Selasa, 03 November 2026

Dear Sayang, Aku Sedang Belajar


Aku kepikiran satu hal yang terus menyangkut di kepalaku. Tentang ternyata mencintai seseorang juga berarti belajar memahami bagaimana diriku sendiri ketika sedang mencintai.

Aku sedang menonton sebuah video percakapan Lila Rose dengan Allison Armstrong. Judulnya cukup menarik perhatian: The Biggest Mistakes Women Make With Men (That Pushes Them Away). Awalnya aku kira akan menemukan daftar kesalahan perempuan dalam hubungan. Semacam hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan agar laki-laki tidak menjauh.

Ternyata salah ya, ada beberapa bagian yang membuatku berhenti sebentar. Tentang kebiasaan menguji pasangan, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, mengkritik, membandingkan, sampai menahan perhatian ketika sedang marah. Aku jadi ngat diriku sendiri. Jangan-jangan, dalam beberapa situasi, aku juga melakukan hal-hal itu?

Aku pernah berada di situasi ketika seseorang membaca pesanku, tetapi tidak segera membalas. Sebenarnya aku tahu, setiap orang punya kesibukan. Ada pekerjaan, tanggung jawab, perjalanan, dan kehidupan yang tidak selalu bisa berhenti hanya untuk membalas pesan. Aku tahu itu. Tapi mengetahui sesuatu secara logika ternyata tidak selalu membuat perasaan ikut tenang.

Ada kalanya aku mulai bertanya-tanya. Sedang apa, ya? Kenapa belum membalas? Apakah dia ingat kalau ada seseorang yang sedang menunggunya?

Lalu pesan berikutnya terkirim. Kadang disusul pertanyaan lain. Kalau sudah terlalu lama, mungkin ada sedikit kemarahan atau sindiran. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku sedang mencari kepastian melalui cara yang kurang tepat.

Aku ingin merasa diingat, tetapi terkadang menyampaikannya melalui kemarahan. Aku ingin merasa dilibatkan, tetapi kadang berharap dia menyadarinya sendiri tanpa harus aku jelaskan. Seolah-olah kalau dia benar-benar peduli, dia seharusnya tahu apa yang sedang kubutuhkan. Padahal, orang lain tidak selalu bisa membaca isi kepala kita.

Aku sedang belajar membedakan antara meminta dan menguji. Keduanya mungkin terlihat mirip, tetapi rasanya berbeda. Meminta berarti aku berani mengatakan apa yang kubutuhkan. Menguji berarti aku menciptakan situasi tertentu untuk melihat apakah seseorang akan melakukan sesuatu sesuai harapanku. Dan mungkin, selama ini aku pernah melakukan keduanya.

Aku juga sedang belajar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan alasan di balik perilaku seseorang. Seseorang diam, bukan berarti pasti sedang marah. Seseorang tidak banyak bercerita, bukan berarti pasti tidak percaya. Seseorang tidak segera membalas pesan, bukan berarti pasti tidak peduli. Aku ingin belajar bertanya sebelum membuat kesimpulan.

Tapi ada satu hal yang juga sedang kupahami, kalau tidak semua perasaan harus dibatalkan hanya karena mungkin ada penjelasan lain di balik perilaku seseorang.

Kalau aku sedih karena tidak mendapat kabar, ya aku memang sedang sedih. Kalau aku merasa kesepian, aku tidak harus buru-buru meyakinkan diri bahwa aku tidak boleh merasa begitu karena dia mungkin sedang sibuk. Aku boleh memahami kesibukannya sekaligus mengakui bahwa aku juga punya kebutuhan.

Mungkin kedewasaan bukan tentang menjadi seseorang yang tidak mudah merasa apa-apa. Melainkan belajar mengenali perasaan, memahami asalnya, lalu memilih bagaimana menyampaikannya.

Ada bagian lain yang cukup menggangguku, dalam arti membuatku berpikir lebih lama. Tentang kritik dan apresiasi. Aku kadang terlalu sibuk memperhatikan sesuatu yang belum dilakukan seseorang sampai lupa melihat hal-hal kecil yang sebenarnya sudah dia lakukan.

Ada orang yang mungkin tidak pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, tetapi mengingat hal-hal kecil tentang kita. Ada yang tidak banyak bercerita melalui pesan, tetapi ketika bertemu mau mendengarkan. Ada yang menunjukkan perhatian melalui tindakan sederhana. Apakah aku sudah cukup memperhatikan itu?

Aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya melihat kekurangan orang lain. Aku ingin belajar mengucapkan terima kasih. Menghargai usaha. Tidak membandingkan hubungan sendiri dengan hubungan orang lain. Tapi aku juga tidak ingin apresiasi berubah menjadi alasan untuk mendiamkan kebutuhan yang belum terpenuhi. Karena ya menurutu, mengakui kebaikan seseorang tidak berarti semua hal dalam hubungan sudah baik-baik saja. Dua hal itu ternyata bisa hidup berdampingan.

Aku bisa berterima kasih atas perhatian yang sudah diberikan, sekaligus berharap ada bentuk perhatian lain yang ingin kami pelajari bersama.

Btw, aku juga membaca The Art of Loving karya Erich Fromm. Ada empat unsur cinta yang terus teringat olehku. Tentang care, responsibility, respect, dan knowledge. Care, tentang kepedulian yang aktif. Responsibility, tentang kesediaan merespons kebutuhan orang lain. Respect, tentang menghargai seseorang tanpa berusaha menguasai atau mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan. Knowledge, tentang kesediaan mengenal seseorang lebih dalam.

Aku mulai perlahan untuk sadarar bahwa selama ini aku tidak hanya ingin ditemani. Aku ingin mengenal seseorang. Aku ingin tahu ketika dia sedang lelah. Apa yang membuatnya khawatir. Hal apa yang sedang dipikirkannya. Apa yang membuatnya bahagia, bahkan apa yang mungkin belum selesai dari masa lalunya. Aku ingin mendengarkan ceritanya tanpa harus selalu menjadi orang yang paling banyak bercerita. Aku ingin menjadi tempat yang aman untuk seseorang pulang dan berbagi cerita. Tapi kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku juga sudah memberikan ruang yang cukup aman untuk itu?

Apakah ketika dia bercerita, aku benar-benar mendengarkan? Atau diam-diam aku sedang menunggu giliran untuk menyampaikan sesuatu? Apakah aku bisa menerima bahwa cara seseorang mengekspresikan perasaan mungkin berbeda denganku? Aku belum selalu tahu jawabannya. Dan sepertinya memang masih banyak yang harus kupelajari.

Satu hal yang ingin kuingat adalah bahwa belajar mencintai bukan berarti belajar menjadi perempuan yang selalu menyenangkan. Aku tetap boleh meminta kabar. Boleh ingin dipeluk. Boleh ingin ditemani. Boleh mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuatku sedih. Aku juga boleh memiliki batas. 

Selama ini aku sering merasa harus bisa mengurus semuanya sendiri. Menyelesaikan pekerjaan, mengatur perjalanan, memikirkan masa depan, membangun mimpi, dan memastikan hidup tetap berjalan. Ternyata, di dalam hubungan aku juga ingin sesekali menjadi seseorang yang boleh manja. Yang tidak harus selalu kuat. Yang bisa mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja. Temani aku sebentar, ya." Mungkin itu bukan tanda bahwa aku kehilangan kemandirian. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa menjadi mandiri dan ingin dirawat bukan dua hal yang saling bertentangan.

Dan aku tidak ingin terlalu sibuk mempelajari cara memperlakukan seseorang dengan baik sampai lupa bertanya apakah aku juga sedang diperlakukan dengan baik.

Hubungan bukan pekerjaan satu orang. Aku bisa belajar menyampaikan kebutuhan tanpa menyerang. Dia juga bisa belajar mendengarkan tanpa merasa selalu disalahkan. Aku bisa belajar memberi ruang. Dia juga bisa belajar memberikan kabar. Aku bisa belajar memahami caranya mencintai. Dia pun perlu bersedia mengenal cara aku merasa dicintai.

Aku tidak tahu seberapa cepat dua orang bisa mempelajari semua itu. Mungkin ada hari ketika kami berhasil saling memahami, ada hari ketika percakapan sederhana kembali menjadi rumit.

Mungkin akan ada salah paham lagi. Mungkin aku masih akan menangis untuk hal-hal yang menurut orang lain sederhana. Aku belum selesai.

Untuk sekarang, aku hanya ingin belajar satu hal: mencintai dengan lebih sadar. Tidak menjadikan ketakutanku sebagai alat untuk menguji seseorang. Tidak menjadikan kemarahanku sebagai satu-satunya cara agar kebutuhanku didengar. Tidak pula memaksa diriku menjadi seseorang yang tidak punya kebutuhan.

Aku ingin bisa melihat orang yang kucintai sebagai manusia yang juga punya keterbatasan, ketakutan, dan kehidupan sendiri. Dan aku ingin mengingat bahwa diriku juga manusia yang layak dipahami.

Barangkali mencintai memang bukan tentang menemukan seseorang yang selalu tahu bagaimana memperlakukan kita. Bisa jadi, ini tentang dua orang yang sama-sama bersedia belajar, saling memberi tahu, saling mendengarkan, dan memperbaiki hal-hal yang belum mereka pahami.

Aku sedang belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Bukan karena aku ingin seseorang bertahan dengan segala cara. Aku hanya ingin, ketika mencintai seseorang, aku tidak kehilangan diriku sendiri dalam prosesnya. Dan semoga, orang yang berjalan bersamaku juga sedang belajar hal yang sama. Masih belajar. Masih sering salah. Belum selesai.

Aku sedang belajar mencintai

Aku Sedang Belajar Mencintai, Aku Juga Perlu Mengenal Diriku Sendiri



Aku sedang di waktu banyak memikirkan hubungan dan cara manusia mencintai. Apalagi setelah menyelesaikan studiku. Awalnya sederhana. Aku hanya ingin lebih mengenal seseorang yang aku sayangi. Ingin tahu bagaimana harinya, apa yang sedang dia pikirkan, apa yang membuatnya lelah, apa yang membuatnya bahagia. Bahkan hal-hal yang mungkin tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

Kalau dia sedang capek, aku ingin dia bisa bilang capek. Kalau sedang sedih, aku ingin dia tahu bahwa tidak apa-apa untuk bercerita. Kalau ada sesuatu yang membebani pikirannya, aku ingin menjadi salah satu orang yang bisa dia datangi. Aku tidak selalu ingin memberikan solusi. Kadang aku hanya ingin mendengarkan. Dan ternyata, keinginan untuk mengenal seseorang tidak selalu berjalan semudah itu. Ada orang yang mudah bercerita tentang pekerjaan, aktivitas, rencana, dan banyak hal dalam hidupnya, tetapi tidak terlalu terbiasa membicarakan perasaan. Ada juga yang lebih nyaman mendengarkan daripada bercerita. Lalu, aku jadi mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku sudah benar-benar mengenal orang yang aku sayangi? Atau aku baru mengenal bagian-bagian kehidupannya yang terlihat dari luar?

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti membawaku lagi pada sebuah buku karya Erich Fromm, The Art of Loving. Fromm menuliskan gagasan yang cukup menarik buatku, bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang datang begitu saja. Cinta adalah seni. Sesuatu yang perlu dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan. Aku mulai melihat bahwa mencintai seseorang ternyata bukan hanya tentang seberapa besar perasaan yang kita miliki. Ada kemampuan untuk peduli, bertanggung jawab, menghormati, dan mengenal orang yang kita cintai. Empat hal ini membuatku berhenti sejenak, menarik nafas panjang dan mulai berfikir lagi...

1. Care (Aku ingin peduli pada kehidupanmu)

Aku beberapa kali mencoba bertanya bertanya, "Sayang, capek?" sebenarnya aku sedang membuka ruang. Sejujurnya, aku tidak sedang mengharapkan jawaban bahwa semuanya baik-baik saja. Kalau memang capek, bilang saja. Kalau sedang banyak pikiran, cerita saja. Kalau hari ini terasa berat, tidak perlu selalu terlihat kuat. Aku ingin mengenal manusia di balik semua kesibukannya.

Ini catatan penting dari Fromm, aku belajar bahwa kepedulian bukan hanya tentang menyukai keberadaan seseorang, tetapi juga memiliki perhatian terhadap kehidupan dan pertumbuhannya. Tapi aku juga belajar bahwa kepedulian tidak boleh berhenti sebagai niat baik. Perlu terlihat dalam tindakan. Aku ingin mendengarkan, dan aku juga ingin didengarkan. Aku ingin mengetahui kabarmu, dan aku juga ingin sesekali kamu mengingat bahwa ada seseorang yang menunggu kabarmu. Mungkin sesederhana itu bentuk perhatian yang sedang aku pelajari.

2. Responsibility (Aku ingin kita sama-sama bersedia merespons)

Aku ingin cerita  satu pengalaman yang cukup sering kupikirkan. Aku pernah merasa sedih ketika pesan-pesan panjangku hanya dibaca tanpa ada balasan. Aku ingin sesekali mendapat kabar ketika dia sedang sibuk atau tidak bisa dihubungi. Bukan karena aku ingin mengawasi kegiatannya. Aku hanya ingin mendapat sedikit informasi agar tidak terus menebak-nebak. Aku sudah mencoba menyampaikan kebutuhan itu. Kadang dengan baik, kadang juga dengan emosi. Aku masih belajar (Ternyata Aku Belum Selesai Merasa

Refleksiku ini, seperti mengajarkanku kalau aku memahami bahwa tanggung jawab dalam cinta bukan berarti seseorang harus selalu memenuhi semua keinginan pasangannya. Lebih dari itu, ada kesediaan untuk merespons kebutuhan orang yang kita cintai. Mungkin kita tidak selalu bisa hadir pada waktu yang sama. Kita punya pekerjaan, urusan, dan kehidupan masing-masing. Tetapi bukankah kita bisa belajar memberi tahu? Aku juga perlu belajar bahwa menyampaikan kebutuhan bukan berarti memaksa. Orang lain tetap punya kebebasan untuk merespons, bernegosiasi, atau mengatakan bahwa saat ini mereka belum bisa. Namun, aku pun punya kebebasan untuk mengakui apa yang aku butuhkan.

3. Respect (Aku ingin mengenalmu tanpa harus mengubahmu)

Aku pernah berpikir bahwa kalau aku cukup sabar, cukup memahami, dan menemukan cara komunikasi yang tepat, mungkin seseorang akan menjadi lebih terbuka. Eee, akhir-akhir ini aku baru saja mulai sadar bahwa setiap orang punya cara dan waktunya sendiri untuk bercerita. Aku bisa mengundang seseorang untuk terbuka, tetapi tidak bisa memaksanya. Aku bisa ingin mengenal masa lalunya, termasuk pengalaman cukup pahitnya, tetapi dia tetap berhak menentukan bagian mana yang ingin diceritakan dan kapan dia siap membagikannya.

Menghormati seseorang berarti membiarkannya menjadi dirinya sendiri. Tetapi aku juga perlu ingat bahwa menghormati perbedaan bukan berarti mengabaikan kebutuhanku sendiri. Aku boleh menerima bahwa seseorang tidak banyak bicara tentang perasaan, sekaligus mengakui bahwa percakapan emosional merupakan bagian penting dari kedekatan yang aku inginkan. Kami tidak harus menjadi orang yang sama untuk bisa saling mencintai. Kami hanya perlu bersedia belajar menemukan ruang bersama.

4. Knowledge (Aku ingin mengenalmu lebih dari sekedar mengetahui tentangmu)

Ini mungkin bagian yang paling dekat dengan pengalaman pribadiku. Aku tahu beberapa kebiasaannya. Aku tahu hal-hal yang sedang dia kerjakan. Aku tahu cerita tentang kebun vanilinya, pekerjaannya, dan aktivitas sehari-harinya. Dia juga mengenal kebiasaanku. Katanya aku mudah menangis, pelupa, dan punya banyak cerita. Hehehe. Tetapi aku mulai sadar kalau mengetahui kebiasaan seseorang tidak selalu sama dengan mengenal dunia batinnya.

Aku ingin tahu bagaimana dia memaknai pengalaman hidupnya. Apa yang membuatnya takut. Apa yang membuatnya bangga. Apa yang pernah membuatnya kecewa. Bagaimana dia menghadapi kesedihan dan perubahan. Aku juga ingin dia mengenal hal-hal yang mungkin tidak langsung terlihat dariku. Apa yang membuatku merasa aman? Mengapa aku terkadang takut ditinggalkan? Mengapa kabar sederhana bisa membuatku merasa dilibatkan? Mengapa aku terkadang menangis ketika sebenarnya hanya ingin didengarkan? Aku ingin kita tidak hanya bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi perlahan-lahan mengenal bagaimana masing-masing dari kita mengalami kehidupan. Karena mungkin aku merasa dengan hal itu kedekatan tumbuh. Ketika dua orang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga bersedia mengenal dunia satu sama lain.

Aku juga sedang belajar mencintai diriku sendri

Ada satu hal yang cukup mengejutkanku selama memikirkan semua ini. Awalnya aku sibuk bertanya bagaimana caranya agar bisa lebih memahami seseorang. Lama-lama aku malah menemukan banyak hal tentang diriku sendiri. Aku jadi sadar kalau aku sering takut merepotkan. Aku bisa mengurus diriku sendiri, tetapi tetap ingin ditemani. Aku bisa mandiri, tetapi sesekali ingin diperhatikan. Aku bisa memahami kesibukan orang lain, tetapi tetap merasa sedih ketika tidak mendapat kabar.

Dulu aku jarang meminta sesuatu. Sekarang aku sedang belajar menyampaikan apa yang aku butuhkan.Ternyata belajar meminta juga tidak selalu mudah. Bahkan setelah berhasil mengatakannya, masih ada kemungkinan kecewa ketika sesuatu yang kita harapkan belum terpenuhi.

Aku memikirkan kalimat dari Erich Fromm ini, kalau mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Aku boleh sayang seseorang tanpa harus meninggalkan diriku sendiri. Aku boleh memahami keterbatasannya tanpa menyangkal perasaanku. Aku boleh berusaha menjadi tempat yang aman bagi seseorang, tetapi aku juga membutuhkan tempat yang aman untuk diriku sendiri. Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling mengerti.


Kita sama-sama sedang belajar

Pagi ini aku mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang yang aku sayangi. Aku bilang bahwa aku mungkin belum berpengalaman dalam hubungan. Aku ingin belajar, dan berharap kami bisa saling membimbing. Aku bilang bahwa aku tidak membutuhkan hubungan yang sempurna. Aku ingin hubungan yang di dalamnya dua orang sama-sama bersedia mengenal, memahami, dan bertumbuh. Aku ingin kami sama-sama saling merawat. Setelah mengirim pesan itu, aku merasa lega. Aku lega bukan karena aku sudah mendapatkan jawaban atau karena semuanya tiba-tiba berubah. Aku hanya merasa sudah menyampaikan sesuatu yang memang ingin aku sampaikan.

Mungkin itu juga bagian dari belajar mencintai. Tentang berani mengungkapkan isi hati, tanpa menjadikan respons orang lain sebagai satu-satunya ukuran nilai diri kita. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hubungan ini nantinya. Aku juga tidak ingin berpura-pura sudah memahami semuanya. Aku masih belajar. Masih bisa salah bicara, masih bisa marah, masih bisa kecewa, dan masih punya banyak hal yang perlu kupahami.

Tetapi sekarang aku punya satu pertanyaan yang ingin terus kubawa tentang "Apakah kami sedang sama-sama belajar mencintai, atau selama ini aku hanya sibuk belajar bagaimana mencintainya?" Hehehe. Aku sejujurnya aku tidak ingin hanya menjadi seseorang yang pandai memahami orang lain. Aku juga ingin dikenal, didengarkan, dan dipahami. Aku ingin mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri. Mungkin, aku ingin belajar salah satu seni mencintai yang sedang ku baca ini. Tentang merawat kehidupan orang yang aku sayangi, tanpa berhenti merawat kehidupanku sendiri.

Dear BJ Sayang Act of Services

Aku ingin mengenalmu, bukan hanya mengetahui tentangmu. Aku ingin tahu bagaimana harimu berjalan, apa yang membuatmu tertawa, apa yang membuatmu lelah, dan hal-hal yang mungkin sulit kamu ceritakan. Aku ingin menjadi tempatmu bercerita. Tapi aku juga ingin punya tempat untuk bercerita.

Aku bisa hidup dan mengurus diriku sendiri. Aku sedang belajar meminta, menerima, dan mengungkapkan kebutuhan tanpa merasa menjadi beban.

Aku tidak membutuhkan hubungan yang sempurna. Aku ingin hubungan yang di dalamnya dua orang sama-sama bersedia mengenal, memahami, dan bertumbuh. Aku ingin mencintaimu tanpa kehilangan kesempatan untuk tetap mengenal diriku sendiri.

Ternyata Aku Belum Selesai Merasa



Catatan kecil tentang kangen, kecewa, dan belajar mengenali diri sendiri.

Sejak hampir satu tahun ini, di mulai awal 2026, aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Ternyata ada banyak hal yang selama ini aku rasakan, tetapi belum benar-benar aku sadari. Contohnya sederhana. Aku suka mengirim pesan kepada seseorang yang aku sayangi. Kalau ada hal lucu, aku ingin cerita. Kalau ada sesuatu yang menyebalkan, aku ingin mengadu. Kalau sedang sedih, rasanya ingin mencari dia. Bahkan ketika melihat sesuatu yang menggemaskan, ada dorongan spontan untuk membagikannya. Aku memang suka berbagi cerita. Bukan berarti aku ingin mengobrol sepanjang hari. Aku juga kadang malas kalau harus chat terus-menerus. Aku pun tidak terlalu menyukai laki-laki yang banyak bicara. Tapi aku suka kalau diberi kabar. Sesederhana, "Abang lagi di jalan, nanti ya." Atau, "Lagi ada urusan, nanti kita ngobrol."

Aku tidak harus tahu semua kegiatannya. Aku hanya ingin punya sedikit petunjuk tentang keberadaannya. Karena menurutku, ada perasaan menyenangkan ketika mengetahui bahwa seseorang mengingat kita bahkan saat sedang menjalani kesibukannya sendiri. Masalahnya, ketika pesan-pesanku hanya dibaca tanpa balasan dan tanpa penjelasan, aku bisa sedih sekali.

Awalnya aku menyapa dengan ceria. Menggoda, bertanya, mengirim cerita. Lama-lama berubah menjadi kesal. Aku mulai meminta kabar, mengatakan bahwa aku sedih, bahkan mempertanyakan sesibuk apa seseorang sampai tidak sempat mengetik satu kalimat. Wkwkwk. Kalau dibaca ulang, ternyata aku bisa semarah itu.

Aku juga manusia. Aku tidak selalu berhasil menyampaikan kebutuhan dengan tenang. Ada kalanya aku menyindir, menyerang, atau mengirim pesan lebih banyak daripada yang sebenarnya ingin kukirim. Aku sedang belajar menerima bahwa menjadi seseorang yang sadar diri bukan berarti harus selalu bisa mengendalikan setiap respons dengan sempurna.

Aku tetap punya emosi. Aku bisa kecewa. Aku bisa marah. Aku bisa salah memilih kata. Yang bisa kulakukan adalah belajar memahami apa yang terjadi di balik reaksiku, lalu bertanggung jawab atas cara aku menyampaikannya.

Ada satu hal yang baru kusadari setelah membicarakan pengalaman ini. Ternyata yang paling aku inginkan bukan sekadar dia lebih sering menghubungiku. Aku ingin dia secara spontan mengingat bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya dan ingin dilibatkan dalam kehidupannya. Aku ingin diingat tanpa harus selalu mengingatkan. Dan ternyata, ada pengalaman lain yang lebih lucu lagi. Ketika dia diam cukup lama, aku bisa merasa sedih sekali. Aku menunggu, bertanya-tanya, mencoba memahami apa yang terjadi. Tetapi ketika dia akhirnya kembali menghubungiku, dia biasanya bersikap seperti biasa. Tidak banyak menjelaskan. Tidak membahas mengapa sebelumnya menghilang. Lalu aku pun kembali ngobrol seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Lho? 

Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku memang sudah tidak sedih, atau aku hanya merasa lega karena akhirnya bisa terhubung lagi dengannya? Jangan-jangan rasa kangennya lebih dulu mengambil alih daripada rasa kecewanya. Aku senang dia kembali, lalu lupa bahwa beberapa jam sebelumnya aku sedang sedih sekali. Dan yang lebih lucu lagi, aku bahkan belum menyadari itu sebelum diajak mengobrol dan mengurai pengalaman sendiri.

Ternyata mengenali diri sendiri memang tidak selalu datang dalam bentuk kesadaran besar. Kadang datang dari percakapan kecil, pertanyaan sederhana, atau membaca ulang pesan WhatsApp yang kemarin terasa biasa saja. Aku sedang belajar membedakan fakta, perasaan, kebutuhan, dan reaksiku. Aku juga sedang belajar bahwa memahami seseorang tidak berarti harus selalu memaklumi semua perilakunya. Aku boleh memahami bahwa seseorang punya cara komunikasi berbeda, sambil tetap mengakui bahwa ada perilaku yang membuatku sedih.

Aku tidak ingin memaksa seseorang menjadi orang lain. Aku juga tidak ingin terus memaksa diriku sendiri untuk tidak membutuhkan apa-apa. Mungkin aku memang perlu belajar menyampaikan kebutuhan dengan lebih baik. Tapi aku juga ingin belajar bahwa hubungan bukan pekerjaan satu orang. Ada dua orang yang perlu sama-sama belajar mendengar, memahami, dan memperbaiki koneksi ketika terjadi jarak.

Untuk sekarang, aku belum punya semua jawabannya. 

Aku masih belajar mengenali kapan aku benar-benar sudah baik-baik saja, kapan aku hanya sedang merasa lega, dan kapan ada perasaan yang belum sempat kusadari. Wkwkwk. Ternyata mengenali diri sendiri bisa sepanjang ini perjalanannya. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak harus menjadi perempuan yang selalu tenang, selalu mengerti, dan selalu tahu apa yang sedang dirasakannya. Aku hanya ingin menjadi perempuan yang semakin mengenal dirinya sendiri. Termasuk ketika ternyata dirinya sendiri pun masih sering membuat kejutan. Ternyata aku belum selesai belajar menjadi diriku sendiri.

Minggu, 01 November 2026

Menetap di Angka 29

Belajar Berdamai dengan Luka, Melepas Kontrol, dan Memeluk Diri Apa Adanya

​Hari ini, 2 November 2026, usiaku bergeser ke angka 29. Angka yang seringkali mendatangkan bisik-bisik paling gaduh di kepala, tentang seberapa jauh kaki melangkah, tentang potensi besar yang kadang terasa macet di tengah jalan, tentang arah karier dan hidup yang masih sering bikin bingung sendiri, hingga tentang standar-standar sosial yang sering sekali terasa menuntut perempuan untuk hidup dalam cetakan yang rapi.

​Aku akhir-akhir ini merasa hidup seperti laboratorium batin yang sibuk. Ada tawa kecil saat merayakan hal-hal sederhana, ada hari-hari di mana kepala penuh sesak oleh overthinking, ada cemburu yang datang tiba-tiba untuk pertama kalinya, dan ada fase-fase di mana aku harus belajar menelan mentah-mentah kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol atau digenggam erat-erat.

​Kita sering menghabiskan separuh umur untuk berusaha tampil sempurna, menunjukkan versi terbaik di depan orang lain, dan menyembunyikan lelah di balik senyum paling aman. Padahal, manusia butuh untuk sesekali merasa rapuh, butuh bingung, dan butuh izin untuk tidak baik-baik saja.

​Aku sejujurnya takur, memasuki tahun ke-29 ini, aku berkali-kali diberikan hikmah bahwa pelajaran terbesar bukan tentang bagaimana aku menjadi yang paling benar atau yang paling kuat, tapi tentang pengampunan dan penerimaan diri. Mengampuni Masa Lalu dan Keputusan-Keputusan yang Pernah Diambil. Kadang, ada bagian dari diri kita yang masih sering menghukum masa lalu, menyesali jalan yang dipilih, merajut tanya "bagaimana kalau dulu...", atau merasa tidak layak dicintai secara utuh karena luka-luka yang tersisa. Hari ini, aku belajar memeluk diri sendiri dan berkata "Kamu sudah berjuang sekuat tenaga dengan kapasitas yang kamu miliki pada masa itu. Tidak ada yang perlu disesali secara berlebihan; semuanya adalah pecahan cermin yang mengajarkan arti kedewasaan."

Aku dalam usia ini sejujurnya sedang belajar mencintai orang lain, merintis usaha seperti Skycoco, belajar di dunia akademik, dan menjalani dinamika hubungan yang menantang. Proses ini mengajarkanku tentang kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain harus memperlakukan kita setiap detik. Yang bisa terus kita pelajari untuk dikuasai hanya diri kita sendiri. Belajar pasrah meskipun awalnya terasa tidak rela ternyata adalah gerbang menuju kelegaan batin. Ini berat, praktik melepaskan genggaman tangan yang terlalu kuat pada ekspektasi, dan membiarkan hidup mengalir dalam kedaulatan rasa syukur.

Hari ini aku menjadi perempuan di ambang kepala tiga dengan segudang mimpi (termasuk angan untuk terus sekolah lagi dan menimba ilmu), kadang rasanya melelahkan. Ada kalanya rasa cemas datang menyergap, merasa tertinggal atau bingung menentukan langkah berikutnya. Tapi hari ini aku mulai sadar lagi, hidup bukanlah perlombaan lari cepat. Potensi itu ada, bakat itu nyata, dan waktunya akan tiba pada musim yang tepat.

​Terima kasih untuk diriku sendiri yang sudah bertahan hingga detik ini. Terima kasih karena masih mau belajar, masih mau merasa, dan masih berani jujur pada rapuhnya hati. Untuk usia 29 tahun ini, mari berjalan dengan lebih pelan, lebih sadar, dan jauh lebih baik pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika belum semuanya terjawab hari ini. Yang penting, napas ini masih ada, dan hati ini masih memilih untuk terus bertumbuh.
​Selamat bertambah usia untuk diriku. Peluk hangat dari sudut paling jujur di hati.