan ponsel dan hadir sepenuhnya, sensing sekeliling, ada pelajaran yang di dapatkan. Dua menit hening di atas angkot pagi tadi menurutku memberikan pelajaran yang cukup penting bagiku, tentang menimbang, tentang berfikir, tentang ketulusan, ketulusan yang tidak butuh panggung, bahwa di antara keraguan dan keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk saling menopang. Hehe. 
Oh iya, klo mau pesan atau buat songket Palembang, adek sepupuku bisa yaaa...