Rabu, 26 Agustus 2026

Ketika Satu Orang Menunjukkan, dan Satu Orang Lagi Ingin Mendengar


Aku baru sadar ada satu pola yang terus berulang. Bukan cuma di hubungan ini. Mungkin juga di banyak hubungan sebelumnya. Aku sering merasa ingin mendengar. Sementara dia lebih sering menunjukkan.

Awalnya aku pikir itu soal perhatian. Kalau dia sayang, kenapa tidak bilang? Kalau dia kangen, kenapa tidak menghubungi? Kalau dia peduli, kenapa diam?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering datang saat layar ponsel tidak menyala dan pesan terakhirku menggantung tanpa jawaban. Lucunya, kalau dipikir lagi, ternnyta banyak bukti yang menunjukkan hal sebaliknya.

Dia mengirimkan barang titipan. Dia mengingat hal-hal yang perlu diurus. Dia memberi kabar ketika sudah sampai. Dia pulang setelah perjalanan jauh lalu mengabari. Dia muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hanya saja tidak selalu dalam bentuk kata-kata. Sementara aku... Aku adalah orang yang menganggap kata-kata sebagai rumah. Aku suka mendengar. Aku suka percakapan panjang yang berkelok. Aku suka tahu seseorang sedang apa, memikirkan apa, merasakan apa. Aku bisa merasa dekat hanya karena satu pesan sederhana:

"Aku lagi kerja."

"Aku sampai nanti malam."

"Aku capek hari ini."

Bukan karena isi informasinya penting. Tapi karena aku bisa merasakan keberadaannya. Lalu suatu hari aku refleksj sesuatu yang membuatku sedikit terdiam. Mungkin selama ini aku tidak sedang berhadapan dengan orang yang tidak peduli. Aku hanya sedang berhadapan dengan orang yang menggunakan bahasa yang berbeda.

Saat aku mengirim banyak pesan karena ingin terhubung, mungkin yang dia lihat hanyalah seseorang yang sedang ingin berbicara. Saat dia diam karena bekerja atau lelah, mungkin yang dia rasakan hanyalah seseorang yang sedang fokus menjalani harinya.

Masalahnya muncul ketika diam mulai diterjemahkan. Aku menerjemahkan diam sebagai jarak. Dia menerjemahkan diam sebagai biasa saja. Aku menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai ketidakpastian..Dia menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai sedang sibuk. Aku menerjemahkan kata-kata sebagai kedekatan. Dia menerjemahkan tindakan sebagai kedekatan.

Tiba-tiba aku teringat masa kecil. Ada masa ketika aku bermain di luar rumah lalu pulang dengan semangat ingin bertemu seseorang yang kusayang. Ternyata orang itu sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa sempat bilang kapan akan kembali. Besok. Bulan depan. Tahun depan. Aku tidak tahu.

Mungkin sejak saat itu aku belajar bahwa ketidaktahuan terasa menakutkan. Bukan perginya yang paling menyakitkan, tapi tidak tahu. Tidak tahu kapan kembali. Tidak tahu apakah akan kembali. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini kabar sederhana bisa terasa begitu menenangkan.

Sebuah pesan pendek bisa mengubah banyak hal. Bukan karena pesan itu menyelesaikan masalah. Tapi karena pesan itu membuatku tidak perlu menebak-nebak. Dan mungkin, pelajaran terbesarku bukanlah membuat orang lain berubah menjadi lebih banyak bicara. Tapi belajar melihat cinta dalam bentuk yang tidak selalu kukenal.

Kadang cinta datang sebagai percakapan panjang sampai tengah malam. Kadang cinta datang sebagai seseorang yang tiba-tiba berkata:

"Alhamdulillah, baru sampai pulang lagi."

Kalimatnya sederhana. Tidak puitis. Tidak romantis. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di balik kalimat itu ada sesuatu yang lebih penting. Dia pulang..Dan dia ingat untuk memberi tahu. Barangkali hubungan memang sering kali bukan soal menemukan orang yang persis sama. Tapi belajar menerjemahkan bahasa yang berbeda tanpa buru-buru menganggap salah satunya kurang mencintai.

Sabtu, 22 Agustus 2026

"Abang mau ke Jambi"


Hari Senin kami ada membahas tentang pertemuan, bahwa mungkin Sabtu saja ke Palembang.  Ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya. Aku belum tahu bagaimana tepatnya, tapi setidaknya ada kemungkinan itu. Tapi, kemarin Jum'at kami tidak membahasnya, jadi aku belum ke Palembang.  Lalu, datang sebuah pesan, di antara pesan tentang pakaian dan map SPPD, muncul kabar:

“Abg mau ke Jambi, takut kececer barang-barang yang ada di abg.”

Aku membaca kalimat itu dan langsung berpikir, "Jambi?"

Aku belum bertemu dia. Aku bahkan belum tahu rencana itu.

“Kapan ke Jambi?”

Lalu, “Belum ketemu aku sayang…”

Aku sebenarnya ingin bertemu sebelum dia pergi. Kalau aku tahu dari semalam, mungkin aku bisa mengatur perjalanan ke Palembang dengan berbeda. Mungkin bisa menyempatkan diri bertemu dulu. Aku bilang kepadanya, “Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ketemu sayang.”

Ada rasa kesal kecil karena kabar itu datang terlambat. Bukan kesal karena dia pergi. Aku tahu dia punya pekerjaan dan urusannya sendiri. Aku hanya ingin diberi tahu. Karena kalau aku tahu, aku bisa membuat pilihanku sendiri. Mungkin aku akan tetap di rumah. Mungkin aku akan pergi ke Palembang. Mungkin aku akan mengejar waktu sebentar hanya untuk bertemu.  Tapi aku ingin punya kesempatan untuk memilih.

Sore harinya, ketika balasannya belum juga datang, aku mulai memanggil.

“Sayang…”

“Kalau udah agak lega mau chat yaa sayang.”

“Sayang apa udah di jalan ke Jambi?”

“Sayaang……”

Beberapa menit kemudian aku mengirim pertanyaan yang sebenarnya lebih besar dari sekadar perjalanan, 

“Apa yang harus aku lakukan kalau sayang lagi mode kerja? Apa kalau aku chat sayang terganggu nggak?”

Aku sedang mencoba memahami ritmenya. Lalu satu kalimat keluar tanpa banyak dipikirkan, 

“Sayang maaf ya, aku lagi mode siaga ditinggal.”

Aku baru sadar betapa jujurnya kalimat itu setelah terkirim. Ternyata aku bukan cuma sedang menunggu kabar tentang Jambi. Aku sedang menunggu kepastian bahwa orang yang ingin kutemui itu masih punya tempat untukku di dalam harinya.

Aku menatap layar ponsel. Rencana ke Palembang masih ada. Jambi juga masih ada. Dan di antara dua kota itu, ada satu pertemuan yang belum sempat terjadi.

Baju, Map Merah dan Kabar yang Datang Terlambat

Baju, Map Merah, dan Kabar yang Datang Terlambat


Jam 14.49, sebuah pesan masuk.

“Ini pakaian adek dan ado map berkas SPPD, tlg kasihkan Ali yg map merah SPPD yo.”

Aku membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali.

“Hm.”

Itu balasanku. Di kepalaku sudah ada rencana lain. Katanya hari ini aku mau ke Palembang. Kami belum ketemu. Pakaian bisa nanti saja.

“Nanti kan mau ketemu?”

Beberapa menit kemudian baru aku tahu: dia mau ke Jambi. Aku langsung bertanya:

“Kapan ke Jambi? Belum ketemu aku sayang…”

Aku sebenarnya sudah punya rencana ke Palembang hari itu. Kalau tahu sejak semalam bahwa dia akan pergi ke Jambi, mungkin aku bisa mengatur waktu sedikit berbeda.

Setidaknya aku bisa bertemu dulu. Setidaknya aku bisa bercengkarama dengannya. 

“Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ngobrol sayang, padahal katanya hari ini mau ke Palembang, tapi semalam belum sempat ngomong.”

Lalu aku sadar, ada satu hal lain yang sebenarnya ingin kukatakan. Bukan soal Jambi. Aku ingin tahu kesehariannya. Aku ingin tahu kalau dia punya rencana pergi. Bukan supaya aku bisa mengawasi, tapi supaya aku punya kesempatan untuk hadir.

Aku akhirnya menulis:

“Boleh nggak aku minta tolong kalau sayang ada rencana pergi, aku dikasih tahu yaa.”

Lalu buru-buru kutambahkan: 

“Eh ini dikasih tahu yaa. Hahaha.”

Aku tidak ingin terdengar seperti sedang membuat aturan. Aku cuma ingin dilibatkan. Aku melihat lagi barang-barang yang ada di depanku. Baju. Map SPPD.

Tadi aku sempat keringetan menerima kiriman itu. Ada sesuatu dari menerima barang milik orang lain yang membuatku gugup. Setelah melihat map merah dan memahami urusannya, pikiranku berubah. Oh. Dia percaya aku. Ada sesuatu yang dia titipkan kepadaku.

Aku mengetik:

“Terima kasih yaa sayang sudah percaya aku.”

Setelah itu aku masih kangen. Tentu saja. Tapi sekarang aku tahu satu hal bahwa kalau aku tahu lebih awal, mungkin aku bisa datang. Bukan untuk melakukan sesuatu yang besar. Cuma bertemu sebelum dia pergi. Cuma ngobrol, diskusi. 

Kadang yang membuat kita sedih bukan karena seseorang pergi..Tapi karena kita baru tahu setelah kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan hampir lewat.

Oo, brp

Jumat, 21 Agustus 2026

Aku Nangis Lagi di Farewell LTKL


Aku kira aku sudah selesai nangis. Hehe Bulan ini kayaknya sudah terlalu sering ngomongin LTKL. Exit interview nangis. Ngobrol sama orang nangis. Cerita di rumah nangis. Terus kemarin farewell.

Nangis lagi. Padahal sebelum mulai aku sudah bilang dalam hati, “Oke Novi, tenang. Jangan nangis.”

Terus Kak Giza bilang, “Ya mungkin mau ngobrol-ngobrol aja sama Novi, Eka, Ayu, Mas Umar… bisa sharing dari Novi dulu…”

Aku masih santai. “Oke.” Terus mulai ngomong.

“Terima kasih sebelumnya udah meluangkan waktu…”

Aman. “Jadi untuk minggu ini…”

Masih aman.

“Sebelumnya aku udah cukup sedikit banyak mengenang prosesnya…”

Mulai. Terus entah kenapa ketika ngomong soal melihat kabupaten-kabupaten anggota LTKL sampai hari ini, suara mulai berubah. Ya sudah. Nangis.

Aku bahkan sempat bilang aku pikir semua emosiku sudah keluar karena beberapa hari sebelumnya sudah banyak ngobrol dengan HR dan Uda. Ternyata belum. 

Yang paling lucu dari farewell kemarin, aku sebenarnya tidak merasa sedang pergi dari orang-orangnya. Yang selesai kan perannya. Kontraknya. Pekerjaannya. Handover-nya. Administrasinya. Tapi orang-orangnya? Ya masih ada.

Makanya kemarin waktu ada yang bilang nanti kalau ke Palembang, ke Muba, Jakarta, tinggal colek-colek Novi untuk nongkrong, aku senang. Karena ya memang begitu. Aku mungkin tidak lagi punya tanda tangan LTKL di bawah email. Tapi masih bisa di-chat. Masih bisa ditanya..Masih bisa diajak ngopi. Masih bisa debat sama Eka..Masih bisa ngobrol sama Kak Ayu. Masih bisa dengerin cerita teman-teman kabupaten lain.

Masih bisa ketemu Kak Giza. Masih bisa tiba-tiba dapat chat, “Nov, gimana kabarnya?” Dan mungkin itu yang bikin semuanya tidak terasa seperti hilang.

Aku masuk LTKL setelah lulus S1..Waktu itu ngirim email saja masih belajar. Serius..Sekarang kalau ingat lucu juga. Dulu buka email, mikir:

“Ini harus pakai Dear siapa?”

“Kalimatnya gimana?”

“Kalau terlalu panjang gimana?”

“Kalau terlalu pendek kurang sopan nggak?”

Sekarang?

Kirim. Dulu kalau mau ketemu orang baru juga banyak mikir.nSekarang lima tahun kemudian malah bisa ketemu macam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan ngobrol soal kabupaten, program, pemerintah, mitra, masyarakat, komoditas, kebijakan, macam-macam.

Kadang ngerti. Kadang sok ngerti dulu. Kadang benar-benar tidak ngerti. Kalau tidak ngerti ya tanya. Kalau masih tidak ngerti, ya tanya lagi. Kalau tetap tidak ngerti, buka Google. Wkwk. Aku juga pernah lima jam buka YouTube cuma untuk belajar mengatur halaman dokumen tesis.nJadi sebenarnya kemampuan “mencari tahu” ini mungkin memang salah satu skill yang paling lama menemaniku.

Kemarin Mas Umar cerita tentang aku sejak 2024. Katanya dia melihat aku makin percaya diri. Makin punya fire. Sering ikut pelatihan. MC. Public speaking. Macam-macam. Terus dia ngomong soal long run. Tentang aku harus tahu sebenarnya mau jadi apa ke depannya. Supaya skill yang kupilih tidak cuma menjadi kumpulan skill. Aku dengar sambil mikir.

“Iya juga ya.” Tapi ya sudah. Belum tahu juga.

Karena kalau ditanya sekarang: “Novi mau jadi apa?” Jawabannya masih panjang. Mau kerja lagi. Mau usaha. Mau belajar lagi. Mau S3. Pengen yang dekat dengan masyarakat. Pengen tetap bisa melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pembangunan daerah. Pengen riset juga. Tapi kalau ditanya, “Besok pagi harus mulai dari mana?”

Nah. Hehehe. Terus Kak Ayu cerita tentang pertama kali kami ketemu. Katanya waktu baru gabung MSF, aku salah satu orang yang membantu dia mencari tahu harus mulai dari mana. Aku malah lupa detailnya. Tapi ternyata orang lain menyimpan cerita tentang kita yang kita sendiri sudah lupa. Itu lucu.

Ada bagian dari hidup kita yang ternyata masih hidup di kepala orang lain. Eka juga cerita. Kalau aku dan dia sering debat. Memang.

Debatnya juga kadang bukan debat kecil.bTapi habis debat ya sudah. Besok ngobrol lagi. Ada kerjaan lagi. Ada yang perlu dibantu, bantu. Ada yang perlu ditanyakan, tanya. Sampai akhirnya dia bilang hubungan kami bukan lagi sekadar teman kerja. Ya mungkin memang begitu. Lima tahun kan lama. Masa cuma jadi “rekan kerja”.

Terus Bang Edi bilang satu hal yang bikin aku ketawa. Dia bilang dia paling suka lihat aku jago bahasa Inggris. Aku langsung mikir, “Lah?” Karena aku tidak merasa jago-jago amat. Tapi katanya dia lihat aku ketemu orang dari mana-mana dan bisa komunikasi. Terus dia bilang itu menginspirasi. Aku senang dengarnya. Bukan karena merasa “wah aku hebat”. Lebih karena… “Oh, ternyata hal yang buatku sudah biasa, pernah terlihat berarti buat orang lain.”

Uda cerita lebih panjang lagi. Tentang Muba. Tentang program. Tentang politik. Tentang kondisi fiskal. Tentang bagaimana selama beberapa tahun ini aku dan Eka menghadapi macam-macam perubahan di kabupaten. Terus dia bilang aku sudah punya modalitas untuk community development, riset, policy analysis, policy engagement, stakeholder engagement. Aku diem. Dalam hati: “Banyak juga ya istilahnya.”

Tapi memang kalau dipikir-pikir, lima tahun kerja membuat semuanya nyampur. Riset masuk. Pemerintah masuk. Masyarakat masuk. Mitra masuk. Fasilitasi masuk. Kuliah masuk. S2 masuk. Kadang hidup juga rasanya seperti satu folder besar yang isinya terlalu banyak file.

Terus Kak Bella bilang dia sering lihat aku ikut pelatihan. Ini juga benar. Aku memang suka ikut pelatihan. Kadang baru selesai satu, sudah lihat pelatihan lain. “Kayaknya menarik.” Daftar. Entah nanti kepakai atau tidak, tapi aku senang belajar.

Kak Teo juga cerita tentang obrolan kami. Tentang buku. Mental health. Self-development. Hal-hal yang sering kami chat-kan secara informal. Aku baru sadar ternyata ternyata banyak juga ya yang kami obrolkan. 

Terus Kak Giza bilang dia bangga melihat pertumbuhanku. Nah. Bagian itu bikin nangis lagi. Karena kalau aku sendiri yang melihat Novi lima tahun lalu dan Novi sekarang, mungkin aku lebih sibuk melihat kekurangannya. Tapi kemarin orang-orang malah cerita tentang apa yang mereka lihat. Dan aku cuma duduk. Dengerin. Nangis. Ketawa. Nangis lagi.

Aku juga bilang sesuatu kemarin. Aku bilang mungkin aku cuma bisa bilang terima kasih dan maaf. Kalau selama bekerja ada kata-kata yang salah. Ada pekerjaan yang kurang maksimal. Ada hal yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman. Aku minta maaf. Tapi satu hal yang benar bahwa aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Kadang hasilnya bagus. Kadang tidak. Kadang aku tahu harus bagaimana. Kadang aku benar-benar bingung. Tapi ya tetap dikerjakan.

Lima tahun itu panjang. Kalau dihitung dari email pertama yang masih mikir lama sampai sekarang bisa ngobrol tentang pekerjaan, kuliah, riset, fasilitasi, pemerintah, mitra, dan macam-macam hal dengan banyak orang… Lumayan jauh juga. Dan sekarang tiba-tiba selesai. Jumat terakhir. Sabtu. Minggu. Lalu Senin bukan lagi hari kerja LTKL. Aneh.

Aku belum terbiasa dengan kalimat itu. Mungkin nanti terbiasa. Mungkin juga tidak terlalu cepat.

Kemarin setelah selesai, kami foto bersama. Ketawa. Minta foto lagi. Ketawa lagi. Ada yang bilang mixed feeling. Memang. Senang. Sedih. Bangga. Terharu. Semuanya numpuk. Terus ada yang bilang, “Petualangan Novi selanjutnya.”

Aku suka kalimat itu. Karena memang belum tahu petualangannya ke mana. Belum tahu akan ketemu siapa. Belum tahu kerja di mana. Belum tahu akan tinggal di mana. Belum tahu kapan sekolah lagi. Belum tahu apakah usaha akan jalan lagi. Belum tahu banyak hal. Tapi ya sudah. Kemarin satu fase selesai. Aku nangis. Teman-teman juga bilang sayang. Kami foto. Kami ketawa. Kami bilang nanti ketemu lagi. Terus pulang. Begitu saja.

Besok-besok kalau ada yang ke Muba, chat Novi. Kalau Novi ke Palembang, cari teman.bKalau ketemu di tempat lain, ya ngobrol lagi. Karena mungkin memang tidak ada adegan dramatis ketika sebuah hubungan selesai.

Yang selesai cuma satu bagian dari hidup. Yang lainnya tetap jalan.Dan Novi? Ya masih Novi. Cuma sekarang tidak pakai embel-embel LTKL di belakangnya. Hehehe.

Aku Kira Aku Sudah Siap Berpisah


Aku kira aku sudah siap. Beberapa minggu terakhir, aku sudah berkali-kali membicarakan berakhirnya kontrakku dengan LTKL. Ada handover. Ada administrasi. Ada exit interview. Ada percakapan dengan HR dan manajer. Ada dokumen-dokumen yang harus diselesaikan.

Secara administratif, semuanya jelas bahwa waktunya selesai. Secara emosional, ternyata tidak sesederhana itu. Di farewell kemarin, aku menangis. Bukan sekali.

Aku bisa berhenti sebentar, lalu tertawa. Beberapa detik kemudian menangis lagi. Setelah itu tertawa lagi karena sadar sedang menangis di depan orang-orang. Rasanya seperti roda emosi yang tidak punya rem.

Aku bahkan sempat bilang “Pada akhirnya adalah menangis yang keluarnya sambil ketawa.”

Mungkin itu cara paling jujur untuk menjelaskan perasaanku waktu itu. Aku sedih. Tapi bukan sedih karena merasa hidupku selesai. Aku merasa sedang sangat sadar bahwa sesuatu yang penting dalam hidupku benar-benar sudah sampai di satu batas.

Aku bergabung dengan LTKL setelah lulus S1. Waktu itu, banyak hal yang sekarang terasa biasa sebenarnya belum biasa bagiku.

Mengirim email kepada orang lain saja pernah menjadi sesuatu yang harus kupelajari. Berkoordinasi dengan orang yang berbeda-beda. Berbicara dengan pemerintah. Bertemu mitra. Memfasilitasi percakapan. Menghadapi orang yang tidak sepakat denganku. Mencoba memahami kenapa sebuah ide yang menurutku masuk akal ternyata tidak diterima orang lain.

Aku tidak datang sebagai seseorang yang sudah tahu caranya. Aku belajar sambil jalan. Dan mungkin karena itulah LTKL terasa berbeda bagiku. Ia bukan hanya tempat aku bekerja. Ia menjadi tempat aku belajar menjadi orang yang bekerja.

Lima tahun kemudian, aku bisa duduk dalam sebuah pertemuan dan membicarakan hal-hal yang dulu bahkan tidak kupahami. Aku bisa mengirim email tanpa menghabiskan waktu lama memikirkan setiap kalimatnya. Aku bisa memfasilitasi orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Aku punya jaringan yang dulu tidak pernah kubayangkan.

Tetapi yang paling aneh adalah aku tidak terlalu menyadari pertumbuhan itu ketika sedang menjalaninya. Baru ketika orang lain mengatakannya kepadaku, aku melihatnya.

Di farewell itu, teman-temanku bercerita tentang diriku dari sudut pandang mereka.

Ada yang mengingat bagaimana kami dulu sama-sama baru bergabung dan saling membantu mencari pijakan. Ada yang mengingat debat-debat kami di Muba. Ada yang mengingat kebiasaanku mengikuti pelatihan, bertanya, belajar, mencoba sesuatu yang baru. Ada yang melihat kemampuan fasilitasi yang berkembang. Ada yang mengingat bahwa aku sering menjadi tempat bertanya dan bercerita. Ada yang bahkan berbicara tentang kontribusi yang lebih besar dari pekerjaan sehari-hari yaitu kebijakan, pendampingan, jejaring, program, dan berbagai hal yang pernah kami coba bangun di Muba.

Aku mendengarkan semuanya sambil menangis.bDan di situ aku mengalami sesuatu yang agak ganjil. Selama ini aku sering bertanya “Aku sebenarnya sudah menjadi apa?”

Ternyata jawabannya tidak selalu perlu datang dari diriku sendiri. Kadang orang lain yang hidup bersamamu selama bertahun-tahun menyimpan bukti-bukti pertumbuhanmu yang tidak sempat kamu catat.

Ada satu kalimat yang paling tinggal di kepalaku. Kurang lebih begini “Peran di LTKL-nya mungkin selesai, tapi dengan orang-orangnya tidak selesai.”

Aku merasa kalimat itu tepat. Karena yang sebenarnya kutinggalkan adalah sebuah peran. Bukan seluruh hubungan. Bukan semua percakapan. Bukan semua pengetahuan. Bukan sejarah. Bukan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Mungkin selama ini aku terlalu menyamakan tempat kerja dengan identitas.

Padahal LTKL membentukku, tetapi aku tidak harus terus berada di dalam LTKL untuk membawa hasil pembentukannya. Aku bisa pergi tanpa harus menghapus bagian diriku yang terbentuk di sana.

Ada hal lain yang baru kusadari setelah kontrakku benar-benar mendekati akhir. Aku ternyata bukan orang yang mudah meninggalkan. Aku bisa pindah. Aku bisa menerima bahwa sebuah fase selesai. Tetapi aku butuh waktu untuk melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Mungkin karena aku punya kecenderungan untuk benar-benar masuk ketika sudah memilih sesuatu. Kalau sudah bekerja, aku all out. Kalau sudah merasa menjadi bagian dari sebuah tim, aku merasa ikut memiliki. Kalau sudah merasa dekat dengan orang-orangnya, hubungan itu tidak otomatis berakhir hanya karena struktur organisasinya berubah.

Itulah kenapa proses ini terasa sedikit lebih berat daripada yang kubayangkan. Aku tidak hanya sedang mencari pekerjaan berikutnya. Aku sedang belajar hidup tanpa sebuah identitas yang selama bertahun-tahun terasa sangat melekat. Dan itu membuat pertanyaan berikutnya menjadi lebih nyata: Kalau bukan “Novi dari LTKL”, lalu Novi yang mana? Aku belum punya jawaban final. Dan untuk sekarang, aku rasa tidak perlu memaksakannya.

Di farewell kemarin, ada satu nasihat yang juga terus kupikirkan. Tentang melihat long run. Tentang tidak hanya mengumpulkan skill karena sedang ingin bisa sesuatu, tetapi memahami ke mana semua skill itu sebenarnya ingin kubawa. Tentang menemukan highest future potential. Tentang membangun learning bodies baru, orang-orang yang bisa menjadi teman berpikir, berefleksi, dan bertumbuh.bTentang menggunakan modal sosial yang sudah terbentuk, bukan sekadar menyimpannya sebagai daftar kenalan. Dan tentang satu kalimat sederhana "Jangan mengejar uangnya. Kejar value-nya.

Aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar mengerti kalimat itu. Tapi aku tahu aku sedang berada di titik ketika kalimat itu relevan. Karena setelah LTKL, aku belum tahu persis apa pekerjaan berikutnya. Ada kemungkinan kerja di Palembang. Ada kemungkinan kesempatan lain. Ada kemungkinan membangun kembali usaha yang sempat kutinggalkan ketika menyelesaikan S2. Ada keinginan melanjutkan belajar. Ada juga banyak pertanyaan yang belum punya bentuk.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, aku tidak sedang memegang satu jalur yang sudah jelas. Sedikit menakutkan. Tapi mungkin memang begitu rasanya ketika sebuah peta lama sudah tidak bisa dipakai, sementara peta baru belum selesai digambar.

Aku tidak ingin menulis bahwa LTKL adalah tempat yang sempurna. Tidak. Ada masa ketika aku lelah. Ada ketakutan. Ada pekerjaan yang tidak selesai dengan baik. Ada komunikasi yang tidak selalu mudah. Ada dinamika kabupaten yang kadang membuat kami harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil langkah. Ada masa ketika aku merasa sendirian dengan sesuatu yang sedang kuhadapi. Ada juga keputusan-keputusan yang tidak selalu kupahami saat itu. Tapi mungkin justru karena itulah tempat ini menjadi nyata bagiku. 

Pertumbuhan ternyata tidak selalu terjadi dalam situasi yang nyaman. Kadang ia muncul karena kita dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang belum bisa kita lakukan. Lalu kita mencoba. Gagal sedikit. Bertanya. Belajar. Mencoba lagi. Sampai suatu hari kita lupa bahwa dulu hal itu terasa sulit.

Aku masih tidak tahu bagaimana bentuk hubungan antara aku dan LTKL setelah ini. Mungkin nanti kami bertemu sebagai mitra. Mungkin sebagai rekan profesional. Mungkin di kabupaten lain. Mungkin di sebuah ruang yang sekarang bahkan belum ada dalam bayanganku. Yang aku tahu, lima tahun ini tidak akan hilang hanya karena kontraknya berakhir.

Ada terlalu banyak manusia di dalamnya. Terlalu banyak percakapan. Terlalu banyak perjalanan. Terlalu banyak versi diriku yang pernah hidup di sana. Dan mungkin perpisahan yang sehat memang bukan tentang mengatakan “Selamat tinggal.”

Tetapi “Terima kasih. Bagian ini sudah selesai. Aku bawa yang perlu kubawa, dan sisanya kutinggalkan dengan baik.”

Jadi, apakah aku sedih? Iya. Apakah aku lega? Juga iya. Apakah aku bangga? Sangat. Apakah aku takut dengan apa yang berikutnya? Sedikit banyak, iya. Apakah aku sudah tahu akan menjadi apa setelah ini? Belum. Dan anehnya, sekarang aku tidak terlalu ingin buru-buru tahu.

Untuk sementara, mungkin aku ingin menikmati satu kesadaran sederhana bahwa aku pernah berada di sini. Aku bertumbuh di sini. Dan sekarang aku cukup berani untuk pergi.

Sisanya, biarlah perjalanan berikutnya yang memperkenalkan Novi yang baru.

Jumat, 07 Agustus 2026

Selesai (1)

Pagi tadi, aku masih membayangkan sepatu baru itu akan kupakai untuk perjalanan kerja berikutnya. Siangnya, kontrakku selesai.

Sore harinya, aku baru sadar... ternyata bukan cuma pekerjaan yang selesai. Sekolah selesai. Peran sebagai LO juga selesai. Rasanya seperti beberapa pintu tertutup di hari yang sama.
Aneh ya.

Yang paling membuatku takut justru bukan kehilangan pekerjaannya. Tapi ruang kosong setelahnya.
Lalu seseorang mengingatkanku, "Dunia ndak sesempit kolor." Hehe. 

Aku ketawa. Karena mungkin memang benar. Saat satu peran selesai, hidup tidak ikut selesai. Dan mungkin untuk pertama kalinya hari ini, aku cukup jujur mengakui satu hal yang sebenarnya paling kubutuhkan.

Bukan jawaban. Bukan rencana lima tahun. Bukan bahkan pekerjaan baru. Aku cuma ingin peluk. Kadang, sebelum melangkah ke bab berikutnya, manusia memang hanya perlu merasa bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.

Rabu, 05 Agustus 2026

Oo, brp.


Ada yang lucu ketika sudah punya seseorang yang bisa dipanggil "sayang". Bukan tentang hadiah besar. Bukan juga tentang kata-kata romantis setiap jam. Tapi kadang yang bikin hati mendadak basah adalah tiga huruf dan satu tanda baca.

"Oo, brp."

Pagi itu aku harus ke Indralaya. Ada urusan sinkronisasi SKS yang belum selesai. Rasanya sudah beberapa hari aku bolak-balik membuka SIMAK, membuat tiket bantuan, menunggu balasan, lalu membuka lagi. Angkanya masih berhenti di 30 SKS. Aku mulai capek. GoPay-ku tinggal empat ribuan.

Aku sebenarnya sempat ragu mau minta tolong atau tidak. Rasanya masih canggung. Takut merepotkan. Akhirnya aku mengetik pelan.

"Sayaaang, boleh minta tolong isiin GoPay buat ke kampus ga sayang. Hehe."

Tidak lama kemudian muncul balasan.

"Oo, brp."

Aku menatap layar beberapa detik. Entah kenapa, mataku langsung penuh air. Lucu ya. Bukan karena nominalnya. Bukan juga karena akhirnya bisa berangkat ke kampus. Mungkin yang membuatku menangis adalah perasaan kalau ternyata sekarang ada seseorang yang ketika aku meminta bantuan, respons pertamanya bukan bertanya kenapa aku meminta.

Bukan menghakimi. Bukan menghitung. Tapi langsung bertanya,

"Berapa?"

Yang lebih lucu lagi adalah balasanku.

"Berapa ya, secukupnya aja sayang, berapa ya."

Padahal dia sudah menyuruhku menentukan nominal. Aku malah balik bingung sendiri. Aku membaca chat itu sekarang sambil tertawa kecil.

Mungkin beginilah rasanya sedang belajar menjadi pasangan. Masih belajar meminta. Masih belajar menerima bantuan. Masih belajar bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sendirian.

Dan di sela-sela urusan SKS yang belum sinkron, email lamaran kerja yang baru kukirim sore tadi, proposal yang belum selesai, dan tiket helpdesk yang belum juga dibalas...ternyata ada satu chat sederhana yang diam-diam membuat pagiku terasa lebih ringan.

"Oo, brp."

Tiga huruf. Satu pertanyaan. Dan entah bagaimana, rasanya seperti pelukan dari kejauhan. 

Untuk Prof. Lapanganku

Untuk Prof. Lapanganku

 

Sayang,

Ada satu cerita yang ingin aku ceritakan. Bukan karena aku masih marah, tapi karena aku tidak ingin ada yang lama tersimpan di hati.

Malam itu, setelah Sayang sibuk kerja dengan laptop, aku mengelus pipi dan rambut Sayang. Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa selain ingin menunjukkan rasa sayangku. Itu caraku mengatakan, "Aku senang Sayang ada di sini."

Waktu tanganku ditepis, aku langsung diam. Sampai sekarang aku juga tidak tahu kenapa malam itu aku tidak sanggup mengucapkan apa yang sebenarnya kurasakan. Padahal di dalam hati aku ingin sekali bilang,

"Sayang, aku sedih. Aku nangis karena tadi tanganku ditepis."

Tapi kata-kata itu tidak keluar. Jadinya aku hanya menangis. Yang mungkin Sayang tidak tahu, di tengah aku menangis itu, aku juga merasakan sesuatu. Setiap kali aku sedikit diam dan agak menjauh, Sayang malah memeluk aku semakin erat. Aku masih mengingat pelukan itu. Makanya setelah mandi dan sholat, aku kembali tidur di samping Sayang. Aku tetap memeluk dan mencium Sayang. Hehe. Berarti aku tetap sayang.

Aku cuma ingin memahami malam itu dari sudut pandang Sayang. Apa yang ada di pikiran Sayang waktu itu? Apakah Sayang memang kaget? Geli? Refleks? Atau ada hal lain yang aku belum tahu?

Aku ingin mendengarnya langsung dari Sayang. Bukan supaya malam itu diulang. Bukan juga supaya Sayang merasa bersalah. Aku hanya ingin kita sama-sama belajar memahami bahasa sayang masing-masing.

Prof. Lapanganku

Professor Lapanganku



Beberapa hari ini rasanya hidup sedang berhenti sebentar. SKS-ku belum sinkron. Nilai tesis sudah masuk. IPK sudah 4,00. Tinggal satu angka yang belum berpindah tempat. Rasanya lucu juga. Setelah lebih dari dua tahun kuliah, ternyata yang paling menguras kesabaran bukan sidang, tapi menunggu sistem.

Sudah dua hari aku membuka portal kampus berkali-kali. Masih sama. Aku membuat tiket bantuan. Belum ada balasan. Di sela-sela menunggu itu, aku malah jadi sering memikirkan hal lain. Aku kangen dia. Pagi tadi dia mengabari.
"Lanjut, abg ada giat ke Rambutan Banyuasin."

Entah kenapa aku selalu senang kalau dia mengabari. Bukan karena isi pesannya panjang. Justru karena sederhana. Rasanya seperti ada seseorang yang menyempatkan berkata, "Hari ini aku di sini."

Aku membalas. "Semoga giat di Rambutan Banyuasinnya lancar ya, Sayang."
Lalu kutambah lagi.
"Aku senang dikasih kabar giat, Sayang."

Memang begitu. Aku suka mendengar cerita lapangannya. Kalau dia bercerita, selalu ada hutan, desa, masyarakat, harimau, peta, atau jalan yang bahkan belum pernah kudengar namanya. Beberapa hari lalu kami bahkan sempat membahas harimau di dalam mobil.

Dia menelpon seseorang, kupikir itu rekan kerjanya membahas tahun kotoran harimau ditemukan. Setelah selesai sambungan telepon itu, aku langsung bertanya,
"Di mana?"

Dia menjawab santai.
"Di hutan... di rimba."

Sesederhana itu. Padahal buatku, satu kalimat itu langsung membayangkan banyak hal. Mungkin memang karena itu aku selalu menyebutnya dalam hati sebagai profesor lapanganku. Dia tidak mengajar di ruang kelas. Dia mengajar lewat cerita-cerita yang dibawa pulang dari lapangan.

Siangnya, saat sedang membuka Instagram untuk mengusir bosan menunggu kabar dari kampus, tiba-tiba muncul sebuah lowongan. Wildlife Intelligence Virtual Assistant.

Aku membaca pelan. Tentang konservasi. Tentang riset. Tentang memantau percakapan digital mengenai satwa liar. Aku tersenyum sendiri.
"Kayaknya menarik..."

Kubuka CV. Kubaca lagi satu per satu. Ada yang kuhapus. Ada yang kutambah. Lalu mulai menyusun surat pengantar dalam bahasa Inggris. Beberapa kali kubaca ulang. Masih terasa kurang. Kubaca lagi. Sampai akhirnya kupikir, "Sudahlah. Kirim saja."

Email itu pun meluncur. Lucunya, setelah selesai mengirim lamaran, yang pertama kali ingin kulakukan justru bukan menunggu balasan HR. Aku malah membuka WhatsApp.

Lalu mengirim pesan. 
"Assalamualaikum Prof. Lapanganku, klo udah ada waktu dan berkenan, mau konsultasi proposal dan esai lanjutan. Mohon bantuan dan kesediaanya."

Tak lama kemudian kususul satu pesan lagi.
"Hehehe. 🤗"

Aku tertawa sendiri. Kadang aku memang begitu. Bisa sangat serius menyusun CV dan surat lamaran dalam bahasa Inggris. Lima menit kemudian memanggil seseorang dengan sebutan,

"Prof. Lapanganku."

Dan anehnya, panggilan itu terasa pas. Karena kalau suatu hari nanti aku benar-benar bekerja memantau percakapan tentang harimau, hutan, dan konservasi... Aku tahu persis siapa orang pertama yang akan kuceritai dengan semangat.


Prof. Lapanganku


Aku baru sadar, belakangan ini aku sering menunggu notifikasi WhatsApp.

Bukan karena ada kabar penting. Kadang cuma berharap muncul satu pesan sederhana.

"Abang lagi ada giat di Rambutan Banyuasin."

Lucunya, pesan sesingkat itu bisa membuatku ikut membayangkan suasana di sana. Jalan yang ditempuh, orang-orang yang ditemui, diskusi yang sedang berlangsung, sampai peta yang mungkin sedang dibuka di atas meja.

Mungkin karena aku memang suka mendengar orang bercerita tentang hal yang mereka cintai.

Kalau mendengar nama "Adiosyafri", yang pertama kali muncul di kepalaku bukan wajahnya.

Yang terbayang justru hutan. Harimau Sumatera. Peta. Kebakaran hutan. Konservasi. Desa-desa yang harus didatangi. Orang-orang yang diajak duduk melingkar untuk mencari jalan keluar bersama.

Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya menyenangkan melihat seseorang begitu hidup ketika berbicara tentang pekerjaannya. Barangkali itu sebabnya aku sering bertanya macam-macam.

"HaKI itu apa?"

"Biomassa itu bagaimana?"

"Tutupan lahan di Musi Banyuasin sekarang seperti apa?"

Bukan karena aku sudah mengerti semuanya. Justru karena aku ingin mengerti dunia yang selama ini dia jalani.

Baru saja aku iseng mengirim pesan.

"Assalamualaikum, Prof. Lapanganku..."

Begitu terkirim, aku langsung tertawa sendiri.

Profesor lapangan. Lucu juga. Padahal beliau belum profesor. Tapi banyak hal yang kupelajari tentang lapangan justru dari cerita-ceritanya. Mungkin memang tidak semua guru berdiri di depan kelas. Ada juga yang mengajar tanpa sadar, hanya dengan menjalani hidupnya sepenuh hati.

Akhir-akhir ini aku juga mulai berani memikirkan S3. Masih jauh. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih ada proposal, esai, beasiswa, supervisor, dan banyak tanda tanya.

Iseng-iseng aku menulis lagi kepadanya.

"Kalau sudah ada waktu dan berkenan, mau konsultasi proposal dan esai lanjutan."

Lalu kutambahkan satu pesan lagi.

"Hehehe."

Supaya tidak terlalu terasa seperti surat resmi. Sambil menunggu balasan, aku kembali mengurus administrasi kampus.

Sinkronisasi transkrip belum selesai. Bebas laboratorium juga masih menunggu. Rasanya seperti berdiri di ruang tunggu yang cukup panjang. Di sela-sela itu, aku malah sering membayangkan hal-hal sederhana.

Bagaimana kalau suatu hari nanti aku benar-benar menjadi mahasiswa doktoral?

Bagaimana kalau suatu hari aku juga lebih sering turun ke desa, mengerjakan penelitian, berdiskusi dengan masyarakat, lalu pulang membawa catatan lapangan?

Entahlah. Mungkin itu sebabnya aku menyebutnya "Prof. Lapanganku." Karena sebelum aku belajar menjadi doktor, mungkin aku memang sedang belajar mencintai proses melihat dunia dari lapangan.

Dan...Iya. Aku memang sayang sekali sama abang. Sesederhana itu. 

Selasa, 04 Agustus 2026

Yang Membuatku Menangis Bukan Kelulusannya

"Gimana perasaannya?"

Pertanyaan itu datang setelah ucapan selamat. Sederhana sekali. Aneh ya, tapi di situ aku berhenti. Mataku langsung berkaca-kaca.

Aku baru sadar, selama beberapa bulan terakhir, hampir semua pertanyaan yang kuterima adalah tentang progres.
"Revisinya sudah?"
"Sidangnya kapan?"
"Nilainya sudah keluar?"
"Yudisium jadi?"

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Semuanya memang penting. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya setelah semuanya selesai, ada seseorang yang bertanya tentang aku.

Bukan tentang tesisnya. Bukan tentang gelarnya. Bukan tentang IPK-nya. Tentang perasaanku. Dan ternyata... aku belum benar-benar sempat menjawab pertanyaan itu untuk diriku sendiri.

Kalau ditanya bagaimana rasanya, jawabannya tidak sesederhana "senang". Ada lega. Ada haru. Ada capek yang baru terasa setelah garis akhirnya terlihat. Ada syukur yang membuatku ingin terus mengucapkan Alhamdulillah. Tapi kalau jujur, ada juga sedih.

Sedih ketika mengingat hari-hari saat rasanya semua berjalan lebih lambat dari yang kubayangkan. Saat melihat teman-teman mulai selesai lebih dulu. Saat revisi terasa tidak ada habisnya. Saat sempat bertanya dalam hati, "Apa aku juga akan sampai?"

Hari ini semua itu sudah lewat. Tapi ternyata ingatannya masih tinggal.

Aku juga sadar, selama proses itu aku cukup sering menangis. Lucunya, bukan hanya karena sedih. Aku menangis ketika lega. Menangis ketika merasa sangat disayang. Menangis ketika akhirnya sesuatu yang kuusahakan berhasil. Menangis ketika Allah menunjukkan jalan yang sebelumnya tidak kulihat.

Dulu aku mengira menangis selalu berarti ada yang salah. Sekarang aku belajar bahwa terkadang air mata hanyalah cara hati mengembuskan sesuatu yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Ada satu kalimat yang terus terngiang beberapa hari ini. Aku memilih bertahan. Bukan karena aku selalu kuat. Tapi karena ada banyak hari ketika aku merasa tidak kuat. Bertahan bukan berarti berjalan tanpa lelah. Kadang bertahan hanya berarti membuka laptop lagi setelah ingin menyerah. Mengirim revisi lagi setelah merasa cukup. Berdoa lagi ketika belum melihat hasilnya. Melangkah lagi, walaupun pelan.

Hari yudisium ternyata bukan hanya tentang menerima gelar. Bagiku, hari itu seperti Allah sedang memperlihatkan kembali seluruh perjalanan yang pernah ingin kulepaskan. Dan di ujungnya, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata,
"Ternyata aku sampai juga."

Terima kasih, ya Allah. Terima kasih kepada semua orang yang membersamai perjalanan ini.

Dan...terima kasih untuk diriku sendiri. Bukan karena berhasil menjadi yang paling hebat. Tetapi karena, berkali-kali, ketika rasanya ingin berhenti... aku tetap memilih bertahan. Alhamdulillahirabbil 'alamin.

Ketika "Aku Ada Giat" Ternyata Bisa Berarti Banyak



Aku pernah mengira rasa sayang selalu ditunjukkan lewat waktu yang panjang, obrolan yang tidak habis-habis, atau kejutan-kejutan besar. Ternyata tidak selalu begitu.

Beberapa hari terakhir, dia sedang mengejar deadline. Dokumen harus masuk, rapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pagi itu, dia hanya mengirim satu pesan singkat.

 "Lanjott, abg ada giat ke Rambutan Banyuasin."

Hanya satu kalimat. Lucunya, aku malah senyum. Bukan karena isi pesannya luar biasa, tetapi karena aku sadar, di tengah kesibukannya, dia masih menyempatkan memberi kabar. 
Aku membalas, "Sayang, semoga giat di Rambutan Banyuasinnya lancar yaa."
Lalu kutambahkan lagi, "Aku senang dikasih kabar giat sayang. Alhamdulillah."

Mungkin bagi orang lain itu terdengar biasa. Tapi buatku, itu bukan soal Rambutan Banyuasin. Itu tentang seseorang yang berkata, "Hari ini aku akan ke sini."

Beberapa hari sebelumnya, kami sempat menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sendiri bagaimana dia membuka laptop. Lalu, saat pagi tiba, sebelum matahari benar-benar tinggi, dia mengantar ke sekolah, lalu kembali bekerja.

Saat itu aku baru mengerti kenapa balasan chat darinya sering singkat. Bukan karena tidak peduli, tetapi memang ada banyak hal yang sedang ia tanggung dalam satu hari. Semakin aku mengenalnya, semakin banyak kata yang muncul ketika mendengar namanya.

Ahli peta. Konservasi. Harimau Sumatra. Kebakaran hutan. Hutan. Desa-desa. Masyarakat. Pemimpin.

Dan di balik semua itu, ada seseorang yang diam-diam begadang menyelesaikan dokumen agar pekerjaannya selesai tepat waktu.

Mungkin itu sebabnya aku pernah menulis kepadanya, "Bangga banget sama Sayang."

Bukan karena jabatan atau pekerjaannya. Tapi karena aku melihat sendiri bagaimana ia menjalani semuanya. Lalu aku menambahkan satu kalimat lagi. "Dan banyak hal yang belum aku kenal dari Sayang. Hehe."

Karena memang begitu rasanya. Semakin lama mengenal seseorang, ternyata semakin banyak bagian dirinya yang belum pernah kita lihat. Dan entah kenapa, itu tidak membuatku takut, tapi membuatku penasaran.