Rabu, 15 Juli 2026

Sayang

Aku baru sadar ternyata rindu tidak selalu datang ketika orang itu pergi. Kadang ia datang setelah tahu data IC50 ternyata bisa dihitung.

Aku keluar dari laboratorium sambil tersenyum. Rasanya seperti ada batu yang akhirnya dipindahkan dari bahu.
Kubuka WhatsApp.
"Sayang, ternyata solusinya simple banget."
Tidak lama kemudian balasannya datang.
"Lanjut. Abg otw Jambi."

Aku membayangkan jalan lintas yang panjang. Setir yang terus dipegang berjam-jam. Aku jadi ingat perjalanan kami dari Jambi beberapa hari lalu. Waktu itu baru kusadari bahwa jarak memang bisa membuat tangan seseorang terasa dingin ketika turun dari mobil. Malamnya kami tertawa gara-gara typo.
"Ngeti."
"Ngeti apa?"
"Ngetikkkk."

Aku sampai membayangkan ekspresi wajahnya ketika mengucapkan kata itu. Entah kenapa, bayangan itu membuatku tertawa sendiri di kamar. Lalu aku teringat satu adegan lain. Di mobil tempo hari, sebelum turun, ia mencium jam di tangan kiri. Aku masih ingat gerakannya. Sedikit condong ke depan. Cepat sekali. Seperti kebiasaan yang tidak dipikirkan. Aneh. Yang kuingat bukan jamnya. Yang kuingat justru ekspresi wajahnya.

Sejak itu aku tahu, rupanya aku mudah sekali menyimpan hal-hal kecil. Sosis. Typo. Tangan yang dingin. Dan doa sederhana sebelum seseorang kembali menyetir ratusan kilometer. Mungkin memang begitu bentuk rindu. Ia tidak selalu mencari kata-kata besar. Kadang ia hanya ingin memastikan seseorang sampai dengan selamat. Lalu berharap, ketika semua perjalanan selesai, akan ada satu pelukan yang tidak perlu dijelaskan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar