Senin, 15 Juni 2026

Hai Bang.


(Catatan perjalanan pulang ke diri sendiri)

Malam ini aku tertawa sendirian. Sudah beberapa jam aku menulis, merenung, menangis, lalu tertawa lagi. Lucunya, semua berawal dari satu pertanyaan sederhana:

"Chat ga ya?"

Di layar WhatsApp, kalimat itu sudah tertulis.

"Hai Bang."

Belum terkirim. Masih menggantung. Dan anehnya, yang membuatku tersenyum bukan apakah pesan itu akan terkirim atau tidak. Tapi karena aku menyadari sesuatu. Dulu, aku mungkin akan menghabiskan berjam-jam memikirkan:

  • Kalau aku chat duluan bagaimana?
  • Kalau dia tidak balas bagaimana?
  • Kalau dia balas singkat bagaimana?
  • Kalau dia tidak memilihku bagaimana?

Hari ini rasanya berbeda. Aku tetap kangen. Aku tetap memikirkan dia. Aku tetap penasaran. Tapi hidupku tidak lagi berhenti di sana.

Hari ini aku membuka revisi tesis. Aku mendaftar menjadi calon asisten Summer Course. Aku merencanakan jogging bersama teman. Aku memikirkan buku yang ingin kutulis. Aku memikirkan perempuan-perempuan lain yang mungkin sedang berjalan di jalan yang sama denganku. Lalu di sela semua itu... aku kangen dia. Dan ternyata itu berbeda.

Aku mulai memahami bahwa pulang ke diri sendiri bukan berarti berhenti mencintai seseorang.bBukan berarti berhenti merindukan. Bukan berarti seseorang tiba-tiba hilang dari hati.

Pulang ke diri sendiri berarti hidupku tidak lagi bergantung pada hadir atau tidak hadirnya seseorang. Aku tetap bisa hidup. Tetap bisa bertumbuh. Tetap bisa tertawa.nTetap bisa penasaran pada dunia.

Ada masa ketika aku ingin menjadikan dia rumah. Aku ingin kepastian. Aku ingin dipilih.nAku ingin tahu apakah suatu hari kami akan berjalan ke arah yang sama. Tapi beberapa bulan terakhir mengajarkanku sesuatu yang lebih penting.

Rumah yang baik bukanlah tempat yang membuat kita tidak pernah pergi.nRumah yang baik adalah tempat yang tetap ada ketika kita kembali. Dan perlahan aku mulai menjadi rumah itu untuk diriku sendiri.

Lucunya lagi...setelah semua proses ini, setelah air mata, kebingungan, marah, kecewa, rindu, kehilangan, dan pertanyaan yang tak kunjung selesai...aku masih bisa menulis:

Dulu aku ingin dia menjadi rumah. Sekarang aku menjadi rumah untuk diriku sendiri. Dan tamu favoritku masih bernama dia.

Lalu aku tertawa. Karena ternyata dua hal itu bisa benar dalam waktu yang sama.

Malam ini aku belum tahu apakah pesan itu akan terkirim. Mungkin iya. Mungkin tidak. Tapi untuk pertama kalinya, itu bukan lagi pertanyaan terpenting. Karena malam ini aku sadar: Aku tidak sedang menunggu hidup dimulai. Aku sudah hidup.

Hujan, Air Mata dan Kemungkinan yang Baru


Tidak ada komentar:

Posting Komentar