Jam 23.14, aku mengirim pesan sederhana.
“Sayang, kalau aku mau ngobrol sebentar, bisakah?”
Di kepalaku, itu kalimat biasa. Kalimat kecil dari seseorang yang sedang kangen, ingin didengar sebentar, ingin merasa dekat sebelum tidur.
Tapi balasannya membuatku tertawa.
“Lagi malas mikir.”
Aku sempat diam sebentar. Mikir? Memangnya aku mau ngajak ujian? Lalu dia menambahkan sesuatu yang lebih lucu lagi.
“Ya, kalau ngobrolnya kayak FGD mesti mikirlah.”
Aku langsung ngakak. Ternyata selama ini, “aku mau ngobrol sebentar” di kepalaku berarti aku kangen, aku mau cerita, aku pengen dekat. Tapi di kepala dia mungkin artinya akan ada pembukaan, tujuan diskusi, pertanyaan pemantik, pendalaman isu, validasi perasaan, refleksi akhir, dan rencana tindak lanjut.
Dan sejujurnya, dia tidak sepenuhnya salah.
Karena kalau aku sedang punya rasa yang penuh di kepala, aku memang tidak hanya ingin bilang “aku sedih” lalu selesai. Aku ingin memahami sedih itu datang dari mana. Aku ingin tahu kenapa satu kalimat bisa membuatku tenang, sementara satu diam bisa membuatku gelisah. Aku ingin tahu bagaimana seseorang menunjukkan sayang, bagaimana dia memproses capek, bagaimana dia kangen, bagaimana dia hadir.
Pendeknya, aku memang kadang membawa hati ke ruang diskusi. Malam itu, dia bilang ngantuk. Berkali-kali. Aku juga tahu dia capek. Awalnya dia bilang biasa saja. Tapi lama-lama keluar juga tentang urat kencang, mau pijat, banyak kerjaan, antuk, bobok.
Aku tersenyum sendiri. Kadang tubuh manusia lebih jujur daripada kalimatnya. Lalu aku bilang pelan, kira-kira begini, “Capek itu nggak apa-apa. Kita capek karena kita manusia. Nggak harus kuat terus.”
Aku tidak tahu apakah kalimat itu sampai kepadanya seperti yang kumaksud. Tapi aku senang bisa mengatakannya. Karena mungkin selama ini aku juga sedang belajar mengatakan hal yang sama kepada diriku sendiri.
Malam itu, obrolan kami pindah-pindah. Dari capek, kerjaan, pijat, kangen, rasa ingin dekat, sampai hal-hal kecil yang dulu kusimpan sendiri.
Ada satu memori yang akhirnya keluar tentang suatu hari di Palembang, ketika aku berharap dia datang, tapi dia tidak datang. Aku menangis sendirian sampai pagi. Waktu itu aku merasa ditolak, meskipun mungkin dia tidak sedang bermaksud menolak.
Dulu, rasa seperti itu hanya hidup di kepalaku. Diputar ulang, ditebak-tebak, disimpan diam-diam. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku bisa bilang,
“Aku waktu itu nangis.”
“Aku merasa ditolak.”
“Aku pengen sesekali merasa dipilih.”
“Aku merasa disayang kalau aku juga merasa diinginkan.”
Tidak sempurna. Tidak rapi. Tidak seperti kalimat dalam buku komunikasi. Tapi jujur. Dan anehnya, setelah mengatakannya, aku merasa lebih ringan. Bukan karena dia tiba-tiba berubah menjadi orang yang menjawab semua pertanyaanku dengan kalimat panjang dan romantis. Tidak. Dia tetap dia. Singkat, bercanda, kadang menghindar, kadang menjawab dengan caranya sendiri.
Tapi dia tidak pergi.
Dia tetap di sana. Mengantuk, mungkin capek, mungkin merasa sedang ikut FGD tengah malam, tapi tetap membalas. Dan aku sadar, kadang yang membuat kita lega bukan karena semua pertanyaan dijawab. Kadang kita hanya butuh mengalami aku bisa jujur, dan dunia tidak langsung runtuh.
Malam itu akhirnya selesai sekitar jam 02.17 pagi. Padahal awalnya cuma bilang, “Sayang, aku mau ngobrol sebentar, bisakah?”
Sebentar, katanya. Ternyata hampir tiga jam. Mungkin memang benar, ngobrol denganku kadang seperti FGD. Ada pertanyaan pemantik, ada penggalian isu, ada refleksi, ada kesimpulan sementara. Bedanya, malam itu pesertanya hanya dua orang.
Satu orang ingin tidur. Satu orang ingin dimengerti. Dan entah bagaimana, di antara kantuk, tawa, kalimat pendek, dan rasa yang berantakan, aku merasa sedikit lebih dekat. Bukan hanya dekat dengannya. Tapi juga dekat dengan diriku sendiri.
Karena aku mulai belajar bahwa kebutuhan untuk bicara bukan selalu drama. Kadang itu cara hati mencari bentuk. Kadang itu cara tubuh meminta aman. Kadang itu cara bagian kecil dalam diri berkata, “Tolong jangan tinggalkan aku sendirian dengan semua pikiran ini.”
Jadi kalau suatu hari nanti aku kembali berkata, “Aku mau ngobrol sebentar,” mungkin aku perlu menambahkan, “Tenang, ini bukan FGD. Tidak ada notulensi. Tidak ada RTL. Aku cuma kangen.”
Walaupun, jujur saja, kemungkinan tetap ada sedikit refleksi di akhir. Karena begitulah aku. Aku mencintai dengan bertanya.
Aku merindukan dengan bercerita. Aku merasa dekat ketika seseorang mau tinggal sebentar di ruang makna bersamaku. Meski sambil mengantuk. Meski katanya seperti FGD.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar