Hari ini aku baru menyadari sesuatu. Bukan tentang tesis. Bukan tentang yudisium. Bukan juga tentang pekerjaan.
Tapi tentang caraku memproses hidup.
Beberapa hari terakhir kepalaku sering terasa penuh. Rasanya seperti ada banyak sekali hal yang berjalan bersamaan. Revisi tesis yang tinggal sedikit lagi selesai, jadwal bertemu dosen, pekerjaan, rencana usaha nata de coco yang tiba-tiba muncul lagi, sampai rasa kangen kepada seseorang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Lucunya, aku baru sadar bahwa kepalaku mulai terasa ringan setelah... bercerita.
Bukan karena semua masalah langsung selesai.Tidak. Revisi tetap harus dikerjakan. Penomoran tetap harus diperbaiki. Besok tetap harus bertemu dosen. Yang berubah justru diriku.
Aku dulu mengira kalau bercerita itu berarti sedang mencari solusi. Sekarang rasanya tidak selalu begitu. Kadang aku hanya sedang menyusun pikiranku sendiri.
Aku akan mulai dari satu cerita, lalu tiba-tiba ingat pengalaman tiga tahun lalu, kemudian melompat ke ide usaha, lalu menghubungkannya dengan kuliah, lalu akhirnya menemukan kesimpulan yang bahkan sebelumnya tidak kusadari.
Seolah-olah jawabannya memang sudah ada di kepalaku. Aku hanya perlu mendengarnya keluar lewat suaraku sendiri.
Mungkin itu juga sebabnya aku senang ketika ada seseorang yang mau mendengarkan. Tidak harus memberi jawaban panjang. Tidak harus selalu mengerti semuanya. Kadang cukup satu kata.
"Good."
Atau,
"Lanjut."
Aneh ya?
Satu kata itu tidak menyelesaikan revisiku. Tapi entah kenapa cukup membuatku merasa, "Oke, aku lanjut lagi."
Ada hal lain yang juga kusadari. Selama ini aku sering merasa bersalah ketika banyak bercerita kepada orang yang kusayang.
Takut mengganggu. Takut dia sedang sibuk. Takut pesanku terlalu banyak. Padahal, ternyata kebutuhan terbesarku bukan meminta orang lain menyelesaikan masalahku. Aku hanya ingin ada ruang untuk berpikir bersama.
Mungkin memang ada orang yang memproses hidup dengan cara menulis. Ada yang memilih diam. Ada yang berjalan kaki sendirian. Kalau aku? Sepertinya aku memproses hidup dengan cara berbicara. Dan tidak apa-apa.
Aku tidak harus mengubah diriku menjadi orang yang mampu memendam semuanya sendiri.
Yang perlu kupelajari justru adalah menemukan ruang yang tepat, waktu yang tepat, dan orang yang tepat untuk berbagi.
Malam ini aku masih harus menyelesaikan revisi tesis. Besok masih ada tanda tangan pengesahan. Perjalanannya belum selesai. Tapi malam ini aku menutup laptop sebentar, menarik napas, lalu tersenyum.
Karena akhirnya aku mengenal diriku sedikit lebih baik. Ternyata, aku tidak selalu membutuhkan jawaban. Aku hanya membutuhkan ruang untuk bercerita. Dan mungkin, dari situlah keberanian untuk melanjutkan selalu datang.
Mungkin setiap orang punya cara yang berbeda untuk memproses hidup. Hari ini aku baru tahu caraku adalah bercerita. Besok, mungkin aku akan menemukan hal baru lagi tentang diriku.