Kamis, 18 Juni 2026

Hadiah Terbesar yang Aku Dapatkan di YAF 5.0

Saat mengikuti Youth Action Forum 5.0, aku menjadi salah satu peserta yang paling sering menangis. Lucunya, waktu itu aku tidak menganggap itu sesuatu yang membanggakan. Aku justru bingung. Bahkan sedikit malu.

Setiap kali air mata keluar, aku bertanya-tanya, "Kenapa sih aku menangis terus?"
Pertanyaan itu mengikuti hampir seluruh proses YAF. Aku tidak tahu apakah aku sedang sedih, bahagia, terharu, atau hanya terlalu lelah. Rasanya campur aduk. Dan karena tidak bisa menjelaskannya, aku memilih menyimpannya sendiri.

Lalu sesuatu yang tidak pernah aku duga terjadi di ujung workshop YAF 5.0. Alih-alih dianggap lemah, aku justru mendapatkan perhatian dan penghargaan. Aku masih ingat perasaan bingung ketika menerima hadiah. Di dalam hati aku berpikir, "Ternyata ada ya tempat yang menghargai orang yang menangis?"

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagiku saat itu terasa sangat besar. Karena selama ini aku menganggap menangis adalah tanda kelemahan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa ada ruang yang justru menerima air mata sebagai bagian dari proses belajar.

Hampir mendekati setahun setelahnya, tepatnya 8 bulan, aku baru menyadari mungkin pertanyaanku saat itu memang kurang tepat. Aku sibuk bertanya "Kenapa aku menangis?"
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih membantu adalah "Apa yang menyebabkan aku menangis?"

Dan ketika aku mulai bertanya seperti itu, jawabannya ternyata banyak. Mungkin karena aku merasa dilihat. Mungkin karena aku merasa aman. Mungkin karena untuk pertama kalinya aku berada di ruangan yang tidak memintaku menjadi kuat sepanjang waktu. Mungkin karena ada bagian diriku yang selama ini bekerja terlalu keras dan akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.

Aku tidak tahu mana yang paling benar. Tetapi aku tahu satu hal. Air mata itu bukan musuh. Air mata itu informasi. Mereka sedang memberitahuku bahwa ada sesuatu yang penting sedang disentuh. 

Ada bagian lain dari YAF yang juga sangat membekas. Aku berfoto dengan peserta dan fasilitator yang berasal tidak dari Indonesia. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin terdengar lucu. Tetapi itu adalah mimpi kecil yang kubawa sejak SD. Aku berasal dari desa kecil. Aku pernah merasa bahwa dunia luar begitu jauh. Bahwa orang-orang yang berbicara bahasa Inggris dengan lancar hidup di semesta yang berbeda denganku. Aku bahkan masih ingat pergi ke warnet bersama teman dekatku "Rahma" hanya untuk mengobrol dengan orang asing di Facebook. Waktu itu kami punya teman bernama James Smith. Kami memanggilnya "J".

Mungkin sejak saat itu aku diam-diam memelihara rasa penasaran tentang dunia yang lebih luas. Karena itu ketika berdiri di YAF 5.0 dan berfoto bersama dengan Alex, aku merasa seperti sedang bertemu kembali dengan mimpi masa kecilku. Bukan soal foto. Bukan soal orang luar negeri. Tetapi tentang menyadari bahwa dunia yang dulu terasa sangat jauh ternyata bisa disentuh. 

Hari ini, ketika melihat kembali foto-foto YAF 5.0, aku tidak lagi melihat seorang perempuan yang terlalu sering menangis. Aku melihat seseorang yang sedang belajar memahami dirinya sendiri. Dan mungkin itu hadiah terbesar yang sebenarnya kubawa pulang dari YAF 5.0. Bukan sertifikat. Bukan foto. Bukan hadiah. Tetapi kesadaran bahwa pertumbuhan sering kali dimulai ketika kita berhenti menghakimi perasaan kita sendiri, lalu mulai mendengarkannya.

*plost twist lainnya adalah seorang yang menungguku dan peserta lain hari itu adalah Alex. Dan aku jadi yang pertama datang dan bisa duduk sambil menunggu peserta lain di tempat ngopi bersama Alex. Aku merasa sangat grogi waktu itu sekaligus senang sekali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar