Pagi itu, suara kipas laptopku terdengar lebih bising dari biasanya. Di layar, wajah manajerku tampak melalui jendela Google Meet. Di hadapanku, ada draf tesis beratus-ratus halaman yang sudah berminggu-minggu terbengkalai.
Aku sudah menyiapkan naskah pertunjukan hari itu: Aku akan duduk tegak, berbicara dengan intonasi profesional tentang kopi gambir dan uji metode, lalu meyakinkan manajerku bahwa semuanya terkendali. Aku adalah perempuan mandiri yang tidak butuh bantuan siapa-siapa. Itu adalah baju zirah yang kupakai setiap hari.
"Ada kendala?" tanyanya tenang.
Aku mulai merangkai alasan akademis. Tapi kemudian, dia mengajukan satu pertanyaan yang menembus langsung ke balik baju zirahku, "Apa yang menantang dari proses ini? Mengapa kamu merasa stuck?"
Hening seketika memenuhi ruanganku.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi bagi seseorang yang sudah berbulan-bulan kelaparan akan pertanyaan "Kamu kenapa?" atau "Apa yang membuatmu kesulitan?", kalimat itu adalah sebuah pelatuk.
Selama lebih dari setahun, aku terjebak dalam sebuah ruang tunggu emosional yang kubangun sendiri. Aku menaruh harap pada seseorang yang membalas kehangatanku dengan keheningan. Seseorang yang membuatku merasa bahwa cinta adalah sebuah teka-teki yang harus kupecahkan sendirian. Aku terbiasa menganalisis pesannya yang singkat, menoleransi ketidakpastian, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa jika aku cukup sabar dan cukup sempurna, dia akhirnya akan melihatku.
Aku sibuk memoles versi diriku yang paling kuat agar tidak merepotkannya, sampai aku lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang berhak untuk lelah.
Dan di detik itu, di depan layar laptopku, semuanya runtuh.
Air mata yang sudah kutahan berbulan-bulan tumpah begitu saja. Aku tidak lagi peduli dengan riasan wajahku atau betapa berantakannya suaraku. Di sela isak tangis yang tak tertahankan, aku mendengar diriku mengucapkan kebenaran yang selama ini kutelan rapat-rapat, "Ternyata S2 ini bukan cuma tentang mengeksplor ilmu... tapi tentang mengenal diri sendiri. Dan aku belum selesai dengan diriku sendiri."
Manajerku tidak memotong. Dia tidak memberiku doa template atau basa-basi kosong. Dia hanya mendengarkan, memvalidasi keraguanku, dan memberiku ruang aman yang selama ini mati-matian kucari dari orang yang salah.
Momen itu hanya berlangsung beberapa menit, tapi mengubah caraku melihat diriku selamanya. Aku menyadari bahwa selama ini tesisku terbengkalai bukan karena materinya sulit, melainkan karena seluruh kapasitasku habis tersedot untuk mempertahankan ilusi tentang seseorang yang bahkan tidak berani menatap kerentananku.
Malam harinya, di kesunyian jam tiga pagi, aku membuka kembali draf tesis itu. Mataku masih bengkak, dan hatiku masih berproses merelakan sebuah kehilangan. Aku masih berduka untuk harapan yang harus kulepaskan.
Tapi saat aku menekan tombol 'Send' untuk mengirimkan draf itu ke dosen pembimbingku, aku tidak lagi merasa kosong. Ketakutan itu berganti menjadi kelegaan.
Aku akhirnya tahu bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis atau bisa menanggung segalanya sendirian. Terkadang, kekuatan terbesar justru lahir di momen ketika kita berani mengakui bahwa kita rapuh, melepaskan apa yang terus menyakiti kita, dan perlahan... memilih diri kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar