Beberapa hari terakhir aku menangis. Bukan karena satu kejadian. Bukan karena satu orang. Bukan karena satu rapat. Tapi karena ada sesuatu yang selama ini kupercaya, perlahan mulai retak.
Selama ini aku percaya:
Kalau aku cukup berusaha, aku bisa membuat semuanya berjalan.
Kalau kolaborasi belum terjadi, berarti aku kurang. Kalau forum belum bergerak, berarti aku kurang. Kalau orang belum berubah, berarti aku harus mencari cara lain. Belajar lagi. Mencoba lagi. Mendorong lagi. Dan tanpa kusadari, aku mulai memikul beban yang sebenarnya bukan milikku.
Lalu dalam percakapan bersama Pak Rasyid, aku mendengar sesuatu yang sederhana tetapi menghentikanku.
Beliau bertanya:
Perubahan seperti apa yang sebenarnya kamu harapkan?
Aku menjawab:
Kolaborasi.
Kemajuan.
Orang-orang bekerja bersama.
Lalu beliau menjelaskan tentang tangga perubahan. Ada input. Ada output. Ada outcome.bAda impact. Aku terdiam.
Karena ternyata selama ini aku bekerja di anak tangga pertama, tetapi menuntut diriku menghasilkan anak tangga terakhir.
Aku mengadakan rapat. Aku memfasilitasi dialog. Aku membangun relasi. Aku mempertemukan orang. Itu adalah input.
Lalu muncul output:
- orang hadir,
- percakapan terjadi,
- hubungan terbentuk,
- komitmen mulai muncul.
Tetapi aku sering melompati semua itu. Pikiranku langsung bertanya:
Kenapa sistem belum berubah?
Padahal perubahan sistem berada sangat jauh di ujung tangga.
Pak Rasyid mengatakan sesuatu yang membuatku tertawa sekaligus malu:
Kita ini debu, mau langsung mengubah sistem.
Kalimat itu lucu. Tapi juga menampar.n Karena benar. Aku sering menempatkan diriku seolah bertanggung jawab atas sesuatu yang bahkan presiden pun belum tentu mampu mengendalikannya.
Hari itu aku menyadari sesuatu. Mungkin selama ini aku menggantungkan hasil pada usahaku. Seolah-olah:
Jika aku bekerja keras, maka hasil harus mengikuti.
Padahal dunia tidak bekerja seperti itu. Ada kebijakan. Ada relasi kuasa. Ada kepentingan.nAda anggaran. Ada karakter manusia. Ada sejarah. Ada hal-hal yang berada jauh di luar jangkauanku.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam. Kalau aku bukan pengubah sistem... Kalau aku bukan penyelamat kolaborasi... Kalau aku bukan semua peranku... Maka aku ini siapa?
Pertanyaan itu membuatku menangis.
Karena ternyata aku sangat lama mendefinisikan diriku melalui fungsi. Sebagai LO. Sebagai PUKL. Sebagai mahasiswa. Sebagai fasilitator. Sebagai anak. Sebagai anggota tim. Tapi ketika semua peran itu kulepas sebentar, aku bingung.
Aku siapa?
Dan mungkin jawabannya mulai muncul perlahan.
Aku tetap Novi. Bahkan ketika tidak sedang menghasilkan apa-apa. Bahkan ketika tidak sedang memperbaiki siapa-siapa. Bahkan ketika sistem belum berubah. Bahkan ketika kolaborasi belum terjadi.
Hari ini aku tidak merasa menemukan jawaban final. Tapi aku merasa menemukan sesuatu yang lebih penting. Aku tidak harus memikul seluruh dunia. Aku hanya perlu menjalankan bagian yang memang menjadi bagianku.
Dengan sungguh-sungguh. Dengan jujur. Dengan syukur. Lalu melepaskan hal-hal yang memang bukan wilayah kendaliku. Dan mungkin inilah pelajaran terbesar yang kutemukan:
Aku bertanggung jawab atas usahaku.
Aku tidak bertanggung jawab atas seluruh hasil dunia.
Ketika kalimat itu mulai masuk ke hati, tubuhku yang selama ini tegang mulai sedikit mengendur.
Aku tertawa. Aku menangis. Aku lelah. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit lebih ringan.
Catatan Juni 2026:
Hari ketika aku mulai belajar membedakan antara kontribusi dan kendali.
Hari ketika aku mulai memahami bahwa menjadi manusia tidak sama dengan menjadi penyelamat sistem. 🌱
Tidak ada komentar:
Posting Komentar