Selasa, 02 Juni 2026
Topeng yang Runtuh di Balik Layar
Senin, 19 Januari 2026
Pelan-pelan Menemukan Jalan
Aku sempat takut pada hampir semua bagian dari tesis ini. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kutulis.
Ada masa ketika membuka file tesis saja membuat dadaku terasa berat. Bukan karena malas, tapi karena aku tahu, apa pun yang kutuliskan di sana akan menjadi sesuatu yang harus bisa kupeluk-secara ilmiah, secara etis, dan secara batin.
Aku khawatir pada data. Khawatir pada konsistensi.
Khawatir pada bagian-bagian yang tidak sepenuhnya rapi. Dan di balik semua itu, aku khawatir pada diriku sendiri, apakah aku cukup dewasa untuk menyelesaikan ini dengan jujur?
Hari ini aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi menenangkan. Bahwa kebingungan bukan tanda kegagalan. Ia sering kali adalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir dengan sungguh-sungguh.
Aku belajar untuk tidak lagi memaksa diriku melompat. Aku memilih duduk, membaca ulang, merapikan satu per satu. Bukan agar terlihat cepat, tapi agar bisa kupertanggungjawabkan.
Alhamdulillah, pelan-pelan jalannya mulai terlihat. Bukan jalan yang lurus. Tapi jalan yang cukup terang untuk satu langkah ke depan.
Untuk diriku sendiri, terima kasih. Terima kasih sudah tidak pergi saat rasanya berat. Terima kasih sudah memilih jujur daripada terburu-buru. Terima kasih sudah terus berjalan, meski sambil takut.
Mungkin inilah arti dewasa yang sedang kupelajari, bukan tentang selalu siap, tapi tentang tetap hadir ketika belum sepenuhnya yakin.
Dan hari ini, itu sudah cukup.
Jumat, 09 Januari 2026
Duduk, Mendengar, dan Tidak Selalu Harus Bergegas
Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute (HaKi) tanggal 6 Januari 2026 dengan niat yang sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan untuk Bukit Pendape. Tapi aku tahu, kalau aku datang hanya membawa kepala yang penuh rencana, aku mungkin tidak benar-benar hadir.
Aku memilih merujak bersama.
Setelah itu, aku ngopi dengan Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Dan justru di situ, banyak hal masuk ke dalam diriku tanpa perlu dipaksa.
Aku tidak bertanya untuk mencari rumus. Aku ingin mendengar cerita.
Dari ceritanya, aku belajar bahwa kerja pendampingan komunitas bukan tentang cepat atau rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha yang dilakukan tidak langsung terlihat hasilnya. Ada lelah yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.
Aku sadar, orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Mereka tidak tergesa-gesa, karena mereka tahu apa yang sedang mereka jaga.
Dan entah kenapa, itu menenangkanku.
Tentang batas, ruang aman, dan merawat diri
Ada beberapa kalimat yang terus terngiang setelah hari itu.
“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”
Kalimat-kalimat ini sederhana, tapi terasa seperti diucapkan tepat ke arahku. Aku mulai menyadari bahwa menjaga diri bukan berarti egois. Justru sebaliknya. Kalau aku ingin bertahan di kerja panjang, aku harus belajar berhenti sebelum lelahku berubah jadi pahit.
Ada juga obrolan tentang ruang.
“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku, atau mengerjakan hal lain.”
Aku tersenyum mendengarnya. Karena ternyata, bekerja dengan sadar itu tidak selalu tentang duduk rapi di meja kerja. Kadang justru hadir di kafe, dengan buku dan kopi, adalah bentuk paling jujur dari merawat fokus.
Tentang rasa sungkan dan keberanian untuk hadir
Di sela-sela cerita, Kak Heni bilang bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios. Katanya, banyak yang melihat beliau sebagai sosok yang mudah marah. Aku tidak tahu seberapa benar itu. Tapi aku tahu, persepsi saja sudah cukup untuk membuat orang menahan diri. Sejujurnya, aku tidak menganggap itu benar setelah aku banyak berinterkasi dengannya. Penuh kelembutan dan peka terhadap situasi sekitar dengan tindakan.
Di titik itu, aku sadar:
bukan hanya struktur yang membentuk sistem, tapi juga rasa aman.
Secara formal, ruang untuk menyampaikan ide ada. Kak Heni sebenarnya bisa duduk di ruang manajer kampanye, mengusulkan gagasan, berbagi perspektif lapangan. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya.
Ide tidak selalu berhenti karena tidak ada. Kadang ia berhenti karena takut salah tempat.
Dan aku merasa, ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita semua membawa cerita, pengalaman, dan luka kecil ke dalam ruang kerja.
Dari mana kita bergerak
Semakin aku merenung, semakin aku sadar: setiap orang bergerak dari tempat yang berbeda.
Ada yang bergerak dari tanggung jawab dan kewajiban.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang dan kesabaran.
Ada yang bergerak dari pertanyaan dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari lelah, hati-hati, dan keinginan untuk aman.
Tidak ada yang salah. Semuanya manusia.
Dan mungkin, perubahan tidak akan pernah lahir dari memaksa semua orang sama. Tapi dari kesediaan untuk saling mengenali dari mana masing-masing bergerak.
Yang akhirnya aku pahami
Hari itu tidak memberiku jawaban tentang Bukit Pendape. Tapi ia memberiku sesuatu yang lebih penting: cara hadir.
Aku belajar bahwa sebelum ingin mengubah sistem, aku perlu belajar duduk di dalamnya. Mendengar tanpa terburu-buru. Menahan keinginan untuk segera merapikan. Mengizinkan proses berjalan pelan.
Tulisan ini aku buat bukan untuk menyimpulkan. Tapi untuk menandai:
aku sedang belajar.
Belajar menjaga ritme.
Belajar membuat batas.
Belajar hadir tanpa harus selalu kuat.
Dan mungkin, di situlah perubahanku—dan perubahan sistem—pelan-pelan dimulai.
Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran
Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran
Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute pada 6 Januari 2026 dengan niat yang sebenarnya sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan yang bisa digunakan untuk inisiatif Bukit Pendape. Tapi aku tidak ingin datang membawa daftar pertanyaan kaku atau proposal yang sudah rapi. Aku memilih merujak bersama.
Dari situ, proses sensing justru mulai bekerja.
Setelah dari kantor, aku melanjutkan waktu dengan ngopi bersama Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Aku bertanya sedikit tentang pengalamannya di kerja community development, bukan untuk mencari rumus, tapi untuk mendengar cerita.
Dari cerita-cerita itu, aku mulai menyadari satu hal penting: kerja perubahan sistem bukan tentang bergerak cepat atau terlihat rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha tidak langsung terlihat hasilnya. Ada kelelahan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.
Aku belajar bahwa orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Dari sini aku mulai memahami bahwa sistem bukan hanya struktur dan aktor, tapi juga ritme manusia di dalamnya.
Tentang batas, ruang aman, dan cara hadir
Dari berbagai percakapan, muncul banyak kalimat sederhana yang justru terasa dalam:
“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”
Kalimat-kalimat ini membuatku sadar bahwa keberlanjutan sistem sangat bergantung pada keberlanjutan individu. Dalam kerangka systems thinking, ini terasa jelas: sistem yang kelelahan tidak akan mampu menciptakan perubahan yang sehat.
Aku juga menangkap betapa pentingnya ruang.
“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku atau mengerjakan hal lain.”
Ini terlihat sepele, tapi sebenarnya menunjukkan kualitas kesadaran. Ruang fisik, jeda, dan suasana ternyata bagian dari sistem kerja. Sistem tidak hanya hidup di rapat dan dokumen, tapi juga di kopi, keheningan, dan percakapan tanpa agenda.
Mental model dan dinamika kuasa yang bekerja
Dalam proses sensing, aku juga mulai melihat lapisan yang tidak kasat mata. Kak Heni bercerita bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios, yang menurut persepsi umum punya citra sebagai sosok yang mudah marah. Terlepas dari benar atau tidaknya, persepsi ini membentuk batas psikologis.
Di sini aku belajar tentang mental model dan power dynamics.
Bukan hanya soal jabatan, tapi soal rasa aman.
Secara struktural, ruang lintas peran sebenarnya ada. Kak Heni, misalnya, bisa duduk di ruang manajer kampanye bersama Bang Adios untuk menyampaikan ide. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya. Ide tertahan bukan karena tidak ada, tapi karena ada kehati-hatian, asumsi, dan pengalaman masa lalu yang belum selesai.
Dalam Theory U, aku melihat sistem ini masih sering bergerak di tahap downloading—bertindak berdasarkan asumsi lama dan cerita yang sudah beredar. Proses sensing membantuku melihat pola ini tanpa menyalahkan siapa pun.
Source: dari mana orang bergerak
Aku juga mulai menyadari bahwa setiap orang bergerak dari source yang berbeda.
Ada yang bergerak dari tanggung jawab struktural dan menjaga stabilitas.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang di lapangan dan pendampingan komunitas.
Ada yang bergerak dari pemikiran kritis, pertanyaan, dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari kelelahan, kehati-hatian emosional, dan kebutuhan untuk aman.
Semua ini hidup bersamaan dalam satu sistem.
Theory U membantuku memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya mengatur struktur, tanpa menyentuh source tempat orang berangkat. Dan sensing adalah latihan untuk mengenali source itu—pada orang lain, dan juga pada diriku sendiri.
Apa artinya semua ini bagiku?
Pelan-pelan aku sampai pada satu kesadaran:
Jika ingin terlibat dalam perubahan sistem seperti Bukit Pendape, langkah pertamanya bukan memperbaiki sistem, tapi belajar hadir di dalam sistem dengan lebih sadar.
Belajar mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Belajar memahami bahwa tidak semua orang berada di ritme yang sama.
Belajar menerima bahwa perubahan sistem adalah kerja panjang, yang membutuhkan empati, batas diri, dan ruang aman.
Tulisan ini bukan penutup. Justru ini penanda bahwa proses belajarku sedang berjalan. Dengan menuliskannya, aku bisa melihat bahwa ada progres—bukan dalam bentuk capaian besar, tapi dalam cara berpikir, merasakan, dan hadir yang perlahan berubah.
Dan mungkin, di situlah perubahan sistem sebenarnya dimulai.
Minggu, 02 Februari 2025
My research about Coffee with Extract Crude Cathecine Gambir]
Sabtu, 05 Oktober 2024
Setiap Hari Rutin Membaca Al-Quran
Selasa, 20 Agustus 2024
Industri Pangan Sehat dan Berkelanjutan - Minggu ke-2]
Hari ini, saya mengikuti kuliah tentang Industri Pangan Sehat dan Berkelanjutan. Diskusi hari ini membahas berbagai aspek industri pangan, termasuk pentingnya ekonomi sirkular dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Selama berjalannya kelas, saya sangat bersyukur sekali dapat mengambil mata kuliah ini. Allhamdulillah.
Salah satu poin utama yang dibahas adalah bagaimana setiap tahap dalam rantai produksi pangan, mulai dari produksi sampai ke konsumsi: memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Implementasi ekonomi sirkular dalam industri pangan dapat membantu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang. Masyaa allah ya, masyaa allah.
Topik kuliah hari ini sangat relevan dengan prinsip kehidupan sehari-hari saya dan tugas saya di Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Pusat Unggulan Komoditi Lestari, tentang pengembangan praktik pertanian yang berkelanjutan dan mendukung kesejahteraan komunitas lokal melalui pendekatan yang holistik dan kolaboratif.
Saya sangat bersemangat mengikuti kelas-kelas selanjutnya, bismillah bisa menerapkan pengetahuan ini dalam kegiatan kami dan terus berkontribusi pada transformasi sistem pangan yang lebih baik. 🌱🌍 Sehat selalu Ibu Nura 🤗
Allhamdulillah, mudah-mudahan Allah mudahkan jalan kita semua ya. Aamiin. Semangat!
#Sustainability #FoodIndustry #CircularEconomy #LingkarTemuKabupatenLestari #PusatUnggulanKomoditiLestari #KetahananPangan #Keberlanjutan

