Pukul dua pagi adalah waktu yang paling jujur sekaligus paling rapuh bagi sistem saraf manusia. Di jam itu, beberapa malam lalu, saya menemukan diri saya duduk di sudut kamar, menatap layar ponsel yang benderang di tengah kegelapan. Dada saya terasa sesak, dihantam oleh gelombang kerinduan yang begitu pekat. Jemari saya bergetar, mengetikkan sebuah kalimat penyerahan diri di kolom obrolan: “Abang, besok chat adek ya.”
Sebuah permintaan yang tampak sederhana, namun di balik layar, itu adalah jeritan darurat dari amigdala yang sedang kelaparan akan rasa aman. Selama berhari-hari, saya menahan diri dari sebuah interaksi yang telah lama kehilangan porosnya. Pagi harinya, balasan yang dinanti pun tiba. Di atas layar, sebuah pesan muncul: “Hmmmm.” Hanya itu, disusul sebuah stiker animasi netral.
Di masa lalu, satu baris huruf "m" yang berderet itu mungkin akan membuat saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk menebak makna di baliknya. Saya akan terjebak dalam pusaran kecemasan, mengira ada yang salah dengan cara saya menyampaikan rasa.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang patah di dalam kepala saya—sebuah mantra ilusi yang runtuh. Alih-alih menangis, saya justru tertawa kecil. Tawa “Hehe” yang membebaskan.
Saya baru saja teringat pada sebuah teori komunikasi klasik yang dirumuskan oleh pakar psikologi UCLA, Albert Mehrabian: Aturan 7-38-55.
Mehrabian membedah bahwa dalam transfer perasaan dan emosi antarmanusia, kata-kata verbal yang tertulis atau diucapkan hanya memegang porsi 7 persen dari seluruh total pemahaman. Sisanya, kekuasaan tertinggi berada di bawah permukaan: 38 persen adalah nada suara (vokal) dan 55 persen adalah bahasa tubuh atau kehadiran fisik (visual).
Dari rumus ilmiah inilah saya mendapatkan pencerahan sistemik yang menyelamatkan kewarasan saya. "Kehangatan" yang selama ini dicari oleh tubuh dan jiwa kita, secara biologis tidak pernah bermukim di dalam teks tertulis. Kehangatan lahir secara eksklusif dari porsi yang 93 persen—dari binar mata yang hadir utuh, pelukan yang mendekap, dan intonasi suara yang menenangkan saat kita berbagi kerentanan.
Ketika seseorang hanya mampu memberikan deretan huruf "Hmmmm", ia tidak hanya sedang irit bicara. Di dasar Gunung Es batinnya, ia sedang memutus akses menuju ruang emosionalnya. Ia melarikan diri dari porsi komunikasi yang 93 persen karena bagi sistem saraf yang belum pulih, kehangatan dan keterbukaan emosional dirasa sebagai sebuah ancaman berbahaya.
Tragedi terbesar dalam hubungan manusia bukanlah saat kita kehilangan seseorang, melainkan saat kita memaksa sistem saraf kita untuk bertahan hidup dan menanam pohon di padang pasir yang tandus. Kita kelaparan emosional karena kita mencoba kenyang hanya dari mengonsumsi 7% remah-remah kata, bahkan tanpa huruf vokal yang utuh.
Sore ini, saat saya berdiri di tengah hamparan angin Desa Sugi Raya, mengamati interaksi warga dan anak-anak, saya menyadari satu hal. Kedaulatan batin kita kembali tegak bukan saat orang tersebut tiba-tiba berubah menjadi hangat, melainkan saat kita berhenti meminta balok es untuk menyalakan api.
Saat layar ponsel kembali berkedip menampilkan tanda online atau rentetan gumaman usang yang sama, saya tidak lagi menatapnya dengan dada yang berdebar cemas. Saya menyimpannya sebagai sebuah data observasi yang menggelikan.
Saya memilih melangkah maju, memasukkan ponsel ke dalam saku, dan memberikan 93% kehadiran fisik serta kehangatan suara saya untuk dunia nyata yang sedang saya bangun di depan mata. Karena batin yang berdaulat tahu kapan harus berhenti mengejar, dan kapan harus mulai berjalan pulang ke dalam dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar