Tampilkan postingan dengan label Skycoco. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skycoco. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2026

File yang Selalu Terbuka, Tapi Jarang Dibaca


Aku membuka laptopku dengan niat yang bulat. Hari ini aku akan mengerjakan tesis. File-nya sudah ada di desktop. Judulnya sudah kuhapal luar kepala, kopi fungsional gambir, dua komoditi lokal Sumatera Selatan yang aku pilih karena memang seru, bukan karena terpaksa. Aku bahkan sudah siapkan kopi di sebelah laptop. Suasana sudah kondusif.

Lalu notifikasi masuk.

Ada dokumen PUKL yang perlu diselesaikan. Ada laporan yang menunggu. Ada chat koordinasi yang kalau tidak dibalas sekarang, akan menggantung sampai besok. Dan tanpa aku sadari, jari-jariku sudah berpindah ke tab lain. File tesis masih terbuka. Tapi aku tidak benar-benar di sana.

Dua jam kemudian, kerjaan PUKL selesai. Laptopku masih menyala. File tesis masih terbuka di tab yang sama, belum bergulir satu paragraf pun. Aku menutup laptopku. Besok deh.

Ini bukan cerita satu hari. Ini cerita yang berulang. Dan suatu pagi, sebuah pesan masuk dari Bu Indah, koordinator S2-ku, "Novi, bagaimana kabarnya? Tesis sudah sampai mana?... Kalau ditunda-tunda terus, kamu tidak selesai semester ini. Masa studi juga sudah terlalu lama."

Aku membacanya dan -anehnya- yang pertama aku rasakan bukan panik. Bukan malu. Tapi sesuatu yang hangat. Alhamdulillah, Bu Indah masih peduli. Tapi di balik rasa syukur itu, ada satu kalimat yang aku kirimkan yang diam-diam mengungkapkan sesuatu, "Novi ga enak klo ga ngerti dikit aja ttg analisis finansial klo mau bimbingan."

Pagi ini, aku membaca ulang kalimat itu. Dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang selama ini tidak aku sadari. Aku tidak menunda tesis karena malas. Aku menunda tesis karena menunggu merasa cukup siap.

Menunggu ngerti analisis finansial dulu, baru bimbingan. Menunggu bab sebelumnya sempurna dulu, baru lanjut ke bab berikutnya. Menunggu kondisi ideal dulu, baru buka file-nya. Dan kondisi ideal itu tidak pernah benar-benar datang. Karena setiap kali hampir tercapai, standarnya bergeser sedikit lebih jauh.

Ini pola yang sama yang ternyata hidup di banyak area hidupku. Menunggu kepastian sebelum melangkah. Menunggu konfirmasi sebelum yakin. Menunggu siap, yang ternyata tidak pernah benar-benar ada jadwalnya.

Yang lucu adalah ini, tesisnya tentang kopi gambir. Dua komoditi yang aku pilih sendiri karena genuinely seru. Terakhir kali aku benar-benar duduk dan membacanya, aku ingat merasa excited.  Tapi excitement itu tidak cukup untuk mengalahkan kebiasaan menunggu sempurna.

Bu Eka, Bu Filli, dan Bu Indah dan Pak Budi tidak menunggu aku sempurna. Mereka hanya menunggu aku datang.

Aku tidak punya ending yang heroik untuk tulisan ini. Aku belum tiba-tiba menjadi orang yang langsung membuka tesis setiap pagi tanpa drama. Tapi aku sudah menyadari satu hal yang selama ini tersembunyi di balik kata "belum siap": Siap itu tidak datang sebelum kamu mulai. Siap datang karena kamu mulai. Bukan sempurna dulu baru melangkah. Tapi melangkah dulu, lalu belajar sempurna di jalan.

Untuk kamu yang juga punya file yang sudah lama terbuka tapi belum dibaca, mungkin hari ini bukan soal siap atau tidak siap. Mungkin hari ini hanya soal satu paragraf saja. Baca satu paragraf. Lalu lihat apa yang terjadi. 🌿

Btw, soal proses yang tidak bisa buru-buru, nata de coco SKY COCO juga begitu. Fermentasinya bisa sampai hingga 7 hari. Tidak ada jalan singkat untuk sesuatu yang mau tumbuh dengan baik. Tapi hasilnya? Worth it.

Kalau hari ini kamu sedang berjuang memulai sesuatu yang sudah lama tertunda, temani prosesmu dengan yang ringan dan menyegarkan. SKY COCO ada untuk itu. Berkabar yaaa...

Rindu yang Tidak Perlu Diselesaikan

Sekayu, 06 Maret 2026, pukul 05.26

Ada yang pernah bilang bahwa perempuan yang kuat tidak mengejar kepastian dari siapapun. Dia berdiri sendiri, tidak menunggu, tidak membutuhkan. Aku dulu percaya itu.

Sampai aku menyadari bahwa "tidak mengejar" yang sesungguhnya bukan berarti tidak merasakan. Justru sebaliknya, ia dimulai dari keberanian untuk mengakui apa yang benar-benar ada di dalam dada, tanpa buru-buru melakukan sesuatu dengan perasaan itu.

Hari ini aku menangis. Awalnya bukan karena dia. Lucunya, bukan juga karena percakapan terakhir kami. Aku sedang melihat konten orang berbagi sesuatu di suatu platform media sosial. Entah kenapa, tiba-tiba mataku panas. Lalu air mata keluar begitu saja. Dan di tengah tangisan itu… aku sadar sesuatu. Aku kangen.
Bukan kangen yang panik. Bukan juga kangen yang membuatku ingin mengejar. Hanya kangen yang jujur.

Aku ingat terakhir kali menangis seperti ini sekitar tahun 2018. Rasanya jauh sekali. Seolah ada ruang dalam diriku yang lama tidak tersentuh, lalu tiba-tiba terbuka.
Tangisan itu datang sebentar, tapi rasanya membersihkan sesuatu di dalam dada. Aneh ya. Kadang kita tidak menangis karena satu peristiwa besar. Kadang kita menangis karena tubuh kita akhirnya mengizinkan dirinya merasakan semuanya.
Rindu. Lelah. Harapan. Dan sedikit kehilangan.

Aku menyadari satu hal malam ini, rasa kangen tidak selalu berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang ia hanya ingin diakui. Aku tidak perlu buru-buru mengirim pesan. Tidak perlu mencari tanda bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Tidak perlu mengejar kepastian yang mungkin memang tidak tersedia hari ini.
Aku hanya duduk di kamar, mengusap air mata, lalu tertawa kecil.

"Ah, aku kangen ternyata."

Setelah menangis, dadaku terasa lebih ringan. Seperti setelah hujan kecil yang jatuh tiba-tiba di sore hari. Tidak lama, tapi cukup membuat udara terasa lebih segar.
Rindu itu masih ada. Tapi sekarang rasanya lebih tenang. Dan aku pikir… tidak apa-apa mencintai seseorang dengan jujur, selama kita juga tetap memeluk diri kita sendiri dengan lembut.

Mengejar kepastian dari orang lain adalah cara kita mencoba mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Dan melepaskannya, bukan berarti kita berhenti peduli. Itu berarti kita memilih untuk tidak menjadikan kepastian orang lain sebagai syarat ketenangan kita sendiri.

Malam ini aku hanya belajar satu hal sederhana. Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban dari orang lain. Kadang yang kita butuhkan hanya ruang untuk menangis sebentar. Lalu bernapas lagi. Dan hidup berjalan pelan seperti biasa.

Rindu itu masih ada. Tapi sekarang rasanya lebih tenang. Dan mungkin, seperti nata de coco yang butuh 7 hari fermentasi untuk menjadi dirinya sendiri, ketenangan itu juga tidak bisa dipaksa datang lebih cepat. Ia tumbuh pelan, dalam diam, tanpa perlu dikonfirmasi oleh siapapun.

Kalau hari ini kamu juga sedang belajar melepaskan kepastian dari seseorang, temani prosesmu dengan yang ringan dan menenangkan. SKY COCO  ada untuk itu. Kirim pesan yaaa... Whatsapp SKYCCOO

Ketika Kamu Butuh Seseorang Bilang "Ini Sudah Bagus"

Suatu sore di tengah kesibukan lapangan, persiapan penyelenggaraan Diskusi Tematik 2 organisasiku dalam ruang auditorium tengah kota Sekayu, Musi Banyuasin. Aku menyerahkan sebuah dokumen. Poin-poin sambutan yang sudah kukerjakan dengan serius, sudah kupikirkan matang-matang, sudah kurevisi beberapa kali di dalam kepala sebelum benar-benar kutulis.

Tapi begitu dokumen itu berpindah tangan, ada sesuatu yang terjadi di dalam dadaku. Sebuah penantian kecil yang diam-diam muncul tanpa diundang.

Apakah ini sudah cukup baik?

Lalu seseorang membacanya. Mengangkat kepala. Dan berkata langsung, "Eh Nov, kamu belum percaya diri ya sama kerjaan kamu sendiri."
Aku tidak langsung menjawab. Karena dalam diam, aku tahu dia benar.

Bukan sekali dua kali aku merasakannya. Sudah mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, sudah mencurahkan pikiran dan waktu, tapi tetap saja ada suara kecil yang menunggu. Menunggu seseorang bilang "ini bagus", "ini benar", "ini cukup",. 

Seolah tanpa konfirmasi itu, pekerjaanku belum benar-benar selesai.

Aku menyebutnya jeda validasi, celah kecil antara selesai mengerjakan dan benar-benar merasa yakin bahwa yang kukerjakan itu layak.

Dan celah itu, ternyata, sudah lama ada.

Aku mulai bertanya pada diri sendiri pagi ini, sejak kapan ini dimulai?

Perlahan aku menyadari sesuatu. Mungkin aku tumbuh di lingkungan yang lebih banyak menilai daripada mempercayai. Lebih banyak mengoreksi daripada mengakui. Bukan karena orang-orang di sekitarku jahat, justru sebaliknya, mereka peduli dan punya standar tinggi. Tapi entah bagaimana, yang lebih banyak tersampaikan adalah 'apa yang kurang', bukan 'kamu sudah cukup baik.'

Jadi otakku belajar satu hal tanpa aku sadari bahwa selesai mengerjakan sesuatu saja tidak cukup. Aku perlu bukti dari luar bahwa itu memang baik.

Dan pola itu, ternyata, tidak hanya muncul di pekerjaan. Ia muncul di mana-mana. Dalam keputusan-keputusan kecil. Dalam cara aku memandang hasil kerjaku sendiri. Bahkan dalam cara aku menjalani hubungan dengan orang lain.

Yang lucu adalah ini, aku bisa menganalisis sistem kebijakan daerah, memfasilitasi forum multi-pihak, menyiapkan dokumen yang dibaca pejabat - tapi untuk bilang "iya, ini sudah bagus", kepada diri sendiri, aku masih belajar.

Mungkin kamu juga pernah merasakannya.

Mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, lalu diam-diam menunggu seseorang mengkonfirmasi bahwa itu cukup layak. Bukan karena kamu tidak kompeten. Tapi karena suara di dalam belum cukup keras untuk mengalahkan kebiasaan lama yang mencari pegangan di luar.

Aku tidak punya jawaban yang sudah selesai untuk ini. Aku masih dalam perjalanan belajar mempercayai suara di dalam, suara yang sebenarnya sudah tahu sejak awal, sebelum konfirmasi dari luar datang.

Tapi satu hal yang mulai aku pahami bahwa kepercayaan diri bukan berarti tidak butuh feedback. Kepercayaan diri adalah ketika kamu bisa menyelesaikan sesuatu, meletakkannya dengan tenang, dan berkata pada diri sendiri bahwa "aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan hari ini. Dan itu cukup."

Pelan-pelan. Satu hari dalam satu waktu.

Dan untuk kamu yang hari ini juga sedang menunggu seseorang bilang bahwa kamu sudah cukup baik, izinkan aku yang bilang lebih dulu, "Kamu sudah cukup. Kamu sudah melakukan lebih dari yang kamu sadari. 🤍

Btw, bicara soal "sudah cukup", SKY COCO juga lahir dari proses yang tidak bisa terburu-buru. Fermentasinya perlu waktu hingga 7 hari. Tidak ada jalan singkat untuk sesuatu yang mau tumbuh dengan baik. Mungkin kita juga begitu.

Kalau mau stok nata de coco, chat aja ya. Kita masih tersedia, whatsapp kami saja Whatsapp SKYCOCO