Selasa, 02 Juni 2026
Topeng yang Runtuh di Balik Layar
Selasa, 23 Desember 2025
Seblak Ainun 212, Cerita Jajanan Pedas di Sekayu yang Dekat dengan Kita
Seblak selalu punya tempat tersendiri di hati pencinta makanan pedas. Rasanya yang pedas gurih, aroma kencur yang khas, dan sensasi hangatnya membuat seblak sering jadi pilihan saat ingin jajan santai. Makanan yang berasal dari Bandung, Jawa Barat ini kini sudah menyebar ke berbagai daerah, termasuk Sekayu, Musi Banyuasin.
Di Sekayu, salah satu penjual seblak yang cukup dikenal masyarakat sekitar adalah Seblak Ainun 212.
Tentang Seblak
Seblak awalnya dikenal sebagai olahan kerupuk yang direndam air panas, lalu dimasak dengan bumbu sederhana. Ciri khas seblak terletak pada penggunaan kencur, yang memberikan aroma dan rasa unik, berbeda dari makanan pedas lainnya.
Seiring waktu, seblak berkembang menjadi jajanan dengan berbagai topping dan tingkat kepedasan yang bisa disesuaikan selera. Hal inilah yang membuat seblak digemari banyak kalangan, terutama anak muda.
Lokasi yang Mudah Ditemukan
Seblak Ainun 212 berlokasi di tempat yang cukup strategis, yaitu di depan SMP Negeri 1 Sekayu, tepat di samping fotokopi Trijaya. Lokasinya mudah dijangkau dan sering ramai, terutama saat jam pulang sekolah.
Tidak hanya pelajar, warga sekitar juga banyak yang mampir untuk menikmati seblak di sini, baik sekadar jajan sore maupun makan ringan.
Menu dan Pilihan Topping
Di Seblak Ainun 212, pembeli bisa memilih sendiri topping sesuai selera. Mulai dari kerupuk seblak, mie, makaroni, bakso, sosis, telur, hingga ceker. Tingkat kepedasan juga bisa disesuaikan, jadi pembeli bisa memilih sesuai kemampuan masing-masing.
Dari segi harga, seblak di sini masih tergolong ramah di kantong dan cocok untuk pelajar maupun masyarakat umum.
Proses Masak yang Terlihat Langsung
Salah satu hal yang menarik dari Seblak Ainun 212 adalah proses memasaknya yang dilakukan langsung di depan pembeli. Bumbu ditumis terlebih dahulu menggunakan cabai, bawang, dan kencur. Dari proses ini, aroma pedas gurih langsung tercium dan menggugah selera.
Seblak disajikan dalam kondisi hangat, sehingga rasa dan teksturnya tetap terjaga.
Rasa yang Bersahabat
Dari segi rasa, Seblak Ainun 212 memiliki cita rasa pedas gurih yang seimbang. Aroma kencurnya terasa, namun tidak terlalu kuat. Kerupuknya masih kenyal dan topping yang digunakan cukup sesuai dengan porsi.
Seblak ini paling nikmat disantap selagi panas, terutama bagi pencinta makanan pedas.
Tentang Dukungan untuk UMKM Lokal
Seblak Ainun 212 adalah salah satu contoh UMKM lokal yang tumbuh dan bertahan bersama masyarakat sekitar. Kehadirannya bukan hanya sebagai tempat jajan, tetapi juga bagian dari aktivitas ekonomi kecil di Sekayu.
Mendukung UMKM lokal tidak selalu harus dengan hal besar. Membeli produknya, merekomendasikannya ke orang lain, atau membagikan ceritanya di media sosial sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Penutup
Bagi yang sedang berada di Sekayu dan ingin menikmati jajanan pedas, Seblak Ainun 212 bisa menjadi salah satu pilihan yang patut dicoba. Selain menikmati rasanya, kita juga ikut berkontribusi dalam mendukung UMKM lokal agar terus berkembang.
Dukung UMKM lokal, mulai dari sekitar kita.
— Morenoviya
http://www.morenoviya.com/2025/12/seblak-ainun-212-jajanan-pedas-favorit.html?m=0
Seblak Ainun 212, Jajanan Pedas Favorit di Sekayu yang Layak Dicoba
Seblak menjadi salah satu jajanan pedas yang digemari banyak kalangan, mulai dari pelajar hingga orang dewasa. Makanan khas Bandung ini dikenal dengan cita rasa pedas gurih serta aroma kencur yang khas. Kini, seblak tidak hanya mudah ditemukan di kota besar, tetapi juga hadir di berbagai daerah, termasuk Sekayu, Musi Banyuasin.
Salah satu penjual seblak yang cukup dikenal di Sekayu adalah Seblak Ainun 212.
Asal Usul Seblak
Seblak berasal dari Bandung, Jawa Barat. Awalnya, seblak dibuat dari kerupuk yang direndam air panas lalu dimasak dengan bumbu sederhana. Ciri khas utama dari seblak adalah penggunaan kencur yang memberikan aroma dan rasa berbeda dibandingkan makanan pedas lainnya.
Seiring waktu, seblak berkembang dengan berbagai pilihan topping seperti mie, makaroni, bakso, sosis, telur, hingga ceker. Level kepedasan pun bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.
Lokasi Seblak Ainun 212
Seblak Ainun 212 berlokasi di tempat yang cukup strategis, yaitu:
depan SMP Negeri 1 Sekayu, tepat di samping fotokopi Trijaya.
Lokasinya mudah ditemukan dan biasanya ramai, terutama pada jam pulang sekolah. Tidak hanya pelajar, masyarakat sekitar juga banyak yang mampir untuk menikmati seblak di sini.
Menu dan Harga
Menu yang ditawarkan di Seblak Ainun 212 cukup beragam. Pembeli bisa memilih sendiri topping sesuai selera, mulai dari kerupuk seblak, mie, makaroni, bakso, sosis, telur, hingga ceker.
Untuk level pedas, pembeli bebas menyesuaikan sesuai kemampuan. Dari segi harga, Seblak Ainun 212 masih tergolong ramah di kantong, sehingga cocok untuk pelajar maupun masyarakat umum.
Proses Penyajian
Salah satu hal menarik dari Seblak Ainun 212 adalah proses memasaknya yang dilakukan langsung di depan pembeli. Bumbu ditumis terlebih dahulu menggunakan cabai, bawang, dan kencur sebagai ciri khas seblak. Proses ini membuat aroma pedas gurih langsung terasa dan menggugah selera.
Cita Rasa
Dari segi rasa, Seblak Ainun 212 memiliki cita rasa pedas gurih yang seimbang. Kuahnya cukup kental dengan warna merah yang menggoda. Aroma kencurnya terasa, namun tidak terlalu kuat. Kerupuknya masih kenyal dan topping yang digunakan juga cukup melimpah.
Seblak ini paling nikmat disantap saat masih panas.
Dukungan untuk UMKM Lokal
Kehadiran Seblak Ainun 212 menjadi salah satu contoh UMKM lokal yang terus berusaha berkembang di Sekayu. Dengan memilih jajan di tempat seperti ini, secara tidak langsung kita ikut mendukung pelaku usaha kecil agar tetap bertahan dan berkembang.
Mendukung UMKM lokal bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membeli produknya, merekomendasikan ke teman, atau membagikan informasinya di media sosial.
Penutup
Bagi pencinta makanan pedas yang sedang berada di Sekayu, Seblak Ainun 212 bisa menjadi salah satu pilihan jajanan yang layak dicoba. Selain rasanya yang nikmat, membeli di sini juga berarti ikut mendukung UMKM lokal di sekitar kita.
Dukung UMKM lokal, mulai dari sekitar kita.
Senin, 22 Desember 2025
Manau Kuning, Wisata Alam Sederhana di Jirak Jaya yang Bikin Hati Tenang
Perjalanan kali ini dimulai dari Sekayu. Niatnya sederhana: jalan sebentar, cari udara segar, dan menikmati alam tanpa harus pergi jauh. Tujuan kami adalah Manau Kuning, salah satu wisata alam yang ada di Desa Jirak Jaya, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin.
Sesampainya di lokasi, perjalanan langsung dimulai dari sebuah jembatan yang menjadi akses awal menuju area wisata. Jembatannya sederhana, tapi justru dari sinilah suasana alam mulai terasa berbeda. Langkah jadi lebih pelan, pikiran ikut lebih tenang.
Masuk ke kawasan Manau Kuning, yang paling terasa adalah udara sejuk dan suasana hijau. Pepohonan tumbuh rapat di kanan-kiri jalur, menciptakan kesan alami yang jarang kita temui di tengah rutinitas harian.
Salah satu spot yang paling menarik perhatian adalah ayunan. Tidak mewah, tapi justru di situlah letak nikmatnya. Duduk, berayun pelan, sambil menikmati pemandangan sekitar—rasanya seperti kembali ke masa kecil, tanpa beban.
Tak jauh dari situ, hamparan pemandangan hijau terbuka luas. Cocok untuk duduk sejenak, menarik napas, dan membiarkan mata beristirahat. Bagi yang suka foto-foto, area ini juga cukup fotogenik dengan cahaya alami yang bagus.
Ikon yang tidak boleh dilewatkan tentu saja tangan raksasa. Spot ini menjadi ciri khas Manau Kuning dan hampir selalu jadi tempat wajib untuk mengabadikan momen.
Setelah puas berkeliling dan mengisi galeri dengan foto, kami pun bersiap untuk perjalanan pulang. Menyusuri jalur yang sama, suasananya terasa berbeda—lebih ringan. Di tengah perjalanan, kami sempat bertemu Andra, ngobrol sebentar, saling bertukar cerita, lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Meski singkat, perjalanan ini meninggalkan rasa senang. Badan memang sedikit lelah, tapi pikiran terasa lebih segar.
Hal menarik lainnya dari Manau Kuning adalah harga tiket masuknya yang sangat terjangkau, hanya Rp5.000. Dengan biaya yang murah, pengunjung sudah bisa menikmati suasana alam yang tenang dan ramah untuk semua kalangan.
Bagi warga Musi Banyuasin, khususnya yang berada di sekitar Sekayu dan Sungai Keruh, Manau Kuning bisa menjadi pilihan wisata dekat, sederhana, dan menenangkan. Tidak perlu jauh-jauh, cukup luangkan waktu sejenak untuk kembali dekat dengan alam.
Manau Kuning mengajarkan bahwa liburan tidak selalu harus mahal atau jauh. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah tempat yang tenang, udara segar, dan waktu untuk menikmati sekitar.
Kalau kamu warga Muba dan punya rekomendasi wisata lokal lainnya, jangan ragu untuk berbagi. Supaya kita bisa terus mengenal dan menjaga keindahan alam di daerah kita sendiri
Manau Kuning Jirak Jaya: Wisata Alam Murah dan Menenangkan di Sungai Keruh, Musi Banyuasin
Manau Kuning Jirak Jaya: Wisata Alam Murah dan Menenangkan di Sungai Keruh, Musi Banyuasin
Mencari wisata alam yang dekat, murah, dan menenangkan di Musi Banyuasin? Manau Kuning di Desa Jirak Jaya, Kecamatan Sungai Keruh bisa menjadi pilihan yang tepat. Dengan suasana alam yang masih asri dan tiket masuk yang sangat terjangkau, tempat ini cocok untuk warga lokal yang ingin rehat sejenak dari rutinitas.
Lokasi Manau Kuning Jirak Jaya
Manau Kuning terletak di Desa Jirak Jaya, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Akses menuju lokasi cukup mudah, terutama bagi pengunjung yang berangkat dari Sekayu dan sekitarnya.
Perjalanan menuju kawasan wisata ini diawali dengan menyusuri jembatan yang menjadi pintu masuk menuju area Manau Kuning. Dari sini, suasana alam mulai terasa lebih tenang dan sejuk.
Suasana Alam yang Masih Asri
Begitu memasuki kawasan Manau Kuning, pengunjung langsung disambut oleh pepohonan hijau dan udara yang segar. Lingkungannya masih alami dan tidak terlalu ramai, sehingga cocok bagi siapa pun yang ingin menikmati ketenangan.
Jalur jalan kaki di dalam area wisata ini relatif mudah dilalui. Sepanjang perjalanan, pemandangan hijau di kanan dan kiri membuat suasana semakin nyaman untuk berjalan santai.
Spot Menarik di Manau Kuning
Beberapa spot yang menjadi daya tarik utama Manau Kuning antara lain:
1. Ayunan Alam
Ayunan sederhana menjadi salah satu spot favorit pengunjung. Berayun pelan sambil menikmati pemandangan sekitar memberikan sensasi relaksasi yang jarang didapatkan di tengah aktivitas sehari-hari.
2. Pemandangan Hijau
Hamparan pemandangan alam yang terbuka menjadi tempat yang pas untuk duduk santai atau berfoto. Cahaya alami di area ini juga mendukung hasil foto yang menarik.
3. Tangan Raksasa
Spot tangan raksasa merupakan ikon Manau Kuning. Hampir semua pengunjung menyempatkan diri untuk berfoto di sini sebagai kenang-kenangan.
Pengalaman Perjalanan Pulang
Setelah puas berkeliling, perjalanan dilanjutkan kembali menuju pintu keluar. Menyusuri jalur yang sama terasa lebih ringan karena pikiran sudah lebih tenang. Di tengah perjalanan pulang, sempat bertemu dan berbincang singkat dengan warga sekitar, menambah kesan hangat dalam kunjungan ini.
Meski singkat, pengalaman di Manau Kuning meninggalkan kesan menyenangkan dan membuat tubuh serta pikiran lebih segar.
Harga Tiket Masuk Manau Kuning
Salah satu keunggulan wisata alam ini adalah harga tiket masuk yang sangat terjangkau, yaitu Rp5.000 per orang. Dengan biaya tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati suasana alam yang nyaman dan ramah untuk semua kalangan.
Wisata Lokal Pilihan Warga Musi Banyuasin
Bagi warga Musi Banyuasin, khususnya di wilayah Sekayu dan Sungai Keruh, Manau Kuning merupakan pilihan wisata lokal yang praktis dan ekonomis. Tempat ini cocok untuk kunjungan singkat bersama teman, keluarga, maupun sekadar menikmati waktu sendiri.
Penutup
Manau Kuning Jirak Jaya membuktikan bahwa wisata yang menenangkan tidak harus mahal atau jauh. Dengan suasana alam yang asri, spot menarik, dan harga tiket yang ramah, tempat ini layak menjadi salah satu destinasi wisata lokal andalan di Musi Banyuasin.
Jika kamu memiliki rekomendasi wisata alam lain di Musi Banyuasin, jangan ragu untuk berbagi. Semakin kita mengenal wisata lokal, semakin besar pula kepedulian kita untuk menjaganya.
Check it out vide perjalanan kami ya: Perjalanan ke Manau Kuning, Jirak Jaya, Sungai Keruh, Musi Banyuasin
Kamis, 16 Maret 2023
3 Nasihat Penting dari dan ke Bandara YIA
10 Maret 2023, kepulanganku dari Bootcamp Sekre LTKL 2023. Kepulanganku dibantu Kak Rifa dan Kak Rangga selama di bandara YIA [ternyata saya tidak benar-benar sendirian, hehe]. Kedatangan saya 5 hari yang lalu pun ditunggu oleh Kak Cerli di bandara yang sama. Bersyukur sekali dengan lingkungan kerja yang sangat supportif. Terima kasih sudah asiggned saya, Uda untuk bootcamp kali ini. What a wonderful experience! Bahkan delay pun tetap dengan pelajaran yang bisa saya dengarkan.
Seorang gadis dengan pakaian serba hitam, terrlihat kebingungan, menengok ke kanan dan ke kiri, masuk ke ruang tunggu yang cukup padat dan ramai. Mencari celah tempat duduk untuk sekedar melepas pikiran-pikirannya sehabis pelatihan yang didapatkannya dari tempatnya bekerja. Pikiran untuk segera tiba dan melaksanakan 15 daftar langkah awal menjadi lebih baik. Ada keinginannya untuk membuka benda persegi berwarna hitam, namun diurungkan karena informasi yang di dapat, keterlambatan 45 menit saja. Sekitar 15 menit kemudian, muncul lagi penguman bahawa jadwal keberangkatan akan ditunda 60-120 menit. Ruang tunggu pun semakin padat dan ramai.
Sedari tadi, seorang gadis ini mengamati seisi ruangan, lalu sangat tertarik dengan seseorang dengan baju motif seperti kain khas asal daerahnya, Musi Banyuasin. Kain Gambo Musi Banyuasin. Berkali-kali gadis itu memandang namun tiada menemukan kesempatan untuk berbicara. Setengah jam berlalu, adzan magrib berkumandang dari salah satu telepon genggam seseorang, tentu saja tidak dikenalnya. Bapak tersebut, berjalan dan mendekat pada [sebut saja] temannya. Menitipkan beberapa barang lalu pergi ke arah tempat beribadah. Lalu, saya diajak bicara kemudian diberikan kesempatan untuk berbicara langsung.
Jumat, 24 Februari 2023
My Fav Shape: Pempek
Selasa, 21 Februari 2023
Kerajinan Gambo Khas Musi Banyuasin
Musi Banyuasin kaya akan sumber daya alam, salah satu kekayaan alam Musi Banyuasin adalah Gambir. Tanaman Gambir adalah tanaman khas Musi Banyuasin. Tanaman Gambir di Musi Banyuasin disebut Tanaman Gambo, biasanya dibuat getah gambir/getah gambo. Taukah kamu, limbah dari pembuatan getah gambo dibuat pewarna alami, dikenal dengan Jumputan Gambo Muba.
Jumputan Gambo Muba adalah salah satu kearifan lokal kain Musi Banyuasin dengan pewarna dengan teknik ikat jumputan. Kreatifitas kain Jumputan Gambo Muba semakin berkembang dengan hadirnya berbagai macam produk Jumputan Gambo Muba, seperti dompet, pouch, tempat name tag, tas, card holder dan sebagainya [bisa request].
Tertarik dengan Jumputan Gambo Muba?
Bisa hubungi kami ya di wa.me/6287769774710
Bisa juga kirim pesan, berikut contoh produknya 🔥
Sungguh menambah kepercayaan diri dengan memakai produk lokal yang berkualitas 🤗
Pesan sekarang yuk.Klik disini untuk terhubung ke WhatsApp WhatsApp kami
#gambo #gambir #gambomuba #gambir #musibanyuasin #jumputangambomuba #muba
Minggu, 05 Februari 2023
Melatih Kemampuan dalam Berbahasa Daerah
Senin, 23 Januari 2023
Alun-alun Kota Sekayu Yang Kucinta
Minggu, 22 Januari 2023
2 Ruang Terbuka Hijau di Musi Banyuasin
Rabu, 31 Juli 2019
Sejarah Musi Banyuasin
Sejarah Singkat Pembentukan Kabupaten Musi Banyuasin
Ditengah-tengah kancah revolusi mempertahankan kemerdekaan melawan agresi Belanda, pada tanggal 10 Juli 1948 diterbitkan Undang Undang Nomer 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Undang Undang ini berisikan antara lain membagi tingkatan Badan-Badan Pemerintahan Daerah yang terdiri dari Propinsi, Kabupaten, dan atau Kota Besar. Tingkatan yang lebih bawah lagi belum dapat ditentukan karena nama-namanya ditiap daerah Ikota besar berbeda-beda. Namun Pasal 1 Undang Undang Nomor 22 Tahun 1948 menyebutkan bahwa Republik lndonesia dibagi dalam tiga tingkatan yaitu Propinsi, Kabupaten dan Desa/Kota Kecil, Negeri, Marga, dan lain-lain yang berhak mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri.
Adanya beberapa wilayah yang berhasil dikuasai Belanda kembali, menyebabkan adanya perubahan sistem pemerintahan. Pada tanggal 30 Agustus 1948 Belanda menyetujui dan memberikan hak kepada Dewan untuk membentuk suatu lembaga dengan satu kabinet yang bertanggung jawab pada seorang presiden. Presiden yang mempunyai kuasa perundang-undangan yang sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat, kemudian melantik Abdul Malik sebagai Wali Negara Sumatera Selatan untuk masa empat tahun, sedangkan DPR-nya dilantik oleh Regening Comisoris Besture Aongelegenheden (Recomba) pada bulan April 1948. Negara Sumatera Selatan dibentuk dengan alasan seobagai embrio salah satu anggota Negara Republik lndonesia Serikat (RIS) yang akan datang. Pembentukan Negara Sumatera Selatan inilah yang menyebabkan dikeluarkannya Marga Panukal Abab dari Musi Banyuasin. Selanjutnya tanggal 10 Februari 1950 DPR Negara Sumatera Selatan memutuskan untuk menyerahkan kekuasaannya pada RIS. Tindakan DPR Negara Sumatera Selatan ini mempengaruhi negara bagian lain bentukan Belanda untuk menyerahkan kekuasaaannya kepada RIS. Perlu diketahui Negara Sumatera Selatan, yang bentukan Belanda, sejak didirikan hingga menyerahkan kekuasaan kepada RIS tidak berfungsi karena ditentang rakyat. Namun sebaliknya Pemerintahan Republik masih tetap dihormati dan ditaati rakyat. Hal ini ditandai masih terus diperjuangkannya perlawanan terhadap Agresi Belanda I.
Begitu pula staf Pemerintah Daerah Sumatera Selatan, bentukan Republik, selalu mendapat tekanan dari Belanda. Untuk menghindari tekanan tersebut dan demi kelancaran pemerintahan maka dr. M. Isa yong menjabat Gubernur Muda Sumatera Selatan, mengungsi dari Palembang melalui Sungai Musi dengan menggunakan kapal roda lambung menuju Lubuk Linggau pada tanggal 23 September 1947, selanjutnya menetap di Curup sebagai pusat pemerintahan Sumatera Selatan.
Selanjutnya berdasarkan perjanjian Renville, diadakan pertemuan antara pihak Republik dengan Belanda yang bertempat di Lahat. Pada pertemuan tersebut ditetapkan garis statisko Daerah Musi Banyuasin yang hanya mencakup sebagian Kewedanaan Musi Ilir di bagian utara yang meliputi Marga Lawang Wetan, Marga Babat, Marga Sanga Desa, Marga Pinggap, dan Marga Tanah Abang.
B. Periode 1950-1957
Sejak terbentuknya Republik lndonesia Serikat (RIS). pada 18 Maret 1950 dibubarkan Negara Sumatera Selatan dan disahkan sebagai Negara Serikat oleh RIS pada 25 Maret 1950 yang kemudian disusul penetapan Daerah Istimewa Bangka Belitung pada 22 April 1950. Sejak saat itu susunan pemerintah di Sumatera Selatan terdiri dari Keresidenan, Kabupaten, dan Kewedanaan. Untuk Keresidenan Palembang terdiri dari 6 Kabupaten dengan 14 Kewedanaan. Susunan tingkat pemerintahan dan status Pemerintahan Otonomi tersebut masih tetap mengacu pada Undang Undang Nomor 22 Tahun 1948 meskipun Undang Undang RIS yang diberlakukan.
Selanjutnya diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1950 sebagai pengganti Undang Undang. Sebagai realisasi dari PP Nomor 3 Tahun 1950 ini, Badan Pekerja yang semula hanya membantu pemerintah dalam melaksanakan tugasnya diganti dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sumatera Selatan dan DPRS yang memiliki sendiri ketuo dan wakil ketuanya. Namun PP Nomor 3 Tahun 1950 belum dapatdiloksanakan sebagai mana mestinya. Oleh karena itu Kepala Daerah bersama-sama Badan Pekerja masih tetap menjalankan segala tugasnya yang semula menjadi tanggung jawab Gubernur atau Bupati.
Masih dalam rangka penataan pemerintahan di daerah, diterbitkan pula PP Nomor 39 Tahun 1950 yang menetapkan Propinsi Sumatera Selatan (termasuk lampung dan Bengkulu) dibagi atas 14 (empat belas) Kabupaten dan 1 (satu) Kota Besar Palembang, serta 1 (satu) calon Kota Besar Tanjung Karang atau Teluk Betung. Sebagai pelaksanaannya terlebih dahulu dibentuk dewan-dewan kabupaten yang baru terbentuk 4 (empat) dewan kabupaten, yaitu tiga di lampung dan satu di Bengkulu. Selanjutnya PP Nomor 39 Tahun 1950 tersebut dibekukan sebagai akibat mosi dari Hadi Kusumo. Sehingga dengan demikian pembentukan Dewan Kabupaten dan sekaligus Kabupaten Musi Banyuasin tertunda hingga tahun 1954.
Berhubung pembentukan kabupaten terus semakin mendesak, dengan mengacu pada Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah (Mendagri) Nomor 2 Tahun 1951 dan dengan alasan demi kemajuan demokrasi dan revolusi makapara pemuka masyarakat, kalangan DPR dan Gubernur mengadakan musyawarah yang hasilnya dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 53 Tahun 1954, yang antara lain menetapkan agar segera menata Pemerintahan Marga yang maksudnya agar pemerintahan marga ini menjadi sendi dasar yang kokoh dari pemerintahan atasan dengan menggunakan hak otonomi menurut hukum asli. Hal ini memudahkan penyesuaian diri dengan pembentukan otonomi daerah sambil menunggu Undang Undang Nomor 22 Tahun 1948 yang sedang ditinjau kembali.
Ide untuk menata Pemerintah Marga sebagai daerah otonomi yang berhak mengurus diri sendiri itu, kelihatannya mendapat pengakuan Kolonial Belanda yang ditandai dengan dikeluarkannya Indis Gemente Ordonanti Buitinguresten (IGOB) Stl 1938 Nomor 490 yang mengatur keuangan Pemerintahan Marga. Berhubung penataan pemerintahan Marga sebagai daerah yang paling rendah menampakkan hasil yang positif, karena disamping dapat mengatur diri sendiri juga ditaati rakyat sehingga pemerintah marga terkesan lebih efektif dan dihormati oleh rakyat. Sambil menunggu Undang Undang Nomor 22 Tahun 1948 diberlakukan kembali, diadakan pembentukan desa percobaan sebagai pilot proyek daerah otonom yang lebih kecil, yaitu Desa Rantau Bayur pada tahun 1953.
Dalam upaya mewujudkan pelaksanaan pembentukan kabupaten otonom, sementara menunggu ketentuan lebih lanjut SK Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor 2 Tahun 1951 tanggal 25 Febuari 1951, Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera mengeluarkan Surat Instruksi Kebijasanaan Nomor: GB.30/ 1/1951 dan Surat Gubernur tanggal 10 Juli 1951 Nomor: D.P /9/ 1951 tentang persyaratan dan kriteria Pembentukan Kabupaten Daerah Otonom.
Sebagai realisasi kedua surat tersebut, Panitia Pembentukan Kabupaten Otonom (PPKO) mulai melaksanakan tugasnya. Sebagai dasar pembentukan kabupaten adalah wilayah kewedanaan dengan tolok ukur sebagai berikut:
- PENDUDUK YANG BERJUMLAH SEKITAR
300.000 JIWA,
- DAERAH PERTANIAN BAHAN MAKANAN
(BERAS) DAN HASIL BUMI EKSPOR,
- PUSAT-PUSAT PERDAGANGAN ATAU
PELABUHAN UNTUK EKSPOR-IMPOR,
- PERHUBUNGAN YANGSEDERHANA BAIK
JALAN DARAT MAUPUN AIR, DAN
- HUBUNGAN SEJARAH DAN PERTALIAN
DARAH ANTARA RAKYAT SETEMPAT.
C. Periode 1957-1965
Sebagai titik tolak kegiatan reformasi dan rekontruksi dibidang pemerintahan periode 1957-1965, adalah hasil Pemilihan Umum (Pemilu) yang pertama tahun 1955. Pelaksanaan Pemilu ini diharapkan mampu memperkokoh struktur politik disamping sebagai landasan dasar untuk melakukan penataan bidang pemerintahan sebagai peralihan dari sistem otokrasi birokrasi kepada sistem demokrasi yang berkedaulatan dan otonom.
Bagi Daerah Musi Banyuasin, sebelum terbentuknya kabupaten tidak dapat berbuat banyak untuk melaksanakan Perundang-undangan tersebut. Baru setelah terbentuk Kabupaten Musi lIir-Banyuasin pada tanggal 28 September 1956, berhasil melaksanakan tugas dengan terpilihnya R.Ahmad Abusamah sebagai Kepala Daerah, Zainal Abidin Nuh sebagai Bupati, dan Ki.H.Mursal dari Partai Masyumi sebagai Ketua DPR. Kemudian diperkokoh dengan Undang Undang Nomor:28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II dan Kot Praja di Sumatera Selatan.
Gagalnya Dewan Konstituante membentuk Undang Undang Pengganti UUD Sementara RIS, mengakibatkan dikeluarkanya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang isinya antara lain membubarkan Dewan Konstituante, dan memberlakukan kembali UUD 1945, dan menyatakan UUD Sementara RIS tidak berlaku lagi. Sebagai tindak lanjut peristiwa ini, semua produk hukum yang bersumber pada UUD Sementara RIS diadakan penyesuaian kembali, bahkan ada yang diganti dengan produk hukum yang bersumber pada UUD 1945. Sementara menunggu ketetapan lebih lanjut, demi kelangsungan roda pemerintahan di daerah maka dikeluarkan penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 tanggal 7 Nopember 1959 tentang Pemerintahan Daerah.
Pada Bab I Pasal l penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 ini disebutkan bahwa Pemerintahan Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan Perwakilan Rakyat Daerah. Oleh karena itu setelah penyesuaian penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959, kedudukan Kepala Daerah masih tetop dijabat R. Ahmad Abusamah, dan Sekretaris Daerah dijabat Abul Korry (Abdul Korry Marajib). Kemudian dikeluarkan pula penetapan Presiden Nomor 5 Tahun 1960 tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRDGR). Dengan maksud penetapan Presiden tersebut Ketua DPRDGR ditetapkan Ki.H. Oemar Mustafah dari Partai Nahdatul Ulama (NU) dan untuk Bupati Kepada Daerah dicalonkan 2 (dua) orang, yaitu Usman Bakar, calon dari Veteran Angkatan 45, dan R. Ahmad Abusamah dari Partai Nasional lndonesio IPNII. Dari hasil pemilihan ini terpilihlah Usman Bakar sebagai Kepala Daerah yang dilantik pada tahun 1961 bertempat di Balai Pertemuan Sekanak Palembang oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatam Kol.Pol. Ahmad Bastari.
Sesuai dengan isi Bab II Pasal 14 Ayat 1, Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959, bahwa Kepala Daerah adalah alat Pemerintah Pusat dan alat Pemerintah Daerah. Dengan demikian Kepala Daerah diubah menjadi Bupati Kepala Daerah yang dalam hal ini adalah Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Musi Banyuasin, disingkat dengan Daswati II Musi Banyuasin. Karena itu, Usman Bakar sebagai Bupati Kepala Daerah pada waktu serah terima, menerima dua jabatan yaitu sebagai Bupati serah terima dengan Bupati Zainal Abidin Nuh dan sebagai Kepala Daerah serah terima dengan R. Ahmad Abusamah.
Untuk membantu Bupati Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya, dibentuklah Badan Pemerintah Harian (BPH). Namun saat itu pembentukan BPH masih belum memungkinkan maka Bupati Kepala Daerah masih dibantu Dewan Pemerintah Daerah (DPD). Pada saat dilantiknya Usman Bakar sebagai Bupati Kepala Daerah Daswati II Musi Banyuasin, seluruh kantor pemerintahan masih berada di Kota Praja Palembang, kecuali Kantor Pekerjaan Umum dan Kesehatan yang telah berada di Sekayu. Hal ini disebabkan pada waktu pembentukan kabupetn otonom oleh PPKO, Kabupaten otonom Musi Banyuasin tergabung dalam Kabupaten Palembang Ilir di bawah Keresidenan Palembang. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Nomor: Des.52/2/37-34 tanggal 1 April 1963 secara resmi ditetapkan Sekayu sebagai Ibukota Kabupaten Daswati II Musi Banyuasin.
Kemudian masa jabatan Bupati Kepala Daerah Daswati II Musi Banyuasin (Usman Bakar) berakhir. Sementara menunggu pemilihan Bupati, ditunjuk M. Sohan sebagai Pejabat Bupati Kepala Daerah Daswati II Musi Banyuasin yang ditugaskan melaksanakan pemerintahan disamping melaksanakan pemilihan Bupati. Pada saat pemilihan terdapat 3 (tiga) orang calon yang dlpllih, yaitu Abdullah Awam dari ABRI/TNI AD, M.Suhud Umar dari Polri, dan Arbain dari Partai Sarikat lslam lndonesia (PSII). Dari pemilihan tersebut terpilihlah Abdullah Awam yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: UP.14/11/39-1992 tanggal 18 Desember 1965. Pada saat pemilihan Bupati Abdullah Awam, Ketua DPRD-GR masih dijabat Ki.H.Umar Mustofah dan kemudian pada masa jabatan Bupati yang sama, digantikan oleh Abusamah Sahamid dari PSII. Setelah itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: Pemda.7 /2/25/82 tanggal 3 Maret 1971 Bupati Abdullah Awam mengakhiri masa jabatannya yang kemudian digantikan oleh Syaibani Azwari periode 1971-1976 dengan Ketua DPRD-GR Abdullah Suin.
Selanjutnya masih dalam rangka penertiban struktur Pemerintah Daerah, diterbitkan Undang Undang Nomor: 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintah di Daerah. Dan sejak dikeluarkannya Undang Undang ini penyelenggaraan pemerintahan daerah semakin tertib dan efektif. Hal ini dikarenakan Undang Undang tersebut lebih menyentuh kepentingan Pemerintah Pusat dan Daerah dengan adanya azas Dekonsentrasi dan Desentralisasi serta azas Pembantuan. Dengan demikian kedudukan menjadi Kepala Daerah dalam menyelenggarakan Pemerintah Daerah dan sebagai alat Pemerintah Pusat di daerah semakin jelas, sehingga Bupati sebagai penguasa tunggal di daerah merupakan salah satu sarana koordinasi yang paling tepat untuk menyentuh persepsi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974, dilaksanakan pemilihan Bupati Kepala Daerah selama 5 tahun sekali demikian juga dengan pemilihan Ketua dan Wakil Wakil Ketua DPRD setiap usai Pemilu. Pelaksanaan UU tersebut mulai berjalan mantap sejak periode Bupati Kepala Daerah dijabat H.Amir Hamzah sampai dengan terpilihnya H. Nazom Nurhawi.
Adapun urutan Bupati Kepala Daerah berdasarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah sebagai berikut:
Pada masa otonomi daerah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 dan Undang-Undang 32 tahun 2004, telah dilaksanakan 2 kali pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih yaitu :
Pelaksanaan Pilkada langsung di Kab. Musi Banyuasin berjalan dengan tertib dan sukses dan diharapkan menjadi contoh untuk pelaksanaan pilkada langsung bagi daerah-daerah yangakan melaksanakan pilkada langsung.
Berdasarkan hasil kesepakatan anggota DPRD Muba, terpilih H. Sulgani Pakuali, S.IP sebagai ketua DPRD Kab. Musi Banyuasin periode 2004-2009 yang dilantik pada tanggal 27 Oktober 2004.




.jpg)
