Aku baru sadar, belakangan ini aku sering menunggu notifikasi WhatsApp.
Bukan karena ada kabar penting. Kadang cuma berharap muncul satu pesan sederhana.
"Abang lagi ada giat di Rambutan Banyuasin."
Lucunya, pesan sesingkat itu bisa membuatku ikut membayangkan suasana di sana. Jalan yang ditempuh, orang-orang yang ditemui, diskusi yang sedang berlangsung, sampai peta yang mungkin sedang dibuka di atas meja.
Mungkin karena aku memang suka mendengar orang bercerita tentang hal yang mereka cintai.
Kalau mendengar nama "Adiosyafri", yang pertama kali muncul di kepalaku bukan wajahnya.
Yang terbayang justru hutan. Harimau Sumatera. Peta. Kebakaran hutan. Konservasi. Desa-desa yang harus didatangi. Orang-orang yang diajak duduk melingkar untuk mencari jalan keluar bersama.
Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya menyenangkan melihat seseorang begitu hidup ketika berbicara tentang pekerjaannya. Barangkali itu sebabnya aku sering bertanya macam-macam.
"HaKI itu apa?"
"Biomassa itu bagaimana?"
"Tutupan lahan di Musi Banyuasin sekarang seperti apa?"
Bukan karena aku sudah mengerti semuanya. Justru karena aku ingin mengerti dunia yang selama ini dia jalani.
Baru saja aku iseng mengirim pesan.
"Assalamualaikum, Prof. Lapanganku..."
Begitu terkirim, aku langsung tertawa sendiri.
Profesor lapangan. Lucu juga. Padahal beliau belum profesor. Tapi banyak hal yang kupelajari tentang lapangan justru dari cerita-ceritanya. Mungkin memang tidak semua guru berdiri di depan kelas. Ada juga yang mengajar tanpa sadar, hanya dengan menjalani hidupnya sepenuh hati.
Akhir-akhir ini aku juga mulai berani memikirkan S3. Masih jauh. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih ada proposal, esai, beasiswa, supervisor, dan banyak tanda tanya.
Iseng-iseng aku menulis lagi kepadanya.
"Kalau sudah ada waktu dan berkenan, mau konsultasi proposal dan esai lanjutan."
Lalu kutambahkan satu pesan lagi.
"Hehehe."
Supaya tidak terlalu terasa seperti surat resmi. Sambil menunggu balasan, aku kembali mengurus administrasi kampus.
Sinkronisasi transkrip belum selesai. Bebas laboratorium juga masih menunggu. Rasanya seperti berdiri di ruang tunggu yang cukup panjang. Di sela-sela itu, aku malah sering membayangkan hal-hal sederhana.
Bagaimana kalau suatu hari nanti aku benar-benar menjadi mahasiswa doktoral?
Bagaimana kalau suatu hari aku juga lebih sering turun ke desa, mengerjakan penelitian, berdiskusi dengan masyarakat, lalu pulang membawa catatan lapangan?
Entahlah. Mungkin itu sebabnya aku menyebutnya "Prof. Lapanganku." Karena sebelum aku belajar menjadi doktor, mungkin aku memang sedang belajar mencintai proses melihat dunia dari lapangan.
Dan...Iya. Aku memang sayang sekali sama abang. Sesederhana itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar