Aku membuka laptopku, mecoba membaca ulang lembaran kerjaku sekitar sebulan yang lalu, lalu air mata keluar tanpa diminta. Aku pikir aku menangis karena tesisku itu. Setidaknya itu yang kupikirkan di awal.
Lalu aku duduk di kamar itu sambil memandangi layar ponsel. Di usia 28 tahun, tesis S2-ku belum selesai. Skycoco belum tumbuh sebesar yang kuimpikan. Pekerjaanku terasa berjalan di tempat. Rumah belum ada. Pernikahan bahkan belum terlihat di ujung jalan. Semakin lama aku menghitung daftar itu, semakin sesak dadaku.
Lalu sebuah pikiran sederhana muncul. "Aku ini sebenarnya siapa?"
Pertanyaan itu terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, begitu kalimat itu muncul, aku langsung menangis lebih keras. Karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk menjadi banyak hal.
Aku menjadi anak yang baik. Aku menjadi mahasiswa yang harus lulus. Aku menjadi pengusaha yang harus berhasil. Aku menjadi convener yang harus mampu memimpin ruang. Aku menjadi perempuan yang harus kuat. Aku menjadi seseorang yang harus dicintai. Aku menjadi begitu banyak versi diriku untuk memenuhi begitu banyak harapan. Namun, aku menyadari sesuatu yang membuatku terdiam. Aku tidak pernah benar-benar berhenti untuk mengenal diriku sendiri.
Selama bertahun-tahun aku hidup seperti seseorang yang terus berpindah kereta. Dari target ke target. Dari tanggung jawab ke tanggung jawab. Dari peran ke peran. Aku selalu bergerak. Selalu mengejar. Selalu berusaha. Dan anehnya, aku selalu berpikir bahwa begitu satu tujuan tercapai, akhirnya aku akan merasa cukup.
Begitu tesis selesai. Begitu usaha berkembang. Begitu menikah. Begitu punya rumah. Begitu karier meningkat. Begitu ada seseorang yang memilihku. Namun, aku melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi.nAku tidak sedang mengejar tujuan. Aku sedang mengejar rasa cukup. Dan rasa cukup itu selalu berlari sedikit lebih jauh setiap kali aku mendekat.
Aku teringat semua tahun yang sudah kulewati. Aku teringat malam-malam mengerjakan tesis. Aku teringat perjalanan membangun Skycoco. Aku teringat ruang-ruang diskusi yang kuhadiri. Aku teringat seseorang yang pernah sangat kucintai. Aku teringat begitu banyak energi yang kuhabiskan untuk mencoba menjadi versi terbaik dari diriku.
Lalu sebuah pertanyaan lain muncul. Bagaimana jika aku tidak perlu menjadi siapa-siapa malam ini? Bagaimana jika aku tidak perlu membuktikan apa pun? Bagaimana jika untuk satu malam saja aku berhenti menjadi mahasiswa, pengusaha, convener, atau perempuan yang harus kuat? Bagaimana jika aku hanya menjadi Novi?
Pertanyaan itu terasa asing.
Karena ternyata selama ini aku lebih akrab dengan target-targetku daripada dengan diriku sendiri. Aku lebih sering mengevaluasi pencapaian daripada mendengarkan isi hatiku. Aku lebih sering mengukur kemajuan daripada memperhatikan luka yang kubawa diam-diam. Dan mungkin itulah alasan mengapa malam itu terasa sangat menyakitkan.
Aku tidak sedang kehilangan arah. Aku sedang bertemu seseorang yang sudah lama kutinggalkan..Diriku sendiri.
Tidak ada pencerahan besar. Tidak ada jawaban ajaib. Tesis masih belum selesai. Skycoco masih tetap membutuhkan banyak pekerjaan.nMasa depan masih sama tidak jelasnya. Namun ada sesuatu yang berubah. Untuk pertama kalinya aku berhenti bertanya: "Apa lagi yang harus kukejar?"
Dan mulai bertanya: "Bagaimana kabarmu, Novi?"
Aku tidak menemukan semua jawaban. Aku hanya menemukan diriku sendiri sedang duduk di tengah air mata. Dan ternyata itu sudah cukup.
Jika suatu hari nanti aku membaca tulisan ini lagi, mungkin aku akan tersenyum. Karena tahun 2026 ternyata bukan tahun ketika aku gagal menjadi seseorang. Tahun 2026 adalah tahun ketika aku berhenti menjadi semua hal sekaligus. Dan mulai belajar menjadi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar