Kamis, 18 Juni 2026

Kangen yang Mana?


Semalam aku membaca sebuah postingan tentang seseorang yang berjuang mempertahankan hubungan selama bertahun-tahun, sampai akhirnya merasa lelah karena hanya berjuang sendirian.

Aneh, karena aku merasa pernah berada di tempat yang mirip. Bukan persis sama. Tapi aku tahu rasanya ketika ingin menjaga koneksi dengan seseorang, ingin mempertahankan hubungan, ingin dipahami, tetapi tidak tahu harus berkata apa lagi.

Yang paling melelahkan bukan selalu perpisahan. Kadang justru ketidakjelasan.

Saat seseorang tetap hadir, tetap datang, tetap menghubungi, tetapi kita tidak benar-benar tahu apa yang ada di hatinya. Aku pernah berpikir bahwa masalahku adalah kurangnya jawaban.

Aku ingin tahu maksudnya. Aku ingin tahu niatnya. Aku ingin tahu kenapa ia datang lalu pergi, lalu datang lagi. Tapi semalam aku menemukan sesuatu yang tidak kusangka.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk ingin dipahami. Aku hadir dengan banyak cerita tentang diriku. Tentang apa yang kurasakan.Tentang apa yang kupikirkan. Tentang apa yang kuinginkan. Tetapi aku jarang benar-benar bertanya tentang dunianya. Apa yang ia rasakan? Apa yang ia takutkan? Apa yang ia rindukan? Apa yang membuatnya tetap datang kembali setelah jeda yang panjang? Apa yang membuatnya memilih menghubungiku lagi?

Aku baru sadar bahwa selama ini pertanyaanku sering berbunyi "Kenapa sih kamu begitu?"

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih manusiawi adalah "Apa yang biasanya membuatmu kepikiran untuk menghubungiku lagi?" 

Perbedaannya kecil. Tapi rasanya sangat berbeda. Yang satu menuntut penjelasan. Yang satu mengundang cerita.

Semalam aku juga menyadari sesuatu yang lucu. Selama bertahun-tahun ketika aku bilang kangen, dia sering bertanya:

"Kangen yang mana?"

Dulu aku menganggap itu pertanyaan yang aneh. Bukankah kangen ya kangen? Tetapi sekarang aku mulai mengerti. Karena ternyata kangen itu banyak bentuknya. Kangen ngobrol. Kangen bercanda. Kangen ditemani. Kangen didengar. Kangen merasa aman. Kangen merasa dipahami.

Dan mungkin selama ini dia sedang mencoba memahami kangen yang tidak pernah bisa kujelaskan. Semalam untuk pertama kalinya aku justru balik penasaran. Kalau dia bilang angen, angen yang mana? Lucunya, aku tidak benar-benar mendapatkan jawabannya. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.

Aku mulai belajar bahwa hubungan tidak hanya tentang didengar. Hubungan juga tentang mendengar. Tidak hanya tentang dimengerti. Tetapi juga tentang memahami.

Malam itu aku tidak mendapatkan kejelasan hubungan. Aku tidak mendapatkan definisi "kita ini apa". Aku tidak mendapatkan kepastian masa depan. Tetapi aku mendapatkan satu hal kecil yang rasanya penting.

Aku merasa lebih penasaran pada manusia di seberangku daripada pada jawaban yang ingin kudapatkan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak hanya ingin dipahami. Aku juga ingin memahami.

Barangkali di situlah percakapan yang sesungguhnya dimulai.

Terima kasih Akhirnha Aku Mengerti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar