Ada satu kalimat yang masih teringat jelas dalam perjalanan pulang. Kami sedang membahas fenomena sesuatu yang sebenarnya berasal dari pengalamanku sendiri, ada BJ, Pak Tab dan Pak Wil. Lalu salah BJ berkata,
"Kalau tidak mengatakan pengalaman pribadi, orang akan lebih rasional menjawabnya, klo bahasa sekarang ini."
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, aku diam cukup lama. Karena selama ini, setiap kali ingin belajar, aku hampir selalu memulai dengan,
"Aku kemarin mengalami..."
"Aku sedih karena..."
"Kalau aku begini..."
Aku mengira kejujuran adalah cara terbaik untuk mendapatkan jawaban. Ternyata, tidak selalu.
Setelah cukup panjang membahas momen itu, aku mencobanya. Hari itu aku mencoba sesuatu yang baru. Alih-alih bertanya tentang diriku, aku mengubah pertanyaannya menjadi sebuah fenomena. Bukan lagi, "Kalau saya menangis saat memfasilitasi forum, bagaimana menurut Bapak?"
Melainkan,
"Kalau ada fasilitator yang menangis di dalam forum, menurut Bapak bagaimana?"
Aneh. Jawaban yang keluar justru lebih banyak. Lebih kaya. Bahkan kadang saling berbeda. Tidak ada yang sibuk menenangkan perasaanku. Tidak ada yang berkata, "Enggak apa-apa kok." Yang ada justru diskusi. Mereka mulai membahas konteks. Kepemimpinan. Ruang yang tepat untuk menunjukkan emosi. Kepercayaan peserta. Sampai contoh-contoh dari pengalaman mereka sendiri. Aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar jawaban. Aku pulang membawa cara bertanya yang baru.
Beberapa waktu kemudian aku mencoba lagi. Aku bertanya tentang laki-laki. Bukan karena ingin membahas seseorang secara khusus. Melainkan karena aku penasaran dengan cara berpikir mereka. Daripada bertanya, "Kalau laki-laki yang kusukai bilang 'berdoa dulu', sebenarnya maksudnya apa?"
Aku bertanya,
"Kalau ada laki-laki yang berkata 'berdoa dulu', biasanya apa yang sedang ada di pikirannya?"
Lagi-lagi... Percakapannya berubah. Orang tidak lagi membaca pertanyaanku sebagai curhat. Mereka mulai berpikir. Ada yang menjawab dari pengalaman sebagai teman. Ada yang menjawab dari sudut pandang suami. Ada yang memberi ilustrasi. Ada yang menambahkan konteks. Aku tidak hanya mendapatkan satu jawaban. Aku mendapatkan cara orang memandang dunia.
Baru saat itu aku menyadari sesuatu. Membungkus pertanyaan bukan berarti menyembunyikan diri. Justru sebaliknya. Ia membebaskan percakapan. Ketika sebuah pengalaman pribadi diangkat menjadi sebuah fenomena, orang-orang tidak lagi sibuk melindungi penanya. Mereka mulai mengeksplorasi persoalannya bersama. Jawaban yang muncul menjadi lebih jernih. Lebih beragam. Lebih rasional. Lebih objektif. Dan anehnya... Sering kali justru lebih menyentuh.
Aku rasa ini bukan hanya berguna untuk percakapan sehari-hari. Sebagai fasilitator, pemimpin, peneliti, atau siapa pun yang pekerjaannya mengajak orang berpikir bersama, kualitas sebuah jawaban sering kali ditentukan oleh kualitas pertanyaannya. Bukan karena kita pandai berbicara. Tetapi karena kita mampu menciptakan ruang di mana orang merasa bebas berpikir.
Perjalanan itu memberiku banyak pelajaran. Bukan hanya dari materi pelatihan. Tetapi dari obrolan di dalam mobil, candaan di sela perjalanan, dan pertanyaan-pertanyaan yang awalnya terasa sepele. Aku pulang dengan satu kebiasaan baru. Sekarang, sebelum bertanya, aku sering berhenti sejenak. Lalu bertanya pada diriku sendiri,
"Bagaimana kalau pertanyaan ini tidak lagi tentang aku, tetapi tentang fenomenanya?"
Dan setiap kali melakukannya, aku merasa percakapan menjadi sedikit lebih luas. Sedikit lebih tenang. Sedikit lebih jernih. Mungkin benar kata BJ di perjalanan itu,
"Kalau tidak mengatakan pengalaman pribadi, orang akan lebih rasional."
Kalau boleh menambahkan dengan bahasaku sendiri, "Ketika kita berhenti mencari jawaban untuk diri sendiri, kita mulai membuka ruang bagi kebijaksanaan bersama".
Terima kasih untuk tiga "konsultan" dadakan dalam perjalanan itu. Itu mungkin dikira hanya sedang mengobrol. Padahal, diam-diam sedang mengubah cara seseorang bertanya dan mungkin, cara seseorang belajar seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar