Senin, 15 Juni 2026

Ketika Convener Berhenti Memikul Dunia Sendirian


Sebelum membaca lebih jauh, aku ingin mengatakan satu hal. Tulisan ini bukan nasihat dari seseorang yang sudah selesai belajar. Ini adalah catatan dari seseorang yang baru saja memahami sesuatu setelah bertahun-tahun berjalan, berusaha, lelah, kecewa, berharap, dan mencoba lagi.

Mungkin sebagian teman-teman yang membaca ini sudah lebih dulu sampai pada pemahaman ini. Kalau iya, anggap saja tulisan ini sebagai reminder. Kalau belum, semoga catatan sederhana ini bisa menemani perjalananmu. Karena jujur saja, aku membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memahami bahwa aku tidak harus memikul semuanya sendirian.

Untuk teman-teman convener, fasilitator, penghubung, dan siapa pun yang sering menjadi jembatan bagi banyak orang. Aku ingin berbagi sesuatu yang baru benar-benar kupahami setelah bertahun-tahun.

Dulu aku mengira lawan dari kesendirian adalah memiliki lebih banyak orang di sekitar kita.
Memiliki tim.
Memiliki pasangan.
Memiliki mitra.
Memiliki teman.
Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Karena ada banyak orang yang menikah tetapi tetap merasa sendirian.
Ada banyak orang yang memiliki tim tetapi tetap merasa sendirian.
Ada banyak orang yang dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa memikul semuanya sendiri.

Hari ini aku mulai memahami bahwa yang menentukan bukan jumlah orang di sekitar kita. Yang menentukan adalah beban apa yang kita yakini harus kita tanggung sendirian.

Selama ini, tanpa sadar, aku hidup dengan mental model seperti ini:
Kalau ada masalah, aku yang harus bergerak.
Kalau ada hubungan yang renggang, aku yang harus memperbaiki.
Kalau ada kolaborasi yang macet, aku yang harus menghubungi.
Kalau ada ketidakjelasan, aku yang harus memahami.
Kalau ada hasil yang belum muncul, aku yang harus berusaha lebih keras.

Sekilas terdengar seperti tanggung jawab. Tetapi ketika dijalani terlalu lama, ia berubah menjadi beban yang sangat berat. Karena dunia selalu berakhir di pundakku.

Setiap hubungan menjadi tugasku. Setiap kolaborasi menjadi tugasku. Setiap hasil menjadi tugasku. Lama-kelamaan aku lelah. Dan yang lebih berbahaya, aku mulai mengukur nilai diriku dari keberhasilan menjaga semua itu tetap berjalan.

Hari ini aku mulai melihat sesuatu yang berbeda. Ternyata aku tidak harus menjadi penanggung jawab tunggal dari semua hal yang penting bagiku. Sebuah hubungan dijaga oleh semua pihak yang ada di dalamnya. Sebuah kolaborasi bergerak karena ada banyak orang yang memilih bergerak. Sebuah sistem tidak pernah berubah hanya karena satu orang bekerja lebih keras.

Aku tetap bertanggung jawab. Tetapi hanya pada bagianku. Aku tetap hadir. Tetapi aku tidak lagi mengambil alih seluruh tanggung jawab hasil. Aku tetap membuka pintu. Tapi aku tidak lagi memaksa orang untuk masuk.

Aku tetap menawarkan bantuan. Tapi aku tidak lagi mengejar penerimaan. Aku tetap menghubungi. Tapi aku tidak lagi menjadikan diamnya orang lain sebagai bukti bahwa aku kurang.

Mungkin inilah yang selama ini dimaksud ketika Uda Desriko  berkata: "Bangga pada proses, bukan hanya hasil."

Karena proses adalah wilayah yang bisa kuhadiri sepenuhnya. Sedangkan hasil sering kali melibatkan banyak hal yang berada di luar kendaliku.

Untuk teman-teman convener yang sedang lelah, izinkan aku mengingatkan sesuatu yang sedang kupelajari:
Tidak semua yang tidak bergerak berarti kamu kurang berusaha.
Tidak semua kolaborasi yang tidak berhasil berarti kamu kurang baik.
Tidak semua hubungan yang tidak bertumbuh berarti kamu kurang layak.
Kadang memang kapasitasnya berbeda. Kadang prioritasnya berbeda. Kadang keberaniannya berbeda. Kadang komitmennya berbeda. Dan itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan usaha sepihak.

Hari ini aku masih belajar. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lebih ringan. Karena aku tidak lagi berusaha memikul dunia sendirian 
Aku hanya sedang belajar hadir sepenuhnya pada bagian yang memang menjadi bagianku. Dan ternyata, itu sudah cukup.

-- Noviyanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar