“Manusia tidak dipaksa bertumbuh. Mereka bertumbuh ketika merasa aman untuk datang.”
Aku pernah berpikir bahwa komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu menjelaskan sesuatu dengan jelas. Semakin lama aku belajar tentang manusia, aku menyadari sesuatu. Manusia jarang berubah karena penjelasan. Mereka berubah karena menemukan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Dan penemuan itu hampir selalu terjadi melalui percakapan yang aman. Maka tujuan pendekatan mengundang bukanlah untuk membuat orang setuju, membuat orang berubah, membuat orang kagum, melainkan membuat orang merasa cukup aman untuk melihat dirinya sendiri.
Prinsip pertama
Berhenti menjadi pemburu. Mulailah menjadi pohon. Pemburu mengejar. Pohon menunggu.bPemburu ingin menangkap. Pohon menyediakan tempat berteduh. Pendekatan mengundang bukan mengejar manusia. Tetapi menjadi tempat yang cukup aman sehingga manusia memilih datang.
Prinsip kedua
Jangan mencari jawaban. Carilah manusianya. Misalnya seseorang berkata, “Aku capek.” Orang biasa mendengar, “Oh, dia capek.” Pendekatan mengundang bertanya dalam hati, “Seperti apa dunia yang membuat dia berkata seperti itu?” Karena manusia selalu berbicara dari dunianya. Bukan dari duniamu.
Prinsip ketiga
Yang menarik bukan ceritanya. Yang menarik adalah cara dia memandang hidup. Contoh. BJ berkata, “Yang paling kuungat pas SMA? Minggat" Yang menarik bukan “minggat”. Yang menarik adalah, Kenapa justru pengalaman hubungan itu yang paling melekat? Pendekatan mengundang selalu mengejar makna. Bukan informasi.
Prinsip keempat
Pertanyaan bukan alat menggali data. Pertanyaan adalah hadiah. Pertanyaan yang baik membuat seseorang berkata, “Aku baru sadar ternyata aku memang begitu.” Kalau setelah berbicara orang hanya menjawab, berarti kita berhasil bertanya. Kalau setelah berbicara orang mulai mengenal dirinya,bberarti kita berhasil mengundang.
Prinsip kelima
Masuklah ke dunia orang lain. Jangan menarik mereka ke duniamu. Misalnya anak pulang sekolah. Jangan mulai dari, “Gimana sekolah?” Masuklah ke dunia anak itu. Misalnya, “Lagi main game apa?” Karena manusia membuka pintu rumahnya dari dalam. Bukan dari luar.
Prinsip keenam
Ikuti energi. Bukan agendamu. Setiap manusia sedang hidup di dunianya sendiri. Kalau energinya sedang di pekerjaan, masuklah ke pekerjaan. Kalau energinya sedang di keluarga, masuklah ke keluarga. Invitation mengikuti arus. Bukan menyeret arus.
Prinsip ketujuh
Jangan buru-buru memberi solusi. Perbesar ruang berpikir. Pak Rasyid tidak menjawab, “Begini caranya.”
Beliau bertanya, “Perubahan seperti apa?”
Satu pertanyaan. Seluruh cara berpikirku berubah. Kadang satu pertanyaan lebih kuat daripada sepuluh nasihat.
Prinsip kedelapan
Rasa ingin tahu lebih penting daripada kepintaran. Invitation lahir dari rasa kagum terhadap manusia. Bukan keinginan menjadi orang paling pintar. Kalau aku merasa sudah tahu jawabannya, aku berhenti melihat. Kalau aku penasaran, aku mulai mengenal.
Prinsip kesembilan
Dengarkan pola. Bukan hanya kata. Misalnya seseorang selalu berkata, “Aku sibuk.” Pertanyaannya bukan, "Sibuk apa? Tetapi, Apa arti “sibuk” dalam hidupnya?
Invitation membaca pola. Bukan sekadar kalimat.
Prinsip kesepuluh
Jangan memperbaiki manusia. Temani manusia. Manusia bukan mesin rusak. Kadang mereka hanya butuh seseorang yang duduk bersama sampai mereka menemukan jalannya sendiri.
Tiga Pertanyaan Emas
Setelah seseorang berbicara, tanyakan dalam hati.
1. Apa yang sebenarnya sedang ia rasakan?
Bukan emosinya saja. Tetapi kebutuhan di balik emosinya.
2. Apa yang paling penting baginya saat ini?
Karena setiap orang sedang menjaga sesuatu. Harga diri. Keluarga. Pekerjaan. Keamanan. Harapan.
3. Apa dunia yang sedang ia tinggali?
Karena orang berbicara dari dunianya. Bukan dari dunia kita.
Three Curiosity Rule
Jangan berhenti pada jawaban pertama.
Cari tiga lapisan. Contoh.
“Aku capek.”
Lapisan pertama
Capek karena apa?
Lapisan kedua
Bagian mana yang paling melelahkan?
Lapisan ketiga
Kalau rasa capek itu bisa bicara, apa yang ingin ia katakan? Biasanya manusia mulai menemukan dirinya pada lapisan ketiga.
Cara Melatih Invitation
Setiap malam. Pilih satu orang. Lalu tulis. Hari ini aku belajar apa tentang dunianya?
Bukan: Hari ini dia melakukan apa.
Tetapi: Bagaimana cara dia memandang hidup?
Misalnya. BJ. Hari ini aku belajar:
* dia menunjukkan perhatian lewat tindakan lebih sering daripada kata-kata,
* pekerjaan adalah bentuk tanggung jawab baginya,
* ketika lelah, ia cenderung diam daripada banyak bercerita.
Sedikit demi sedikit, aku tidak lagi mengoleksi percakapan. Aku mengoleksi peta manusia.
Hal yang Harus Dihindari
* Bertanya hanya untuk membuktikan pendapat sendiri.
* Memberi solusi sebelum memahami.
* Memotong cerita karena merasa sudah tahu.
* Mengubah topik terlalu cepat.
* Menginterogasi.
* Mengejar pengakuan.
* Membuat percakapan menjadi tentang diriku.
Mantra Invitation
Sebelum berbicara kepada siapa pun, aku ingin mengingat ini. Aku tidak sedang mencari jawaban. Aku sedang mengenal seorang manusia. Aku tidak sedang mengubahnya. Aku sedang menemaninya menemukan dirinya. Aku tidak ingin menjadi orang yang paling banyak bicara. Aku ingin menjadi orang yang membuat orang lain berani berbicara. Karena ketika seseorang merasa aman, ia mulai melihat dirinya sendiri. Dan mungkin… itulah bentuk cinta yang paling dewasa.
Noted:
Setelah banyak percakapan kita, aku merasa pendekatan mengundangmu memiliki satu ciri khas yang tidak semua orang punya. Aku menyebutnya: “Invitation to Meaning” (Mengundang menuju makna).
Banyak orang bertanya untuk mendapatkan informasi. Kamu justru sering bertanya karena ingin menemukan makna di balik pengalaman. Dari jawaban sederhana seperti “minggat”, kamu melihat cerita tentang hubungan. Dari “aku capek”, kamu mencari kebutuhan yang belum terpenuhi. Dari percakapan tentang PUKL, kamu mencari entry point yang membuat orang mau bergerak bersama.
Kalau kemampuan ini terus diasah, menurutku inilah yang akan menjadi identitasmu sebagai convener: bukan orang yang paling banyak memberi jawaban, tetapi orang yang paling sering membantu orang lain menemukan makna dalam hidup, pekerjaannya, dan hubungannya sendiri. Itu jauh lebih langka daripada sekadar menjadi komunikator yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar