Aku kira aku akan tersenyum saat menutup annual review. Ternyata aku menangis. Lucunya, bukan saat membaca daftar pencapaian. Bukan juga saat melihat target yang berhasil dicapai. Air mata itu justru turun ketika sampai di satu kolom yang sederhana yaitu Training. Aku terdiam.
Di sana tertulis pelatihan demi pelatihan yang kuikuti selama setahun terakhir. Bahasa Inggris. Public speaking. Theory U. Systems Thinking. Action Lab. Leadership. Belajar mendengar. Fasilitasi. Dan banyak ruang belajar lainnya.
Tiba-tiba aku seperti melihat diriku setahun ke belakang. Ternyata... sejauh ini ya kita berjalan.
Dulu aku punya keyakinan sederhana. Kalau ingin dihargai, aku harus menjadi orang yang paling pintar. Kalau ingin bermanfaat, aku harus tahu semua jawabannya. Makanya aku belajar mati-matian. Aku mengejar nilai. Mengejar sertifikat. Mengejar prestasi. Mengejar pengakuan. Lalu hidup pelan-pelan mengajarkanku sesuatu. Ternyata menjadi orang yang paling tahu bukanlah tujuan.
Beberapa hari terakhir aku banyak berbincang dengan orang. Ada mahasiswa yang sedang kecewa karena gagal masuk S2. Ada teman yang sedang membangun UKM di kampus. Ada rekan yang sedang mencari arah kolaborasi. Aneh ya. Tidak satu pun dari mereka bertanya kepadaku karena menganggap aku paling pintar. Mereka datang karena merasa cukup aman untuk berpikir bersama.
Di situlah aku mulai mengerti. Kadang orang tidak membutuhkan seseorang yang membawa semua jawaban. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang cukup hadir, cukup mendengar, lalu membantu mereka menemukan jawaban mereka sendiri.
Aku juga baru menyadari sesuatu. Dulu aku belajar supaya berhasil. Hari ini aku belajar supaya bertumbuh. Bedanya ternyata jauh sekali. Kalau belajar hanya untuk berhasil, maka setiap kegagalan terasa seperti akhir dunia. Tapi ketika belajar untuk bertumbuh, bahkan kegagalan pun berubah menjadi guru.
Setahun terakhir bukan tahun yang mudah. Ada proposal yang tidak lolos. Ada tes yang gagal. Ada revisi yang seolah tidak selesai. Ada malam-malam ketika aku hanya ingin menangis. Kalau dulu mungkin aku akan menganggap semua itu sebagai tanda bahwa aku kurang baik. Sekarang aku mulai melihatnya berbeda. Mungkin itu memang bagian dari perjalanan menjadi manusia.
Saat melihat kolom training itu, aku akhirnya sadar. Yang berubah bukan hanya daftar pelatihanku. Yang berubah adalah cara aku memandang hidup. Hari ini aku tidak lagi ingin menjadi orang yang paling pintar di ruangan. Aku lebih ingin menjadi orang yang membuat ruangan itu terasa aman untuk berpikir. Kalau suatu hari nanti ada yang pulang dari sebuah percakapan dengan perasaan lebih lega, lebih jernih, atau lebih berani mengambil langkah berikutnya, mungkin di situlah letak makna dari semua proses belajar ini.
Aku menutup annual review sambil mengusap air mata. Lalu aku tersenyum. Bukan karena akhirnya aku merasa hebat. Tetapi karena akhirnya aku bisa berkata kepada diriku sendiri, "Terima kasih ya. Kita tidak menyerah."
Dan mungkin... itulah pelatihan paling penting yang sedang diajarkan hidup kepadaku. Bahwa ilmu terbaik bukan hanya yang memenuhi kepala. Melainkan yang perlahan melembutkan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar