Minggu, 12 Juli 2026

Aku Juga Bangga, Sayang


Ada satu hal yang baru kusadari setelah beberapa hari mendampingi sebuah kegiatan di luar kota dari tgl 8-12 Juli di Jambi.  Selama ini, ketika seseorang berkata, "Aku lagi banyak kerjaan," rasanya kalimat itu mudah sekali terdengar biasa. Sampai aku melihatnya sendiri. Dari pagi hingga malam. Berangkat ke lokasi. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengemudi berjam-jam. Mendengarkan banyak orang. Berdiskusi. Mencatat. Mendokumentasikan kegiatan. Lalu ketika acara selesai, pekerjaannya ternyata belum selesai.

Masih ada laporan yang menunggu. Masih ada dokumen yang harus dirampungkan. Baru saat itulah aku benar-benar memahami bahwa ada pekerjaan yang memang menguras tenaga sekaligus pikiran.

Di tengah semua itu, tentu ada rasa rindu. Rindu mengobrol lebih lama. Rindu duduk sebentar tanpa membahas pekerjaan. Rindu menikmati waktu yang tidak terburu-buru. Namun perlahan aku bertanya pada diriku sendiri, "Kalau aku yang menjalani ritme seperti itu, apakah aku masih punya banyak tenaga untuk hal lain?"

Jawabannya mungkin juga tidak. Bukan karena tidak peduli. Tetapi karena energi manusia memang ada batasnya.

Sering kali kita mengukur perhatian dari banyaknya waktu yang diberikan.

Padahal, semakin dewasa, aku mulai belajar bahwa perhatian juga bisa hadir dalam bentuk lain. Mengingatkan untuk makan. Menanyakan apakah acara sudah dimulai. Menyempatkan membalas pesan di sela pekerjaan. Membantu hal-hal kecil meski sedang lelah. Mungkin tidak selalu romantis. Namun sering kali justru itulah bentuk cinta yang paling nyata.

Perjalanan pulang hari itu membuatku banyak berpikir. Bayangkan menyetir hampir seharian, dari jam 10 pagi sampai ke Palembang jam 10 malam. Lalu esoknya masih harus kembali bekerja. Aku membayangkannya saja sudah lelah. Dan entah kenapa, rasa sedihku perlahan berubah menjadi rasa hormat. Aku jadi melihat sesuatu yang sebelumnya luput kulihat. Di balik seseorang yang tampak tenang, bisa jadi ada tanggung jawab yang sedang ia pikul dengan sungguh-sungguh.

Aku masih belajar. Belajar membedakan antara tidak diprioritaskan dan seseorang yang sedang benar-benar kelelahan. Karena dua hal itu ternyata tidak selalu sama. Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan dalam mencintai adalah mampu berkata, "Aku tetap merindukanmu." Sekaligus, "Aku juga bangga melihatmu bertanggung jawab." Dua perasaan itu bisa hidup berdampingan. Tidak saling mengalahkan. Justru saling menguatkan. 

Kadang kita tidak sedang kekurangan cinta. Kita hanya sedang melihat seseorang berjuang dengan caranya sendiri. Dan mungkin, memahami perjuangan itu juga merupakan salah satu bentuk cinta. 

Ketika Panggilan Menjadi Tempat Pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar