Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Knowledge. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2026

Topeng yang Runtuh di Balik Layar

​Pagi itu, di depanku, layar laptop menunjukkan wajah Uda Desriko melalui Google Meeting. Aku sudah menyiapkan script sempurna, sebuah pertunjukan satu babak berjudul "Novi yang Mandiri dan Terkendali". Aku mengenakan kemeja rapi, duduk tegak, dan sudah menyiapkan daftar progres tesis, tentang kopi gambir, tentang antioksidan, dan revisi metode, agar aku tampak profesional.

​Namun, di balik layar itu, ada aku yang lain. Aku yang sebenarnya sedang terkuras habis oleh ketidakpastian. Aku yang selama berbulan-bulan menaruh harap pada seseorang yang bahkan tidak pernah bertanya, "Apa kendalamu?" Saat Uda bertanya, "Novi, ada kendala apa saja?" awalnya aku bicara dengan intonasi yang terukur. Tapi ketika dia melontarkan pertanyaan yang menusuk tepat ke jantung permasalahan "Apa yang menantang dari proses ini? Mengapa merasa stuck?" nada bicaraku mendadak serak. Suara kipas laptop yang biasanya tidak mengganggu, tiba-tiba terdengar nyaring di tengah hening yang mencekam.

​Pertanyaan itu bukan lagi tentang tesis. Itu adalah kunci yang membuka pintu yang sudah kututup rapat-rapat.

​Saat aku mencoba menjawab, bibirku bergetar. Aku berusaha menahan napas, tapi mataku sudah mulai panas. Armor yang kubangun, topeng "perempuan kuat" yang kubawa setiap hari, akhirnya runtuh total. Air mata yang sejak tadi kusembunyikan di balik senyum tipis, akhirnya tumpah begitu saja di depan kamera yang ku tutup. 

​Aku menangis sejadi-jadinya. Di depan layar itu, aku tidak lagi peduli dengan penampilanku. Aku menangis bukan karena tesis itu sulit, tapi karena aku lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku lelah memikul beban "harus kuat" sendirian, sementara di luar sana, hatiku terus-menerus mencari validasi pada seseorang yang tak pernah memberikannya.

​Uda tetap tenang, mendengarkan, dan memberikan ruang yang sangat aman. Di sela isak tangis itu, aku menyuarakan kebenaran yang pahit namun melegakan bahwa "Ternyata S2 bukan cuma soal eksplor ilmu, Uda. Tapi soal mengenal diri sendiri. Dan sepertinya, aku belum selesai dengan diriku sendiri."

​Saat aku menutup sesi Google Meeting, ruangan itu terasa sepi, tapi dadaku terasa jauh lebih ringan. Aku sadar, selama ini aku mencari perhatian di tempat yang salah.

​Malam selanjutnya, aku berjanji, jam 03.00 pagi, aku menekan tombol send untuk tesisku. Bukan lagi dengan rasa takut akan kegagalan, tapi dengan rasa lega yang luar biasa. Aku tahu, tesis ini tidak sesulit itu jika dikerjakan. Dan aku tahu satu hal lagi bahwa menjadi rapuh bukan berarti aku kalah. Ternyata, ini adalah momen di mana aku akhirnya memenangkan diriku kembali.

Senin, 19 Januari 2026

Pelan-pelan Menemukan Jalan


Aku sempat takut pada hampir semua bagian dari tesis ini. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kutulis.

Ada masa ketika membuka file tesis saja membuat dadaku terasa berat. Bukan karena malas, tapi karena aku tahu, apa pun yang kutuliskan di sana akan menjadi sesuatu yang harus bisa kupeluk-secara ilmiah, secara etis, dan secara batin.

Aku khawatir pada data. Khawatir pada konsistensi.

Khawatir pada bagian-bagian yang tidak sepenuhnya rapi. Dan di balik semua itu, aku khawatir pada diriku sendiri, apakah aku cukup dewasa untuk menyelesaikan ini dengan jujur?

Hari ini aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi menenangkan. Bahwa kebingungan bukan tanda kegagalan. Ia sering kali adalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir dengan sungguh-sungguh.

Aku belajar untuk tidak lagi memaksa diriku melompat. Aku memilih duduk, membaca ulang, merapikan satu per satu. Bukan agar terlihat cepat, tapi agar bisa kupertanggungjawabkan.

Alhamdulillah, pelan-pelan jalannya mulai terlihat. Bukan jalan yang lurus. Tapi jalan yang cukup terang untuk satu langkah ke depan.

Untuk diriku sendiri, terima kasih. Terima kasih sudah tidak pergi saat rasanya berat. Terima kasih sudah memilih jujur daripada terburu-buru. Terima kasih sudah terus berjalan, meski sambil takut.

Mungkin inilah arti dewasa yang sedang kupelajari, bukan tentang selalu siap, tapi tentang tetap hadir ketika belum sepenuhnya yakin.

Dan hari ini, itu sudah cukup.

Jumat, 09 Januari 2026

Duduk, Mendengar, dan Tidak Selalu Harus Bergegas

 


Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute (HaKi) tanggal 6 Januari 2026 dengan niat yang sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan untuk Bukit Pendape. Tapi aku tahu, kalau aku datang hanya membawa kepala yang penuh rencana, aku mungkin tidak benar-benar hadir.

Aku memilih merujak bersama.

Setelah itu, aku ngopi dengan Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Dan justru di situ, banyak hal masuk ke dalam diriku tanpa perlu dipaksa.

Aku tidak bertanya untuk mencari rumus. Aku ingin mendengar cerita.

Dari ceritanya, aku belajar bahwa kerja pendampingan komunitas bukan tentang cepat atau rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha yang dilakukan tidak langsung terlihat hasilnya. Ada lelah yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.

Aku sadar, orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Mereka tidak tergesa-gesa, karena mereka tahu apa yang sedang mereka jaga.

Dan entah kenapa, itu menenangkanku.

Tentang batas, ruang aman, dan merawat diri

Ada beberapa kalimat yang terus terngiang setelah hari itu.

“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”

Kalimat-kalimat ini sederhana, tapi terasa seperti diucapkan tepat ke arahku. Aku mulai menyadari bahwa menjaga diri bukan berarti egois. Justru sebaliknya. Kalau aku ingin bertahan di kerja panjang, aku harus belajar berhenti sebelum lelahku berubah jadi pahit.

Ada juga obrolan tentang ruang.

“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku, atau mengerjakan hal lain.”

Aku tersenyum mendengarnya. Karena ternyata, bekerja dengan sadar itu tidak selalu tentang duduk rapi di meja kerja. Kadang justru hadir di kafe, dengan buku dan kopi, adalah bentuk paling jujur dari merawat fokus.

Tentang rasa sungkan dan keberanian untuk hadir

Di sela-sela cerita, Kak Heni bilang bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios. Katanya, banyak yang melihat beliau sebagai sosok yang mudah marah. Aku tidak tahu seberapa benar itu. Tapi aku tahu, persepsi saja sudah cukup untuk membuat orang menahan diri. Sejujurnya, aku tidak menganggap itu benar setelah aku banyak berinterkasi dengannya. Penuh kelembutan dan peka terhadap situasi sekitar dengan tindakan.

Di titik itu, aku sadar:
bukan hanya struktur yang membentuk sistem, tapi juga rasa aman.

Secara formal, ruang untuk menyampaikan ide ada. Kak Heni sebenarnya bisa duduk di ruang manajer kampanye, mengusulkan gagasan, berbagi perspektif lapangan. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya.

Ide tidak selalu berhenti karena tidak ada. Kadang ia berhenti karena takut salah tempat.

Dan aku merasa, ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita semua membawa cerita, pengalaman, dan luka kecil ke dalam ruang kerja.

Dari mana kita bergerak

Semakin aku merenung, semakin aku sadar: setiap orang bergerak dari tempat yang berbeda.

Ada yang bergerak dari tanggung jawab dan kewajiban.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang dan kesabaran.
Ada yang bergerak dari pertanyaan dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari lelah, hati-hati, dan keinginan untuk aman.

Tidak ada yang salah. Semuanya manusia.

Dan mungkin, perubahan tidak akan pernah lahir dari memaksa semua orang sama. Tapi dari kesediaan untuk saling mengenali dari mana masing-masing bergerak.

Yang akhirnya aku pahami

Hari itu tidak memberiku jawaban tentang Bukit Pendape. Tapi ia memberiku sesuatu yang lebih penting: cara hadir.

Aku belajar bahwa sebelum ingin mengubah sistem, aku perlu belajar duduk di dalamnya. Mendengar tanpa terburu-buru. Menahan keinginan untuk segera merapikan. Mengizinkan proses berjalan pelan.

Tulisan ini aku buat bukan untuk menyimpulkan. Tapi untuk menandai:
aku sedang belajar.

Belajar menjaga ritme.
Belajar membuat batas.
Belajar hadir tanpa harus selalu kuat.

Dan mungkin, di situlah perubahanku—dan perubahan sistem—pelan-pelan dimulai.

Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran


Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran

Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute pada 6 Januari 2026 dengan niat yang sebenarnya sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan yang bisa digunakan untuk inisiatif Bukit Pendape. Tapi aku tidak ingin datang membawa daftar pertanyaan kaku atau proposal yang sudah rapi. Aku memilih merujak bersama.

Dari situ, proses sensing justru mulai bekerja.

Setelah dari kantor, aku melanjutkan waktu dengan ngopi bersama Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Aku bertanya sedikit tentang pengalamannya di kerja community development, bukan untuk mencari rumus, tapi untuk mendengar cerita.

Dari cerita-cerita itu, aku mulai menyadari satu hal penting: kerja perubahan sistem bukan tentang bergerak cepat atau terlihat rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha tidak langsung terlihat hasilnya. Ada kelelahan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.

Aku belajar bahwa orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Dari sini aku mulai memahami bahwa sistem bukan hanya struktur dan aktor, tapi juga ritme manusia di dalamnya.

Tentang batas, ruang aman, dan cara hadir

Dari berbagai percakapan, muncul banyak kalimat sederhana yang justru terasa dalam:

“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”

Kalimat-kalimat ini membuatku sadar bahwa keberlanjutan sistem sangat bergantung pada keberlanjutan individu. Dalam kerangka systems thinking, ini terasa jelas: sistem yang kelelahan tidak akan mampu menciptakan perubahan yang sehat.

Aku juga menangkap betapa pentingnya ruang.
“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku atau mengerjakan hal lain.”

Ini terlihat sepele, tapi sebenarnya menunjukkan kualitas kesadaran. Ruang fisik, jeda, dan suasana ternyata bagian dari sistem kerja. Sistem tidak hanya hidup di rapat dan dokumen, tapi juga di kopi, keheningan, dan percakapan tanpa agenda.

Mental model dan dinamika kuasa yang bekerja

Dalam proses sensing, aku juga mulai melihat lapisan yang tidak kasat mata. Kak Heni bercerita bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios, yang menurut persepsi umum punya citra sebagai sosok yang mudah marah. Terlepas dari benar atau tidaknya, persepsi ini membentuk batas psikologis.

Di sini aku belajar tentang mental model dan power dynamics.
Bukan hanya soal jabatan, tapi soal rasa aman.

Secara struktural, ruang lintas peran sebenarnya ada. Kak Heni, misalnya, bisa duduk di ruang manajer kampanye bersama Bang Adios untuk menyampaikan ide. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya. Ide tertahan bukan karena tidak ada, tapi karena ada kehati-hatian, asumsi, dan pengalaman masa lalu yang belum selesai.

Dalam Theory U, aku melihat sistem ini masih sering bergerak di tahap downloading—bertindak berdasarkan asumsi lama dan cerita yang sudah beredar. Proses sensing membantuku melihat pola ini tanpa menyalahkan siapa pun.

Source: dari mana orang bergerak

Aku juga mulai menyadari bahwa setiap orang bergerak dari source yang berbeda.
Ada yang bergerak dari tanggung jawab struktural dan menjaga stabilitas.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang di lapangan dan pendampingan komunitas.
Ada yang bergerak dari pemikiran kritis, pertanyaan, dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari kelelahan, kehati-hatian emosional, dan kebutuhan untuk aman.

Semua ini hidup bersamaan dalam satu sistem.

Theory U membantuku memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya mengatur struktur, tanpa menyentuh source tempat orang berangkat. Dan sensing adalah latihan untuk mengenali source itu—pada orang lain, dan juga pada diriku sendiri.

Apa artinya semua ini bagiku?

Pelan-pelan aku sampai pada satu kesadaran:
Jika ingin terlibat dalam perubahan sistem seperti Bukit Pendape, langkah pertamanya bukan memperbaiki sistem, tapi belajar hadir di dalam sistem dengan lebih sadar.

Belajar mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.
Belajar memahami bahwa tidak semua orang berada di ritme yang sama.
Belajar menerima bahwa perubahan sistem adalah kerja panjang, yang membutuhkan empati, batas diri, dan ruang aman.

Tulisan ini bukan penutup. Justru ini penanda bahwa proses belajarku sedang berjalan. Dengan menuliskannya, aku bisa melihat bahwa ada progres—bukan dalam bentuk capaian besar, tapi dalam cara berpikir, merasakan, dan hadir yang perlahan berubah.

Dan mungkin, di situlah perubahan sistem sebenarnya dimulai.

Jejak Pertama di Sembilang: Catatan Perjalanan ke Rumah TN

Minggu, 02 Februari 2025

My research about Coffee with Extract Crude Cathecine Gambir]

Here is my commitment to myself this year, after long time I lost my self into it, now I am back. I am grateful to my advisors, and all the people that supports me: they guide me to be here. I am going to make it and I am ready:

My thesis is about enhancing the added value of Robusta coffee from Pagar Alam using different fermentation methods and adding gambir crude catechin extract. 

It is Robusta coffee (Coffea canephora) from Pagar Alam. I cover the general background of Robusta coffee, its characteristics, and what makes Pagar Alam's coffee unique. My advisr said to include its economic importance and current challenges in adding value.

It is also about the fermentation methods in coffee processing. Different techniques like natural, washed, honey, anaerobic, and controlled fermentations. I just know it about this method. How interesting it is! 

Then, we will add gambir crude catechin extract. Gambir is an endemic plant from my regency, Musi Banyuasin. It is in Toman Village exactly. It is because we will use the main component of it, especially catechins. It is because of their antioxidant properties so it can improve coffee quality. 

The combination of fermentation and catechin addition might be interact synergistically. I hope it will be benefit for me and for all of the people.

Bismillah, bismillah, bismillah! 
Pray for me please! 

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Is there any reward for good other than good? (QS. Ar-Rahman: 60)

Sincerely, 
Nov

Source: 1 2

Sabtu, 05 Oktober 2024

Setiap Hari Rutin Membaca Al-Quran


Jadikanlah Al-Quran kebutuhan harian kita
Jika tidak makan dan minum sehari
Badan menjadi lemah
Demikian jika tidak membaca Al-Quran sehari
Bisa jadi hati dan jiwa menjadi lemah
Hati menjadi keras, mudah marah, mengeluh dan selalu miskin
Tidak qana'ah dan bersemangat menjalani hari
Tidak tersentuh dengan kebaikan dan hidayah

Sungguh benar khabar bahwa Al-Quran akan ditinggalkan

Allah berfirman,

 ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺇِﻥَّ ﻗَﻮْﻣِﻲ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﻬْﺠُﻮﺭﺍً 

“Berkatalah Rasul: "Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN". (Al Furqan: 30)

Bacalah Al-Quran beberapa juz sehari
Jika tidak mampu, beberapa halaman
Jika tidak mampu, setengah halaman
Jika tidak mampu, beberapa ayat
Jika tidak mampu, mohon ampun kepada Allah
Maksiat yang banyak telah mengeraskan hati
Cinta dunia telah melalaikan akhirat

Waktu itu selalu ada,
Setelah shalat subuh
Setelah magrib
Dalam perjalanan ke kantor
Ketika menunggu dan mengantri
Bukan banyak bacaan yang menjadi utama
Akan tetapi istiqamah setiap hari membaca
Walaupun hanya beberapa ayat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

 ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺣَﺐَّ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎﺩَﺍﻡَ ﻭَﺇِﻥْ ﻗَﻞَّ

" Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus (istiqamah) walaupun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)

Al-Quran adalah penyembuh penyakit fisik dan jiwa
Kuatkan hati dengan Al-Quran setiap hari

Allah berfirman

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan jiwa. Beliau berkata

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur” (Tafsir Adhwaul Bayan).

Demikian semoga bermanfaat

@ Kota Kudus, Jawa Tengah
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Selasa, 20 Agustus 2024

Industri Pangan Sehat dan Berkelanjutan - Minggu ke-2]


Hari ini, saya mengikuti kuliah tentang Industri Pangan Sehat dan Berkelanjutan. Diskusi hari ini membahas berbagai aspek industri pangan, termasuk pentingnya ekonomi sirkular dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Selama berjalannya kelas, saya sangat bersyukur sekali dapat mengambil mata kuliah ini. Allhamdulillah.

Salah satu poin utama yang dibahas adalah bagaimana setiap tahap dalam rantai produksi pangan, mulai dari produksi sampai ke konsumsi: memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Implementasi ekonomi sirkular dalam industri pangan dapat membantu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang. Masyaa allah ya, masyaa allah.

Topik kuliah hari ini sangat relevan dengan prinsip kehidupan sehari-hari saya dan tugas saya di Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan Pusat Unggulan Komoditi Lestari, tentang pengembangan praktik pertanian yang berkelanjutan dan mendukung kesejahteraan komunitas lokal melalui pendekatan yang holistik dan kolaboratif.

Saya sangat bersemangat mengikuti kelas-kelas selanjutnya, bismillah bisa menerapkan pengetahuan  ini dalam kegiatan kami dan terus berkontribusi pada transformasi sistem pangan yang lebih baik. 🌱🌍 Sehat selalu Ibu Nura 🤗

Allhamdulillah, mudah-mudahan Allah mudahkan jalan kita semua ya. Aamiin. Semangat! 

#Sustainability #FoodIndustry #CircularEconomy #LingkarTemuKabupatenLestari #PusatUnggulanKomoditiLestari #KetahananPangan #Keberlanjutan