Catatan kecil tentang asumsi, perhatian, dan sebuah file yang ternyata datang pada waktu yang tepat.
Pukul dua dini hari aku terbangun. Aku tidak tahu kenapa. Yang aku tahu hanya satu hal: aku sedang ingin dipeluk. Dengan keberanian yang baru beberapa minggu terakhir sedang kulatih, aku membuka WhatsApp dan mengirim pesan.
"Bang, aku kebangun rasanya mau dipelukkk Abang."
Kalau membaca pesan itu sekarang aku masih senyum sendiri. Karena beberapa bulan lalu mungkin pesan itu tidak akan pernah terkirim. Aku akan menyimpannya di kepala. Menebak-nebak. Mengarang kemungkinan. Mengedit kalimat sampai akhirnya tidak jadi mengatakan apa-apa.Tapi sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru.
Kalau penasaran, bertanya. Kalau rindu, bilang. Kalau butuh, ungkapkan. Sesederhana itu. Lalu aku tidur lagi.
Siang harinya aku membuka WhatsApp. Jujur saja, ada sedikit rasa penasaran. Bukan karena berharap balasan tertentu. Tapi tetap saja ada bagian kecil dalam diriku yang membayangkan. Mungkin ada peluk virtual.Mungkin ada kalimat, "Sabar ya." Atau sekadar emoji. Yang muncul justru...
📎 REKAPITULASI TORA DESA MUARA MEDAK_BAYUNG LENCIR_MUBA.zip
Ukuran file sekitar 3 MB. Aku langsung tertawa. Benar-benar tertawa. Aku mengirim pesan tentang peluk. Beliau mengirim dokumen TORA. Kalau hidup ini film romantis, mungkin sutradaranya sedang bercanda. Aku membalas, "Hahaha. Makasih Bang. Aku kira mau jawab pertanyaan adek semalam dan mau kasih peluk, ternyata dikasih TORA duluan."
Dan ternyata beliau juga ikut bercanda. Katanya salah kirim. Kami sama-sama tertawa. Ceritanya selesai. Atau setidaknya... aku pikir begitu.
Dua hari kemudian aku mengikuti pelatihan tentang advokasi dan kebebasan sipil. Sebelum berangkat, aku memang sempat bercerita kepadanya kalau aku akan mengikuti pelatihan itu. Aku juga mengirim rundown acaranya. Di salah satu sesi dibahas konflik agraria. Lalu fasilitator mulai menjelaskan tentang... TORA. Aku langsung terdiam.
Lho. Bukankah ini nama file yang dikirim beberapa hari lalu. Baru saat itulah aku tahu bahwa TORA merupakan salah satu instrumen penting dalam penyelesaian konflik agraria.
Dan pikiranku langsung kembali ke file ZIP 3 MB itu.
Aku memang tidak pernah bertanya kenapa beliau mengirimnya. Aku juga tidak tahu apakah beliau membaca rundown sampai bagian konflik agraria. Mungkin iya. Mungkin tidak. Aku tidak punya jawabannya. Yang berubah justru bukan jawabannya. Yang berubah adalah cara aku memandangnya.
Beberapa bulan lalu mungkin aku akan sibuk bertanya, "Kenapa dia tidak membalas pesanku?"
Sekarang aku justru bertanya,
"Jangan-jangan ini memang caranya membantu?"
Aku tidak sedang mencari kepastian. Aku hanya menyadari bahwa perhatian tidak selalu datang dengan bahasa yang sama. Ada orang yang menghibur dengan kata-kata. Ada yang memberi waktu. Ada yang memberi pelukan. Ada juga yang diam-diam mengirim bahan bacaan yang baru akan kita pahami manfaatnya dua hari kemudian. Dan entah kenapa...Kemungkinan itu saja sudah membuatku merasa diingat.
Aku rasa perubahan terbesar dalam beberapa minggu terakhir bukan karena orang-orang di sekitarku berubah. Mungkin mereka tetap menjadi diri mereka. Yang berubah justru aku. Aku mulai berhenti mengisi ruang kosong dengan prasangka. Aku mulai memberi ruang bagi kemungkinan-kemungkinan baik.
Kalau dulu setiap jeda terasa seperti penolakan, sekarang jeda bisa saja berarti seseorang sedang sibuk bekerja. Kalau dulu setiap balasan yang tidak sesuai harapan terasa mengecewakan, sekarang aku mulai bertanya, "Apakah mungkin ini bahasa perhatian yang berbeda?"
Aku tidak selalu tahu jawabannya. Dan ternyata... Tidak tahu itu tidak seseram dulu.
Lucunya, kalau dipikir-pikir lagi, file ZIP itu mungkin memang bukan peluk. Tetapi ternyata ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan peluk pun belum tentu bisa lakukan. Ia mengajarkanku bahwa perhatian tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang ia datang sebagai pesan singkat. Kadang sebagai jeruk yang tiba-tiba diberikan seseorang. Kadang sebagai pertanyaan sederhana. Dan kadang...Sebagai file REKAPITULASI TORA DESA MUARA MEDAK_BAYUNG LENCIR_MUBA.zip berukuran 3 MB.
Kalau ada yang bertanya apa momen paling romantis minggu itu, mungkin jawabanku akan terdengar aneh. Bukan karena ada bunga. Bukan karena ada puisi. Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa cukup aman untuk tidak buru-buru menyimpulkan. Dan ternyata...Kadang kedewasaan memang datang dalam bentuk yang lucu. Bahkan... dalam bentuk file ZIP.
—
Storyworthy Moment
Bukan tentang TORA. Bukan juga tentang file ZIP. Tetapi tentang momen ketika aku menyadari bahwa perhatian tidak selalu datang dengan bahasa yang kita harapkan. Kadang ia datang lewat sesuatu yang bahkan belum kita pahami saat itu. Dan dua hari kemudian, hidup memperlihatkan potongan puzzle berikutnya. Mungkin tidak semua hal perlu segera dimengerti. Kadang cukup disyukuri dulu, lalu maknanya datang belakangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar