Kamis, 29 Oktober 2026

Siapa yang Mendapat Kursi Paling Nyaman?



Ada hal-hal kecil dalam perjalanan yang kadang membuat kita mengenali seseorang lebih jauh. Bukan dari jabatan, gelar,atau seberapa banyak kata yang disampaikan. Kadang cukup dari cara seseorang memilih tempat duduk.

Dalam sebuah perjalanan kegiatan antah beratah project prioritas nasional, kami sempat membicarakan pengaturan tempat duduk dan barang bawaan karena akan ada tambahan teman kami. Situasinya cukup sederhana yaitu jumlah penumpang, koper, ruang bagasi, dan siapa yang akan duduk di mana. Dinamika terasa kompleks ketika berbicara tempat duduk tapi tidak ada yang menguasai susunananya, akhirnya aku mengusulkan untuk melihat kondisi kenyamanan setelah masuk 13 orang penumpang dan muatan barang. Aku cukup berbesar hati untuk tidak memaksakan mengajak adek satu orang itu. 

Keesokan harinya, ternyata adik satu itu tidak muat dan sudah ikut travel lainnya. Satu masalah itu clear. Walau sebelum berangkat kami ada ngobrol dan di tengah percakapan itu, aku sempat berkomentar kepada seorang teman perempuan. Selama mengikuti berbagai kegiatan, terutama di lingkungan NGO, aku cukup terbiasa bertemu laki-laki yang mengusahakan agar perempuan mendapatkan tempat duduk lebih dahulu. Bahkan, dalam beberapa situasi, laki-laki justru memilih duduk belakangan. Bukan aturan tertulis. Tidak ada yang mengharuskan demikian. Rasanya lebih seperti kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran untuk memperhatikan orang lain.

Karena itu, ketika menemukan situasi yang berbeda, aku baru sadar bahwa ada nilai-nilai kecil yang selama ini diam-diam menjadi bagian dari ekspektasiku dalam berinteraksi. Aku jadi berpikir, barangkali cara seseorang memperlakukan orang lain memang tidak selalu terlihat dari hal-hal besar.

Kita bisa berbicara panjang tentang kesetaraan, kolaborasi, inklusivitas, dan kepemimpinan. Kita bisa hadir dalam forum multipihak, menyusun kesepakatan, atau membicarakan bagaimana setiap orang perlu mendapatkan ruang yang setara.Tapi, bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam keseharian. Ketika ruang terbatas, apakah kita hanya memikirkan kenyamanan sendiri?

Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, apakah kita bersedia sedikit menyesuaikan diri? Ketika harus menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan lebih dahulu, apakah kita masih bisa melihat kebutuhan orang lain?

Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus selalu didahulukan atau laki-laki harus selalu mengalah. Bagiku, persoalannya bukan hanya semata-mata tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang duduk di belakang.

Ada sesuatu yang lebih mendasar, tentang kesediaan untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian. Kenyamanan bersama tidak selalu berarti setiap orang mendapatkan hal yang persis sama. Kadang kita perlu melihat siapa yang lebih membutuhkan, siapa yang memiliki keterbatasan, dan bagaimana setiap orang bisa mengambil bagian agar perjalanan tetap nyaman. Mungkin itulah salah satu hal yang paling aku pelajari dari banyak pengalaman bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Kolaborasi bukan hanya tentang kemampuan menyatukan kepentingan dalam sebuah forum, tapi juga tentang kebiasaan kecil yang kita bawa ketika tidak ada agenda, tidak ada moderator, dan tidak ada yang sedang menilai kepemimpinan kita.

Aku yakin, kalau karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika diberi kesempatan untuk memimpin. Kadang, terlihat dari kesediaannya memberikan ruang kepada orang lain. Dan mungkin, dari hal sesederhana memilih kursi.

Rabu, 21 Oktober 2026

My Future Husband

Dear Sayang, 
Your future wife sedang tidak bisa tidur. Sekarang pukul 02.40 WIB. Aku harap tahun depan, ketika tidak bisa tidur, aku sedang ada dipelukanmu. 
With love. 

Your Future Wife

Dear Sayang, 
Aku malem ini lagi kangen. Aku lagi pengen apa ya tadi lupa. Eh tapi yang aku ingat, aku cemburu sayang. Cemburu waktu sayang pegang jidat seorang perempuan waktu kita bimtek itu. Padahal aku aja belum pernah digituin. Aku mau juga. 
From your future wife. 

Dear Sayang

Dear Sayang, 
Aku merasa tidak didengar. Aku merasa berjuang sendirian di hubungan ini. Aku mulai merasa lelah. Aku ingin merasakan pesan di balas, eh dibalas sih, cuma ngerasa ada yang kurang. Tapi apa ya? 
Aku kangen, aku sesekali ingin diucapkan selamat tidur. Eh pernah sih, oh bukan selamat bobok, tapi kalimat "boboklah" atau "istirahatlah" atau "sudah malam". Hmm tapi aku juga kalau disuruh bobok tidak mau ya. Hehehe, ya gimana mau ngucapin selamat bobok. Wkwk. Baru ngeh juga. Apa aku mendengarkan Sayang? Iya. Apa sayang merasa didengarkan olehku? Aku belum bertanya. Hehe

Selasa, 20 Oktober 2026

Aku Memilih Sayang

Sayang, ada hari terasa berat di hidupku. Saat kamu diam. Saat aku mulai menebak lagi, apa yang sedang kamu alami. 
Sayang, aku cuma kangen. Kalau boleh, aku ingin terlibat dalam keseharian Sayang. 
Sayang, mudah-mudahan Sayang sehat selalu dan banyak rezekinya. Sayang punya aku kalau lagi lelah. Sayang tidak perlu jadi sosok sempurna dan selalu kuat. Aku memilih Sayang.