Hari Senin kami ada membahas tentang pertemuan, bahwa mungkin Sabtu saja ke Palembang. Ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya. Aku belum tahu bagaimana tepatnya, tapi setidaknya ada kemungkinan itu. Tapi, kemarin Jum'at kami tidak membahasnya, jadi aku belum ke Palembang. Lalu, datang sebuah pesan, di antara pesan tentang pakaian dan map SPPD, muncul kabar:
“Abg mau ke Jambi, takut kececer barang-barang yang ada di abg.”
Aku membaca kalimat itu dan langsung berpikir, "Jambi?"
Aku belum bertemu dia. Aku bahkan belum tahu rencana itu.
“Kapan ke Jambi?”
Lalu, “Belum ketemu aku sayang…”
Aku sebenarnya ingin bertemu sebelum dia pergi. Kalau aku tahu dari semalam, mungkin aku bisa mengatur perjalanan ke Palembang dengan berbeda. Mungkin bisa menyempatkan diri bertemu dulu. Aku bilang kepadanya, “Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ketemu sayang.”
Ada rasa kesal kecil karena kabar itu datang terlambat. Bukan kesal karena dia pergi. Aku tahu dia punya pekerjaan dan urusannya sendiri. Aku hanya ingin diberi tahu. Karena kalau aku tahu, aku bisa membuat pilihanku sendiri. Mungkin aku akan tetap di rumah. Mungkin aku akan pergi ke Palembang. Mungkin aku akan mengejar waktu sebentar hanya untuk bertemu. Tapi aku ingin punya kesempatan untuk memilih.
Sore harinya, ketika balasannya belum juga datang, aku mulai memanggil.
“Sayang…”
“Kalau udah agak lega mau chat yaa sayang.”
“Sayang apa udah di jalan ke Jambi?”
“Sayaang……”
Beberapa menit kemudian aku mengirim pertanyaan yang sebenarnya lebih besar dari sekadar perjalanan,
“Apa yang harus aku lakukan kalau sayang lagi mode kerja? Apa kalau aku chat sayang terganggu nggak?”
Aku sedang mencoba memahami ritmenya. Lalu satu kalimat keluar tanpa banyak dipikirkan,
“Sayang maaf ya, aku lagi mode siaga ditinggal.”
Aku baru sadar betapa jujurnya kalimat itu setelah terkirim. Ternyata aku bukan cuma sedang menunggu kabar tentang Jambi. Aku sedang menunggu kepastian bahwa orang yang ingin kutemui itu masih punya tempat untukku di dalam harinya.
Aku menatap layar ponsel. Rencana ke Palembang masih ada. Jambi juga masih ada. Dan di antara dua kota itu, ada satu pertemuan yang belum sempat terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar